MARI BERHIJRAH

Hari ini merupakan hari pertama dalam kalender Hijriyyah yang merupakan kalender Islam.  Kalender Hijriyyah itu sendiri dimulai semenjak zaman Umar bin al-Khaththab dan mengambil perputaran bulan sebagai basisnya.  Dan umat Islam selalu meperlakukan 1 Muharram seperti saat ini sebagai tahun baru dan diperingati dengan berbagai aktifitas positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat secara umum.  Kebanyakan kegiatan yang diselenggarakan dalam memperingati tahun baru tersebut ialah dengan pengajian dan kajian tentang keislaman, termasuk mengapa dikatakan sebagai tahun Hijriyyah,

Tahun baru Hijriyyah ini biasanya juga dijadikan momentum untuk memeberikan peringatan kepada umat agar introspeksi diri terutama terhadap segala perbuatan yang telah dikerjakan selama satu tahun yang telah berlalu, dan kemudian mencanangkan atau memprogramkan kegiatan positif pada tahun baru ini.  Kata kunci Hijrah biasanya dijadikan  rujukan untuk mengajak umat agar mau melakukan perubahan  menuju kebaikan.  Kata hijrah itu sendiri sesungguhnya mengandung makna pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun kalau kita merujuk kepada hadis Nabi maka hijrah tersebut mempunyai makna yang khusus, yakni pindah dari sesuatu yang dilarang oleh Tuhan.  Artinya hijrah yang sesungguhnya itu merupakan komitmen dan realitas seseorang untuk mau beralih dari perbuatan maksiat kepada perbuatan amal shalih yang diperintahkan oleh Tuhan.

Hijrah memang mengandung makna yang khusus sebagaimana  disebutkan tadi, dan akan lebih jelas lagi manakala kita menyimak hadis Nabi tentang niat, yang maksudnya “ sesungguhnya segala perbauatan itu  ditentukan oleh niat  dan bagi seseorang itu juga tergantung atau ditentukan oleh niatnya,karena  barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya memang ia berbuat itu karena Tuhan dan Rasul-Nya.  Tetapi manakala seseorang tersebut hijrahnya disebabkan oleh dunia yang akan ia peroleh ataupun karena seorang perempuan yang akan ia nikahi, maka sudah barang tentu perbuatan hijrahnya tersebut hanya semata mata dikarenakan sesuatu yang diinginkannya”.

Artinya ada kalanya seseorang melakukan perubahan atas sesuatu atau dirinya itu dimotivasi oleh sesuatu yang bukan Tuhan, melainkan sesuatu yang lain, semisal dunia ataupun perempuan,  nah, pemicu untuk melakukan perubahan tersebut manakala bukan karena Tuhan, boleh jadi dalam melakukan perubahan tersebut seseorang  bahkan akan melanggar norma dan aturan yang berlaku dan kemungkinan besar nantinya akan dapat merugikan dirinya sendiri. Klaau seseorang pindah tempat tinggal atau pindah kerja ataupun pindah usaha yang hanya semata mata didasarkan atas pertimbangan keuntungan semata, maka  akan sangat mungkin seseorang tersebut justru malah menyimpang dari kaidah hokum yang berlaku demi untuk mendapatkan sesuatu tersebut.  Demikian juga kalau seseorang berpindah tersebut disebabkan oleh persoalan perempuan semata,  akan sangat mungkinjuga dia dapat melanggar aturan norma dan agama sekaligus.

Namun kalau berpindahnya seseorang atau berubahnya seseorang tersebut didasarkan atas pertimbangan karena pengabdiannya kepada Tuhan, maka pindah pekerjaan, pindah tempat tinggal, dan pindah akidah, misalnya,  tentu akan selalu mempertimbangkan  keberadaannya sebagai hamba Tuhan yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Tuhan,  sehingga ia akan selalu memenuhi segala persyaratan yang disampaikan oleh Tuhan, atau  dengan kata lain ia akan senantiasa patuh dan taat kepada segala peraturan Tuhan.  Dan kondisi seperti itu  sudah barang pasti akan membawa seseorang tersebut senantiasa berada dalam lindungan Tuhan serta dijauhkan dari segala yang  akan membahayakan akidahnya.

Dalam sejarahnya, kalau pada zaman Nabi Muhammad SAW dahulu, hijrah memang benar benar pindah, yaknipindah dari Makkah al-Mukarramah menuju al-Madinah al-Munawwarah.  Artinya ketika Nabi melihat bahwa  untuk mengembangkan  dan mensyiarkan syariat Islam di Makkah akan mengalami kesulitan tersendiri disebabkan banyaknya rintangan dari beberapa tokoh besar kafir Quraisy, bahkan  tidak sedikit yang harus mengalami penderitaan fisik karena disiksa oleh  para kafir tersebut, maka kemudian Nabi mengalihkan pusat pengembangan syariat Islam tersebut ke Madinah.

Tentu ada beberapa pertimbangan mengapa Nabi yang lahir di Makkah, justru perjuangannya dialihkan ke Madinah, yakni:

  1. Banyaknya  kesulitan yang akan dialami oleh Nabi dan para pengikutnya, manakala masih harus tetap menyiarkan agama dan syariat Islam di Makkah.  Hal tersebut  ditandai dengan semakin banyaknya parakafir Quraisy yang  memperlakukan pengikut Islam secara sangat tidak manusiawi, walapun para pengikut Nai tersebut tidak tergoyahkan keyakinannya yang sudah mendarah daging dalam jiwanya.  Namun  sebagai seorang pimpinan, Nabi tentu harus memikirkan keselamatan para pengikutnya dan juga keselamatan serta kelestarian ajaran syariat yang harus didakwahkannya.
  2. Adanya  tawaran dari beberapa orang dari kota Yatsrib atau Madinah yang percaya kepada Nabi untuk pindah ke Madinah, dan mereka akan siap membantu Nabi untuk memperjuangkan dan mendakwahkan ajaran yang dibawanya.  Tawaran tersebut tidak sekedar basa basi, melainkan secara sungguh sungguh karena  melalui beberapa utusan yang menemui Nabi, sehingga Nabi dapat diyakinkan bahwa ketulusan penduduk Madinah tersebut memang perlu untuk disahuti.  Nabi sendiri memandang bahwa dengan tempat perjuangan yang baru yang  cukup banyak yang mempercayainya serta  berjanji untuk membantu menyiarkan ajarannya, tentu Islam akan  sangat mudah untuk  mendapatkan apresiasi masyarakat.
  3. Adanya pandangan Nabi sendiri yang jauh ke depan bahwa  syariat Islam yang menjadi tanggung jawabnya untuk disebar luaskan kepada seluruh masyarakat, akan sangat tidak mungkin atau setidaknya akan mengalami kesulitan yang luar biasa manakala  terus bertahan di Makkah yang jelas jelas banyak kafir yang menentang, bahkan  dari kalangan familinya sendiri.

Nah, dengan beberapa pertimbangan seperti itulah akhirnya Nabi memutuskan untuk berpindah atau berhijrah ke Madinah semata mata hanya untuk  Tuhan dan menyebar luaskan syariat-Nya.  Menurut saya  sejarah tentang hijrah Nabi beserta para sahabatnya tersebut  sangat penting untuk dijadikan pijakan oleh kita semua terutama para dai dalam menyebarkan ajaran syariat Islam kepada masyarakat.  Jangan sampai para dai hanya berdakwah saja tanpa memikirkan bagaimana tanggapan masyarakat terhadap dakwahnya,  Jangan jangan mereka tidak lagi  mendengarkan atau sungkan untuk menyimak atau bahkan  tela bosan dengan suguhan yang monoton danlain sebagainya. Untuk itu sangat diperlukan mencermati audiens dakwahnya, sehingga  para dai tersebut akan dapat menentukan cara  apa dan bagaimana  agar mereka itu dapat menggemari atau bahkan keranjingan terhadap  dakwah kita.

Kalau Nabi Muhammad SAW saja berani melakukan orientasi perubahan terhadap dakwahnya, ketika melihat bahwa dakwah yang selama ini dilakukan akan mendapatkan rintangan, maka para dai dan kita semua juga harus berani untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik dan memberikan banyakmanfaat.  Khusus untuk para dai, sangat mungkin untuk mengembangkan dakwahnya melalui  asimilasi dengan budaya local yang memungkinkan dan tidak malah buru buru menjauhkan diri dengan alasan pemurnian syariat.  Kita memang harus berkomitmen untuk memurnikan syariat, namun dalam  metode dakwah kita sangat dituntut untuk melakukan sesuatu yang akan dapat mensukseskan dakwah kita tetapi masih dalam batas  batas yang tidak membahayakan, terutama  kepada akidah kita.

Usaha melakukan asimilasi dengan budaya local yang  baik, tentu sangat diperlukan.  Bukankah kita telah juga  mengetahui tentang dakwah yang dilakukan oleh paea wali di taanah Jawa yang juga melakukan dakwah dengan  tetap memerthankan budaya local, tetapi aspek dakwah mengena?.  Justru karena itulah saat ini kita harus  meneruskan  cara cara seperti itu agar dakwah kita menjadi bermakna dan sekaligus berhasil dalam membina masyarakat secara umum.

Demikianjuga  bagi kita semua yang menginginkan perubahan, tentu perubahan yang mempunyai makna positif, harus juga mempertimbangkan berbagai hal termasuk kemanfaatannya bagi diri kita, keluarga kita, dan juga masyarakat lingkungan kita.  Berubah itu  baik dan bahkan ada kalanya  malah harus ketika kita melihat kalau  tetap  dalam kondisi semula justru akan  dapat membahayakan kita, termasuk akidah kita.  Untuk itu sekali lagi mari kita berhijrah dalam arti yang sesunggunya, yakni berubah dari yang jelek menuju kebaikan, berubah dari pesimis menjadi optimis, berubah dari pasrah menuju perjuangan dan seterusnya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.