IQRA’ SEBAGAI MAKNA HIDUP

Kiranya tidak ada yang menyangsikan bahwa ketika Allah SWt memberikan wahyu pertama kalinya kepada Nabi Muhammad SAW berupa beberapa ayat yang memerintahkan untuk membaca.  Tidak saja membaca dalam arti sederhana hanya sekedar membaca teks, melainkan juga membaca yang ada kaitannya dengan persoalan kepercayaan  kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Mulia dan Mnenetukan segala hal yang ada.  Disamping itu perintah membaca yang disampaikan melalui wahyu pertama tersebut juga sekaligus memerintahkan untuk menganalisa dan melakukan penelitian atas segala  fenomena alam dalamupaya untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang nantinya  akan memberikan kemanfaatan dan kesejahteraan bagi umat manusia itu sendiri.

Membaca memang sangat tepat untuk selalu dikumandangkan kepada seluruh umat manusia agar dirinya  mempunyaimakna sebagai makhluk hidup yang berpikir dan bukan hanya sekedar hidup sebagaimana makhluk Tuhan lainnya.  Dengan membaca orang akan dapat mengetahui segala sesuatu, termasuk berbagai informasi yang sangat dibtuhkan oleh kehidupannya, baik di dunia maupun nanti ketika di akhirat.  Untuk itu agama kita sangat tidak menyukai kepada orang yang malas untuk  membaca dalam arti yang luas, yakni disamping malas membaca dalam arti belajar dan ingin mendapatkan informasi dan pengetahuan, juga  malas untuk berpikir dan melakukan berbagai aktifitas yang memanfaatkan otak pemberian Tuhan untuk memikirkan dan menganalisa serta merumuskan berbagai hal yang  dapat dimanfaatkan oleh umat manusia secara umum.

Manusia sesungguhnya akan mempunyai makna manakala selalu memanfaatkan  akal pikirannya untuk kemaslahatan umat manusia, bukan sebaliknya  berdiam diri atau bahkan menjadikan akal pikiannya justru untuk menipu dan mengelabuhi  manusia lain.   Orang yang malas untuk menggunakan akal pikirannya akan semakin sulit untuk  bisa maju dan berkembang, tetapi justru akan semakin terpuruk dan tidaka berdaya.  Kalau sudah seperti itu biasanya  semangatnya juga menurun, sehingga  gairah untuk hidup juga hanya sededar menghitung waktu berjalan dan sama sekali tidak mempunyai tujuan yang jelas  dalam kehidupannya.  Nah, kalau manusoa sudah seperti itu, maka  keberadaannya hamper sama dengan makhlukTuhan lainnya yang tidak diberikan aka pikiran.

Iqra’ atau membaca merupakan sarana untuk mencapai kesejahteraan dan kecerdasan yang menjadi keinginan setiap orang.  Perintah Tuhan  untuk membaca sebagaiana yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW tersebut sesungguhnya mengandung makna yang sangat luas; bukan saja  perintah untuk membaca, melainkan  perintah untuk menyempurnakan dirinya sebagai manusia dan hamba Tuhan yang harus melengkapinya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan untuk bekal  kehidupanya di dunia  dan  keyakinan  terhadap Tuhan secara total utntuk mendasari segala aktifitasnya dalamupaya investasi akhirat.

Kondisi dunia yang serba cepat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga super cepat seperti sekarang ini tentu sangat membutuhkan  perhatian kita untuk mengejarnya melalui  iqpa’ yang  bisa bermakna membaca dan menyimak tersebut.  Satu hari saja tidak membaca tentu akan tertinggal  seribu langkah untuk mengetahui  dan sekaligus menguasai informasi. Hadirnya berbagai mas media seperti Koran, majalah, jurnal, televise dan bahkan akses internet sebagaimana yang saat ini  tersebar di sekitar kita, hakekatnya  merupakan upaya manusia untuk emmudahkan akses informasi sebagai perwujudan iqra’ tersebut.  Artinya dengan greget umat manusia untuk menyediaan dan sekaligus mempermudah manusia lainnya untuk  dapat mempraktekkan iqra’ tersebut menjadi bukti bahwa  manusia itu memang harus iqra’ untuk memberikan makna dalam dirinya.

Memang harus diakui bahwa tingkat kebutuhan  manusia akan informasi  tersebut  sangat ditentukan oleh kapasitas intelektual masing masing orang.  Semakin orang tersebut  sibuk dengan berbagai aktifitas yang menggunakan perhatin pikiran, maka semakin  tingi pula tuntutan orang tersebut untuk mempraktekkan iqra’ dan begitu juga sebaliknya, kalau seseorang tidak terlalu aktif dalam berbagai aktifitas, maka akan semakin berkurang tuntutan untuk iqra’.  Itulah kenyataan yang saat ini dapat kita saksikan.  Denagan demikian memang sangat tepat manakala  iqra’ tersebut merupakan sesuatu yang  akan dapat menentukan nasib dan masa depan seseorang.

Saya sendiri sangat percaya  teradap maksud Tuhan memberikan wahyu pertamanya  dengan iqra’ tersebut, agar manusia  dapat mempraktekkannya  sedemikian rupa sehingga akan dapat menjadikan dirinya  sebagai manusia yang benar benar utuh dan berfungsi sebagai manusia yang akan mengatur dan mengelola dunia dengan baik serta dapat memberikan manfaat yang besar bagi manusia lainnya dan lingkungannya.  Karena itu dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, yakni agar manusia  menjadi  makhluk yang dapat mengelola dunia secara baik, manusia  harus melakukan perintah Tuhan  iqra’ tersebut, dan sangat tidak mungkin manusia yang tidak mempraktekkan iqra’ akan dapat mengelola dan menguasai dunia.

Khusus pengalaman yang saya alami seperti saat ini, dimana saya harus beristirahat di rumah sakit, saya merasakan betapa  saya harus banyak mempraktekkan iqra’ tersebut agar  saya bisa memberikan makna dalam hidup saya untuk orang lain.  Betapa tidak bergunanya kita pada saat kita  sendiri dan tidak dapat melaksanakan aktifitas  sebagaimana yang dilaksanakan oleh banyak orang, kalau kemudian kita juga tetap  saja tidak melakukan iqra’ dan menindak lanjutinya dengan berbagi pengalaman iqra’ tersebut kepada pihak lain.  Untuk itulah  kiranya akan sangat memberikan semangat, manakalakita mau iqra’ dan sekaligus berupaya agar kesimpulan iqra’ kita tersebut dapat kita komunikasikan kepada pihaklain,  sehingga mereka akan dapat mengambil manfaat dari pengalaman kita tersebut.

Tentu sangat banyakkesimpulan yang dapat kita rumuskan sebagai upaya perbaikan kehidupan ini secara umum.  Kesimpulan kesimpulan tersebut  akan muncul dari perenungan dan sekaligus iqra’ yang kita praktekkan, namun tidak  secara otomatis  dan begitu saja, melainkan harus disertai dengan  semangat  tinggi untuk menghasilkan kesimpulan tersebut serta  selalu dipraktekkan  dalam kesejarian kita.  Ide ide cemerlang dan bermanfaat bagi manusia dan alam lingkungan tersebut akan selalu dapat muncul dari pikiran yang jernih dan niat yang tulus hanya  untuk  mengabdi kepada Tuhan semata.

Karena itu sekali lagi pengertian yang terkandung dalam perintah iqra’ sebagaimana  wahyu yang pertama kali disampaikan kepada Nabi Muhammad tersebut memuat  hal yang berkitan dengan akidah dan kepercayaan kepada Tuhan Allah SWT.  Bukankah ayat pertama tersebut berbunyi iqra’ bismi rabbik al-ladzi khlaq dst…., yang berarti bacalah atas nama Tuhanmu yang telah mencipta …..  Nah, pernyataan bahwa bacalah atas nama Tuhanmu tersebut  sangat jelas mengandung maksud agar  iqra’ tersebut tidak terlepas dari akar akidah yang menjadi fondasi manusia  agar bermakna.

Menurut pernyataan ini, kalau ada seorang yang meskipun  dapat menguasai ilmupengetahuan dan teknologi  sangat tinggi  dengan melakukan berbagai riset, namun orang terebut tidak menganal Tuhan, maka menurut kepercayaan kita orang tersebut sama sekali tidak bermakna.  Hanya saja memang karena dia mengambil sebagian perintah Tuhan tersebut yakni mempraktekkan iqra’ , maka ia tetap mempunyai makna lahiriyah dan bahkan dapat juga memberikan manfaat bagi manusia lain.  Dengan demikian  secara adil dan dalam pandangan dunia dapat kita katakan bahwa  manusia tidak beriman tetapi mampu mau menggunakan akal pikirannya untuk iqra’ akan lebih baik dan berharga, dibandingkan dengan manusia yang sama  sekali tidak menggunakan akal pikirannya untukmepraktekkan iqra’ meskipun ia beriman kepada Tuhan.

Tentu akan semakin  tinggi nilai seseorang yang  menggunakan akal pikirannya untuk iqra’ tersebut disertai dengan keimanan yang penuh kepada Tuhan, dan sekaligus mengakui kekuasaan-Nya  serta mengakui  pula atas kelemahan dan keterbatan dirinya.  Jadi dengan demikian kiranya dapat disimpulkan bahwa manusia yang paling bermakna ialah mereka yang  mendasari hidupnya dengan akidah yang benar dan mempergunakan akalnya untuk iqra’ dan hasilnya  kemudian di sosialisasikan kepada seluruh umat manusia, sehingga akan dapat memebrikan manfaat dan bahkan kemaslahatan bagi manusia dan dunia.  Kemudian menyusul berikutnya ialah mereka yang mempergunakan akal pikirannya untuk iqra’ dan kemudian menyampaikan hasil iqra’nya ttersebut untuk kepentingan kemanusiaan dan kedamaian dunia.

Sementara itu tingkatan selanjutnya ialah mereka yang sesungguhnya  mempercayai Tuhan, tetapi tidak melakukan  sesuatu yang memberikan manfaat bagi sesamanya.  Atau dengan kata lain mereka tidak mau menggunakan akal pemberian Tuhan untuk iqra’ yang nantinya dapat memberikan manfaat bagi manusia lain.  Dan yang paling rendah tingkatannya ialah mereka yang tidak beriman dan tidak pula menggunakan akal pikirannya untuk iqra’, sehingga  sama sekali tidak ada kontribusi dirinya bagi kemaslahatan manusia dan dunia.

Untuk itulah kiranya sangat bijaksana manakala sebagai manusia kita mengambil peran  sebagai manusia tertinggi yakni  mendasari diri  dengan keimanan yang benar dan sekaligus mau mempraktekkan iqra’ dalam kehidupan sehari harinya untuk selanjutnya disosialisasikan kepada  umat,  sehingga  diharapkan  keberadaan manusia itu dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi kemanusiaan dan kesejahteraan mereka serta  dunia secara umum.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.