THE NEXT GAYUS

Kita tidak tahu harus bagaimana lagi dalam upaya pemberantasan korupsi di negeri ini, atau setidaknya di lingkungan kita sendiri.  Tampaknya semakin hari bukannya semakin berkurang  kuantitas korupsi, tetapi juga kualitasnya semakin menjadi jadi.  Belum lagi tuntas mengenai cerita  wisma atlet dan juga Hambalang yang melibatkan Nazaruddin dan berbagai pihak yang saat ini masih diburu, kita sudah dikejutkan lagi dengan kisah DW dan DA yang spektakuler.  Sebalumnya kita memang baru saja diberikan informasi tentang adanya sekitar 2000 transaksi mencurigakan, terutama yang  berkaitan dengan para anggota dewan dari banggar dan juga beberapa lagi tersemasuk PNS.

Nah, salah satu PNS yang  dicurigai tersebut ialah dari pegawai pajak, dimana ada PNS “rendahan” yang mempunyai rekening hingga 60 milyar rupiah.  Dan kebetulan ada sepasang suami isteri yang  sama sama kompak menyebar kekyaannya di berbagai bank yang kemudian terendus oleh PPATK tersebut.  Syukurlah  saat ini  Kejaksaan Agung kemudian telah menjadikannya sebagai tersangka dan tentu kita akan  terus menunggu kisah selanjutnya.

Namun pertanyaan kita ialah kenapa kisah Gayus yang mengggerkan tersebut sekarang diulang  kembali dan  sangat mungkin tidak hanya yang saat ini sudah terdeteksi, melainkan  dengan berbagai kelihaian, kemungkinan juga ada yang memakai modus lain, seperti menyimpan hartanya dalam bentuk emas ataupun uang yang tidak dititipkan di bak, melainkan disimpan di suatu tempat yang lepas dari pengamatan PPATK.  Tentunya kita tidak akan  berandai andai saja melainkan  harus mencari cara bagaimana caranya untuk menjadikan pihak pihak tertentu, terutama yang akan dan berniat untuk  melakukan hal serupa, jera dan takut, sehingga urung melaksanakannya.

Sesungguhnya sudah terlalu banyak saran yang  kemungkinan besar akan dapat  memberikan sok terapi bagi berbagai pihak untuktidak mencoba melakukan tindakan korupsi tersebut, seperti hukuman pimiskinan, hukuman mati dan lainnya.  Hanya saja  usulan tersebut selalu mendapatkan tanggapan miring dari berbagai pihak, termauk dari para wakil rakyat.  Lantas bagaimana mungkin mereka  akan menjadi jera atau akan takut melakukan korupsi, yang ternyata hukumannya sangat ringan dan tidak sebanding dengan gembar gembor pemberantasan korupsi yang disuarakan oleh masyarakat, termasuk pemerinah dan dewan.

Rupanya  ada tarik menarik diantara beberapa pihak mengenai hukuman berat yang ditawarkan tersebut.  Karena bagaimanapun juga  penerapan hukuman berat tersebut  kemungkinan besar  juga akan memakan dirinya atau setidaknya keluarga ataupun koleganya,  sehingga cukup hanya  berteriak kencang dalam upaya pemberantasan kurupsi, tetapi ancaman hukumannya biarlah sebagaimana yang saat ini telah ada dan berjalan.  Akibatnya  sebagaimana kita ketahui, korupsi bukannya semakin  berkurang, tetapi malahan tumbuh subur.

Kita bisa  membayangkan bagaimana masyarakat, terutama yang mempunyai kesempatan,  tidak tergiur melakukan korupsi, orang caranya sangat mudah dan dengan cepat bisa mendapatkan kekayaan yang berlimpah.  Dengan begitu mereka akan dapat hidup mewah semua keingnanya dapat terpenuhi dan kalau bernasib baik, tidak akan ketahuan hingga akhir hidupnya.  Kalaupun kemudian ketahuan dan diproses hokum, mereka masih bisa berusaha untuk menyuap oknum penegak hokum dengan uang yang mereka miliki.  Dan kalaupun  seluruh penegak hokum tidak mempan disuap, maka hukuman yang akan diterimapun tidak cukup menakutkan.  Mereka  bisa membayangkan apa yang pernah dialami oleh Gayus Tambunan yang meskipun berada di penjara, tetapi  tetap bisa melakukan apa saja  yang dikehendaki, misalnya kelencer ke beberapa tempat, bahkan sampai bisa kelencer ke luar negeri.  Di dalam penjarapun tetapi bisa menikmati  fasilitas yang  cukup nyaman bahkan senyaman hotel berintang lima.

Kalau gambaran semua orang seperti itu dan kemungkinan  ada jalan dan kesempatan untuk melakukan korupsi, suap dan sejenisnya, maka  sekuat apapun iman seseorang, tentu akan tergoda juga.  Pakah kita  akan terus membiarkan kondisi seperti ini terus berlangsung dan membiarkan Negara kita dibuat “bancaan” oleh para koruptor, tentu jawabannya tidak.  Tetapai bagaiman caranya agar kita dapat terbebas dari penyakit akut tersebut.  Menurut saya kuncinya  ada pada kemauan  dua pihak yang saat  ini mempunyai power yang sangat hebat, yakni pemerintah dalam hal ini presiden dan para wakil rakyat.

Sekeras apapun teriakan kita untuk menyerukan pemberantasan korupsi, kalau tidak ada kemauan kuat dari dua pihak tersebut untuk memberantas korupsi secara nyata, maka akan sulit melenyapkan korupsi tersebut.  Menurut saya, saat ini  solusi yang paling ampuh  untuk menyelesaikan persoalan ini ialah dengan mengubah hukuman bagi para koruptor dari hukuman penjara menjadi hukuman  mati ataupun hukuman pemiskinan.  Hukuman  mati sangat jelas, akan dapat memberikan terai tersendiri bagi siapapun yang akan melakukan korupsi, karena akibatnya bisa fatal, yakni berakhirnya kisah hidup dirinya.  Sementara itu hukuman pemiskinan  akan menjadi sangat ampuh, karena  justru akan membuat diri koruptor tersebut akan menjadi sengasara dan “tidak berharga” di mata masyarakat.

Padahal sebagaimana kita tahu bahwa keinginan para koruptor tersebut ialah agar mereka itu menjadi orang berharta dan  disegani oleh masyarakat.  Mereka  sangat percaya bahwa dengan harta  yang dimilikinya, mereka akan dapat melakukan apa saja dan menetukan  segalanya.  Dan itulah kiranya yang menjadi tujuan hidup di dunia ini.  Bahkan mereka yang sedikit mempunyai iman di dadanya, akan menyangka bahwa dengan sedikit mengeluarkan hartanya untuk membantu  pembangunan masjid ataupun panti social, mereka akan dapat menghapus dosa korupsi dan  yakin akan masuk surga.

Sungguh  merupakan keyakinan yang sangat berbahaya kalau terus dibiarkan dan berkembang di masyarakat.  Padahal  korupsi yang dialkukan mereka merupakan dosa besar yang tidak akan dapat begitu saja dihapuskan dengan menyumbang pembangunan rumah ibadah.  Para penerus Gayus  harus diputus dan tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena yang akan menanggung  kerugiannya ialah seluruh rakyat Indonesia.  Cukuplah apa yang ada hingga hari ini, tetapi hari esok harus kita cegah dan batasi sedemikian rupa  dengan tujuan agar  generasi Gayus tidak lagi Berjaya dan terus bersenang senang di atas penderitaan  banyak rakyat.

Kita dorong kejaksaan Agung agar cepat menuntaskan kasus DW dan DA yang saat ini telah di”kuasai” oleh kejagung.  Kita sangat berharap ada kemauan  kuat  dari presiden dan juga d parlemen untuk mendorong emua aparat penegak ukum untuk memberikan hukuman maksimal, sebelum  hukuman  mati dan pemiskinan tersebut belum diberlakukan.  Tetapi kita tidak akan bosan selalu  mengusulkan agar hukuman mati dan pemiskinan bagi para koruptor cepat ditetapkan dan diberlakukan, sebelum segalanya menjadi terlambat dan merugikan kepada negeri kita.

Sangat menyakitkan kita dan seluruh rakyat, ketika  generasi Gayus ternyata  nongol dan kemungkinan besar juga tetap akan masih muncul di masa mendatang.  Kita yang berjuang mati matian untuk mempertahankan hidup dengan berbagai usaha halal, tetapi  di sebelah sana ternyata  ada pihak yang  mengemplang uang Negara yang seharusnya menjadi hak para rakyat untuk memperbaiki berbagai fasilitas umum yang akan memudahkan rakyat untuk melaksanakan  aktifitas mereka.  Apalagi saat ini  masyarakat tengah dihadapkan dengan kecemasan  luar biasa dengan rencana  kenaikan  harga BBM.

Masyarakat kecil dengan penghasilan kecil tentu akan merasakan dampak langsung dengan kebijakan menaikkan  harga BBM tersebut, termasuk misalnya  pembatasan BBM bersubsidi.  Karena semua itu tentu nantinya  akan menimbukan  ketidak stabilan  harga, dan rakyat kecil lah yang akan merasakan dampaknya.  Tetapi untuk masalah tersebut sesungguhnya masyarakat akan dapat memahami sehubungan dengan kenaikan harga minyak dunia, namun yang tidak dapat dimengerti ialah bagaimana mereka yang mengemplang uang negera  tersebut seolah dibiarkan begitu saja, karena tidak ada hukuman yang dapat memberikan  efek jera baik bagi pelaku maupun bagi para calon pelaku.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.