MEMAKNAI ULANG TAHUN

Sebelum berangkat ke Jakarta untuk melaksanakan tugas dinas pagi ini, saya diingatkan oleh anak saya yang besuk berulang tahun.  Tentu sperti anak anak lainnya, ia  mendambakan bahwa ulang tahunnya  dapat diperingati dengan meriah dan bisa makan bersama dengan teman temannya; bernyanyi dan bergembira bersama.  Saya juga menyadarinya, karena anak saya tersebut masih kelas 5 SD yang tentu masih sangat bangga kalau kemudian dapat merayakan ultahnya dengan meriah.

          Tetapi sesunguhnya sudah semenjak kecil anak anak sudah saya biasakan untuk tidak boros dan lebih baik uang yang ada disumbangkan  kepada anak anak yatim yang sangat membutuhkan.  Memang mengajak makan  teman temannya dalam hari jadinya itu tidak jelek, tetapi biasanya merepotkan, karena tentu mereka harus membawa  kado ultah yang terkadang  belinya juga dipaksakan untuk menghindari malu.

          Nah, kali ini  pada saat ulang tahunnya yang ke 12 saya terpaksa tidak dapat mendampinginya, tetapi sudah saya siapkan kado istimewa buatnya yakni sebuah kamus bahasa Inggris yang memang beberapa waktu lalu meminta, karena kamus yang ada sudah lusuh.  Namun  tentu anak saya tersebut dapat memakluminya dengan tugas yang harus saya jalankan.  Meskipun dari jauh, sudah pasti saya akan mengucapkan selamat untuk anak saya tersayang tersebut pada saatnya besuk.

          Mengenai peringatan ulang tahun tersebut memang tidak ada kaidah yang membatasi elok dan tidaknya, akan tetapi bilamana kita mau merenungkan berbagai kejadian dan dinamika masyarakat kita, tentu kita akan dapat  bersikap arif dalam memperingati ulang tahun tersebut.  Banyak orang yang  secara khusus mengagendakan  acara tersebut dengan cukup mewah dan menghabiskan uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah.  Tempatnyapun dipilih dihotel berbintang serta  menghadirkan beraneka ragam makanan dan minuman, kemudian juga tidak ketinggalan hiburan yang  demikian hiruk pikuk.

          Tetapi ada juga yang  dengan mengundang anak anak yatim untuk diajak makan bersama dirumah makan, ada pula yang hanya "selamatan" dengan mengundang teman teman  dan tetangga untuk sekedar makan bersama, dan ada pula yang cukup dengan merayakannya dengan anggota keluarga saja.  Bahkan  cukup banyak  yang sama sekali tidak memperingati hari ulang tahunnya.

          Itulah kenyataan yang dapat kita saksikan disekeliling kita.  Bahkan kita juga sering menyaksikan orang orang tua yang pejabat tinggi, yang mungkin karena hartanya cukup banyak, merayakan ulang tahunnya di luar negeri atau kalau di dalam negeri ya di tempat tempat spesial seperti di Bali dan menghabiskan  milyaran rupiah.  Sungguh hal tersebut sangat berlebihan dan bahkan  sangat tidak elok dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyat yang secara umum  dan mayoritas masih menderita.

          Menurut saya memperingati  hari ulang tahun itu  boleh boleh saja dan  bilamana kita bisa menempatkan diri justru akan dapat bernilai positif.  Artinya kalau dalam peringatan tersebut kita dapat mawas diri  bahwa dengan bertambahnya usia, tentu harus bertambah kebaikannya.  Kalau  anak anak tentu harus  lebih pinter dan lebih rajin dalam belajarnya, dan kalau bagi yang sudah dewasa harus bertambah kebaikannya, baik  secara individu maupun sosial.  Kebaika individu misalnya  lebih bayak melaksanakan ibadah, dan amalan yang  manfaatnya kepada diri sendiri, sedangkan kebaikan sosial itu seperti memberi, menolong dan berbagai aktifitas untuk mengentaskan sesama dari penderitaan, dari kemiskinan, kebodohan dan lainnya.

          Dalam menyikapi  kebaikan tersebut terkadang seseorang tidak melihat manfaatnya, dan hanya  semata mata melaksanakan sebuah kebiakan.  Nah, kalau kita mau  menjadikan kebiakan itu sebagai kebajikan yang hakiki, tentu  harus mau melihat anfaat yang akan diperoleh, terutama bagi  pihak lain dan masyarakat umum. Pada saat ini kebaikan yang bersifat sosial tentu akan lebih baik dan afdlol dibandingkan dengan kebaikan individual.  Orang melaksanakan shalat sunnah, puasa sunnah, umrah dan tahajjud, tentu  sangat baik, tetapi kalau kemudian  dibandingkan dengan aktifitas memberi, menolong dan mengentaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan, tentu akan lebih terpuji melakukan kegiatan  ibdah sosial tersebut.

          Memang  yang terbaik ialah manakala kita dapat melaksanakan keduanya secara seimbang, yakni kebiakan individual dan sekaligus kebaikan sosial.  Orang yang dapat melaksanakan keduanya saat ini sudah sangat jarang, karena itu menurut saya yang harus didahulukan ialah ibdah sosial, terkecuali ibadah individual yang memang menjadi kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadlan, dan lainnya.

          Artinya kalau ada orang yang lebih mementingkan ibadah tahajjud misalnya, ttapi  siang harinya  tidur dan tidak bekerja, tentu akan lebih baik tidak shalat tahajjud tetapi  siangnya dapat bekerja dan menghasilkan  harta yang akan dapat digunakan untuk bekal hidup dan sekaligus untuk bersedekah dan amal jariyah lainnya.  Sudah barang tentu akan lebih bagus kalau shalat tahajjud di akhir malam saja menjelang subuh sehingga tidak mengantuk di siang hari, sehingga akan tetap dapat melaksanakan tugas bekerja sebagaimana biasa.

          Demikian juga kalau ada seseorang yang selalu puasa atau selalu puasa senin kamis, tetapi  dalam kenyataannya sama sekali tidak peduli kepada sesama, tentu akan lebih baik orang yang tidak berpuasa sunnah, tetapi melakukan aktifitas menolong sesama, suka bersedekah dan infaq untuk umat.  Pendeknya pada saat ini  yang terbaik ialah beramal sosial yang  ada manfaatnya langsung bagi masyarakat, meskipun amal individu tidak bisa dibilang jelek.

          Orientasi amal itulah yang harus kita setir sehingga  manfaat yang didapatkan aan dapat dirasakan oleh banyak pihak.  Nabi Muhammad SAW  sendiri dalam beberapa riwayat memang kita kenal sebagai orang yang menganjurkan berbuat baik kepada siapapun, tetapi ketika beliau ditanya tentang kebaikan tersebut, beliau akan selalu menjawabnya secara kontekstual.  Hal tersebut dapat dilihat misalnya ketika  beliau menjawab pertanyaan yang sama tetapi beda konteksnya, beliau  akan memberikan jawaban yang berbeda dan disesuaikan dengan konteks tersebut.  Pertanyaan tersebut ialah "apakah amal terbaik ya Nabi?": Nabi pun menjawabnya dengan jawaban "melaksanakan shalat tepat pada waktunya". Tetapi disaat yang lain Nabi menjawab dengan "memberikan makan kepada fakir miskin", pada saat lainnya Nabi menjawab dengan "berjihad fi sabi lillah", dan lainnya.

          Kenyataan tersebut seharusnya memberikan inspirasikepada kita bahwa  kebaikan itu harus disesuaikan dengan  konteks yang sedang dihadapi oleh seseorang.  Misalkan di suatu daerah sedang ada bencana dahsyat dan banyak masyarakat yang mendrita, tentu hal terbaik yang harus dilakukan ialah  membantu mereka yang terkena bencana tersebut dan bukan pergi hajji misalnya atau shalat misalnya.  Ketika dalam kondisi negara morat marit dan banyak uang negara dikemplang oleh koruptor seperti saat ini, maka hal terbaik yang  harus dilakukan oleh penyelenggara negara ialah dengan memberantas korupsi, dan bagi anak anak sekolah dalam kondisi normal, hal terbaik bagi mereka ialah belajar dan belajar.

          Itulah pilihan yang memang harus kita lakukan dan praktekkan.  Barangkali  diantara kita puncak kebaikan itu  bisa berbeda sesuai kondisi yang sedang kita hadapi.  Untuk itu dalam merayakan  hari ulang tahun bagi siapapun, bagi diri kita (terutama yang masih sempat merayakannya), maupun bagi anak anak kita, sebaiknya kita mengarahkannya untuk kebaikan dan bukan semata mata  untuk kesenangan sementara yang terkadang malahan membuat  banyak pihak menjadi semakin menderita.  Maksudnya, kalau misalnya kita berhura hura dengan menghamburkan banyak harta, sementara  bayak masyarakat yang kesusahan, maka sesungguhnya kita telah menyakiti hati mereka dan bahkan dapat dikatakan menari di atas penderitaan mereka.

          Jadi dengan demikian  ketika hari ini saya harus  menunaikan tugas ke Jakarta, sementara anak saya  berulang yahun, saya tetapoptimis bahwa  anak saya tersebut akan tetap bahagia, karena kebahagiaan tersebut justru berada pada  kebahagiaan orang lain.  Kalaupun nantinya  dirayakan dengan membeli makanan, tetapi  saya berpesan tidak usah mengundang teman, cukup makanan tersebut dikirimkan kepada tetangga, sehingga mereka yang kesulitan uang tidak menjadi  semakin sulit karena harus membeli kado.

          Pada akhinya kita memang harus dapat memaknai peringatan hari ulang tahun tersebut sebagai hari untuk mawas diri dan meningkatkan  kebaikan serta berusaha untuk memperbaiki diri serta memerankan diri kita  sedemikian rupa agar dapat memberikan manfaat yang banyak umat manusia.  Karena itu peringatannya  sebaiknya diupayakan tidak memberikan beban kepada pihak lain.  Selamat hari ulang tahun anakku tercinta, semoga Tuhan senantiasa membimbingmu ke jalan yang benar dan diridloi oleh-Nya  Teruslah belajar  dan jadilah manusia yang cerdas dan bermanfaat bagi umat. Amin.

         

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.