HEMAT DAN SEDERHANA

Mungkin kita telah seringkali mendengar himbauan para tokoh di negeri ini agar kita dapat hidup hemat, karena di sekitar kita ternyata masih banyak orang melarat yang sangat membutuhkan uluran tangan kita yang kebetulan berlebih dalam hal harta.  Disamping itu juga kerapkali kita mendengar wejangan dari para ulama agar kita hidup sederhana dan tidak menampakkan kekayaan yang kita miliki, karena alasannya relative sama, yakni masih banyaknya masyarakat miskin dinegeri kita ini.   Himbauan tersebut terutama ditujukan kepada mereka yang  menjadi public figure, seperti para pejabat, para anggota dewan,  dan lainnya

          Memang kita tidak dapat melarang orang untuk menikmati hartanya, karena itu yang ada ialah hanya sekedar himbauan. Itu semua dimaksudkan agar tercipta ketenangan dan kedamaian di masyarakat yang saat ini sedang merana. Kita juga  menjadi tidak mengerti kalau kemudian ditanya tentang definisi sederhana dan hemat tersebut secara pasti.  Menurut sebagian orang, terutama yang mempunyai harta banyak, mobil camry, mersi  dan sejenisnya barangkali dianggap  barang biasa dan sederhana, namun kalau hal tersebut diukur dari kantong masyarakat kita, tentu merupakan barang mewah.

          Demikian juga misalnya  mengadakan ulang tahun anaknya yang baru berumur 1 atau dua tahun dan menghabiskan ratusan juta rupiah dianggap oleh sebagian orang sebagai hal yang sederhana dan lumprah, tetapi bagi kebanyakan orang tentu hal tesebut dianggap menghamburkan uang atau boros.  Dan begitu seterusnya. Jadi kita memang tidak bisa memberikan  kepastian batasan kepada mereka yang bertanya tentang  masalah tersebut.  Tetapi yang dapat kita berikan jawaban atas pertanyaan seperti itu ya keumuman yang didasaran atas pertimbangan masyarakat  banyak.  Jadi sangat mungkin pengertian  yang saat ini diberikan akan berbeda manakala  nantinya diberikan pada saat masyarakat kita sudah berubah kesejahteraannnya.

          Dengan demikian sekali lagi kita hanya dapat menghimbau kepada mereka agar mau hidup sederhana menurut ukuran umum dan juga dapat hidup hemat dan tidak boros.  Dulu ketika ibu Megawati masih menjadi presiden, selalu menghimbau kepada masyarakat banyak untuk mengencangkan ikat pinggang alias hidup hemat dan sederhana, tetapi kemudian mendapatkan kritik habis habisan, hanya disebabkan pak Taufik Kemas ketika mengadakan ulang tahunnya di bali mengahbiskan bermilyar rupiah.  Apakah himbauan untuk mengencangkan ikat pinggang tersebut hanya berlaku untuk masyarakat banyak yang memang tanpa dikencangkan ikatnyapun sudah kecil perutnya.

          Baru baru ini para anggota dewan di Senayan juga kebarakan jengot ketikan ketua KPK Busyro Muqaddas  menghimbau agar kita semua jangan hidup hedonis, padahal himbauan tersebut sederhana saja dan sudah kerap kali diucapkan oeh banyak tokoh.  Bahkan kalau kita cermati gejala hidup secara hedonis tersebut  sesungguhnya telah merambah dalam kehidupan kita, meskipun secara riil  terkadang kehidupannya pas pasan saja.  Misalnya orang akan bangga  makan di rektoran mahal yang hanya secangkir the atau kopi saja harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah, atau hanya sekedar makan malam saja  seseorang harus mengeluarkan jutaan rupiah.  Bandingkan misalnya kalau uang sebanyak itu kemudian dibelikan nasi bungkus yang seharga lima ribu rupiah hingga sepuluh ribu rupiah, sudah berapa perut yang dapat diselamatkan dari kelaparan?.

          Bahkan yang sangat tragis ialah ketika bulan puasa datang, sering orang kemudian mengadakan buka bersama dengan koleganya dengan memesan restoran ternama dengan harga yang sudah pasti mahal, padahal masih banyak anak jalanan dan orang orang miskin yang susah mendapatkan makanan, meskipun hanya sekedar nasi dengan tempe saja.  Nah, kalau orang berpuasa yang sejatinya untuk menyadarkan diri agar peka terhadap nasib dan penderitaan sesame, tetapi malah menghamburkan uang seperti itu, maka itulah sesunguhnya hidup hedonis sesungguhnya telah menjangkiti masyarakat kita.

          Saat ini kita juga sudah mendengar rencana pernikahan Edi Baskoro, putra presiden SBY dengan Siti Ruby Aliya, putri Hatta Rajasa.  Persiapannya sudah dilakukan dan pelaksanaan resepsi pernikahannya sendiri  akan menghabiskan  dana milyaran rupiah, dan pagi pagi sudah diumumkan bahwa uang tersebut sama sekali tidak dari Negara, melainkan dari uang pribadi.  Tentu kita sangat maklum bahwa putra presiden dan putri seorang menko  tentu soal uang tidak menjadi masalah, tetapi yang menjadi masalah justru kenapa para pejabat kita tidak bisa memberikan contoh bagi masyarakat dengan hidup sederhana dan hemat serta tidak boros.

          Memang tidak salah merayakan peristiwa pernikahan dengan megah dan meriah, bahkan untuk urusan  walimah tersebut, agama juga sagat menganjurkan, agar nantinya pernikahan tersebut diketahui oleh masyarakat, sehingga tidak kan menjadi fitnah.  Namun kalau pernikahan dan juga resepsinya tersebut dilaksanakan secara sederhana dan mengundang banyak orang miskin dan anak yatim untuk menikmati walimah yang ada, tentu akan sangat terpuji dan bahkan akan menjadi teladan bagi seluruh masyarakat.  Teend yang seperti itu  kiranya angat perlu diwujudkan dan dimulai dari para petinggi negeri ini.  Tetapi anehnya kehadiran orang orang miskin dan anak yatim dianggap malah mengganggu.

          Jadilah resepsi yang menghabiskan milyaran rupiah tersebut hanya untuk orang orang yang sesunguhnya tidak terlalu membutuhkan makanan tersebut.  Dengan begitu yang menderita tetap terus akan menderita, karena tidak pernah terpikirkan oleh mereka yang seharusnya memikirkan mereka.  Justru di situlah letaknya kemewahan dan keborosan tersebut, karena penggunaan dana yang cukup besar tetapi tidak tembus kepada masyarakat bawah yang sangat membutuhkan uluran tangan.

          Boleh saja orang beralasan yang beraneka macam, misalnya  dengan mengatakan bahwa tidak mengapa  wong menggunakan uangnya sendiri, atau boleh jadi  orang akan mengatakan bahwa tidak mengapa, sebab yang menjadi manten kan anak seorang presiden, sehingga wajar kalau kemudian harus meriah dan menghabiskan dana miyaran rupiah.  Atau mungkin juga akan ada orang yang akan mengatakan justru kalau pernikahan presiden dilaksanakan secara sederhana, maka akan dapat  menurunkan martbat orang tuanya, dan lain sebaginya.  Namun sesungguhnya kalau misalnya pernikahan tersebut dilaksanakan secara sederhana,  kita sangat yakin bahwa bukannya malah  merosot wibawanya, malahan  justru akan mendapatkan pujian dari masyarakat, karena telah memberikan teladan yang baik magi masyarakatnya.

          Tetapi memang aneh jalan pikiran kebanyakan  dari kita; orang hemat dan hidup sederhana yang sesungguhnya merupakan sikap yang sangat baik dan bahkan danjurkan juga oleh agama, kok malah dikatakan  akan dapat menurunkan  derajat seseorang.  Kita sangat mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh yang  hidupnya sangat sederhana.  Demikian juga dengan para sahabat beliau serta para ulama dan tokoh dunia sebagimana yang kita kenal melaui sejarah kehidupan mereka.  Lalu kenapa para tokoh dan pemimpin kita tidak dapat melakukan sesuatu yang dapat diteladani dan dibanggakan oleh masyarakatnya?.

          Hidup secara boros dan hedonis, tentu akan dapat menyebabkan seseorang  cenderung melakukan sesuatu yang  melanggar aturan, meskipun tidak selamanya begitu, tetapi  secara nalar dapat dirunutkan bahwa hidup boros ataupun hedonis entu akan menghabiskan banyak harta, dan kalau kemudian penghasilannya tidak akan dapat mendukung sikapnya tersebut, maka Sangat mungkin orang tersebut  kemudian  tergoda untuk bisa mendapatkan harta secara instan dan mudah, yakni korupsi.  Dan hal inilah yang dinalarkan oleh ketua KPK yang kemudian menyulut komentar yang sangat  mengecewakan dari para anggota dewan kita.

          Sebaliknya hidup secara sederhana dan Hemat akan menjadikan seseorang terjauhkan dari  berbagai godaan yang  ujung ujungnya  akan dapat menyengsarakan dirinya sendiri.  Hidup sederhana juga akan semakin mendekatkan diri kita kepada  Tuhan dan sekaligus kepada masyarakat umum, karena kita  dapat merasakan denyut nadi masyarakat, tentang penderitaan mereka, tentang kelaparan mereka, tentang uang utang mereka, tentang  tangisan anak anak mereka, dan tentang  kondisi sebenarnya dari mereka.  Pendeknya, dengan hidup sederhana  justru akan membuat seseorang semakin  baik dan peduli akan nasib dan penderitaan sesamanya.

          Semoga dengan himbauan seperti ini nantinya  akan banyak orang tersentuh dan menyadari betapa pentingnya keteladanan terutama untuk hidup sederhana dan hemat.  Akan banyak pula yang kemudian insyaf bahwa sikap dan perjalanan hidupnya selama ini ternyata  sangat boros dan  menjadikan banyak orang iri serta menjadikan banyak orang menderita disebabkan kemiskinan mereka.  LATU langkah yang kemudian dilakukannya íalah dengan memberikan bantuan kepada masyarakat miskin  agar mereka dapat ikut menikmati karunia yang dititipkan oleh Tuhan kepada mereka.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.