BERHARGANYA WAKTU

Kebanyakan diantara kita sudah mengetahui bahw iantara surat surat di dalam al-Quran, ada satu surat yang mengingatkan kepada kita tentang betapa berharganya waktu. Meskipun demikian bukan berarti dalam surat lainnya tidak ada suatu ayat yang mengingatkan  tentang pentingnya waktu, hanya saja  surat yang kita maksudkan tersebut, memang berbicara  mengenai waktu secara khsusus.  Artinya kalau kita tidak mempergunakan waktu yang ada untuk kebaikan dan kepentingan persiapan masa depan, maka kita akan rugi dan  ketinggalan dengan lainnya.

Secara  gamblang surat tersebut menyatakan bahwa  “demi waktu, sesunggunya manusia itu sesungguhnya berada dalam kerugian, kecualai mereka  yang mau percaya kepada Tuhan atau beriman dan mau mengerjakan sesuatu yang baik sesuai dengan petunjuk Tuhan serta mereka mau saling menasehati (dan tentu saja juga mau menerima nasehat) dalam hal  kebenaran dan saling memberikan nasehat dalam kesabaran”. Pernyataan tersebut mengandung maknayang sanga dalam dan luas, bahkan tiak saja hanya berkaitan dengan persoalan hidup di dunia saja melainkan jua menyangkut persoalan akhirat sekaligus.

Peringatan Tuhan tentang waktu menggunakan sumpah dan dilanjutkan dengan penrnytaan yang sangat tegas dan meyakinkan bahwa  semua orang itu berada dalam kerugian yang sangat besar.  Kenapa dikatakan sebagai rugi besar, karena  waktu itu tidk akan bisa terulang.  Sekali waktu berjalan, maka siapapun tidak akan bisa mengehentikannya.  Karena itu siapapun yang tidak mengunakanannya untuk hal al positif dan bermanfaat, maka ia akan kehilangan banyak kesempatan.  Apalagi kalau sampai waktu tersebut digunakan untuk hal hal yang berkonotasi dengan maksiat, maka sudah barang pasti ia akan menanggung kerugian tiada terhingga.

Karena itu Tuhan wanti anti kepada kita semua agar kita memanfaatkan waktu tersebutdengan sebaik baiknya, yakni dengan memanfaatkannya untuk kebaikan.  Tetapi yang lebih penting dari itu semua ialah bahwa kerugian seseorang tersebut  akan diderita manakala tidak mau percaya kepada Tuhan dan segala titah-Nya.  Percaya kepada Tuhan atau iman tersebut memang merupakanlandasan utama dalam mengarungi kehidupan, baik ketika masih di dunia, lebih lebih ketika nanti sudah memasuki gerbang akhirat.  Jadi iman itu merupakan pokok yang akan menentukan seseorang bahagia ataukah sengsara.

Dalam kepercayaan Islam, iman memang merupakan fundamen yang paling utama, bahkan dalam ajaran Islam imana atau percaya tersebut tidak hanya kepada Tuhan semata, melainkanjuga kepada hal yang diberitakan atau diperintahkan oleh Tuhan.  Pada umumnya, sebagaimana dapat dipahami dari keterangan Nabi Muhammad SAW, bahwa iman seseorang itu mencakup iman kepada Allah SWT Tuhan sekalian alam, iman kepada para Malaikat Tuhan, iman kepada kitab kitab yang diturunkan Tuhan kepada para utusan-Nya, iman kepada para utusan Tuan, iman kepada hari akhir atau hari kiamat dan kebangkitan, dan iman kepada kepastian dan ketentuan Tuhan.  Walaupun iman kepada kepastian dan keputusan Tuhan tersebut masih menjadi perdebatan diantara para ulama dalam Islam.

Kepercayaan kepada semua yang disampaikan tersebut merupakan syarat mutlak bagi setiap orang yang menginginkan  kebahagiaan dalam hidupnya.  Disamping itu  memanfaatkan waktu untuk kebaikan juga merupakan sayaratmutlak bagi siapa sajayang tidak ingin merugi. Amal kebaikan tersebut, termasuk yang menyangkut kepada diri dan keuarganya dan yang menyangkut pihak lain dan lingkungannya.  Artinya berbuat baik tersebut tidak terbatas hanya kepada orang lain saja melainkanjuga  perbuatan baik dan bermanfaat bagi diri dan keluarganya.  Pendeknya segala perbuatan yang memberikan manfaat bagi siapa saja  itu akan menjadi  modal utama untuk menikmati kehidupan yang bahagia dan tidak rugi.

Ketentuan semacam ini sungguh sangat rasional dan tentu dapat diterima oleh akal sehat, namun sayangnya masih banyak orang yang tidak mau melakukannya, dan bahkan  dalam kehidupannya selalu berbuat sesuatu yang merugikan dan menyengsarakan pihak lain.  Persoalannya ialah  ada pada kesadaran yang tinggi untuk mempersiapkan diri dalam menyongsong kehidupan yang langgeng dan juga  kesadaran yang utuh untuk bisa mendapatkan kemudahan hidup di dunia.  Munkin sebagian orang berpikir tentang huku karma  di dunia ini, tetapi yang jelas siapapun yang mempermudah urusan orang lain, dapat dipastikan Tuhan akan mempermudah urusannya.

Satu hallagi yang menentukan kebahagiaan dan sekaligus tidak akan rugi adalah sikap saling menasehati dan ekaligus au  menerima nasehat pihak lain.  Persoalan yang saat ini mengemuka ialah belum adanya kesadaran untuk mau menerima nasehat atau dalam bahasa negetrennya “kritik” yang disampaikan oleh pihak lain.  Padahal kita semua tahu bahwaa  kekurangan dan kesalahan itu serig tidak dapat dideteksi oleh diri sendiri, melainkan  dengan udah akan diketahi oleh pihak lain.  Nah,karena itu seharusnya setiap orang beriman mau  menerima  psan dan nasehat ataupun kritik membangun dari pihak lain.

Kenyataan bahwa kekurangan dan kesalahan seringkali  hanya dapat dilihat oleh otrang lain telah menjadi hal yang diketahui banyak orang, bahkan dalam peri bahasa sering dikatakan bahwa ‘ gajah di pelupuk mata tidak kelihatan tetapi kuman di seberang lautan tampak jelas”.  Peri bahasa ini  menjelaskna bahwa  biasanya orang itu tidak menyadari kekurangan dan kesalahan yang diperbuatnya.  Seolah semua yang dilakukan adalah baik, tetapi dari sudut pandang orang lain,ternyata apa yang dilakukan tersebut terkadang justru merupakan  kekurangan dan kesalahan.

Untukitulah diperlukan saling nasehat menasehati diantara umat, agar kehidupannya terus berada dalam kebenaran dan kemanfaatan.  Untuk memberikan nasehat dan saran, barangkali hamper semua orang mampu melakukannya, tetapi dalam hal mau menerima saran dengan hati yang ikhlas itu belum semua orang dapat melakukannya.  Karena itu yang paling mendesak bagi kita saat ini ialah bagaimana kita membiasakan diri untuk membuang ego kita dan  mencoba untuk bisa menerima kenyataan bahwa sesungguhnyakita sangat membutuhkan pihak lain untuk menyempurnakan kehidupan kita, yakni dengan menerima saran dan nasehat orang lain ttersebut.

Tentu saja nasehat yang dimaksudkan tersebut ialah dalam hal  kebaikan dan kebenaran atau haq dan bukan dalam hal yang batil.  Artinya ketika kita diingatkan atau dinasehati agar kita berbuat baik dan lurus  sesuai dengan ajaran Tuhan, maka kita harus  menerimanya dengan suka hati, bahkan harus berterima kasih karena telah diingatkan sehingga tidak sampai  terjerumus kepada  kemaksiatan.  Memang terkadang kita akan menemui  suatu nasehat yang bertentangan dengan keyakinan kita, tetapi tidak ada salahnya kalau kita tetap mengucapkan terma kasih kepada orang memberikan nasehat tersebut, kerena kita yakin bahwa orang yang memberikan nasehat kebaikan tersebut erniat untuk mengingatkan kita agar tidak tercebur  dalam kemaksiatan.

Disamping menasehati dalam  hal kebaikan dan kebenaran, kita juga  disarankanuntuk saling menesehati dalam kesabaran.  Artinya bersikap saba r itu sesungguhnya merupakan  sikap yang paling  baik dan akan membuat kita bahagia serta tidak rugi.  Kesabaran  bukan identik dengan pelan pelan atau bahkan pasif, melainkan sabar dalam arti yang sebenarnya, yakni  sikap pantang putus asa meskipun  belum bisa mendapatkan apa yang diinginkan.  Sabar itu seharusnya  merupakan sikap positif yang  harus selalu dimiliki oleh setiap orang, yakni dengan terus berusaha  dan berusaha hingga apa yang dicita citakan tercapai, tanpa mengenal lelah dan putus harapan.

Ketika Tuhan menguji kita dengan kegagalan demi kegagalan, disitulah kesabaran kita harus kita tunjukkan bahwa kita tetap percaya kepada Tuhan dan Tuhan pasti akan  menolong kita.  Artinya ketika usaha yang kita lalkukan gagal, kita harus semakin dekat dengan Tuhan dan terus memohon pertolongan-Nya, dan jangan sampai  malahan bersuudzdzan kepada Tuhan.  Nah, dengan kesabaran yang semacam ini, Tuhan pada akhirnya pasti akan memberikan sesuatu yang kita minta tersebut, tetapi pada umumnya orang kemudian tidak sabar dan bahkan malahan menjauh dari Tuhan> Orang yang seperti itu tentu akan merugi dalam kehidupannya, di dunia dan juga di akhirat.  Naudzu billahi min dzalik.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.