RENUNGAN UNTUK SERTIFIKASI DOSEN

Semenjak tahun 2009 sertifikasi dosen dilaksanakan dan sudah banyak anggarang Negara yang digunakan untuk membayar tunjangan profesi setelah dosenn memperoleh sertifikat, dan sampai saat ini masih cukup banyak dosen yang belum  berkesempatan untuk mengikuti sertifikasi dosen tersebut.  Ada beberapa sebab  kenapa sebagian dosen belum mendapatkan kesempatan mengikuti sertifiasi  tersebut, diantaranya ialah katrena yang bersangkutan belum memenuhi persyarakatn, seperti belum mempunyai ijazah S2, atau belum melaksanakan tugas  mengajar selama dua tahun terakhir berturut turut,  atau memang  belu masuk kuota, atau persayaratan lainnya.

Dalam hal pelaksanaan serifikasi dosen itu sendiri saya berpendapat ada penurunan gairah dari para  pelaksanana dan juga dosen yang mengikuti serdos tersebut.  Indikasi yang sangat jelas terhadap kesimpulan saya tersebut ialah pelaksanaan penyelenggaraan serdos yang semakin  tahun semakin mengalami kemunduran terutama dari sisi waktu.  Bahkan untuk serdos tahun 2011 ini sampai detik ini masih belum ada  siding kelulusan  serdos tersebut.  Padahal ketika pertama kali serdos diselenggarakan, bulan Agustus sudah selesai, kemudian tahun berikutnya  sedikit muncur hingga Oktober.

Sementara itu indikasi  kelesuan dan kekurang gairahan dari pada dosen yang mengikuti serdos, dapat dilihat dari  potofolio yang disusun oleh dosen. Deskripsi diri yang merupakan  penggambaran kinerja dosen, yang seharusnya disusun sedemikian rupa menarik dan rapi, tetapi dalam kenyataannya, justru semakin menurun kualitas deskripsinya.  Sangat mungkin memang kualitas para dosennya yang menyebabkan  menurunnya kualitas deskripsi diri, karena pada serdos tahap pertama diikuti oleh mereka yang sudah mencapai Lektor Kepala, kemudian tahap kedua  diikuti oleh mereka yang telah mencapai lector.  Sementara serdos saat ini  banyak diikuti oleh mereka yang masih asisten ahli.

Tetapi seharusnya bagi mereka yang masih asisten ahli justru akan lebih berkualitas, karena  masih fress dan semangat untuk melakukan berbagai aktifitas keilmuan masih cukup tinggi.  Atau barangkali penurunan kualitas deskripsi diri tersebut disebabkan oleh factor yang lain, misalnya pada tahap ketiga saat ini kebanyakan pesertanya ialah dari dosen dosen swasta. Sebagaimana kita ketahui bahwa kualitas dosen dosen  perguruan tinggi swasta relative  rendah dibandingkan dengan kualitas dosen di perguan tinggi negeri.  Indikasi yang sangat jelas ialah tentang kesejahteraan mereka yang sangat kurang.  Jangankan untuk biaya penelitian, untuk menghidupi diri dan keluarganya saja masih  harus berpikir seratus kali agar dapat tetap bertahan hidup.  Meskipun tidak semua dosen perguruan tinggi swasta, melainkan hanya  mayoritasnya  memang harus diakui seperti itu.

Tentang kualitas dosen swasta tersebut kiranya  perlu mendapatkan perhatian dari kementerian agama,  dalam hal ini Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, karena bagaimanapun juga  cerminan kualitas para dosean swasta tersebut juga akan menjadi  wajah dari perguruan tinggi di dalam pembinaan  kementerian agama.  Artinya perlu ada penguatan  terhadap kualitas dosean swasta melalui berbagai program, misalnya dengan pemberian biasiswa untuk meneruskan studi lanjut, pemberian kesempatan untuk mengikuti berbagai workshop peningkatan kualitas, dan pemberian  bantuan fasilitas untuk melakukan penelitian dan lain sebagainya.

Kita semua tentu sangat khawatir bahwa  kalau hal tersebut dibiarkan seperti saat ini, nantinya akan terkesan bahwa sertifikasi dosen hanya akan menghamburkan uang saja, karean meskipun  para dosen telah mendapatkan perbaikan kesejahteraan melalui tunjangan profesi, namun dalam kenyataannya kualitas mereka masih memprihatinkan, sehingga  tujuan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan tercapai. Berbagai program penguatan, seperti dalam aspek metodologi penelitian, dalam aspek penguasaan bahasa asing, dalam aspek menejeman pendidikan, dan lainnya sangat mendesak untuk dilakukan  oleh semua pihak.

Tentu apa yang saya sebutkan di atas bukan semata mata untuk dosen swasta, melainkan  hal tersebut hanya sebagai penekanan saja, karena ternyata  harus diakui bahwa masih banyak juga dosen di perguruan tinggi negeri yang juga masih relative rendah kualitasnya, sehingga program penguatan tersebut juga seharusnya dilakukan oleh perguruan tinggi negeri, melalui DIPA masing masing.

Upaya peningkatan kualitas dosen secara umum  memang telah diupayakan oleh Negara melalui pengalokasian anggaran pendidikan yang mencapai 20% dari total Anggararan dan Pendapatan dan Belanja Negara, dan salah satunya diwujudkan melalui program sertifikasi guru dan dosen. Program sertifikasi tersebut dimaksudkan agar para pendidik yang menjadi tumpuan harapan Negara untuk peningkatan pendidikan di tanah air, dapat melakukan upaya upaya terencana untuk meningkatkan kualitas diri, sehingga akan dapat memnyandang predikat sebagai pendidik professional yang sesungguhnya.

Ukuran sebagai tenaga pendidik professional secara teoritik telah dirumuskan yakni mereka yang mempunyai kompetensi pedagogic, professional,  kepribadian dan social.  Keempat kompetensi tersebut kemudian dijabarkan kepada berbagai kisi yang menggambarkan tenaga pendidik ideal.  Namun sayangnya  untuk mengarah kepada sosok ideal tersebut terkadang hanya dilewati secara serampangan saja sehingga meskipun seseorang telah mendapatkan sertifikat sebagai pendidik yang rpofesional, tetapi kompetensi sebagaimana yang diharapkan, tidak kunjung muncul.

Barangkali  proses dalam pemberian sertifikat sebagai pendidik yang professional masih perlu untuk diperbaiki.  Hal tersebut sesungguhn ya merupakan sesuatu yang niscaya, hanya saja  banyak kalangan yang  mengkritik bahwa  selama ini mereka para guru dan dosen kan sudah berkewcimpung lama dalam dunia pendidikan dan telah menghasilkan lulusan yang saat ini  menghiasi negeri ini.  Untuk itu pemberian sertifikat tersebut  memang seharusnya disederhanakan, sehingga tidak  akanmalah mempersulit pendidik itu sendiri.

Memang  harus diakui serba salah, disatum pihak menghendaki bahwa  dengan adanya sertifikasi tenaga pendidik tersebut merupakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas mereka secara nyata melalui  seleksi yang sangat ketat dan criteria yang jelas. Namun di pihak lain menghendaki bahwa  cukuplah sertifikasi tersebut dilaksanakan secara sederhana dan memberikan penghormatan kepaa para pendidik untuk menikmati  tunjangan profesinya.  Alasan ini memang  sangat manusiawi, karena  selama ini  penghasilan mereka, lebih lebih para pendidik yang  dari kalangan swasta, sangat tidak memadahi dibandingkan dengan tuntutan mereka untuk mencerdaskan bangsa.  Pertarungan antara dua keinginan tersebut, akhirnya dirumuskanlah  proses sertifikasi sebagaimana kita lihat dan prkatekkan sekarang.

Namun kalau kemudian kita  merenungkan kembali tentang  kondisi umum  pendidikan kita saat ini yang tidak kunjung membaik, tentu kita harus  kembali memberikan  pencermatan ulang  atas format sertifikasi yang kita jalankan.  Akan sangat sayang kalau uang yang sebanayk itu kemudian tidak memberikan manfaat besar bagi anak anak bangsa ini melalui pendidikan mereka.  Memang  kita juga menyadari bahwa tenaga pendidik bukan satu satunya factor penentu kualitas pendidikan, namun juga harus diakui bahwa  factor pendidik itu sangat vital dan bahkan dapat dikatakan sebagai factor utamanya.

Untuk itulah  menurut saya  sangat diperlukan  upaya untuk memberdayakan seluruh komponen pendidikan sehingga  bangsa kita akan dapat bersaing dengan bangsa lain, terutama dalam hal sumber daya manusia, dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.  Bagi mereka yang belum tersertifikasi, diperlukan  upaya nyata  melalui berbagai program peningkatan kualitas mereka sebelum diberikan sertifikat.  Sementara itu bagi mereka yang sudah mempunyai sertifikat juga dipacu untuk selalu meningkatkan kualitas mereka.  Karena itu saya sangat setuju manakala sertifikat pendidik tersebut tidak berlaku selamanya tetapi harus ada evaluasi berkala.

Manfaat dari evaluasi berkala tersebut ialah agar para pendidik benar benar berupaya mempertahankan dan bahkan meningkatkan kemampuan dan kreatifitas mereka  dalam menjalankan profesi,  dan bagi mereka yang stagnan dan bahkan  sama sekali tidak produktif dan bahkan malahan  menurun, ya harus  ada keberanian untuk mencabut sertifikat tersebut.  Dalam hal seperti ini peran pengawasan dari atasan pendidik akan sangat menentukan.  Artinya   untuk mengetahui apakah seorang pendidik menjalankan tugas profionalnya tersebut dengan benar dan memberikan dampak positif kepada peserta didik atau tidak.

Itulah barangkali yang perlu diungkapkan sehubungan dengan sertifikasi dosen, khususnya di kalangan dosen penguruan tinggi agama Islam, yang saat ini sedang melakukan evaluasi  di Hotel Santika Primier semarang.  Saya  juga yakin bahwa kondisi serupa juga dialami oleh perguruan tinggi swasata  di lingkungan kemendikbud.  Untuk  renungan ini juga sekaligus dalam upaya untuk  memperbaiki program serdos kedepan, baik di lingkungan kementerian agama maupun di lingkungan kemendikbud.  Kita semua tahu bahwa pelaksanaan serdos tersebut  tidak ada bedanya antara  yang dilaksanakan di lingkungan kemenag dan kemendikbud.

Semoga beberapa  pikiran sebagaimana tersebut akan memberikan sumbangan nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini.  Kita sangat merindukan  seluruh anak bangsa ini menjadi cerdas, sehinggatidak aka nada lagi manusia Indonesia yang  berniat mmenindas saudaranya, tidak akan lagi ada warga bangsa yang dibodohi oleh pihak lain dan seterusnya.  Kondisi seperti itu akan sangat mendukung terwujudnya masyarakat madani yang kita cita citakan bersama,  semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.