MEMASUKI BULAN DZUL HIJJAH

Setidaknya saat ini telah memasuki hari ketiga bulan Dzul Hijjah 1432 H dan seluruh jamaah calon hajji yang tahun ini merencanakan menunaikan ibadah hajji telah berkumpul seluruhnya di Makkah al-Mukarramah.  Dapat dibayangkan betapa sesaknya umat manusia seluruh dunia berada di sebuah kota, karena yang menunaikan ibadah hajji tahun ini diprediksikan  akan bertambah, meskipun pemerintah Saudi telah membatasi sedemikian rupa, tetapi kenyataannya masih banyak para calon hajji yang dianggap illegal dan terus dilakukan razia oleh pemerintah.  Bayangan kita tentang hiruk pikuknya kota Makkah tersebut terlukis dari jamaah calon hajji yang berasal dari Indonesia saja sudah lebih dari dua ratus ribu orang.  Sedangkan yang dating ke Makkah berasal dari seluruh penjuru dunia, sehingga  dapat dikatakan bahwa saat ini Makkah telah berubah menjadi lautan manusia.

Biasanya dalam kondisi yang seperti itu sangat rawan dalam berbagai bidang, misalnya tentang keamanan, kesehatan, kemacetan, dan bahkan rawan dari ketenangan.  Walaupun kita sangat yakin bahwa mayoritas  jamaah calon hajji menginginkan hal yang terbaik bagi mereka.  Kerawanan sepeti itu tentu tidak dapat dihindari manakala  tidak ada kesadaran bersama dan sikap toleransi yang dikedepankan.  Untungnya para jamaah calon hajji adalah mereka yang terpilih, sehingga keadaan mereka sangat membantu terciptanya suasanya yang tetap kondusif dan tidak menimbulkan persoalan yang besar.

Hanya saja memang sebaimana di tempat lain, ada saja orang yang memanfaatkan keadaan untuk kepentingan pribadi,  seperti melakukan tindakan kurang terpuji seperti mencopet dan mencuri dengan memanfaatkan kelengahan ataupun kepercayaan yang diberikan oleh jamaah calon hajji.  Demikiajuga  terjadinya  sikap kurang toleran dan kemudian menimbulkan pertengkaran untuk mempertahankan ego dan pendapat yang sesungguhnya tidak perlu ditunjukkan di tanah suci.  Tetapi itulah yang sering terjadi dan menjadi bumbu dalam menjalan ibadah hajji.

Itulah kondisi dan  gambaran secara  sepintas  tentang mereka yang tahun ini berkesempatanuntuk menunaikan ibadah hajji.  Tentu gambaran yang  seperti itu belum dapat memberikan sebuah keyakinan dan sekaligus mewakili keseluruhan  keadaan mereka yang menjalankan ibadah hajji, tetapi setidaknya hal seperti itulah yang sering terjadi dan dirasakan oleh setiap orang yang  telah mengalami.  Sedangkan berbagai kejadian yang  juga sering terjadi dalam kaitannya dengan ibadah, seperti berdesakannya umat manusia  untuk menjalankan ibadah thawaf, sa’i, shalat jumat dan lainnya, serta banyaknya orang yang tidak memperhatikan tentang kesucian ketika  melaksanakan shalat tentu  tetap menjadi pemandangan yang  biasa terjadi.

Pendeknya ada saja kelakuan  manusia yang  tampak aneh dan tidak biasa dilakukan di tanah air.  Kita juga dapat menyaksikan  misalnya orang Indonesia yang memasuki masjidil Haram dengan tetap memakai sandalnya, karena mengikuti orang-orang lain yang melakukan hal seperti itu, padahal ketika mereka di tanah air sangat tidak mungkin memakai sandal di masjid.  Barangkali orang seperti itu hanya larut dalam keadaan sesaat yang bisa saja akan mendatangkan kerugian bagi dirinya.

Sementara itu pada hari hari yang sama di tanah air kesibukan orang sudah mulai terasa untuk mempersiapkan kurban dengan berbagai aktifitas.  Bagi mereka yang mempunyai  rasa wirausaha, tentu akan memanfaatkan  kesempatan seperti bulan Dzul Hijjah ini untuk mendapatkan keuntungan sekaligus diniati membantu  orang-orang yang ingin berkurban.  Artinya  mereka  akan menyediakan hewan kurban, baik sapi maupun kambing yang didatangkan dari para peternak untuk kemudian dijajakan dan ditawarkan kepada panitia kurban di berbagai tempat, masjid, mushalla, instansi,  dan juga kompleks perumahan dan lainnya.  Bahkan bagi mereka yang mempunyaimodal besar omzet mereka bisa  ratusan juta dan bahkan milyaran rupiah.

Namun demikian ada hal yang perlu disampaikan kepada para pedagang dadakan dan juga para calon pembeli hewan kurban, agar berhati hati tentang adanya hewan yang sakit dan juga beberpa hewan kurban yang belum berumur.  Jangan sampai karena mengejar  keuntungan, kemudian melupakan aspek  lain yang justru menjadi syarat keabsahan kurban.  Hal ini sering kita temui, terutama para pedagang yang menjajakan  dagangannya di pinggiran jalan dan disebabkan stok hewan kurban yang  tidak sebanding dengan animo masyarakat untuk membeli dan mendapatkan hewan kurban tersebut.  Bahkan saya pernah menjumpai adanya kambing yang  sangat muda dan  seharusnya belum memenuhi sayarat umur hewan kurban ikut dipasarkan, karena memang kesulitan mencari hewan kurban.  Hal inilah yang saya maksudakan  untuk diperhatikan, agar keinginan untuk mendapatkan keuntungan tersebut kemudian tidak mengalahkan sesuatu yang menjadi persyaratan  kurban itu sendiri.

Terkadang kita juga dibuat tidak nyaman oleh para pedagang dadakan untuk menjual hewan kurban tersebut, misalnya tentang bau tidak sedap yang dikeluarkan oleh hewan hewan kurban tersebut.  Itu disebabkan ketika menjajakan hewan tersebut mereka  membuat kandang hewan darurat di sembarang tempat atau di tempat umum,  sehingga  aroma khas kambing tersebut sangat mengganggu masyarakat sekitar.  Meskipun  demikian masyarakat secara umum masih bersikap toleran dengan membiarkan mereka melakukan hal tersebut walaupun harus menggerutu setiapkali melewati tempat tesebut, lebih lebih mereka yang  tinggalnya sangat dekat dengantempat kandang  darurat yang dibuat oleh para pedagang tersebut, tentu sangat terganggu.

Barangkali diperlukan penataan ulang tentang hal tersebut, misalnya  pemerinta menyedikan tempat khusus yang cukup jauh dari tempat tinggal masyarakat,  seperti di lapangan atau tempat lain yang memungkinkan dan disediakan untuk seluruh pedagang dengan menyewa.  Hal seperti itu tentu akan sangat memudahkan bagi calom pembeli untuk mendatangi tempat tersebut dan leluasa untuk memilih hewanyang dikehendaki, karena  akan banyak pilihan.  Atau kalau mungkin ya penjualan hewan kurban tersebut di rumah atau tempatnya sendiri dengan memberitahukan kepada masyarakat tentang lokasi dan persediaan hewan, sehingga calon pembeli akan  mudah mencarinya.

Penataan semacam itu  menjadi sangat mendesak mengingat saat ini sudah banyak kersahan masyarakat tentang maraknya kandang kandang hewan yang berserakan di beberapa tempat strategis yang sangat tidak layak untuk dijadikan  kandang.  Disamping sangat mengganggu pemandangan juga  bau khas kambing yang “prengus” terus mengusik setiap orang yang melintas jalan tersebut.  Kita sangat khawatir kalau hal ini dibiarkan terus menerus dari tahun ke tahun, meskipun hanya berjalan sekitar 2 mingguan,  nantinya  akan menimbulkan kegerahan masyarakat yang berujung kepada instabilitas di masyarakat itu sendiri.

Antisipasi terhadap berbagai kemungkinan  terjadinya  kerusuhan, apapun penyebabnya harus segera mendapatkan solusi terbaik,  sehingga kondisi stabil di masyarakat akan tetp terjaga dan ketentrman lingkungan akan terus dapat dipertahankan dan dipelihara.  Pada sisi lain kita memang dapat memahami bahwa  saat seperti ini memang menjadi musim panen bagi mereka, tetapi kalau dilakukan penertiban dengan upaya penyediaan lahan dan tempat untuk menjajakan hewan kurban tersebut di sebuah tempat tertentu, tentu akan lebih  memberikan kenyamanan kepada semua pihak.

Bulan Dzul Hijjah memang mempunyai arti tersendiri bagi umat Islam.  Disamping kesibukan sebagian mereka yang menunaikan ibadah hajji, dan juga kesibukan mereka yang mempersiapkan hewan kurban, juga masih ada kesibukan masyarakat muslim lainny, terutama dalam menyongsong hari raya kurban atau idul adl-ha tersebut.  Penyambutan tersebut sangat terasa manakala sudah memasuki hari kedelapan dan kesembilan, karena sebagian mereka melakukan puasa tarwiyah dan puasa Arafah. Memang tidak semua masyarakat melakukan hal seperti itu, melainkan hanya  sebagian saja, terutama mereka yang berada di lingkungan pesantren.

Sementara itu bagi masyarakat lainnya, justru banyak yang mempersiapkan tempat shalai id, terutama mereka yang menyukai melaksanakan shalat id di luar masjid.  Belum lagi ketika menghadapi musim seperti sata sekaran ini, yakni dengan mengantisipasi bilamana terjadi hujan,  sehingga mereka harus mepersiapkan segala sesuatunya, seperti tenda dan lainnya.  Namun  itulah asyiknya menyaksikan berbagai kesibukan masyarakat muslim dalam mempersiapkan sebuah ritual massal  yang juga mempunyai arti syiar tersendiri.

Aapapun yang dilakukan umat Isam dalam mempersiapkan  segala sesuatu dalam memasuki bulan Dzul Hijjah ini perlu diberikan apresiasi tinggi,karena di tengah hiruk ikuknya  kegiatan yang materialistis, masih cukup banyak masyarakat muslim yang peduli terhadap kegiatan ibadah.  Kita  berharap bahwa  kedepan umat Islam akan dapat lebih memberikan warna positif bagi pembangunan  umat dan pengembangan masyarakat  serta bangsa ini secara lebih luas. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.