KONFERENSI UMAT ISLAM SEDUNIA

Musim hajji tahun ini telah dimulai dan bahkan mayoritas calon hajji sudah berada di kota suci Makkah dan sebagiannya masih di Madinah atau masih menunggu pemberangkatan dari negaranya menuju makkah.  Meskipun demikian kota Makkah tentu sudah mulai sesah oleh membludaknya manusia dari seluruh penjuru dunia untuk menunaikan ibadah hajji tahun ini.  Asap knalpot kendaraan yang lalu lalang mengantarkan jamaah yang kebetulan mendapatkan pemondokan agak jauh dari masjidil haram, sudah demikian menyesakkan dada, belum lagi ditambah dengan desah nafas dan bahkan juga bau keringat manusia sejagat yang berkumpul di tempat yang sama.  Namun demikian jamaah calon hajji tetap menikmatinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan hajji yang memang memelukan perjuangan  tersebut.

 Tentu kita sangat menyadari bahwa meskipun mempunyai tujuan yang sama yakni melaksanakan ibadah hajji, namun  harus diakui bahwa  ada perbedaan yang sangat menyolok dari perilaku dan kesan yang didapatkan oleh masing-masing jamaah calon hajji tersebut. Ada yang biasa-biasa saja, yakni hanya menjalankan kegiatan yang berhubungan dengan ibadah semata tanpa dapat menarik suatu kesimpulan dari berkumpulnya  jutaan umat manusia tersebut.  Orang-orang seperti ini memang tidak terlatih untuk membaca situasi dan keadaan yang sedang dihadapinya,  meskipun sesungguhnyaa banyak hal dapat dipetik hakmahnya.

Dilain pihak ada orang yang memang terbiasa dengan membaca dan menilai setiap keadaan yang ada dihadapannya, untuk kemudian disimpulkan menurut jangkauan pikirannya  sebagai sebuah hasil pengamatan dan sekaligus pengalaman yang dapat dimanfaatkan tidak saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain.  Orang orang seperti itu biasanya suka berbagai pengalaman dengan orang lain, dan orang seperti inilah sesungguhnya  yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad sebagai orang terbaik, karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama yang ada di sekitarnya.

Namun ada juga yang  meskipun tidak berbagi dengan pihak lain, tetapi ia berusaha untuk merealisasikan maksud firman Tuhan, yakni bahwa  Tuhan  itu menciptakan manusia  terdiri atas laki-laki dan perempuan dan dijadikannya manusia bersuku-suku dan berbangsa dengan tujuan agar mereka saling mengenal satu sama lainnya.  Perintah mengenal satu dengan lainnya tersebut dapat diartikan sebagi perintah untuk saling mengetahui kebiasaan, kebudayaan, penemuan-penemuan yang dihasilkan dan juga kemajuan ilmupengetahuan dan teknologi serta lainnya.  Sehingga dengan pengertian seperti itu orang-orang tersebut menjadikan berkumpulnya manusia sedunia  dalam manjalankan ibadah hajji tersebut sebagai sebuah konferensi terbesar dan sekaligus dapat  saling mengetahui dan mengenal diantara mereka, meskipun hanya melalui pengamatan dan perenungan semata.

Kalau sesorang telah terbiasa  melakukan penelitian atau sekedar pengamatan secara serius, dan kemudian membaca segala hal yang berkaitan dengan pengamatannya tersebut  dengan daya nalarnya yang telah terlatih, maka orang tersebut akan dapat menghasilkan kesimpulan yang meskipun dapat saja keliru, tetapi secara umum cukup baik dan akurat.  Keberbedaan bahasa, cara hidup dan bergaul serta bersikap yang dapat ditemui selama mengamati berkumpulnya umat yang demikian banyak,  setidaknya akan dapat ditarik sebuah kesimpulan tentang kebesaran Tuhan.  Subhanallah,  sedemikian hebatnya Tuhan dalam menciptakan makhluk-Nya.  Hal tersebut sekaligus akan  menambah keyakinan dan iman seseorang   an berbahagialah mereka yang dapat memanfaatkan peluang berhajji tersebut untuk merenung dan memupuk rasa iamannya.

Bahkan kesan yang didapatkan oleh para jamaah setelah menyeesaikan hajjinya juga akan berbeda;  Ada diantaranya  yang lebi perhtian kepada pelaksanaan hajji itu sendiri, sehingga  cerita yang ada dalam otaknya ialah bagaiamana ia dan juga jamaah lain menjalankan ibadah hajji, mulai ihram dengan niat hajji, membaca talbiyah selama menuju Arafah, membaca doa dan al-Quran selama wukuf, perjalanan menuju Mina dan perjuangan melempar jumrah aqabah, tawaf ifadlah dan segala hal yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah.  Mereka yang  tergolong seperti itu sama sekali tidak tertarik untukmemperhatikan kejadian-kejadian di luar pelaksanaan ibadah.

Sebagan diantara mereka ada juga yang lebih memperhatikan dan mengamati tingkah laku para jamaah yang dinilainya  cukup variatif dan mungkin juga aneh.  Mereka mencatat beberapa  kejadian nyta yang ada di depan matanya, yakni  ada sebagian jamaah yang semenjak dating hingga pulang selalu bertengkar meskipun hanya untuk hal-hal sepele.  Mereka juga mencatat ada juga jamaah yang tidak pernah pergi berjamaah ke masjid, kecuali hari jumat semata, karena  beralasan pemondokannya jauh, capek dan males.  Toh mereka tetap berjamaah di pemondokan atau  di masjid atau mushalla terdekat.  Demkian juga dengan sifat jamaah lainnya, seperti suka bercerita, humoris, doyan makan dan lainnya.  Pendeknya mereka itu  akan merekam segala sifat manusia yang dianggapnya aneh.

Tetapi ada juga  sebagian diantara jamaah yang justru merekam berbagai hal yang dialaminya, khususnya yang berkaitan dengan pengalaman pribadinya.  Mulai dari pengalaman dilangkahi oleh orang lain saat sedang sujud, atau bahkan  saat berdesakan dengan jamaah lain saat shalat di Raudlah,  sehingga harus melaksanakan sujud di punggung jamaah lain.  Tentu tidak terlupakan  ceritan tentang sandal yang  selalu hilang, dan rebutan jatah makanan.  Semua itu yang menjadi perhatian dan direkan dalam memorinya.  Sementara itu untuk cerita tentang iabadh hajjinya hanya  terlintas  sekedarnya.

Itulah kenyataan yang selalu terus begitu dari tahun ke tahun.  Artinya ketika kita bersilaturrahmi ke mereka yang pulang hajji, cerita dari masing-masing bapak dan bu Hajji selalu berbeda;  ada yang focus kepada pelaksananaan ibadah, ada yang focus  kepada rekreasi dan wisata di tanah suci, ada yang focus kepada belanja oleh-oleh untuk keluarga, kawan, dan tetangga,  ada pula yang lebih focus kepada  sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh jamaah hajji yang ditemui selama di kota suci Makkah dan Madinah, termasuk kondisi pengemis yang tentu meresahkan semua pihak.  Pendeknya banyak cerita yang dapat direkam termasuk ketika  melaksanakan tawaf  dan berebut minum air zam zam serta  lainnya.

Meskipun demikian kita  harus memberikan apresiasi yang tinggi kepada mereka yang menjalankan rukun Islam kelima tersebut, karena ternyata  banyak diantara jamaah calon hajji yang ternyata tidak terlalu kaya dan hanya pas pasan hidupnya.  Sedangkan untukongkos perjalanan ibadah hajjinya didapatkan dari menjual tanah satu-satunya yang dipunyai,  atau terpaksa harus menjual perhiasanyang selama ini melilit di tubuhnya, atau bahkan karena  dibantu oleh anak-anaknya yang sudah mentas dan sedikit mampu dan lainnya.

 

 Memang harus kita catat bahwa  dengan berkumpulnya umat Islam sedunia tersebut  harus dapat dimanfaatkan sebagai momentum yang sangat strategis untuk penguatan sodaritas umat serta mengembalikan kekuatan Islam yang sesungguhnya.  Bukan berarti  kekuatan fisik semata melainkan lebih kepada kekuatan moral dan social untuk membangkitkan semangat kemanusiaan yang mencintai kedamaian dan keadilan di muka bumi ini.

Konferensi yang dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan hajji tersebut memang tidak dilakukan dengan sengaja, dalam arti tidak ada undangan khusus bagi mereka yang terlibat di dalamnya.  Hanya saja karena kepedulian terhadap masalah kemanusiaan dan Islamah yang mendorong mereka kemudian mengadakan pertemuan dan diskusi untuk membicarakan berbagai hal, termasuk persoalan yang saat ini sedang dihadapi oleh umat Islam dan umat manusia pada umumnya,  seperti persoalan nasib umat di Palestina, persoalan yang sedang dihadapi oleh Negara Tunisia, Mesir, Yaman dan lainnya.

Sangat mungkin bahw a para tokoh yang menjalankan hajji dapat menanfaatkan waktuyang ada untuk melakukan upaya upaya pembicaraan mengenai kondisi umat Islam di dunia saat ini, karena ibadah hajji sesunggunya hanyalah beberapa hari saja,  sementara itu bagi mereka yang berasal dari asia seperti Indeonesia harus meninggalkan tanah air sekitar 40 hari,  sehingga masih banyak waktu yang dapat dimanfaatkan. Disamping waktu yang memungkinkan juga ghirah besar yang dimilikioleh para tokoh tersebut sangat memungkinkan dan bahkan semacam mengharuskan diri untuk memanfaatkan momentum hajji tersebut sebagai bagian dari aktifitas dakwah dan jihad dalam arti yang benar, yakni berusaha secara damai untuk membuat dunia menjadi damai, adil, tenang, penuh dengan persaudaraan dan lainnya yang  merupakan inti dari ajaran Islam itu sendiri.

Pertanyaannya apakah hasil dari diskusi yang mereka lakukan dapat memberikan manfaat bagi mereka yang dituju tersebut?  Tentu jawabannya  dapat berbeda, namun yang jelas apapun yang dihasilkan dalam pembicaraan para tokoh yang pedulitersebut pasti ada manfaatnya, meskipun tidak langsung dan instan.  Hasil pembicaraan tersebut nantinya akan dapat dibawa pulang kenegara masing masing dan terus dikembangkan dan disuarakan kepada masyarakat dunia.  Setidaknya himbauan mengenai perdamaian dan hidup secara damai demokratis dan mengargai nilai kemanusiaan perlu dan bahkan harus terus dikumandangkan untuk menginatkan mereka yang telah  melampaui batas melanggar hak hak asasi manusia dan keadilan.

Semoga  berkumpulnya jutaan manusia muslim dalam satu tempat dapat memberikan manfaat besar bagi umat manusia terutama dalam menciptakan kedamaian, keadilan, kerukunan, dan jauh dari peperangan dan permusuhan.  Barangkali keinginan ini terlalu naïf dan tidak mungkin terjadi, tetapi dengan kekuatan hati dan doa, kita dapat yakin  bahwa dunia yang damai, rukun , tentram dan toleran  dapat diciptakan meskipun harus melalui proses panjang.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.