SHALAT ARBAIN DI MASJID NABAWI

Mayoritas masyarakat muslim yang menjalankan ibadah haji dapat dipastikan juga menyempatkan diri singgah di madinah al-Munawwarah , disamping untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad dan para para sahabat terkemuka, juga dalam upaya menjalankan ibadah shalat 40 waktu di masjid Nabi. Program singgah di Madinah tersebut bukannya tanpa tujuan, melainkan  ada sebuah tujuan yang bahkan sudah hamper diharuskan untuk melaksanakan shalat  arbai’in di masjid Madinah. Shalat 40 waktu tanpa putus di masjid Nabi diyakini oleh banyak orang akan  menjamin seseorang yang melakukannya dapat dibebaskan dari neraka, dibebaskan dari sifat munafiq dan sifat tercela lainnya.

Terlepas dari status hadis yang diyakini sebagai dating dari nabi yang menyatakan bahwa barang siapa yang melaksanakan shalat fardlu di madjid saya, yakni masjid Nabi di Madinah, maka Allah akan membebaskannya dari Negara, dari sifat munafiq dan sifat tercela lainnya,  tetapi yang jelas hadis tersebut telah mengakar dan diyakini tidak saja oleh mereka yang tergolong awam, tetapi juga oleh mereka yang dianggap alim dan tokoh bahkan ulama.  Bahkan kepercayaan yang sedemikian mengakar tersebut sampai-sampai kalau misalnya  sedang sakit dan seharusnya beristirahat, harus dipaksakan pergi ke masjid dengan tujuan agar tidak tertinggal dari shalat arbai’in tersebut.  Singkatnya shalat arba’in tersebut seakan menjadi suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan.

Bagi kita sesungguhnya ada yang harus diperjelas dari kondisi seperti itu, yakni agar mereka yang tergolong sebagai tokoh dan ulama memberikan pencerahan kepada masyarakat awam agar dapat mengetahui secara benar tentang kedudukan shalat arba’in tersebut.  Artinya kalau misalnya dari aspek periwayatan dan status hadisnya tidak dapat dipertanggung jawabkan dating dari Nabi atau hanya dapat dirunut sampai dengan sahabat saja atau bahkan teermasuk hadis dlaif, maka paling jauh yang dapat dijelaskan kepada umat ialah  sebagai motivasi belaka.  Bukankah  ada sebagian ulama yang memperbolehkan berdalil dengan hadis dlaif bilamana hanya untuk memberikan motivasi amal shalih, dengan catatan tidak meyakini secara penuh bahwa  hal tersebut dating dari Nabi Muhammad SAW.

Untuk urusan shalat arba’in tersebut memang ada berbagai riwayat termasuk 40 hari, 40 malam, dan lainnya yang memang memberikan jani akan ampunan dan pembebasan dari neraka dan juga dari sifat munafiq, namun  enurut penilaian para ulama, riwayat tersebut dianggap sebagai mauquf,yakni hanya sampai kepada sahabat saja, meskipun ada yang menganggapnya  marfu’, tetapi sejauh menurut penelitian yang cermat, ternyat tidak ada satu riwayatpun yang dianggap bernilai shahih.  Untuk itu kiranya akan bijaksana manakala dilakukan penelitian ulang yang cermat dan mendalam terhadap riwayat tersebut, dan kalau nantinya hasilnya juga menunjukkan ketidak shahihan hadis tersebut, maka  harus ada penjelasan yang komplit tentang menyikapi hadis tersebut.

Artinya kita harus memberikan penjelasan yang benar kepada umat dan tidak membiarkan mereka  terus dalam kepercayaan yang tidak tepat.  Kalau hanya sekedar memberikan motivasi kepada umat agar mereka melakukan shalat berjamaah, apalagi di masjid Nabi, dengan iming-iming pahal yang banyak tentu ada hadis lain yang dapat dapat digunakan seperti hadis shahih yang maksudnya “ tidak diperintakan untuk memacu kendaraan kecuali ke tiga masjid, yakni masjidil haran di Makkah, masjidku ini, yakni Masid nabi di Madinah dan masjid al-Aqsha  di Palestina”.  Itu disebabkan Allah memberikan keistimewaan kepada tiga masjid tersebut, dan barang siapa yang shalat di dalamnya, akan diberikan pahala yang berlipat.

Sedangkan khusus bagi mereka yang menjalankan ibadah haji dan diprogramkan singgah di Madinah, sangat dianjurkan untuk dapat melaksanakan shalat di dalamnya secara berjamaah, sehingga akan dapat memaksimalkan pahala yang akan didapatkan.  Dengan melaksanakan shalat di masjid Nabi tersebut tentunya akan semkin membuat tingkat ketqwaan seseorang menjadi semakin baik dan tebal, sehingga akan dapat menopang status hajinya menjadi mabrur.  Bukankah haji mabrur  tandanya ialah akan semakin meningkat kebaikannya setelah pulang haji.  Nah,  dengan semakin meningkatnya kebaikan, nantinya diharapkan orang tersebut akan mendapatkan pahala lebih banyak dan dalam waktu yang bersamaan akan semakin berkurang dosanya, sehingga ia akan terhindarkan dari api neraka dan juga sifat tercela  yang akan membuatnya sengsara di akhirat.

Motivasi seperti itu tentu akan lebih dapat diterima oleh mereka yang berpikir dan tidak hanya semata menuruti riwayat yang lemah.  Kita dapat membayangkan seandainya ada orang yang kemudian berpikir kritis dan menyikapi riwayat tentang shalat arba’in di masjid Nabi tersebut.  Bagaimana  orang tersebut akan dapat meyakini sesuatu yang tentu tidak masuk akal, karena kalau hanya melaksanakan shalat arba’in di masjid Nabi kemudian dijamin masuk surge, lalu bagaimana  dengan mereka yang telah melaksanakannya kemudian melakuka tindakan yang merugikan banyakorang, semisal korupsi, membunuh orang, menteror orang, dan semacamnya, apakah orang tersebut masih dijamin akan masuk surge?.  Tentu akan menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Tetapi dalam waktu yang sama ketika riwayat tentang shalat arba’in dan  implikasinya seperti itu kemudian diyakni  dengan kesungguhan hati  oleh seseorang, kemudian dengan keyakinanya tersebut ia kemudian melakukan berbagai kejahatan untuk memuaskan nafsunya, tentu kenyataan ini akan membuat maraknya kejahatan yang pelakunya sangat yakin tetap akan masuk surga.  Kondisi seperti ini akan semakin mebahayakan  umat manusia secara umum, sebagaimana bahayanya keyakinan sebagian umat yang  meakukan terror dan kejahatan lainnya, namun dengan keyakinan bahwa apa yang dilakukan tersebut benar adanya.

Pendeknya riwayat tentang shalat arba’in  yang sementara ini diyakinioleh sebagian besar masyarakat muslim di dunia sebagai hal yang benar datng  dari Nabi Muhammad SAW, harus dijelskan kepada umat tentang status kebenarannya, karena  dengan membiarkan nya seperti saat ini  akan dapat membawa sebagian umat untuk melakukan sesutau yang merugikan umat tetapi dengan keyakinan  tetap mendapatkan surge yang dijanjikan.  Ada kemungkinan  bahwa  kejahatan yang marak dilakukan oleh  umat Islam saat ini,padahal mereka itu adalah orang “terhormat” di mata umat dilatar belakangi oleh pengertian dan keyakinan yang tidak tepat tersebut.

Kemungkinan tersebut  sangat boleh jadi, karena indikasinya cukup banyak, misalnya orang yang saat ini dinilai oleh public sebagai pelaku kejahatan, termasuk kejahatan korupsi, ternyata sering melakukan perjalana umrah dan melaksanakan shalat arba’in untuk memastikan dirinya masih akan tetap dijanjijakan masuk surge meskipun  melakukan beberapa kejahatan korupsi dan lainnya.  Jadi dengan  penjelasan yang benar bahwa shalat arba’in tidak akan menjamin seseorang  masuk surge dan dijauhkan dari sifat munafiq, tentu akan sedikit memberikan terapi bagi mereka yang memanfaatkan riwayat tersebut untuk perlindungan dirinya.

Pendeknyakita kita harus menjelaskan bahwa untuk masuk surge tentu dipersyaratkan  banyak melakukan perbuatan amal shalih dan didasari dengan iman yang benar.  Surga tidak bisa ditentukan oleh kita, misalnya dengan melakukan haji semata atau dengan melakukan shalat di masjid Nabi selama  waktu tertentu saja, tetapi harus dengan berusaha melakukan kebaikan dan sesuatu yang memberikan manfaat dan maslahah kepada banyak orang.  Nabi Muhammad SAW sendiri memang pernah mengatakan bahwa hajji yang mabrur tidak ada balasan lain terkecuali surga.   Tetapi siapa diantara kita yang dapat memastikan hajjinya  adalah mabrur, tentu tidak ada seorangpun yang  dapat memastikan bahwa hajji yang dijalankannya menjadi mabrur.

Hanya saja memang Nabi juga memberikan tanda tandanya yang antara lain perbuatan seseorang yang hajjinya mabrur itu akan menjadi lebih baik dan berkualitas dibandingkan sebelum hajji dan hal tersebut bukan hany berlaku satu dua bulan saja melainkan untuk selamanya.  Artinya orang hajinya mabrur itu akan selalu melakukan perbuat terbaik dan menghindarkan dirinya dri perbuatan dosa dan tidak memberikan manfaat bagi diri maupun orang lain.  Sehingga dengan demikian dangat wajar kalau  orang yang seperti itu akan dijanjikan masuk surga, meskipun misalnya ketika berhajji, dia tidak sempat menjalankan shalat arba’in di masjid Nabi.

Bandingkan misalnya ada seorang yang menjalankan hajji dan dia menjalankan shalat arba’in, serta melakukanamal yang sangat baik setelah pulang hajji, namun setelah itu justru menjadi semakin  jelek, bakhil dan malahan banyak membuat kerugian bagi umat hingga akhir hanyatnya, tentu ia akan digolongkan kepada  orang-orang yang rugi serta tidak akan begitu saa dimasukkan ke dalam surge, walaupun telah melakukanshalat arba’in beberapa kali.  Jadi shalat arba’in tidak akan menjamin seseorang dimasukkan ke dalam surge, tetapi kalau shalat tersebut dilakukan dengan keikhlasan yang benar, entu akan membuat kesadaran yang permanen untuk terus melakukan perbuatan baik.  Nah, adanya, maka tentu akan mengantarakannya kepada surge yang dijanjikan tersebut.

Semoga para hujjaj yang saat ini sedang menjaankan  hajji dan melaksanakan arba’in di masjid Nabi, akan menyadari secara penuh bahwa  shalat tersebut hanya akan menarik dirinya kepada kebaikan dan bukan akan menjamin dirinya masuk surga.  Kita doakan bahwa seluruh masyarakat Indonesia yang menjalankan ibadah hajji akan mendapatkan hajji yang mabrur, sehingga akan semikin membuat Negara kita semakin membaik dan maju serta memberikan manfaat yang besar bagi warga bangsanya.amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.