MENDIDIK TAUHID

Kehidupan di zaman akhir ini memang tidak memihak kepada hal hal yang berkaitan  dengan persoalan keimanan dan juga akhirat.  Orang pada umumnya hanya mementingkan dan mengejar sesuatu yang sifatnya duniawi semata.  Akan sangat susah mengajak orang untuk berbuat sesuatu yang tidak bisa menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat dan dinikmati  saat ini juga.  Orang akan lebih sulit diajak untuk melaksanakan ibadah ketimbang  diajak bekerja atau bahkan melakukan sebuah perbuatan maksiat sekalipun, tetapi cepat menghasilkan sesuatu yang nampak, seperti merampok, menipu dan korupsi.

          Namun demikian  kita masih optimis bahwa kalau kita  serius dalam mengajak dan terutama mendidik anak anak kita dalam urusan keimanan dan juga pahala, tentu akan ada banyak jalan yang dapat ditempuh, sehingga mereka  akan dengan senang hati mengikutinya.  Untuk itu metode dan cara menyampaikan pesan dan mendidik tersebut yang harus terus diperbaharui sesuai dengan kondisi dan situasinya.  Tidak bisa kita memaksakan suatu pesan atau ajaran dengan monoton dan satu arah, yang hanya akan memberikan kebosanan kepada  pihak lain.

          Di dunia ini telah ditemukan banyak teori tentang  bagaimana  cara mendidik anak anak agar mereka dapat cepat menyerap apa yang kita sampaikan, tentu dengan berbagai variasinya, akan tetapi teori teori tersebut  belum pasti cocok untuk diterapkan  kepada semua anak, karena meskip teori tersebut dihasilkan dari penelitian yang cermat, akan tetapi mengenai waktu dan lokusnya, sangat meungkin akan berbeda dengan anak anak dimana kita melaksanakan pendidikan tersebut.  Karena itu sekali lagi yang lebih penting ialah kita ahrus terus melakukan  evaluasi dan memperbaiki atau memodifikasi metode yang selama ini kita tempuh dan terapkan.

          Ada kalanya  anak didik itu tidak memperhatikan  jenis materi yang disampaikan, karena sesederhana apapun materi pelajaran ataupun pesan yang kita sampaikan, kalau cara yang kita gunakan tidak tepat, maka mereka juga tidak akan bisa menerimanya dengan  maksimal.  Tetapi sebaliknya, ada kalanya materi yang disampaikan sesungguhnya kurang diminati oleh kebanyakan orang atau anak, namun karena cara penyampaiannya  sangat simpatik dan membuat  anak anak didik  senang, maka  merekapun akan mengikuti pesan dan pelajaran tersebut dengan penuh antusias serta maksimal.

          Karena itu sangat tepat kalau dikatakan bahwa metode atau cara itu merupakan separuh dari  keberhasilan penyampaian pesan ataupun pelajaran, bahkan  menurut pengamatan saya, justru lebih dari hanya sekedar  separuh melainkan lebih dari itu, meskipun tidak dapat diprosentasi secara tepat.  Keberhasilan pendidikan , apapun materinya ternyata juga sangat ditentukan oleh metode yang digunakan.  Selama seseorang yang menyampaikan pesan atau mendidik, tidak peduli dengan metode tersebut, maka jangan banyak berharap bahwa pesan  dan pelajaran yang disampaikan akan dapat diterima dengan baik oleh  mereka yang menjadi sasaran penyampaian pesan atau pelajaran tersebut.

          Namun sayangnya di lingkungan kita atau bahkan di negeri kita ini, kita masih menyaksikan  cukup banyak para pendidik dan juga para juga dakwah yang masih  tetap bertahan dengan cara lama yang sudah  tidak sesuai lagi dengan zaman, sehingga  tingkat keberhasilan misi mereka  tidak maksimal.  Lebih parah lagi  kalau misalnya para pendidk dan atau juru dakwah tersebut sama sekali idak pernah mengevaluasi cara yang digunakan dan  bahkan malahan tidak peduli sama sekali tentang hasil yang dicapai, karena yang dipentingkan  oeh mereka justru hanya melaksanakan tugas sebagai pendidk ataupun sebagai juru dakwah.

          Tipe pendidik dan pendakwah seperti itu ternyata masih cukup banyak di negeri kita ini, meskipun sudah diupayakan sedemikian rupa oleh berbagai pihak dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan dakwah.  Mereka para pendidik dan juru akwah akan merasa puas, manakala telah selesai melaksanakan  tugas  mengajar dan berdakwah, tanpa  diikuti dengan  keinginan untuk mengetahui bahwa  apa yang disampaikan tersebut sudah benar benar  dapat diserap dan dipahami oleh mereka yang menjadi sasaran pendidikan dan dakwah tersebut.

          Karena itu menurut saya masih banyak  pendidik yang ada di  negara kita saat ini sesungguhnya belum pantas  disebut sebagai pendidik, dan  barangkali hanya ccok  diberikan nama pengajar saja.  Harus kita bedakan antara pendidik dan pengajar.  Seorang pendidik itu tidak hanya  menyampaikan pelajaran semata, dengan tanpa  peduli terhadap capaian yang diperoleh oleh peserta didik, melainkan  disampaikan menyampaiakan pelajaran, mereka juga harus  peduli terhadap perkembangan peserta didik, memberikan metivasi dalam belajar mereka, memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada mereka, mengontrol aktifitas mereka, dan memberikan bimbingan tentang berbagai hal, termasuk  etika dan lainnya.

          Jadi pendidik itu  harus total dalam  memberikan perhatian kepada peserta didik, dan merasa tidak berhasil kalau ada peserta didiknya yang gagal dalam menempuh pendidikan tersebut.  Seorang pendidik itu tidak akan pernah puas dengan apa yang sudh dicapainya, melainkan  ia harus terus  berusaha memperbaiki kinerjanya dan  bahkan ia harus menjadikan dirinya sebagai teladan bagi semua orang, terutama peserta didiknya.

          Demikian juga halnya dengan juru dakwah, tidak saja harus mengevaluasi cara yang dismpaikan saja melainkan juga bagaimana  ia dapat  dan ingin mengatahui sejauh mana hasil yang  didapatkan sehubungan dengan misi dakwahnya tersebut.  Jangan jangan masyarakat sasaran tidak mendapatkan apa apa dari peasan dakwahnya atau jangan jangan semua yang dilakukan selama itu hanya  dianggap anginlalu saja.  Semua itu harus menjadi perhatian  pendakwah, dan lebih penting dari itu semua ialah bahwa pendakwah itu harus dapat menjadikan dirinya sebagai teladan  bagi masyarakatnya dalam segala urusan.

          Karena itu memang berat tugas sebagai pendidik dan pendakwah tersebut dan tidak semata  mata hanya menyampaikan pesan dan pelajaran semata seperti yang saat ini terjadi di masyarakat kita, sehingga  tidak akan dapat  mengubah masyarakat menjadi lebih cerdas dan pintar serta berbudi luhur.

          Nah, kalau  semua hal tersebut sudah  dipahami dan menjadi komitmen semua pendidik dan juru dakwah, maka  hal penting dan utama  harus disampaikan kepada sasaran adalah tentang  tauhid.  Kita harus yakin bahwa tauhid inilah pangkal dari semua peradaban baik yang akan dihasilkan.  Kita  semua tentu paham bahwa misi Nabi Muhammad SAW yang pertama  dalam risalahnya ialah membebaskan masyarakat dari kejahiliyahan menuju tauhid. Berbagai paham dan keyakinan yang muncul pada saat itu  dan bahkan juga pada saat ini dengan perubahan nama harus  bisa kita singkirkan, karena  keyakinan kayakina tersebut hanya akan  membelenggu umat manusia  dalam mengembangkan dirinya menuju  masyarakat yang beradab.

          Tauhid akan mampu  mengubah sesuatu yang jaht menjadi baik dan kemunduruan kepada kemajuan dengan tetap menjunjung nilai nilai keadilan dan kemanusiaan.  Kita menyaksikan betapa Nabi Muhammad  telah berhasil mengubah tauhid dari kepercayaan jahiliyyah.  Dan dari tauhid itulah  peradaban umat manusia  dapat berkembang demikian dahsyat dan bahkan  sangat mengagumkan dunia.  Hanya saja  kemurnian tauhid tersebut kemudian dikotori lagi dengan kepercayaan lainnya, yang kemudian  dapat memerosotkan  peradaban manusia itu sendiri.

          Barangkali diantara kita masih ada yang belum dapat mengerti dan paham terhadap betapa menentukannya tauhid tersebut dalam kemajuan  peradaban umat, namun saya kira  mereka cukup mempelajari tentang sejarah Nabi dan umatnya, bahkan hingga kemundurn yang dialami oleh umat setelah mereka  tidak lagi memegang tauhid tersebut secara murni.  Atau memahami tauhid tersebut dengan pemahaman yang  pinggiran dan kulitnya semata, sehingga tidak akan bisa menyentuh esensi dari tauhid itu sendiri yang dapat memberikan dorongan kuat untuk terus maju  dan beradab.

          Pada saat ini yang terpenting ialah bagaimana para pendidik dan juru dakwah tersebut dapat memberikan ajaran tauhid tersebut kepada seluruh masyarakat dan peserta didik, sehingga mereka akan termotivasi untuk terus maju dan berada dalam jalan yang benar, serta jauh dari problem problem yang hanya akan menghambat perjalanan mereka menuju kesuksesan dunia dan akhirat sekaligus.

          Tentu kita sangat berharap kesadaran para pendidik dan juru dakwah untuk  melaksanakan misi yang diembannya dengan baik dan mengingat statusnya sebagai pendidik dan pendakwah, dan bukan  hanya sebagai pekerja yang termtivasi hanya untuk mencari penghidupan dunia saja, melainkan dalamupaya  mencapai misi dan mendapatkan kepuasan batin serta ridla dari Tuhan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.