KETIKA SEORANGKHADAFI MENINGGAL

Semua orang tahu bahwa pemimpin Libia yang satu ini terus melakukan perlawanan dengan Barat, walaupun tetu sangat tidak imbang.  Gabungan antara militer Amerika dan Negara-negara Barat yang sedemikian besar dan dahsyat melawan militer khadafi yang tentu sangat terbatas.  Entoh demikian hingga sampai titik darah penghabisan dia tetap melakukan perlawanan.  Dari sisi ini barangkali kita harus memberikan apresiasi tentang  keteguhannya dan keberaniannya.  Namun demikian kalau dilihat dari keluhan rakyat Libya yang tidak dapat menyuarakan pikiran dan suara hatinya karena terpangkas oleh kebijakan otoriternya, tentu kita juga  dapat memahami oposisi yang kemudian menumbangkannya.

Memang dilihat dari kesadaran untuk berdemokrasi, beberapa nega di Timur Tengah msih dirasakan kurang,  dan geliat untuk menyadarkan mereka sesungguhnya telah dilakukan oleh para oposisi.  Artinya oposisi telah mendapatkan momentumnya yang sangat tepat untuk menggulinkan pemerintahan yang dianggap otoriter dan bahkan  sudah bertahan lebih dari 30 tahunan.  Beberapa Negara, termasuk Negara kita juga telah merasakannya, betapa pemerintahan yang terlalu lama akan cenderung kepada penyelewengan dan korup, meskipun juga masih memikirkan rakyatnya, tetapi sangat kecil porsinya.

Beberapa waktu terakhirini negaranegara yang masih bertahan dengan system otoriter tersebut akhirnya mengalami pemberontakan yang dilakukan oleh oposisi yang kemudian mendapatkan dukungan dari Negara-negara Barat dan Amerika.  Tunisia dan Mesir telah merasakannya.  Cuma persoalan yang kemudian harus diperhatikan ialah  akibat dari pergolakan yang juga dapat disebut revolusi tersebut, banyak infra struktur yang hancur dan fasilitas umum yang kemudian menjadi rusak dan juga berantakan.  Mampunkah para pemimpin baru atau transisi tersebut  menyelesaikan persoalan yang sedemikian  carut marut.

Idealnya para pemimpin yang telah berkuasa lama dan mendapatkan gugatan tersebut mau menyerahkan kekuasananya kepada masyarakat melaluipemilihanumum yang jujur dan adil, namun dalam kenyataannya  tidak ada diantara para penguasa otoriter tersebut yang mau menyerahkan kekuasaannya begitu saja, apalagi kalau diingat bahwa Khadafi ketika pertama kali merebut Libya juga melalui kudeta berdarah.  Barangkali ada semacam kepercayaan diri yangkuat bahwa para penguasa otoriter tersebut bahwa ia dan pasukannya serta pembelanya akan dapat mempertahankan kekuasaannya.

Ya, kalau misalnya  untuk pertama kali,orang bisa salah dengan perkiraan, sehingga ia mempertahankan kekuasaannya.  Namun setelah beberapa kali usaha oposisi di beberapa Negara ternyata sukses, karena disamping  banyak masyarakat yang kemudian menyadari pentingnya kebebasan dan kemerdekaan yang sejati, juga  terus menerus disokong oleh Negara-negara Barat dengan isu demokrasi dan kemanusiaan.  Jadilah moral para oposisi tersebut menjadi lebih besar dan kuat,  sehingga  akhirnya dapat menumbangkan rezim yang sedang berkuasa.

Menyadari kondisi seperti itu,  seharusnya para pemimpn otoriter kemudian menjadi maklum dan kemudian  dapat memberikan hadiah yang paling berharga bagi seluruh rakyat, yakni dengn menggelar pemilihan umum untuk memilih pemimpin baru dengan warna demokrasi yang memungkinkan setiap orang untuk menyuarakan pemikiran dan haknya.  Kalau hal itu yang kemudian dilakukan, tentu dengan berbagai pertimbangan dan kesadaran total, ada kemungkinan para pemimpin otoriter yang menguasai negaranya selama beberapa puluh tahun tersebut, kemudian malah dihormati rakyatnya, karena dianggap berlaku bijak dan tentu khusnul khatimah.

Tetapi  dalam kenyataannya memang kekuasaan itu akan membuat orang menjadi mabuk dan terus berusaha untuk melstarikan kekuasaan tersebut, bahkan  dengan membangun dinasti yang  akan mengabadikan kekuasaan tersebut  dan mewariskannya kepada anak cucu.  Akibatnya sudah dapat diprediksi bahwa semua cita-citanya tersebut gagal dan bahkan menuai kehancuran, tidak saja bagi dirinya tetapi juga keluarga dan kroninya.  Mengapa kejadian yang telah benyak tersebut tidak juga memberikan menyadaran kepada para pemimpin otoriter?. Wallahu a’lam.

Yang jelas saat ini sengan kematian pemimpin Libya Muammar Khadafi yang begitu mengenaskan, tentu harus menjadi pelajaran bagi para pimpinan Negara Negara yang masih menggunakan system otoriter dalam kepemimpinannya, agar tidak mengalami nasib yang sama.  Arus dan gelombang tuntutan demokrasi tentu akan segera melanda kepada seluruh Negara yang masih mempertahankan cara otoriter tersebut, karena Negara-negara Barat juga akan selalu mendukung usaha-usaha demokratisasi tersebut.

Khusus untuk Libya setelah kematian Muammar Khadafi tentu sangat perlu diperhatikan oleh semua pihak,terutama Negara-negara yang peduli terhadap kemanusiaan dan demokrasi tersebut,  agar  tidak semakin  menderita, disebabkan peperangan- demi peperangan yang akan terus terjadi.  Kita sangat percaya bahwa Khadafi tentu  banyakmempunyai pengikut setia yang siap untuk melkukan perlawanan gerilya.  Nah karena itu dengankematian Khadafi tersebut tidak serta merta menghentikan peperangan yang Selma ini terjadi.  Untuk itulah agar rakyat Libya tidak semakin terpuruk, perlu ada semacam pemerintahan trnasisi yang  mempunyai tugas untuk memulihkan keadaan dan sekaligus melakukan praktek demokrasi, yakni menggelar pemilu yang adil jujur dan memberikn kesempatan  kepada semua pihak.

Namun demikian rakyat Libya juga harus waspada terhadap adanya kemungkinan kemungkinan yang lebih buruk, yakni bergolaknya Libya yang tidak akan berakhir.  Disamping itu kewaspadaan juga harus terus dilakukan baik oleh pemerintah Libya yang diberi kekuasaan oleh rakyat maupun oleh Negara-negara lain, agar tidak ada penguasaan Libya oleh Negara Asing dengan dalih apapun.  Kita tentu tidak ingin bahwa Libya akan menjadi Irak kedua.  Cukuplah Irak saja yang menjadi korban, dan itupun harus tetap diupayakan untuk perbaikannya.

Ada yang berspekulasi dan menduga  bahwa kegigihan Nato, terutama Amerika untuk membantu menumbangkan Muammar Khadafi, bukan semata mata alasan demokrasi dan kemanusiaan tetpi lebih disebabkan oleh factor ekonomi.  Kita semua mengetahui bahwa Libya adalah Negara dengan pasokan minyak terbesar di dunia, dan bahkan masih mempunyai cadangan minyak untuk 100 tahun kedepan.  Untuk itulah semua Negara, terutama Amerika dan Negara Negara Barat sangat mengharapkan dapat menguasau Libya.  Sementara itu ketika masih ditangan Muammar Khadafi, sangat jelas mereka akan tidak mungkin  menguasai Libya.  Nah, kondisi seperti ini juga harus diwaspadai oleh semua pihak, termasuk Negara-neraga tetangga.

Spekulasi dan dugaan tersebut juga didasarkan atas beberapa indikasi yang sangat menyolok, misalnya bantuan Nato, terutama America yang demikian luar biasa, dan nafsu Nato yang ingin segera mengakhiri kehidupan  Khadafi.  Serangan udara yang tidak seimbang yang dilalkukan oleh Nato kepada pasukan Khadafi  menjadi bukti lain bahwa  memang bukan semata membantu oposisi untuk menumbangkan pemerintah otoriter dan beralih ke demokrasi, melainkan  ada motivasi di balik penyerangan yang sangat luar biasa tersebut.  Bahkan dua hari sebelum tumbangnya Khadafi, menteri luar negeri Amerika telah dating ke Tripoli dan memberikan bantuan yang sangat signifikan, baik berupa senjata, makanan, obat-obatan dan kebutuhan lain untuk penyediaan para oposisi dan tentara sekutu, Nato.

Kita tentu tidak akan membenarkan penjajahan suatu Negara oleh Negara lain  dengan memanfaatkan kondisi carut marut yang sedang dialami oleh Negara tersebut, dengan alasan menata dan membantu pemulihan atau apapun.  Pengawasan pengelolaan negra oleh  warga negaranya sendiri memang sangat diperlukan tetapi mencampuri langsung dalam pememrintahantersebut tentu akan menjadi persoalan baru, meskipun pengelola Negara yang baru tersebut dapat menerima demi perceptan pemulihan keadaan dalam negari.

Kalau keadaan Libya pasca kematian Muammar Khadafi seperti yang kita bayangkan, yakni rakyat Libya semakin menderita dengan penjajahan terang terangan oleh barat dan Amerika, tentu kita semua harus bertanggung jawab dan akan merasa berdosa.  Itu semua disebabkan  saat ini sesungguhnyakita, terutama Negara-negara netral yangmempunyai kepdulian  terhadap nasib bangsa dan rakyat Libya, masih ada waktu dan kesempatan untuk berusaha menyelamatkan rakyat Libya.  Semoga Negara-negara  netral dan juga masyarakat Libya menyadari hal tersebut dan kemudian melakukan upaya-upaya nyata sehingga Libya akan dapat diselamatkan dan perdamaian di dunia ini akan dapat direalisasikan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.