NASIB PETANI KECIL

Secara teoritik, pemerintah memang harus bertanggung jawab untk mensejahterakan masyarakat melalui berbagi usaha yang memungkinkan mereka akan dapat mengembangkan ketrampilan yang dimilikinya.  Diantara masyarakat tersebut ialah para petani yang hidupnya memang menggantungkan kepada hasil pertanian yang mereka garap.  Petani tersebut secara umum memang tidak sama, karena ada petani yang dapat digolongkan sebagai petani  besar dan ada juga yang dapat digolongkan sebagai  petani kecil.  Bahkan tidak jarang ada yang namanya buruh tani, yakni mereka yang tidak mempunyai lahan yang cukup untuk mereka garap, tetapi mereka hanya  mengandalkan kepada tenaga yang dimiliki dan digunakan oleh para petani lainnya yang mempunyai lahan cukup.

Selama ini para petani slalu menjadi pihak yang sangat lemah dan  sering dirugikan, karena tidak adanya keberpihakan kepada mereka.  Salah satu bentuk ketidak berpihakan pemerintah kepada petani antara lain ditandai dengan kebijakan import beberapa hasil pertanian yag sesungguhnya dapat dipenuhi oleh etani kita, seperti kentang, kedelai, dan lainnya.  Beberapa waktu lalu banyak petani yang menangis disebabkan kebijakan impor kentang misalnya, tetapi pemerintah seolah tidak menggubris dan terkesan sengaja tuli.  Jeritan para petani bertambah lagi ketika pupuk yang sangat dibutuhkan meeka ternyata sangat mahal, sedangkan setelah mereka panen juga tidak ada  kebijakan pengendalian harga, sehingga para petani tergncet dan tidak bisa berbuat apa apa,

Dalam hubungan dengan persoalan ini, saya menyaksikan sendiri betapa merananya para petani kecil yang tidak mendapatkan perlindungan pemerintah, yakni pada saat liburan kemarin kebetulan saya ke rumah  mertua di daerah Purwodadi bersama dengankeluarga.  Sepanjang perjalanan saya  sesungguhnya merasa sangat bahagia menyaksikan para petani  sedang panen kedelai. Pada saat panen seperti itu  sudah dpaat dipastikan bahwa para petani akan merasa bahagia dan  memang saat saat seperti itulah yang senantiasa dinantikan oleh mereka.

Tetapi demi setelah mendengar cerita dari para petani yag sedang berpanen ria tersebut, maka hati saya menjadi sangat kecut, disebabkan  oleh kenyataan yang dihadapi para petani tersebut.  Betapa tidak, pada saat panen seperti itu para petani ternyata tidak bisa bernafas lega,apalagi tersenyum lebar.  Masalahnya ialah harga  kedelai yang sedang mereka panen anjlok sampai kepada titik nadir. Coba bayangkan  harga kedelai perkilo gramnya hanya  Rp 2000,- dan yang kualitas bagus sampai Rp 3000,-.  Artinya  meskipun para petani sedang panen, tetapi mereka tdak dapat menikmati hasil panennya dengan tersenyum.

Kekecutan hati saya brtambah setelah saya juga menyaksikan sendiri betapa mereka  sangat berat dalam mengelola hasil panennya tersebut.  Mereka harus memanen kedelai dengan cara  memotong seluruh  batang kedelai, lalu dijemur  di terik matahari, padahal kita semua tahu pada saat ini panas matahari tidak berpihak kepada petani, karena seiap hari turun huan.  Setelah  dirasa kering, merekapun kemudian menumbukinya dengan kayu sedemikian rupa hingga  akhirnya nanti harus dipisahkan antara sampah dengan  kedelainya.  Sungguh merupakan proses yang menyita banyak tenaga dan energy, dan ternyata hasilnya sama sekali tidak dihargai setimpal.

Bagi sebagian petani yang panennya cukup banyak, mereka tidak menumbuki batang serta buahnya tersebut secara manual, melaonkan mereka mengundang  tukang selep untuk memisahkan antara biji kedelai dengan sampahnya.  Tetapi bagi mereka yang panen nya pas psan, maka jangankan  menyewa mesin selep seperti itu, untuk membayar sewanya saja  mungkin  harus merelakan puluhan kilo gram dari penennya untuk itu.  Jadilah mereka  harus menumbukknya sendiri, meskipun harus mengeluarkan seluruh tenaganya.

Dengan kondisi seperti itu bagaimana mungkin mereka akan dapat sejahtera, hanya ekdar memenuhi kebutuhan pokok dan primer saja masih  harus ngirit.  Seharusnya dalam kondisi seperti ini pemerintah turun tangan dengan memberikan  solusi, terutama  dalam harga menghargai jerih payah para petani.  Sebab kalau tidak, maka hanya para tengkulak sajalah yang akan menuai  keuntungan besar, karena mereka  dapat membeli dari petani dengan harga yang super murah dan kemudian  mengirimnya ke beberapa daerah perkotaaan dengan harga yang bisa dua kali lipat bahkan lebih.

Sementara sebagian diantara para tengkulak tersebut dapat saja  menyimpan dan menimbun  dagangannya, terutama yang tidak cepat menjadi berubah, dan kemudian menunggu saat saat dimana harga sudah mulai meninggi.  Nah, itulah kenyataan yang saat ini dihadapi oleh para petani kita yang hingga saat ini belummemndapatkan perlindungan dan  dukungan dari pihak yang segarusnya memberikan perlindungan kepada mereka.  Sementara itu bagi petani tidak akan mungkin dapat menyimpan hasil panennya, karena perut mereka tidak mungkin harus menahan lapar lama lama, dan untuk menjual di tempat lainpun, mereka juga tidak akan mungkin, karena disamping tidak mengetahu secara persis kondisi daerah dimana  harga hasil pertanian mereka, juga ongkos untuk membawanya merupakan kesulitan tersendiri.

Demi mengetahui kondisi yang sesungguhnya terjadi di masyarakat, khususnya para petani kita yang seperti itu, maka  kita, setidaknya saya merasa sangat prihatin dengan para pengelola Negara ini.  Bagaimana mungkin mereka bisa bersenang senang dan rebutan kekuasaan serta  berfoya dengan menghabiskan uang Negara sedemikian rupa, padahal rakyatnya sangat menderita.  Kita masih terngiang dengan  pembangunan di lingkungan gedung perwakilan rakyat, membanun kamar kecil saja harus mengabiskan uang milyaran rupian, itupun hanya sekedar renovasi.  Kemudian  ruangan banggar yang secara spektakuler direnovasi dengan anggaran lebih dari 20 M, serta pembuatan kalender yang menghabiskan ratusan juta rupiah.

Coba bandingkan, wakil rakyat yang seharusnya bisa menjadi corong suara rakyat, justru malah seenaknya sendiri dan sama sekali tidak pernah mendengarkan apalagi menggali kesusahan rakyat, dengan rakyat yang diwakilinya. Mereka, khususnya para petani yang membanting tulang  dalam waktu yang cukup lama, dan kemudian berhasil panen, namun harus berhadapan dengan kenyataan kebijakan pemerintah yang mengimport hasil pertanian. Jadilah para petani  tidak erkutik dan akan terus berada dalam kemiskinan, tanpa dapat mengubah nasibnya.  Anak anak mereka yang seharusnya bersekolah, juga terpaksa harus ikut membantu orang tua mereka untuk  memanen dan sekaligus  menyelesaikan hasil panen tersebut.

Pertanyaannya ialah akan sampai kapan kondisi seperti ini berjalan terus?.  Sementara mereka yang berkuasa terus  berdbat tentang persoalan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan rakyat.  Menurut saya sesungguhnya dengan anggaran Negara yang  lebih dari seribu triliyun pertahun tersebut akan dapat mensejahterakan rakyat, manakala  semua orang yang mendapatkan amanat mengelola Negara dan angaran tersebut dapat menjalankannya dengan baik, jujur, dan ikhlas.

Syaratnya ialah semua orang  mengaca diri, terutama mereka yang menjadi wakil rakyat, jangan sampai mereka terus menghabiskan anggaran Negara  dengan dalih melaksanakan tuas, seperti kelencer ke luar negeri,  dan kunjungan ke daerah, yang ternyata mereka hanya berada di hotel saja dan paling banter mereka hanya mampir di kantor partainya.  Kita tidak yakin kalau para wakil rakyat yang dibiayai puluhan juta per orang untuk menyerap aspirasi ke daerah tersebut benar benar melakukan tugasnya dengan benar dan mendapatkan hasil, lalu dibahas di Senayan,untuk kemudian  dilakukan upaya upaya nyata dalam mengangkat kondisi mereka yang  dalam kesulitan.

Buktinya  sudah ertaun tahun  hal tersebut dilakukan dan telah menghabiskan  triyuna rupah, tetapi tidak ada krbijkan yang kemudian  dapat memberikan harapan kepada rakyat, terutama mereka yang  di daerah untuk dapat mengubah nasibnya menjadi lebih baik.  Justru yang kita saksikan  ialah bagaimana mereka memamerkan kekuatan   dan diplomasi masing masing, meskipun sangat naïf sekalipn.

Saat ini sudah tidak ada lagi harapan kita sebagai rakyat, terutama para petani untuk mendapatkan  dukungan dari mereka yang di atas, untuk itu yang  bisa kita lakukan ialah  bekrja keras sesuai dengan bidang kita masing masing, sambil terus berdoa kepada Tuhan agar kiranya Tuhan  memberikan keadilan kepada kita, dan menyadarkan merkea yang diberikan amanah mengelola Negara ini, sehingga mereka  menjadi berbalik memikirkn bangsa dan rakyatnya, dan bukan lagi memikirkan keselamatan diri sendiri dan kekuasaan saja.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.