MELIHAT SISI POSITIF DARI PERAYAAN IMLEK

Kemarin, Senin tanggal 23 Januari merupakan puncak perayaan Imlek.  Masyarakat Tionghoa demikian antusias dalam memperingati tahun bari China tersebut, sehingga  di setiap klenteng sangat ramai, baik dalam hal upacara peribadatan yang bersifat sakral, maupun sekedar merayakan dengan atraksi Barongsai dan juga membagi bagi ang pao kepada mereka yang yatim dan miskin.  Saya meihat kegairahan masyarakat Tionghoa demikian kuat dan hal tersebut mengisyaratkan betapa mereka sesungguhnya berharap bahwa dalam tahun Naga ini, akan banyak memberikan keberuntungan kepada mereka dan bangsa secara umum.

          Perayaan Imlek bagi sebagian bangsa ini  merupakan  semacam hari raya, sehingga mereka  mempersiapkannya sedemikian rupa serta tidak "ngeman" mengeluarkan banyak biaya dalam mempersiapkannya.  Ya ibaratnya kalau umat Islam sedang mempersiapkan hari raya dengan  berbagai  aktifitas dan  pernik pernik makanan dan hidaangan.  Demikian juga dengan  komunitas Tiong hoa yang  merayakan Imlek tersebut.  Sebagian mereka juga mempercayai bahwa  dengan memberikan perhatian yang besar dalam merayakan Imlek  tersebut mereka akan mendapatkan keberuntungan dan kejayaan dalam  hidupnya.

          Namun demikian  tidak sedikit pula yang meramalkan bahwa pada tahun Naga yang ditandai dengan peringatan Imlek kali  ini, bangsa Indonesia akan banyak mendapatkan cobaan, terutama berupa gempa dan bencana lainnya.  Namun yang harus diingat ialah bahwa meramal sih boleh boleh saja, tetapi sebagai manusia beriman tentu kita jangan sampai terpengaruh dengan segala macam ramalan  tersebut.  Bahkan kita harus tetap optimis dalam menatap masa depan yang membentang di hadapan kita.  Segala hal yang belum  terlaksana, masih serba mungkin dan Tuhanlah yang akan menentukan segalanya.  Oleh karena itu kita tetap harus terus berusaha dan berdoa kepada Tuhan agar kita tetap mendapatkan pertolongan dan kemudahan dalam menghadapi  masa depan.

          Sebagai sesama bangsa  yang hidup di negara kesatuan ini, kiranya sangat terpuji kalau kita  dapat menghormati mereka yang merayakan  Imlek tersebut, dan idak mengganggunya.  Rasa solidaritas sebagai orang beriman dan sekaligus  sebagai warga bangsa yang baik harus kita tunjukkan, sebagaimana  kita juga harus menunjukkan sikap yang saa ketika  saudara kita yang beragama lain  sedang merayakan  hari besar mereka.  Bahkan kita  seharusnya dapat mendukung dan memberikan apresiasi positif mengenai substansi dari sebagian  kegiatan yang dibiasakan atau dibudayakan  dalam perayaan tersebut, terutama yang mempunyai nilai universal dan  sangat baik  bagi kemanusiaan dan keadilan.

          Salah satu sisi positif dari perayaan Imlek ialah dengan  adanya budaya ang pao yang dibagikan kepada mereka yang kurang mampu.  Budaya memberi tersebut tentu merupakan sesutau yang sangat positif  dan  seharusnya mendapatkan  apresiasi semuaorang.  Artinya dalam semua agama dan kepercayaan yang dianut oleh  masyarakat kita, seharusnya  mengutamakan budaya memberi tersebut, karena kita yakin bahwa semua agama pasti megajarkan  tentang memberi tersebut, dan bukan sebaliknya meminta.

          Memang dalam ajaran agama Islam, kita mengenal ajaran meminta disamping memberi, akan tetapi  tujuannya tentu berbeda.  Kalau ajaran meminta, itu hanya ditujukan kepada Tuhan dan bahkan  dianggap tabu kalau kita  meminta kepada selain kepada Tuhan, termasuk meminta kepada orang tua sekalipun.  Ajaran meminta kepada Tuhan tersebut bahkan sangat dianjurkan, karena hanya Tuhanlah yang Maha segalanya, sehingga kalau kita tidak meminta, malahan kita dapat digolongkan kepada  mereka yang sobong.  Tetapi untuk  selain Tuhan justru kita malah dianjurkan untuk memberi dan bukan meminta.

          Pemberian ang pao pada saat Imlek tersebut juga dikandung maksud untuk meringankan beban sesama yang  kebetulan kurang beruntung dalam hidupnya, semisal miskin ataupu cacat dan yatim piatu.  Tujuan  mulia tersebut tentu tidak menjadi monopoli dari  masyarakat Tiong hoa, melainkan merupakan  ajaran dari seluruh agama  yang ada.  Betapa hebatnya kalau seandainya seluruh pemeluk agama di negeri ini mau mengamalkan ajaran agamanya dan ekaligus menyadari betapa baik dan bermanfaatnya ajaran tersebut bagi kemanusiaan dan  kesejahteraan seluruh masyarakat.

          Ketaatan seseorang dalam menjalankan ajaran agama yang dipeluk dan diyakini merupakan barang mahal yang harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh.  Karena ternyata banyak umat manusia yang  setelah mendapatkan kesempatan melakukan  berbagai keputusan penting, semisal menjadi pejabat teras, menjadi wakil rakyat, atau setidaknya menjadi orang kaya yang mempunyai dan memimpin  perusahaan, ternyata  banyak yang tidak tahan godaan, dan  melupakan inti ajaran agama yang dipeluknya.

          Tentu amat disayangkan kalau orang yang sukses  kemudian lupa kepada asalnya dan bahkan memusuhi orang orang yang belum sukses dan masyarakat kecil secara umum.  Idealnya  mereka yang sukses itu  membrikan ilmunya dan sekaligus bimbingan kepada mereka yang beum sukses, sehingga mereka akan dapat  meraih sukses bersama.  Dengan  begitu maka  ia akan bertmabh kawan dan semakin jauh dari lawan.  Namun  kehidupan ini ternyata sering dan bahkan banyak yang tidak ideal, sehingga  amat banyak orang yang  setiap harinya selalu menambah musuh dan jauh dari kawan.

          Kalau orang bijak selalu mengingatkan kepada kita bahwa musuh satu itu sudah terlalu berat dan banyak, sementara kawan seribu itu masih terlalu sedikit, itu artinya kita  seharusnya  selalu  berbuat baik  dan selalu memberikan pertolongan dan bantuan  kepada siapapun sesuai dengan kemampua kita.  Dengan begitu kita  sesungguhnya telah membangun  basis  perkawanan  dan menjauhan diri dari pertentangan dan lawan.

Alangkah indahnya kalau  pada saat  sebagian masyarakat kita sedang memperingati tahun baru China atau Imlek ini, kita semua menyadari pentingnya hidup berkawan dan saling memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.  Ang pao barangkali hanya sekedar  sebagai pengingat kepada kita bahwa kita memang harus  membudayakan memberi dan membantu.  Apalagi kalau kita ingat  tentang  ajaran agama kita yang meyakini kehidupan akhirat yang langgeng serta kehidupan dunia yang sangat singkat.

Disamping itu salah satu sisi kebaikan dari perayaan Imlek tersebut juga adanya kesadaran  umat Tiong hoa  untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui memperbanyak  ibadah dan berbuat baik kepada sesama.  Barangkali cara beribadat mereka dengan kita sangat jauh berbeda, namun dalam hakekatnya ialah mereka  berupaya  menjadi orang baik sehingga akan dikabulkan seluruh permohonannya.  Mereka yakin bahwa hanya orang orang baiklah yang akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan, dan sebaliknya bagi orang orang jahat, maka ia akan mendapatkan  kesialan dalam istilah mereka.

Kegiatan beribadah tersebut memang sangat diperlukan bagi orang orang yang menyadari keterbatasannya  dan meyakini kemahabesaran Tuhan.  Dengan beribadah tersebut seseorang akan mendapatkan ketenangan hidup, yang merupakan tujuan  bagi semua orang.  Kita semua  sepakat bahwa ketenangan hidup itu merupakan  tujuan yang ingin dicapai oleh semua orang, sebab dengan  ketenangan tersebut orang akan dapat berbat lebih banyak dan lebih baik serta menikmati kehidupan ini.  Cuma bagi  umat Islam ketenangan hidup di dunia tersebut hanya merupakan tujuan sementara, sedangkan tujuan yang sesungguhnya ialah  kebahagiaan kekal di akhirat.  Meskipun demikian ketenangan hidup di dunia  tetaplah sangat penting dan diperlukan,  terutama untuk mempersiapkan bekal di akhirat nanti.

Dengan demikian sesungguhnya ada  banyak sisi positif yang dapat kita ambil dari  kegiatan Imlek yang diperingati oleh komunitas Tiong hoa  tersebut.  Bukan berarti kita  mengikuti kegiatan peribadatan mereka yang memang sama sekali berbeda dengan kita, melainkan substansi yang dilakukan oleh mereka yang ternyata  relatif sama dengan ajaran di agama kita.  Jadi peringatan Imlek tersebut hanya  menjadi sarana untuk mengingatkan kita saja  tentang betapa pentingnya membudayakan memberi dan sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan melalui memperbanyak ibadah kepada-Nya.

Semoga kesadaran kita  akan mengemuka setelah menyadari dan merenungkan tentang berbagai kebaikan yang dilakukan oleh siapapun untuk  kemulyaan dan kemaslahatan umat manusia.  Mari kita berlomba untuk menjadi orang baik dan memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia dan lingkungan kita.  Fastabiqul Khairat, insya Allah kita akan menjadi manusia yang  beruntung di dua alam sekaligus, yakni alam dunia dan alam akhirat.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.