ILMU FALAK HARUS BERMANFAAT

Selama ini ketika orang berbicara  masalah ilmu falak, konotasinya hanya  pada seputas penetapan awal  bulan Qamariyyah, waktu shalat dan penetapan arah qiblat,  padahal ilmu falak sesungguhnya dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga akan dapat digunakan secara lebih luas oleh masyarakat, baik masyarakat yang menekuni pertanian, nelayan, dan lainnya.  Bahkan  konotasi falak yang hanya berkutat dalam persoalan penetapan awal bulan tersebut saja sampai saat ini masih belum dapat membuat uamt bersatu.  Apakah memang ilmu ini  tidak dapat dijadikan sarana untuk mempersatukan umat, sebagaimana ilmu-ilmulannya.

          Barangkali diantara sekian orang yang menekuni bidang ini memang tidak  mau melakukan berbagai riset  untuk mengembangkan ilmu ini kearah yang lebih memberikan manfaat bagi ilmuitu sendiri dan juga umat manusia.  Atau memang  disebabkan para pendahulunya hanya memberikan pengertian ilmu falak tersebut, sebatas untuk kepantinga ibadah seperti itu, dan bukan  menjadikannya sebiah ilmu yang bisa berkembang dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan  yang lebih luas.

          Pada awalnya dahulu ilmu ini sesungguhnya merupakan ilmu yang jangkauannya  sangat luas dan dapat digunakan untuk mendesain kapal laut misalnya dan juga untuk merencanakan produksi pertanian dan lainnya.  Namun sejalan dengan berlalunya waktu, ilmuini tidak berkembang, malahan mengalami reduksi yang demikian sepit, dan hanya dimanfaatkan untuk kepentinga seputar ibadah.  Sangat mungkin yang mewariskan ilmu ini di kalangan umat Islam ialah mereka yang kemudian mengambil jalan praktis yakni  hanya diperuntukkan bagi kepentingan praktis umat Islam dalam melakukan ibadah saja.  Akibatnya pengembangan ilmu ini untuk kepentingan lain yang justru lebih luas menjadi terabaikan.  Bahkan ama kelamaan seolah ilmuini memang hanya terbatas untuk mempelajari tentang persoalan  yang berkaitan dengan ibadah saja.

          Nah,  dengan  sejarahnya yang demikian,kiranya sudah saatnya bagi para ahli yang menekuni bidang ini untuk membangkitkan kembali  gairah ilmu ini, untuk kepentingan yang lebih luas, dengan cara melakukan riset-riset dan menggali khazanah kajian ilmu ini pada masa yang lalu.  Mungkin juga  tidak sama fungsi antara ilmu falak ini   dengan ilmu astronomi,  namun tentu di sana ada sisi sisi yang dapat disejajarkan sehngga  ada sinergitas diantara keduanya.  Untuk itu  sekalilagi  sangat perlu dilakukan berbagai upaya melalui riset untuk menemukan  jati diri ilmu ini yang selama sekian abad  hilang dan tidak terurus.

          Kita tentu akan sangat mendukung kalau ilmu falak yang saat ini dikembangkan di IAIN Walisongo Semarang sebagai kor keilmuan, kemudian dapat dikembangkan sehingga akan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan ekonomi dan juga administrasi, tidak saja hanya untuk kepentingan yang berkaitan dengan ibadah semata sebagaimana  fungsinya pada saatini.  Untuk mengarah kesana tentu harus ada kesadaran yang penuh dari mereka yang menekuni bidang ini untuk melakukan berbagai upaya kearah tersebut.

          Sementara itu bagi lembaga tentu berkewajiban untuk menyediakan fasilitas dalam upaya menunjang aktifitas yang mengarah kepada pengembangan ilmu tersebut.  Pada sudah ada komitmen dari lembaga untuk membangun sarana yang dapat dipergunakan untuk kepentingan tersebut,  semisal laboratorium, dan berbagai peralatan yang dibutuhkan, termasuk pembangunan  planetarium yang representative.  Kita tidak hanya  ingin mengembangkan ilmu falak tersebut sebagai ilmu yang nantinya hanya mandek  sebagai ilmu yang terbatas mempelajari tentang arah kiblat, mengetahui awal dan akhir bulan serta waktu-waktu shalat, elainkan sekali lagi ingin menjadikaan ilmu ini sebagai ilmu yang utuh dan dapat  dimanfaatkan oleh umat manusia dalam upaya meninkatkan kesejahteraan mereka.

          Tetapi mungkin keinginan tersebut masih cukup lama danpanjang,karena  pada saat ini, hamper semua tulisan yang dibuat oleh mereka yang menggeluti ilmu falak hanya berkutat dalam masalah itu-itu saja.  Bahkan tesis dan disertasi yang ditulis oleh para mahasiswa ternyata juga belum beranjak dari persoalan klasik seputar arah kiblat dan penentuan awal bulan.  Kajian-kajianyang dilakukan juga hanya terbatas deduktif, yakni selalu berangkat dari ayat ataupun hadis, kemudian dikaji secara normative dan paling banter kemudian dikaitkan dengan ilmu astronomi.  Itupun hanya sebatas untuk memerikan justifikasi tentang sesuai  atau tidaknya, dan bukan melakukan kajian yang lebih mendalam dengan melakukan riset dalam persoalan tersebut.

          Ke depan tentukita sangat berharap bahwa  tesis dan disertasi yang ditulis akan berangkat dari sebuah penelitian tentang berbagai hal termasuk tentang fenomena alam semesta atau induktif, yang kemudian  dapat disimpulkan  berbagai hal yang dapat dimanfaatkan atau setidaknya dapat dijadikan informasi ilmiah bagi pengembangan keilmuan secara umum.  Saya sangat yakin bahwa  meskipun  berangkat dari penelitian murni, toh pada akhirnya  akan  dapat disingkronkan dengan berbgai dalil yang ada di dalam teks-teks suci, al-Quran dan hadis.  Bahkan sangat mungkin bahwa dengan penelitian-penelitian tersebut justru akan diperoleh pengetahuan yang sedikit berbeda,  sehingga akan dapat mengubah cara kita daam memahami teks-teks suci tersebut.

          Tentu bisa jadi pemaknaan yang selama ini kita yakini sebaga makna yang paling tepat, ternyata setelah disandingkan dengan teuan ilmiah atas dasar penelitian, ternyata makna tersebut menjadi kurang tepat.  Sementara makna hasil penyelidikan ilmiah yang didukung dengan data-data akurat dan kesimpulan yang tepat tentu menjadi tafsir atas makna teks yang lebih tepat.

          Kalau toh ilmu falak ini masih  berbicara tentang persoalan menentukan awal bulan, itupun akan dapat dilakukan secara tepat dan lebih meyakinkan.  Jadi ilmu falak dan juga ilmu dalam disiplin apapun  harus selalu dilakukan riset untuk pengembangannya, bukan semata  dilakukan kajian yang belulang-ulang tanpa ada analisis cerdas untuk mengkritisi kesimpulan-kesimpulan yang  dihasilkan oleh para ahli sebelumnya.

          Contoh yang dapat dikemukakan ialah bahwa sampai dengan saat ini ternyata masih belum ada kesepakatan tentang  berapa derajatkah bulan sabit dapat dilihat pada awal bulan.  Ada madzhab yang menyatakan cukup 2 derajat saja sesungghunya sudah mungkin hilal itu dilihat atau dengan bahsa yang umum sudah imkan al-rukyah.  Sementara yang lain menyatakan tidak cukup hanya 2 derajat di atas ufuk, melainkan harus minimal 4 derajat, dan bahkan ada yang menyatakan minimalnya 6 deraja.

          Dalam dunia ilmiah, penyelesaian tentang perbedaan tersebut tidak cukup hanya dengan mengetengahkan dalil al-quran ataupun hadis, tetapi harus dilakukan penelitian (rukyah) yang berkali-kali  sehingga akan dapat diperoleh suatu kesimpulan yanag meyakinkan.  Nah, kesimpulan yang nantinya  didapatkan dari penelitian atau rukyah yang dilakukan  beberapa kali tersebut tantu akan lebih dapat dipertanggung jawabkan ketimbanga hanya beradu argumentasi mengolah dalil dan kata-kata.  Tetapi seribu sayang, karena hal tersebut tidak pernah dilakukan dengan perencanaan yang matang,  sehingga sampai saat ini perbedaan tersebut terus berjalan.

          Ilmu falak  seharusnya dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi umat.  Kalau toh misalnya ilmu ini berbicara tentang tentang penetapan awal bulan, tentu diharapkan akan ada sebuah kontribusi ilmuini untuk menyatukanumat Islam dan bukannya malah membiarkan terus terjadi perbedaan yang menurut  akal sehat tentu tidak dapat dibenarkan.  Ada kaanya  perbedaan itu menjadi niscaya dan harus dihormati, namun perbedaan yang berkaitan dengan penetapan awal bulan, khsusnya bulan Ramadlan dan Syawwal tantu harus dianggap beda.  Ini karena  pada saat yang sama di tempat yang sama  ada yang berkeyakinan wajib berpuasa dan ada yang berkeyakinan haram berpusa.

          Untuk penyelesaian masalah tersebut tentu harus dibahas  tentang persoalan otoritas khususnya dalam menetapkan dan memberitahukannya kepada umat.  Kalau pada saat ini semua pihak, termasuk perorangan dan organisasi kemsyarakat dan keagamaan dengan semaunya dapat menetapkan dan sekaligus mengumumkannya, maka kondisinya akan  seperti ini terus.  Dalam kajian fiqah tentu harus ada  kejelasan siapa saja yang berwenang untuk menetapkan dan sekaligus mengumumkannya.  Dan kesepakatan ulama menetapkan  sultanlah yang sesungguhnya mempunyai otoritas menetapkan dan mengumumkannya.  Sementara itu  siapapun diperbolehkan menghitung dan melakukan rukyah tetapi hasil dari semua itu harus dilaporkan kepada sultan dan sultanlah yang kemudian menetapkannya.

          Dalam kasus Indonesia semua ormas danlembaga serta perorangan  dapat dipersilahkan untuk melakukan hisab dan rukyah, dan kalau nantinya  ada pihak yang menyatakan dapat berhasil rukyah, maka pihak tersebut haruslah disumpah.  Dan yang berwenang menyumpah ialah hakim dan bukan selainnya.  Hasil dari rukyah yang juga sudah diadakan sumpah kepada yang melihat bulan tersebut, maka kemudian disampaikan kepada sultan dalam hal ini Menteri Agama yang merepresentasikan pemerintah, dan atas dasar itulah pemerintah kemudian menetapkan  awal bulan dan ikuti dengan menyebarkannya kepada seluruh masyarakat.

          Tetapi sayangnya memang kajian tentang fiqh hisab rukyah  tidak menyentuh persoalan  otoritas tersebut, dan hanya  memberikan beberapa pilihan  dalam menetapkan  awal bulan yang justru menyebabkan perbedaan yang seolah dianggap biasa saja.  Barangkali ketika dilihat dengan kacamata kerukuna  dan toleransi, perbedaan seperti itu dapat diterima, namun kalau dilihat dari hakekat dan substansi perbedaan itu sendiri, tentu  akan terasa janggal dan mesti ada solusiuntuk menyatukannya.

          Semoga tidak lama lagi akan ada cara untuk menyatukan perbedaan yang sangat berpotensi untuk meretakkan umat tersebut.  Itu semua juga tergantung kepada kita semua dan juga pemerintah.  Selama kita masih memikirkan  ketenangan umat maka selama itu pula kita wajib mengupayakan penyatuan tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.