SEKALI LAGI TENTANG ZAKAT

Tepatnya sejak Oktober tahun 2011 yang lalu kita telah mempunyai undang undang tentang pengelolaan zakat, yakni undang undang nomor 23 tahun 2011.  Kehadiran UU tersebut di tengah tengah kita memang mengundang kontroversi;  Ada sebagian yang menyambutnya dengan hangat da nada yang menyambutnya dengan lesu dan bahkan memandang bahwa kehadiran UU zakat tersebut justru akan mengebiri dan memandulkan zakat itu sendiri.  Undang undang  nomor 23 tahun 2011 tentang zakat itu  sendiri sesungguhnya merupakan revisi atas undang undang nomor 38 tahun 1998 tentang pengelolaan zakat.

Memang kalau kita mencari celah pada setiap aturan perundangan yang ada, tentu kita akan mendapatkannya, bahkan cukup banyak, akan tetapi khusus dalam persoalan ini saya mengajak kepada semua komponen umat agar melihat dari sisi positifnya saja, dan bukan mencari kelemahan.  Sebab sampai saat ini kita masih perihatin atas kondisi perzakatan di kalangan umat Islam.  Potensi sesungguhnya cukup besar, tetapi dalam dataran realitas, ternyata potensi yang demikian besar tidak dapat kita wujudkan untuk memberdayakan umat dan mensejahterakan mereka.

Untuk itu kehadiran undang undang tentang pengelolaan zakat tersebut harus kita sikapi positif dalam upaya  menjadikan  zakat sebagai  pilar utama dalam  menyelesaikan persoalan bangsa.  Pengelolaaan zakat yang diatur dalam undang undang  tersebut sesungguhnya  cukup memadahi untuk sebuah cita cita  penyelesaian persoalan umat.  Hanya saja memang harus  ada dorongan yang kuat dari semua pihak agar pengelolaan zakat tersebut  bisa  sesuai dengan cita cita yang diinginkan.

Persoalan utama saat ini  dalam hubungannya dengan zakat ialah orientasi  umat Islam dalam menunaikan zakat yang masih  mementingkan  penuntasan kewajiban semata.  Artinya mayoritas umat Islam yang melaksanakan zakat hanya  berpedoman bahwa yang penting dirinya telah melaksanakan kewajiban agama, yakni zakat, karena memang kewajiban  umat yang sudah mampu ialah  mengeluarkan zakat atas  harta yang dimiliki, manakala telah sampai pada nisabnya.

Orientasi  umat  yang seperti ini  menurut saya merupakan kendala tersendiri bagi lembaga lembaga zakat yang  ada, karena pasokan zakat yang akan dikelolan menjadi  kurang maksimal.  Kita dapat membayangkan kalau semua orang hanya  memikirkan  zakat dari sisi pengeluaran harta saja, tanpa mau mengerti dan memahmi tentang manfaat zakat itu bagi kesejahteraan umat, maka yang terjadi  ya seperti saat ini, yaitu banyak umat Islam yang menunaikan zakat, tetapi  tidak dapat memberdayakan umat.  Sebabnya sangat jelas, karena mereka tidak menyalurkannya lewat badan amil zakat atau Lembaga Amil zakat yang kredibel dan mempunyai program program yang jelas dalam mengentaskan  dan menyelesaikan persoalan umat.

Zakat yang ditunaikan oleh umat Islam, ternyata  hanya dibagikan sendiri kepada mereka yang tergolong fakir dan miskin.  Memang tidak salah, bilamana ditinjau dari aspek fiqh dan hukumnya.  Akan tetapi kalau kemudian kita hubungkan dengan  filosofi zakat itu sendiri yang berkeinginan untuk mengentaskan para fakir miskin agar menjadi aghniya’, atau dalam bahasa lain ingin menjadikan mustahiq al-Zakat menjadi muzakki, maka  pelaksanaan zakat seperti itu justru amat jauh dari  sasaran yang dituju.  Zakat yang diberikan langsung oleh muzakki kepada mustahiq tentu akan membawa manfaat  yang sifatnya sementara, karena hanya akan dapat mengatasi persoalan  yang sifatnya konsumtif, namun tidak bisa memberikan manfaat besar  sebagaimana yang dituju oleh zakat itu sendiri.

Kita memang mengenal dalil dalil zakat yang orientasinya memang  hanya  pada persoalan kewajiban yang dibebankan kepada umat yang mampu.  Tetapi kita juga sekaligus mengenal ayat ayat al-Quran yang berbicara tentang zakat dari aspek pendistribusiannya.  Nah, kalau kita berbicara tentang pendistribusian zakat, maka tidak cukup dengan cara konvensional, yaitu dengan membaginya secara rata kepada fakir dan miskin, melainkan kita harus mengembangkannya menjadi  rencana besar dalam upaya  penguatan umat, sehingga  kedepan para fakir miskintidak lagi menjadi beban yang lainnya,  tetapi justru malah bisa berubah menjadi penyokong.

Karena itu umat harus diberikan pencerahan tentang persoalan zakat tersebut, sehingga mereka  tidak lagi hanya berorientasi kepada pelaksanaan kewajiban saja, melainkan  mereka harus juga terlibat dalam menjadikan  zakat tersebut  sebagai solusi ampuh bagi penuntasan persoalan persoalan umat secara umum.  Artinya para muzakki tidak hanya  selesai pada tahapan memberikan dan mengeluarkan zakat, tetapi harus diberikan pengertian bahwa  dalam menunaikan zakat tersebut harus  disalurkan lewat lembaga dan badan yang mengelola zakat dengan professional.  Tetapi sekali lagi tidak hanya sebatas hanya menyerahkan harta zakat saja, melainkan juga harus terus mengawasi dan memantau untuk apa saja  harta zakat tersebut didistribusikan.

Kalau misalnya para muzakki mengetahui tentang pendistribusian zakat, ternyata tidak sesuai dengan peruntukan dan program yang telah disusun, maka  mereka dapat saja  melakukan kritik dan nasehat kepada lembaga dan badan tersebut.  Bahkan para muzakki juga  seharusnya memberikan saran agar lembaga pengelola zakat dapat memberikan laporan berkala dan diekspos tentang  pengelolaan  dana zakat tersebut.

Persoalan  utama lainnya yang harus mendapatkan perhatian kita semua adalah factor keteladanan dari para pimpinan dan tokoh masyarakat.  Artinya jangan sampai ada tokoh  dari kalangan aghniya’ yang berkeinginan untuk memamerkan diri sebagai muzakki dan  dermawan dengan mengundang banyak orang untuk dibagikan uang zakat, seperti  yang terjadi selama ini.  Disamping hal tersebut tidak akan banyak memberikan manfaat,  justru terkadang malah dapat mengundang madlarat.  Akan lebih bijak manakala  dana zakat yang banyak tersebut dititipkan pendistribusiannya kepada lembaga dan badan zakat, sehingga akan dapat dirasakan manfaaatnya bagi  masyarakat.

Di sekitar kita ternyata masih banyak tokoh dan pimpinan dalam berbagai levelnya yang belum memberikan teladan bagi  masyarakat umum, khususnya mengenai  pelaksanaan zakat.  Bukti yang mudah dilihat ialah mereka tidak  mengeluarkan zakat melalui badan ataupun lembaga zakat yang ada.  Tentu kita tidak bersu’udzdzan  dengan mengatakan bahwa mereka tidak membayar zakat, sama sekali bukan begitu, tetapi  kita tetap berkhusnudzdzan bahwa mereka tetap mengeluarkan zakat, hanya saja  didistribusikan langsung kepada para penerima, baik itu tetangga atau bahkan seringkali diberikan kepada familinya yang miskin.

Tentu hal tersebut tidak akan dapat memberikan manfaat besar bagi pengentasan kemiskinan dan penyelesaian persoalan umat, tetapi hanya akan sedikit menyenangkan para penerima zakat untuk sesaat  dan sama sekali tidak akan bisa mengubah mereka menjadi lebih baik kondisinya.   Bahkan bisa saja dengan terus mendapatkan dana zakat seperti itu mereka akan menjadi bergantung dan tidak dapat mengembangkan  kreatifitasnya sehingga akan tetap menjadi miskin untuk selamanya.  Dan ini sama sekali tidak kita kehendaki, terutama  bilamana dihubungkan dengan  persoalan kemanfaatan zakat.

Sisi lain yang barangkali juga tidak boleh kita lupakan ialah bahwa  meskipun kita telah berkhusnudzdzan bahwa mayoritas umat slam yang mampu telah melaksanakan kewjiban zakatnya, meskipun masih hanya sebatas mengeluarkan zakat, sehingga  penyalurannya masih secara tradisional dan konvensional, namun kita juga masih harus prihatin dan sekaligus berusaha dengan keras untuk menyadarkan mereka yang belum melaksanakan kewajiban zakatnya.  Menurut saya harus ada dorongan yang kuat kepada masyarakat secara umum, bahwa kewajiban zakat itu sama dngan kewajiban lainnya, seperti shalat dan puasa.

Seharusnya kalau zakat ini dapat dikeluakan oleh mereka yang sudah berkewajiban dan kemudian dikelola dengan baik  dengan program program yang jelas dalam pengentasan kemiskinan, kita semua yakin akan dapat memberikan solusi paling baik bagi bangsa kita yang masih sangat menderita.  Potensi zakat yang demikian dahsyat dalam hitungan, harus dapat kita realisasikan dalam kenyataan, tentu dengan kerja keras, terutama dalam memberikan pencerahan dan pengertian tentang  kemanfaatan zakat melalui perencanaan dan program program realistic.  Kita masih percaya bahwa  kalau kita terutama para tokoh dan pengelola zakat sungguh sungguh, pasti masyarakat akan paham dan menyadarinya.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.