MENUNGGU SAAT WUKUF TIBA

Para jamaah calon haji, khususnya yang tergabung dalam  gelombang pertama dan kloter awal gelombang kedua tentu saat ini telah berada di Makkah al-Mukarromah dan menunggu saat wukuf di Arafah sebagai puncak dari ibadah haji.  Dalam waktu menunggu wukuf tersebut, ternyata masih banyak waktu yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan berbagai aktifitas bermanfaat,  seperti melakukan umrah sunnah dengan mengambil miqat dari Tan’im ataupun Ji’ranah.  Dan kegiatan seperti inilah yang bentak dilakukan oleh jamaah asal Indonesia.

Namun ada juga yang memanfaatkannya untuk semacam suvai lapangan , khususnya lokasi clon untuk menginap di Mina dan melempar jumrah.  Demikian juga dengan tempat mereka harus menginap atau setidaknya melewati tempat tersebut setelah tengah malam, yakni Muzdalifah.  Dan yang tidak boleh dilupakan ialah padang Arafah, tempat dimana seluruh jmaah hajji berkumpul untuk melaksanakan wukuf.  Tentu mereka juga memanfaatkan survey tersebut untuk menaiki jabal Rahmah, yang konon tempat bertemunya nabi Adan dan Hawa setelah diusir dari surge.

Ada juga yang memanfaatkan waktu tersebut untuk berziarah ke beberapa tempat bersejarah danpenting dalam sejarah Islam, semisal Jabal Nur dan Gua Hira’ pemakaman Ma’la, dan lainnya.  Biasanya mereka juga sekaligus mencari hewan untuk disembelih sebagai  ganti denda karena  melaksanakan hajji tamattu’.  Meskipun secara resmi dihimbau bahwa jamaah haji  membayar denda atau dam tersebut ke Bank ar-rajh, namun  masih banyak yang lebih mantap membelinya sendiri dan kemudian menyaksikan penyembelihannya sekaligus.

Memang tidak ada  larangan ataupun perintah  untuk melaksanakan aktifitas tertentu sebelum melaksanakan wukuf di Arafah, namun  memang sangat dianjurkan  terutama bagi mereka yang telah berusia udzur atau sedang kurang sehat, agar  dapat menjaga kondisi dan staminanya, dengan harapan pada saat menjalankan wukuf nanti tidak akan jatuh sakit.  Untuk itu bagi yang menyukai umrah sunnah dianjurkan cukup sekali dari tan’im dan sekali dari Ji’ranah, dan tidak perlu melakukannya berkali-kali.  Namun sekali lagi bagi yang sehat dan memungkinkan untuk melakukannya berkali-kali juga tidak ada larangan.

Perlu diingatkan bahwa semakin mendekati hari wukuf memang sebaiknya para jamaah mengurangi aktifitas yang memerlukan energy banyak, karena disamping  semakin membeludaknya manusia di sekitar masjid al-Haram makkah, juga dikhawatirkan terlalu lelah sehingga akan dapat menggangu  saat tiba waktunya berwukuf.  Demikian juga kiranya  sangat dianjurkan kepada mereka yang membawa family  lanjut usia agar menjaganya secara baik dan cermat, karena dengan banykanya  manusia yang lalu lalang, akan sangat memungkinkan seseorang  tersesat dan bahkan dapat membahayakan jiwanya.

Barangkali bagi mereka yang terdaftar pada kloter awal gelombang pertama  dianjurkan agar dapat membeli oleh-oleh sebelum melaksanakan wukuf, dan sekaligus menatanya sedemikian rupa sehingga setelah wukuf nanti tidak lagi disibukkan dengan urusan bekal dan kopor serta bawaanlainnya.  Ini semua disebabkan biasanya setelah wukuf tidak ada lagi waktu yang dapat digunakan untuk berbelanja dan mengepaknya. Meskipun hal ini termasuk urusan  sepele, tetapi terkadang malah justru akan membawa keributan tersendiri, kalau tidak disiapkan secara matang.

Mungkin juga sangat perlu diingatkan kepada para jamaah calon hajji untuk tidak larut dalam keinginan yang sulit diwujudkan, misalnya keinginan untuk dapat mencium hajar aswad.  Memang mencium hajar aswad tersebut dusunnahkan, namun kalau  dalam kondisi kesulitan tentunya tidak akan dipaksakan dan hukumnya menjadi tidak sunnah lagi.  Kita sangat menyayangkan  beberapa pihak yang seolah mewajibkan diri untuk dapat mencium hajar aswad meskipun harus  bertarung dan berdesakan sedemikian rupa dengan manusia lainnya, bahkan ada yang sampai pingsan.  Dalamkondisi seperti itu menurut saya kesunnahan mencium hajar aswad menjadi hilang,  sebab kalau dipaksakan  terkadang malah menyakiti orang lain.

Kita juga menyaksikan bahwa ada diantara jamaah calonhajji yang nekat dan kebulatan niatnya sudah sedemikian rupa sehingga  dia mewajibkan dirinya untuk dapat mencium hajar aswad apapun caranya, bahkan sampai harus membayar orang untuk  mencarikan jalan agar dapat mewujudkan niatnya tersebut.  Memang ada yang kemudian berhasil dan ada pula yang terpaksa pulang dengan penyesalan.  Dalam urusan mencium hajar aswad tersebut perlu diingatkan kisah Umar bin al-Khattab ketika melihat Nabi Muhammad menciumnya, lalu Umar mengatakan “ andaikata aku tidak menyaksikan kekasihku Nabi Muhammad menciummu, maka tidak sudi aku menciummu wahai hajar aswad.

Jadi sesungguhnya masih banyak jamaah calon Hajji yang perlu diberikan pencerahan agar tidak tersest dalam jalan yang benar, atau bahkan dalam jalan yan sesat.  Salah satu yang sampai saat ini masih menjadi persoalan ialah anggapan bahwa kiswah atau kain penutup Ka’bah mempunyai tuah yang demikian dahsyat,  sehingga ada saja yang tergiur dan kemudian rela mengeluarkan ratusan bahkan ribuan real hanya untu mendapatkan secuil kain kiswah.  Itupun belum pasti bahwa yang ditawarkan tersebut memang benar-benar kain kiswah.  Dan kalautoh benar adanya, maka mempercayai tuah kain penutup Ka’bah tersebut juga merupakan sesuatu yang sangat membahayakan akidah, bahkan dapat terseret ke dalam persoalan musyrik.

Belum lagi ada orang yang mengaku aku sebagai keluarga dekat Nabi dankemudian  menawarkan untuk memimpin doa denganimbalan tertentu.  Barangkali hal seperti ini dianggapnya sebagai sesuatu amal baik, dan kalautoh mereka itu ternyata hanya mengaku sebagai  keluarga Nabi semata, juga tidak terlalu mengapa, karena hanya memimpin berdoa dan tidak melakuka sesuatu yang lain dan dapat merugikan pihak lain.  Ya, kalau dilihat dari sudut pandang seperti itu mungkin tidak terlalu bermasalah, namun kalau kemudian orang tersebut semacam “memeras” dengan imbalan uang yang cukup banyak dan memberatkan, ttentunya harus juga disikapi oleh jamaah calon hajji yang memang sangat retan terhadap persoalan semacam itu.

Demikian juga  bagi yang suka shoping kiranya perlu diingatkan bahwa ternyata masih banyak juga pedagang yang berusaha menipu, khususnya para jamaah  asal Asia yang dianggap sebagai  korban yang empuk dan mudah untuk dikibuli.  Ada beberapa  dagangan yang ditawarkan dengan harga yang tidak normal, semacam jam tangan dengan merk palsu, ada batu akik yang katanya mempunyai kekuatan super, ada  obat kuat dan segala macam  barang antic.  Semuanya itu belum pasti kebenarannya, sebagaimana juga ketika para pedagang di tempat lain menawarkan dagangannya.  Untuk itu disarankan kepada jamaah calon hajji untuk tetap berhati hati dan waspada terhadap hal tersebut.  Jangan sampai kemudian meyakini bahwa seluruh pedagang di Arab tidak ada yang penipu, semua jujur dan semacamnya.

Ini semua bukannya suudzdzan, melainkan waspada  agar tidak rugi disebabkan permainan pihak lain.  Karena  itu sikap terbaik ialah  waspada dan bijak dalam menentukan pilihan.  Boleh berbelanja danmemborong  sesuatu  untuk oleh-oleh para tetangga dan teman serta keluarga, tetapi jangan sampai seluruh pikiran terfokus kepada  hal tersebut,  sehingga malahan melupakan tujuan utama  yakni berhajji.

Demikian juga kiranya sangat perlu dingatkan bahwa terkadang ada orang yang mudah tergoda dan terbawa oleh emosi dan nafsu yang seharusnya  ditahan.  Namun karena hal tersebut merupakan cobaan yang mesti disadari oleh seluruh jamaah calon hajji, maka  peringatan dini dan terus menerus tentang hal tersebut memang harus dilakukan.  Seperti semua jamaah calon hajji tentunya paham bahwa dalam dan selama melaksanakan hajji  tidak diperkenankan untuk berkata kotor dan jorok, tidak boleh fasiq atau melakukan dosa besar, termasuk di dalamnya ialah menggunjing, adu domba, membuka aib orang lain dan lainnya, juga tidak diperkenankan untuk berjidal atau berbantah bantahan tentang sesuatu, apalagi tentang sesuatu yang tidak ada manfaatnya.  Namun ternyata  masih banyak jamaah calon hajji yang kemudian melupakan hal tersebut dan terlarut  dan melakukan hal hal terlarang tersebut.

Untuk itu menurut saya sangat dianjurkan jamaah caoln hajii untuk konsentrasi melakukan  dan memperbanya ibadah,  seperti mengkaji al-Quran, membaca riwayat Nabi dan sahabatnya, saling mengenal dengan jamaah hajji lain daerah bahkan lain bangsa dan Negara.  Demikian juga dengan memperbanyak sedekah kepada para fakir miskin yang ada di makkah.  Demikianlah  yang seharusnya dilakukan oleh jamaah calon hajji dalam menungu waktu wukuf di Arafah.

Terakhir barangkali perlu juga diingatkan kepada jamaah calon hajji untuk selalu menjaga kesehatan dengan memperhatikan petunjuk dokter, seperti memperbanyak minum, makan buah buahan dan tidak terkena matahari secara langsung atau membawa tutup kepala, seperti payung dan lainnya, juga memakai masker serta lainnya.  Demikian juga menata hati  dengan pasrah sepenuhnya kepada Tuhan serta dengan ketulusan yang sungguh sungguh memohon ampunan dari segala dosa yang pernah dilakukannya,  seraya berjanji untuk  melakukan sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi dirnya,keluarganya dan masyarakat secara umum.  Insya Allah jamaah calon hajji tersebut akan mendapatkan hajji yang mabrur.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.