PREMANISME, NO WAY

Tidak ada seorangpun di dunia ini, lebih lebih bagi mereka yang beradab yang sepakat untuk melestarikan atau setidaknya membiarkan sikap premanisme berjalan di manapun.  Itu semua disebabkan bahwa premenisme sangat merugikan masyarakat dan membuat hidup tidak tenteram.  Namun meskipun demikian kenyataannya premanisme masih saja berlangsung, bahkan disebelah kita dan berada di depan mata kita. Lantas pertanyaannya ialah bagaimana mungkin hal tersebut dapat terjadi? Dan kenapa tidak ada tindakan yang dapat menghentikan premanisme tersebut?.

Untuk pertanyaan seperti itu jawabannya tentu bisa bervariasi dan biasanya lebih cenderung untuk mempertahankan diri serta tidak merasa bersalah.  Saat ini kita sedang disibukkan dengan urusan premanisme tersebut yang telah membuat resah banyak orang.  Aksi premanisme yang dilakukan oleh beberapa orang tersebut ternyata dapat merugikan banyak orang.  Ketika ada penyerangan di RSPAD beberapa waktu yang lalu, orang menjadi tersentak dan bertanya bagaimana mungkin di tempat seperti itu justru bisa terjadi penganiayaan sedemikian rupa.  Kemudian beberapa hari kemudian terjadi lagi perampokan dengan  kekerasan dan begitu seterusnya.  Semua itu  sesungguhnya menunjukkan bahwa bangsa kita ini belum bisa dewasa dalam berpikir dan bersikap.

Kita juga baru saja dikejutkan kembali dengan  kekerasan dan premanisme yang bermotiv balas dendam, yakni apa yang dialakukan oleh beberapa warga  di Mesuji terhadap perusahaan, yaitu dengan membakar pabrik.  Kenapa saya katakan bermotiv balas dendam, ya karena dahulu, kekerasan yang terjadi di Mesuji, lebih disebabkan oleh pihak perusahaan yang menyewa beberapa oknum Pam Swakarsa dan oknum anggota Brimob dan kemudian menganiaya beberapa warga yang tetap mempertahankan tanah yang dianggap sengketa.  Sementara itu kekerasan sekarang ini lebih disebabkan oleh  warga yang semacam mendapatkan angin, lalu berusaha untuk merusak pabrik.

Demikian juga kita  tengah dihadapkan kepada sikap premanisme  pelajar yang ternyata juga tidak mau kalah dalam hal melakukankekerasan, meskipun terhadap sesama pelajar lainnya.  Kisah kisah tentang tawuran antar pelajar yang sudah semenjak lama terus berjalan juga belum  bisa berhenti secara total, walaupun sudah diupayakan sedemikian rupa.  Belum lagi kisah tentang geng yang menyiksa anggotanya yang mungkin melakukan  kesalahan, dan lainnya.

Sebagai umat yang beragama dan sekaligus berbudi tentu kita  sangat prihatin dengan kondisi semacam itu.  Kita memang tidak bisa menyalahkan  pihak tertentu, karena menurut saya proses terjadinya sikap premanisme tersebut  melibatkan beberapa pihak.  Artinya ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa terjadi premanisme tersebut di masyarakat kita yang dahulu terkenal dengan sikapnya yang santun dan gemar bekerja sama.  Beberapa faktor tersebut ialah:

1.       Mental spiritual.  Untuk faktor ini saya kira semua orang sepakat bahwa kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran agama, akan menjadi salah satu sebab seseorang itu sangat mudah terpengaruh oleh berbagai keadaan yang dianggapnya  menanrik dan bahkan  menantang.  Lebih lebih bagi anak muda yang memang sedang mencari  identitas diri, dan  secara mental masih labil.  Karena itu  kondisi  menyeruaknya premanisme di lingkungan kita  sesunguhnya juga terkait dengan bagaimana kita  peduli terhadap persoalan pemahaman  agama.  Artinya kalau tingkat pemahaman agama seseorang itu cukup,  sangat mungkin ia akan tidak mudah untuk digoda oleh berbagai hal yang berlawanan dengan keyakinannya terhadap ajaran agama yang dipercayainya.

Namun demikian memang  tidak cukup hanya sekedar mengandalkan kepada pemahaman  seseorang terhadap agama, sebab terkadang pemahaman tersebut bisa saja justru justru lebih menjurus kepada hal hal  yang tidak substantif, sehingga malah menimbulkan  serta membentuk keyakinan yang berbeda.  Kita tentu sangat  mengerti  bagaimana sebagian  orang  yang  dengan alasan membela agama, ternyata justru malah  berlaku sepeerti preman dan  bahkan meresahkan masyarakat lainnya.  Sehingga dengan demikian pemahaman agama tersebut maksudnya ialah pemahaman yang benar sesuai dengan substansi yang dibawa oleh agama tersebut.  Dan kita semua yakin bahwa semua ajaran agama  tersebut menganjurkan untuk  damai, toleran, manusiawi, adil dan  sifat baik lainnya.

2.     Ekonomi.  Faktor ekonomi ini menjadi penyebab yang sangat menentukan, termasuk dalam proses terjadinya premanisme.  Himpitan ekonomi yang melilit  sebagian masyarakat kita dan tidak mendapatkan penyelesaian yang memuaskan akan dapat menyulut terjadinya berbagai hal yang dapat mengarah kepada sikap premanisme.  Atinya kalau hati dan pikiran  sudah tidak lagi kuat untuk enanggung beban yang terlalu  berat, maka  yang akan muncul ialah pikiran jahat yang dituntun oleh setan.  Pikran jahat tersebut  bisa berwujud pada beberapa hal, yang antara lain, mencuri, merampok dan lainnya.  Nah, kalau semua itu dilakukan dan kemudian  ketahuan, maka tidak ada jalan lain  kecuali hanya dua pilihan, yakni diam saja dan harus siap dihajar masa, atau melawan yang  bisa jadi  malahan selamat.

Faktor ekonomi tersebut memang mempunyai peran yang sangat signifikan dalam persoalan premanisme terseut.  Coba kita bayangkan seandainya kondisi ekonomi kita  cukup baik dan seluruh masyarakat bisa  mendapatkan kesempatan untuk melakukan aktifitas ekonomi dengan baik, apalagi kemudian ditunjang dengan pemahaman terhadap ajaran agama yang cukup, tentu kita  tidak akan menyaksikan keadaan premanisme sebagaimana  saat ini.  Kondisi tersebut diperparah dengan semacam protes yang dilakukan oleh pelaku premanisme tersebut, yakni dengan kehidupan yang cenderung hedonis yang dipertontonkan oleh sebagian masyarakat kita, terutama mereka yang seharusnya menjadi teladan bagi umat, yakni para pejabat, anggota dewan, dan orang orang kaya.

3.     Kesempatan kerja.  Faktor ini  meskipun masih sangat erat hubungannya dengan faktor ekonomi, namun  perlu dipisahkan untuk memberikan tekanan yang lebih kepada masing masing.  Artinya  faktor kesempatan kerja yang sangat terbatas dan bahkan cenderung  tidak ada, akan menyebabkan sebagian umat bingung dan  tidak bisa berpikir lagi, padahal mereka kebanyakan kurang mempunyai ketrampilan dan  harus menanggung beban keluarga yang semakin berat.  Sesungguhnya mereka itu akan mau mengerjakan apa saja yang mereka bisa kerjakan, tetapi celakanya tidak ada  pihak manapun yang mau memperkerjakan orang yang tidak mempunyai ketrampilan.  Nah, untuk maslaah ini  neara memang harus bertanggung jawab, yakni melalui kementerian terkait dengan memberikan perhatian  terhadap masalah ini.  Program program pemberdayaan masyarakat sangat perlu dicanangkan dan diperbanyak, termasuk juga program padat karya dalam memelihara dan meningkatkan kualitas kehidupan di perdesaan dan juga di perkotaan.

Pemerinta kita seharusnya lebih cenderng untuk berpihak kepada masyarakat kecil, dan tidak terus memperhatikan para cukong pemilik perusahaan saja.  Menurut saya sudah saatnya  ada perhatian khusus untuk persoalan ini dari pemerintah sehingga  secara umum  semua orang akan bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan terlebih dahulu diberikan  bekal ketrampilan ataupun  diberikan kesempatan untuk bekerja  melalui padat karya yang diprogramkan tersebut.  Memang hal tersebut tidak lantas akan menyelesaikan persoalan, tetapi setidaknya akan dapat mengrangi terjadinya premanisme.

4.     Persoalan sosial. Faktor sosial juga mempunyai peran yang sangat penting dalam penciptaan premanisme. Masyarakat tentu mempunyai andilyang sangat besar dalam membentuk watak warganya.  Sikap yang ditunjukkan oleh masyarakat kita yang sering main hakim sendiri dengan mengadili  siapapun yang dianggap salah dan bahkan malahan lebih sadis ketimbang melalui prosedur hukum, tentu akan  membuat sebagian masyarakat lainnya akan melakukan hal yang sama ketika menemui hal hal tertentu atau yang mendesaknya.

Sikap masyarakat yang  memukuli  pencuri yang ketahuan melakukan aksinya, ataupun sikap sebagian masyarakat kita yang beramai ramai menendang menghantam sopir yang  lagi naas kecelakaan dan menabrak  kendaraan lainnya misalnya juga dapat menjadi penyebab  suburnya perilaku premanisme di lingkungan kita.  Pendeknya, kondisi sosial masyarakat kita  sangat berpengaruh terhadap perilaku premanisme tersebut. 

Untuk itu seharusnya hal tersebut menjadi renungan kita semua dan mulai menyadarkan kepada kita bahwa  sikap dan perilaku yang biasa kita lakukan  ternyata akan menghasilkan  sesuatu yang sesungguhnya sangat kita benci dan hindari.  Sikap terbaik yang dapat kita lakukan ialah dengan dengan menghentikan  sikap main hakim sendiri, dan sikap keras yang terkadang kita lakukan terhadap siapapun juga termasuk terhadap anak anak kita sendiri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.