DESAKRALISASI BULAN ASYURA

Nanti malam kita akan memasuki tanggal 1 Muharram atau Asyura tahun 1433 H.  Selama ini  bulan Muharram dianggap sacral dan bahkan saking sakralnya, sampai sampai harus dihindari memperbanyak aktifitas  dengan tujuan agar tidak terkena kutukannya.  Walaupun dengan sangat jelas kepercayaan tersebut sama sekali tidak ada dasarnya, baik dalam agama maupun dalam realitas kehidupan.  Kesakralan bulan Muharram ini kemudian menjadi semakin mendapatkan tempat dikalangan pemercaya benda benda kuno yang dianggap bertuah, seperti keris dan lainnya.  Jadilah barang barang kono yang dianggap bertuah tersebut kemudian dicuci pada  malam tanggal 1 Asyura tersebut.

Sementara itu di kalangan awam juga berkembang kepercayaan yang tidak jauh berbeda dengan itu dan bentuknya bisa bermacam macam, mulai dari keyakinan  akan menjadi awet muda manakala berkungkum atau merendamkan diri dalam air di tengah malam, seperti yang terjadi di Tugu Suharto semarang misalnya.  Atau kepercayaan bahwa tidak diperkenankan mempunyai hajat seperti mengadakan resepsi ataupun  memulai uasaha baru dan lainnya pada bulan Asyura ini, karena akan dapat terganggu dan bahkan akan mengakibatkan  malapetaka bagi yang menjalankannya, dan juga kepercayaan lainnya.

Kepercayaan yang sungguh tidak berdasar tersebut seharusnya  dapat dijauhkan dari kalangan umat Islam, karena hal tersebut dikhawatirkan justru akan dapat mengganggu akidah mereka.  Kita semua tahu bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Segala galanya, sehingga tidak akan ada kekuatan apapun yang dapat menandingi kekuatan Tuhan.  Nah, kalau keyakinan  akan kekuatan dan kekuasaan Tuhan tersebut  kuat dalam diri kita, tentu akan dengan sendirinya kita akan dapat menghilangkan kepercayaan kesakralan bulan Asyura tersebut, karena disamping Tuhan sendiri tidak memberikan informasi yang seperti itu, dalam kenyataannya juga  tidak demikian.

Apapun yang ada di dunia ini tidak akan dapat memberikan manfaat dan ataupun madlarat kepada kita, melainkan atas ijin dari Allah SWT.  Jadi kalau Tuhan sendiri manganggap bahwa bulan Muharram atau Asyura tersebut sebagai bulan yang mulia dan sama sekali tidak akan memberikan bahaya ataupun dampak negative, maka  kita harus percaya  penuh bahwa bulan Muharram tersebut memang bulan baik dan  bahkan akan memberikan  manfaat bagi kita, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Tuhan dengan menolong para hamba-Nya yang shalih dari segala marabahaya.  Sehingga dengan demikian kepercayaan yang salah, seperti tidak berani mengadakan resepsi pernikahan di bulan Muharram ataupun tidak berani mengadakan perjalanan pada  bulan  tersebut, dan lainnya harus segera diakhiri.

Tentu hal seperti itu sangat memerlukan dukungan dari semua pihak, terutama para tokoh  dan ulama untuk memberikan contoh nyata, yakni dengan melakukan hal hal yang selama ini dihindari oleh kebanyakan masyarakat, seperti menikahkan putra putrinya pada bulam Muharram, ataupun memulai membangun rumah, masjid atau memulai sebuah usaha, pada bulam Muharram tersebut.  Namun persoalan yang justru menjadi rumit ialah ketidak beranian sebagian ulama atau tokoh untuk melaksanakan semua itu di bulan Muharram, meskipun mereka secara lahir tidak mempercayai adanya  bahaya di dalam bulan tersebut.  Atau sangat mungkin masih ada sedikit tersisa kekhawatiran atau rasa was was jangan jangan kepercayaan yang sudah memasyarakat tersebut benar benar memberikan dampak negative kepada diri mereka.  Kalau demikian keadaannya, maka  akan menjadi semakin susah untuk mendesakralisasi bulam Asyura tersebut.

Namun demikian saya masih sangat yakin bahwa  masyarakat kita yang semakin hari semakin bersikap kritis dan rasional, akan  membantu untuk menghilangkan kepercayaan salah tersebut dari pikiran umat Islam.  Disamping itu penjelasan yang gamblang dari para ulama dan tokoh sangat diperlukan, terutama  dalam hubungannya dengan bahaya yang akan mengancam akidah.  Kalau muara kita ialah “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” tentu  segala kepercayaan  masyarakat yang aneh aneh, seperti meyakini benda benda tertentu seperti keris yang bertuah, akik yang mempunyai kekuatan dahsyat, ataupun pohoh besar yang angker, dan lain sebagainya harus dilenyapkan dari  pikiran kita.

Kepercayaan  yang mensakralkan bulan Asyura tersebut merupakan warisan pikiran jahiliyyah yang dicoba untuk diangkat kembali oleh pihak pihak yang memang menginginkan pelemahan akidah umat Islam.  Namun sayangnya pikiran nyleneh tersebut justru malahan mendapatkan tempat di masyarakat  awam dan sekaligus diwujudakan dalam kehidupan mereka.  Sedangkan pikiran bersih yang didasarkan atas argumentasi kuat  malah diabaikan dan ditinggalkan.  Inilah keanehan  yang kita temukan dalam masyarakat kita yang sesungguhnya sudah modern.

Kita tidak tahu apa penyebabnya sesuatu yang aneh aneh justru  malah mendapatkan apresiasi masyarakat luas. Dongeng dongeng yang irrasionalpun juga sangat disukai oleh masyarakat, terbukti dengan beberapa dongen yang difilmkan  dan mengandung berbagai  keanehan yang supra natural  malah mendapatkan rating tertinggi dari segmen pemirsa televise.  Apakah memang itu cirri dari masyarakat yang malas berpikir atau masyarakat yang jenuh dengan kondisi yang menghimpit hidup merekan sehingga mereka mencari solusi dan konpensasi hiburan yang dapat menghilangkan segala persoalan hidup mereka.  Semuanya serba mungkin.

Demikian halnya dengan bulan Muharram atau Asyura ini, banyak  keanehan yang menyertainya, meskipun kita tidak tahu dari mana asal muasalnya sehingga timbul kepercayaan yang aneh tersebut.  Keanehan yang muncul tidak saja berkaitan dengan ancaman bahaya manakala melakukan kegiatan di bulan Asyura tersebut, melainkan juga  keanehan yang berkaitan dengan lakon atau perilaku manusia, seperti  melakukan lakon ritual tertentu agar bisa menolak balak bulan Asyura, dan juga perilaku lainnya.

Melihat kondisi seperti itu tentunya kita tidak boleh tinggal diam dan terus membiarkan masyarakat kita larut dalam kepercayaan yang  melenceng tersebut.  Solusinya ialah sekali lagi dengan memberikan penjelasan  dan sekaligus memberikan teladan kepada masyarakat banyak.  Konsep “ibda’ binafsik”, atau mulailah dari diri sendiri, barangkali perlu diterapkan di sini.  Kita tidak perlu menunggu kesadaran banyak orang  termasuk para tokoh dan ulama itu sendiri, melainkan  kita yang sudah mengerti dan menyadari pentingnya persoalan ini, mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kepercayaan tersebut.

Untuk itu saya  mengundang kepada siapapun untuk  berani melaksanakan  gawe pada bulan Muharram.  Kita harus memberikan apresiasi kepada siapapun yang dengan tulus mau melakukan gawe di bulan yang dianggap sacral oleh masyarakat tersebut.  Barangkali  apa yang dipraktekkan oleh keluarga Prof Amin Syukur, yang pernah melaksanakan gawe, yakni menikahkan putrinya pada bulan Muharram, perlu diberikan support agar dapat ditiru juga oleh masyarakat lain.  Memang sangat sayang bahwa apa yang telah dilakukan beliau ternyata kurang mendapatkan  perhatian masyarakat, karena hanya sendirian.  Nah kalau kemudian tokoh dan ulama lainnya juga berani berbuat demikian,  kita akan sangat yakin bahwa kepercayaan masyarakat yang menganggap bulan Muharram tersebut sebagai bulan yang membawa sial dan bahaya, akan  semakin menghilang.

Lebih lebih kepada semua komponen intelektual muslim yang tentu saja tidak tercemari dengan kepercayaan seperti  itu, kita sangat mengharapkan  partisipasinya untuk  secara  domonstratif mengupayakan berbagai kegiatan pada bulan Asyura tersebut.  Itu semua dilakukan dalam upaya menyelamatkan akidah umat Islam dari kotoran syirik yang sangat membahayakan.  Barangkali memang  ada beda pendapat mengenai kepercayaan terhadap kesakralan bulan Asyura ini yang sebagiannya masih bersikap toleran dan menganggapnya tidak termasuk perbuatan syirik, tetapi ada juga yang sudah menganggapnya sebagai kepercayaan sesat dan termasuk dalam kategori syairik.  Setidaknya kalau tidak termasuk perbuatan syiraik, kepercayaan seperti itu sudah nyerempet bahaya dan sangat mudah untuk benar benar tercebur dalam kesyirikan.  Dan itulah yang kita jaga dan upayakan, sehingga masyarakat akan terjauhkan dari persoalan syirik tersebut.

Ke depan kita  dapat berharap bahwa masyarakat kita dapat secara perlahan tetapi pasti beralih dari kepercayaan yang salah tersebut kepada kepercayaan yang benar dan didasarkan kepada argumentasi yang  kuat, yakni bahwa bulan Muharram atau Asyura tersebut bukanlah bulan yang malati atau memberikan banyak bahaya, melainkan justru merupakan salah satu bulan yang mulia dan banyak memberikan  berkah kepada  umat manusia, tentu bukan semata mata bulannya, melainkan semua itu karena kemurahan Tuhan semata.  Semoga Tuhan senantiasa menolong hamba hamba-Nya yang mau berubah kepada kondisi yang lebih baik, seperti berubah dari kepercayaan  yang salah menuju kebenaran.  Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.