SEMBUNYI DI BALIK TOPENG

Kita sudah cukup banyak mendengar kisah kisah menyedihkan yang justru  datangnya berasal dari orang orang yang seharusnya membawa kesenangan dan kedamaian.  Kisah ustaz yang mencabuli santrinya, kisah guru yang menghamili muridnya, kisah kiai yang memperkosa santrinya, kisah pastur yang  menggahi jemaatnya, dan lain lain kisah yang berasal dri orang yang sesungguhnya sangat dipercaya oleh kebanyakan masyarakat untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi umat manusia.  Kisah yang sesungguhnya sudah berjalan cukup lama, tetapi baru baru ini saja diungkapkan, yakni tentang seorang habib yang melakukan pelecehan seksual terhadap para pengkutnya, juga turut melengkapi kisah duka seperti itu.

          Kita sangat paham bahwa masyarakat kita sebagian besarnya masih berpengetahuan rendah dan sangat mudah untuk memberikan kepercayaan penuh kepada seseorang yang secara lahir menyandang  gelar terhormat, seperti ustaz, gru, kiai, pastur, dan juga habib.  Masyarakat pada umumnya menganggap mereka adalah orang orang suci dan pilihan yang akan dapat membimbing masyarakat kenuju kejayaan dan kesejahteraan, dunia maupun akhirat.  Kepercayaan yang diberikan tersebut terkadang  sampai tidak rasional, seperti  menuruti apapun yang dikatakan oleh mereka.

          Tentu  beberapa ajaran dan doktrin akan selalu mendahului perbuatan "biadab" yang akan dilakukan mereka.  Apakah sebagai syarat ataukah sebagai salah satu bentuk kepatuhan kepada mereka.  Seingga mereka pada akhirnya akan menyatakan bahwa meskipun secara umum perbuatan itu jelek, namun kalau yang melakukan adalah mereka yang mendapatkan kedudukan sebagai orang yang dianggap atau menganggapkan dirinya sebagai orang suci, segala perbuatan tersebut justru akan dapat mendatangkan berkah dan bukan tabu serta merupakan noda.

          Celakanya  pada saat  saat seperti itu kebanyakan masyarakat seolah tersihir dan  mungkin ada sedikit perasaan  takut, namun tidak berani memberontak dan menentang.  Namun sebagaimana pepatah mengatakan bahwa serapat rapat seseorang menyimpan bangkai, maka baunya akan tercium juga.  Artinya ketika sebagian masyarakat yang tersihir dan takut mengungkapkan  adanya sesuatu yang tidak baik dan menyimpang, tetapi tentu lama kelamaan akan ada pihak yang berani mengungkap kebobrokan tersebut, bahkan sangat mungkin hati nurani mereka yang terlalu lama dibuat terbuai oleh janji kebahagiaan tersebut menjadi menyadari kalau mereka sesungguhnya telah tertipu mentah mentah.

          Itulah yang selama ini terjadi dan terungkapnya  perbuatan tidak terpuji dari para pihak yang seharusnya mengajarkan sesuatu yangterpuji tersebut selalu terlambat setelah banyak korban berjatuhan.  Sanga mungkin pada saat ini juga masih ada praktek semacam itu yang terus berjalan dan belum terungkap.  Nah, terungkapnya kasus yang diduga melibatkan seorang habib beru baru ini sungguh sangat menyesakkan kita semua, terutama bagi para penggiat kejujuran, kebaikan dan kedamaian.

          Kita  sangat paham bahwa kedudukan habib di masyarakat kita  mempunyai  tempat tersenndiri.  Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa habib atau habaib adalah para keturunan nabi Muhammad SAW yang mempunyai kedudukan khusus di masyarakat.  Mereka  tentu akan lebih dekat dengan Tuhan dan doanyapun akan selalu dikabulkan Tuhan.  Oleh karena itu siapapun tidak boleh menentang dan membuat masalah dengan mereka, karena kalau  ada orang yang berani bermusuhan dengan mereka berarti sama dengan memusuhi keluarga Nabi.

          Begitu pentingnya kedudukan mereka sehingga  mayoritas masyarakat  terbuai oleh rasa hormat yang berlebihan, bahkan ada juga yang  sampai tega memberikan anak kandungnya sendiri untuk ditiduri oleh "habib" yang  memang mempunyai hobi seperti itu.  Ini sungguh keterlaluan dan  harus ada solusi yang  akan dapat menyelamatkan umat manusia dari  niat jahat sebagian habib yang nakal tersebut.

          Sesungguhnya Islam sendiri sangat jelas menganggap semua manusia itu sama kedudukannya di mata Tuhan dan hanya kadar ketaqwaannya;ah yang akan membedakan mereka.  Bahkan Nabi sendiri berkali kali menekankan bahwa  kita semua ini  adalah  anak cucu Adam dan nabi Adam itu terbuat dari tanah, sehingga semua  manusia ini sama.  Beliau juga menakankan bahwa tidak ada kelebihan sedikitpun  orang Arab atas orang non Arab atau orang Ajam.  Justru yang membedakan dianara mereka semata mata hanya taqwa yang mereka miliki saja.

          Dengan penjelsan seperti itu seharusnya  juga diajarkan oleh para tokoh agama  bahwa tidak ada perbedaan antara habib dan manusia yang bukan habib, karena yang membedakan  baik  dan tidaknya bahkan  yang dianggap milia dimata Tuhan hanyalah mereka yang bertqwa.  Jelasnya kalau ada seorang habib yang ternyata perbuatannya  tercela, maka  menurut Tuhan itu akan lebih mulia orang biasa dari keturunan petani misalnya tetapi ketqwaannya sangat baik.

          Memang kita sangat menyayangkan adanya  masyarakat yang  terlalu mengagungkan habib habib tersebut, bahkan  sebagian masyarakat terkadang tertipu dengan mereka yang kebetulan mempunyai wajah "Arab" yang kemudian mengaku sebagai habib.  Akibatnya mereka terkadang juga tertipu secara mentah mentah oleh  orang yang mengaku sebagai habib tersebut dengan meminta  sumbangan dan berbagai macam permintaan, termasuk  mengawini kotrak terhada anak anak gadis masyarakat.  Inilah fakta yang  serng terjadi di beberapa wilayah perdesaan dimana masyarakatnya sangat mengagun agungkan habib.

          Menghormati orang itu memang sangat dianjurkan oleh agama, tetapi kalau kemudian memberikan keistimewaan terhadap  status habib secara berlebihan, bahkan sampai melampaui batas kewajaran dan batas syariat, tentu tidak bisa diterima.  Kita harus memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang  kebenaran, termasuk dalammhubungannya dengan menyikapi persoalan habib tersebut.  Tujuannya sangat jelas ialah dalam upaya  mencegah praktek penipuan yang dilakukan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dengan memanfaatkan  sikap masyarakat yang sangat berlebihan terhadap posisi habib tersebut.

          Kebetulan saya ini termasuk orang yang sejak kecil menentang  sipak seperti itu.  Sikap saya tersebut diawal dengan kenyataan bahwa pada saat saya masih  sekolah di madrasah Aliyah, kemudian didatangkan guru yang "habib", tetapi sikap dan perlakuan guru tersebut  menurut  pikiran saya tidak baik, karena sering mengancam akan mendoakan  tidak baik kepada siapapun yang  berani berbeda dengannya.  Dia mengataka bahwa kalau ia berdoa, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti akan dikabulkan Tuhan, apalagi kalau kemudian dia menangis meminta bantuan Nabi Muhammad saw.

          Nah, dengan sikap yang pada garis besarnya seperti itu, maka  meskipun banyak kawan santri yang takut dan menurutinya, tetapi saya menjadi yang berbeda.  Saya berpendirian bahwa Tuhan dan juga Nabi Muhammad hanya akan  menolong kepada orang orang baik dan berperilaku sesuai dengan syariat Islam,  sehingga saya pada saat itu memang tidak ada rasa takut sedikitpun meskipun diancam akan didoakan tidak baik, asalkan  apa yang saya lakukan  adalah benar.  Jadi ketika ada  kisah ramai ramai orang tertipu oleh seseorang  yang  berada dibalik topeng habib atau siapapun, saya  tidak terlalu terkejut dan malahan semakin memantapkan keyakinan saya bahwa  benar pemahaman saya tentang firman Tuhan bahwa yang paling mulia diantara umat manusia ialah yang paling baik taqwanya an bukan karena keturunannya.

          Keyakinan dan pendirian saya tersebut mmang sering berbenturan dengan kebanyakan masyarakat muslim bahkan para tokoh dan kiai yang masih sangat menghormati kepada pra habib.  Namun bukannya saya tidak menghormati para habib, insya Allah saya akan menghormati setiap orang, terutama mereka yang kuat taqwanya dan berperilaku sesuatu dengan norma dan aturan yang berlaku.  Sementaa itu terhadap orang orang yang menyimpang dari aturan yang ada, lebih lebih  aturan syariat, meskipun itu keturunan habib atau bahkan dewa sekalipun, maka saya akan tidak respek terhadapnya.

          Saya tentunya berharap bahwa  masyarakat menjadi lebih cerdas dalam mengarungi kehidupan ini dengan lebih banyak menggunakan pertimbangan akal pikiran, dan bukannya  mengesampingkannya.  Karena sesungguhnya akal pikiran itulah karunia Tuhan yang sangat besar, bahkan yang membedakan kita dengan makhluk Tuhan lainnya, seperti hewan dan lainnya.  Karena itu menurut saya kita harus memaksimalkan pertimbangan akal pikiran dalam  bersikap terhadap apapun. Denga begitu kita berharap akan dapat menjalani hidup ini dengan baik dan jauh dari usaha penipuan yang dilakukan oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.