KRITIK ATAS KONDISI SAAT INI

Banyak kalangan yang mengatakan sudah kehabisan kata kata atau kalimat untuk mengingatkan dan  mengkritisi kondisi bangsa saat ini.  Karena  hamper seluruh kata atau pernyataan yang paling tajam dan pedaspun sesungguhnya telah dilontarkan,tetapi tidak mendapatkan reaksi apa-apa.  Seolah hanya dianggap angin lalu dan sama sekali tidak merspon.  Itulah kejengkelan beberapa pihak yang beberapa waktu lalu disampaikan.  Pihak-pihak yang mengkritisi tersebut tidak hanya sebatas  dari kalangan politisi, melainkan juga dari kalangan tokoh agama, budayawan, musisi, dan kalangan lainnya.

Kenapa  semua pihak turut berkomentar tentang masalah bangsa, ya , kerena kondisinya sudah sangat memprihatinkan, tetapi masih dianggap biasa oleh para penguasa.  Bangsa yang sakit dan bahkan sangat akut ini ternyata dilihat oleh para pengelolanya masih cukup baik dan bisa bertahan sampai jangka waktu yang sangat lama.   Inilah yang menyebabkan kenapa para pengamat dan para tokoh yang peduli akan nasib bangsanya menjadi sangat gerah dengan perilaku pengelola Negara yang tidak tanggap terhadap kondisi yang sudah sangat parah menimpa bangsanya.

Meskipun begitu ketika didesk tentang apa yang mesti dilakukan dan akan dilakuka kedepan, apakah  dengan mengkampanyekan perbaikan system  dan menunggu sampai tahun 2014? Mereka kebanyakan menyuarakan tidak harus menunggu sampai 2014, tetapi ketika ditanya apakah kalau begitu harus menggulingkan pemerintahan yang saat ini berkuasa, mereka terdiam dan tidak dapat menjawab lebih jauh.  Barangkali dalam hatinya akan mengatakan ya, namun tidak ada keberanian untuk mengungkapkannya.  Saya katakana dalam hatinya mengatakan ya, disebabkan  dari argumentasi yang disampaikan bahwa  ketika dalam pilpres dan pemilu yang lalu ternyata ada  mafianya yang mengatur tentang perolehan suara, meskipun tidak dapat membuktikan secara pasti.

Menurut saya berbicara mengenai pemilu dan pilpres tahun 1009 telah selesai dan Komisi Pemilihan Umum yang diberikan weweang untuk menyelenggarakan pemilu telah megesahkan, serta sesuai dengan ketentuan perundangan tidak ada keberatan dari pihak-pihak tertentu sampai berjalan lebih dari 2 tahun, kiranya tidak perlu diungkit-ungkit lagi.  Sebab kalau kembali mengungkit masalah tersebut bangsa ini akan semakin terpuruk karena  akan terus dirundung persoalan yang tidak ada habisnaya, serta energy kita akan habis hanya untuk membicarakan sesuatu yang sesungguhnya sudah selesai.

Presiden yang saat ini memerintah adalah sah berdasarkan peraturan perundangan, dank arena itu tidakperlu dipersoalkan.  Sedangkan untuk urusan pelaksanaan tugas yang kurang maksimal, tentu semua pihak berhak untuk mengingatkan dalam bentuk saran dan krtik membangun, dan presiden serta seluruh penyelenggara Negara seharusnya tidak boleh alergi dengan kritik, karena kritik itu sendiri sesungguhnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari pememrintahan demokrasis dalam upayameningkatka kinerja dan perbaikan keadaan.

Jadi jangan munculkan keingina untuk melengserkan pemerintah yang sah selama tidak menyimpang dari perundangan yang ada.  Kalau misalnya dianggap kurang tegas dan kurang berani dalam memberantas korupsi atau untuk memberantas mafia yang berkembang di negeri ini itu sangat relative.  Mungkin ada orang yang menilai bahwadengan menyuarakan  pemberantasan korupsi dan perintah serta instruksi kepada para pihak yang diberi tuga dan tanggung jawab menuntaskan persoalan tersebut, dianggap sudah cukup, walaupun kemudian tidak menghasilkan apa apa.  Tetapi memang harus diakui ada pihak yang menilai bawa hal tersebut hanyalah untuk membentuk pencitraan diri dan  sesungguhnya hanya merupakan usaha pembohongan terhadap masyarakat saja.

Nah, kalau sudah berkaitan dengan persoalan penafsiran, tentu banyak  hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan sesuatu yang inskonstitusional.  Kalau kemudian memang kita kebetulan mempunyai presiden yang dianggap tidak tegas dan tidak mempunyai nyali dalam memerangi kejahatan atau dianggap tidak tanggap terhadap kondisi masyarakat dan tidak mempunyaikepekaan terhadap rasa keadilan, maka semua itu  disamping harus terus diupayakan memperbaikinya, baik langsung kepada presiden maupun kepada para pembantu dan pelaksananya, juga harus dikembalikan kepada kita masing-masing, mengapa memilih presiden yang seperti itu, padahal kan dipilih untuk kedua kalinya.

Jangan jangan yang menilai seperti itu hanya kita saja, sementara masyarakat banyak yang memilihnya justru melihat sesuatu yang lain dan menganggapnya sebagai pilihan terbaik ,meskipun dari yang terjelek.  Sebab yang arus dipilih ya hanya yang terdaftar dan disahkan oleh KPU dalam pemilihan presiden.  Kalau memang demikian persoalannya, tentu perlu ada pemikiran lain, yani tentang pencalonan presiden itu sendiri.  Barangkali sudah perlu  dipertimbangkan  mengenai  diperbolehkannya calon presiden dari non partai atau calon independen.  Sebab  sangat mungkin para tokoh partai yang saat ini ada dianggap tidaklayak memimpin bangsa, tetapi masih banyak individu yang sesungguhnyalayak emimpin negeri ini tetapi tidak mempunyai kesempatan untu menjadi calon presiden.

Kiranya inilah yang perlu diberika apresiasi oleh para pengambil keputusan, khususnya parlemen yang saat ini juga tidak sei dari kritik itu sendiri.  Kalau misalnya kondisinya masih tetap seperti ini dan pada tahun 2014 nanti yang bisa mencalonkan diri sebagai presiden juga dibatasi oleh partai politik dengan suara tertntu, maka pemerintahan yang akan dihasilkan nantinya juga  akan mengalami nasib seperti saat ini.  Hanya mungkin sedikit berbeda karena perbedaan yang saat ini dituntut oleh  sebagian masyarakat, yakni bersikap tegas, berani, dan peka terhadap kondisi masyarakat secara umum.  Tetapi untuk aspek lainnya dapat dipastikan juga akan digugat oleh sebagian masyarakat yang menginginkan sesuatu yang lain dari kondisi yang ada.

Menurut saya kritik itu boleh saja disampaikan, tentu dengan cara yang simpatik, sehingga  ada harapan pihak yang dikritik akan merasa diingatkan untuk melakukan perbaikan dan evaluasi diri dalam upaya meningkatkan kinerja secara umum.  Sementara itu kritik yang disampaikan dengan nada menyudutkan dan bahkan permusuhan, tentu akan disikapi ain oleh pihak yang dikritik, siapapun orangnya.  Kernea ini merupakan sesuatu yang noermal dan manusiawi.  Kritik yang bernuansa jalanan dan menggugat secara tidak mempertimbangkan aspek kelayakan, tentu sangat kita sayangkan dan seharusnya tidak akan muncul dari orang yang mempunyai sifat bijak.  Sebaliknya kalau kritik tersebut bernuansa membangun dan disampaikan secara arif, sudah selayaknya mendapatkan tanggapan positif dari pihak yang dikritik.  Dan ketika pihak yang dikritik tetap juga tidak bergeming dan sama sekali tidak mengindahkan kritik tersebut, tentunya perlu ada upaya komunikasi langsung dengan harapan pihak yang dikritik  akan mengetahui sasaran dan tujuan kritik yang disampaikan tersebut.

Dengan cara begitu insya Allah  akan lebih berhasil dan saya yakin akan mendapatkan repon, meskipun belum dan tidak maksimal.  Memang serba repot untuk mengingatkan mereka yang sedang berada dalam kekuasaan, karena ternyata banyak hal yang harus dilalui dan berliku,  sehingga terkadang pesan yang diinginkan belum sampai tetapi energy untuk hal tersebut sudah habis.

Memang kalau  kita mencermati kondisi saat ini, seharusnya pemerintah dalamhal ini presiden banyak memperhatikan masukan dari masyarakat dan tidak hanya memperhatikan dari para pembantunya semata, yang terkadang kurang obyektif.  Saya hanya khawatir kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, akan terjadi sesuatu yng tidak kita inginkan bersama.  Analisa sebagian besar tokoh menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat kepada penyelenggara Negara saat ini mengalami penurunan yang signifikan.  Setidaknya ada beberapa  hal yang menandai delegimiasi tersebut, yakni munculnya demonstrasi di berbagai temapt yang menyuarakan ketidak percayaan masyarakat kepada presiden, munculnya survey yang menunjukkan penurunan kepercayaan masyarakat, munculnya tokoh agama yang biasanya tidak mau bersuara, dan lainnya.

 Namun sekali lagi apapun kelemahanyang saat ini ada dan juga sikap presiden yang dianggap tidak tegas dan tidak mempunyai nyali untuk memberantas korupsi dan lainnya, tidak serta merta membolehkan seseorang atau kelompok untuk menurunkan presiden.  Hanya saja yang sangat diperlukan saat ini ialah bagaimana memperbaiki kondisi dengan terus menerus memberikan masukan dan kritik membangun kepada penyelenggara Negara dari pusat hingga daerah.  Kalau semua masyarakat, terutama para tokohnya terus melakukan pengawasan, insya Allah kondisi Negara kita akan bisa lebih baik, meskipun belum sebgaimana yang dinginkan.

Semoga ada kesadaran bersama untuk mencintai tanah air kita ini melalui tindakan nyata, yakni membangun negeri ini  secara menyeluruh dengan penuh kesungguhan dan cinta.  Artinya hokum yang menjadi panglima harus benar-benar ditegakkan, tidak memandang  perbedaan  dan sekaligus menyikat habis diskriminasi dalam pelaksanaannya.  Demikian juga semua yang menjadi penghalang  menuju terwujudnya masyarakat  madani yang diinginkan harus disingkirkan, seperti para koruptor, penyuap, pengemplang  dan penipu yang saat ini masih banyak bergentayangan di sekitar dan di Negara kita.  Dengan begitu kita akan dapat berjalan di dalam jalan demokrasi yang benar dan sekaligus dapat memberikan harapan positif kepada masyarakat dan seluruh warga bangsa ini.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.