ORSENIK

Salah satu cara  untuk mengetahui dan menggali potensi dan kemampuan para mahasiswa baru, khususnya dalam bidang bakat dan minat mereka, ialah dengan melalui penyelenggaraan  kegiatan yang kemudian dinakanan dengan ORSENIK.  Orsenik itu sendiri merupakan kepanjangan dari oleh raga, seni dan keahlian.  Dengan pelaksanaan orsenik tersebut kiranya akan ditemukan bakat-bakt terpendam yang sangat mungkin untuk dikembangkan sehingga akan merupakan kekuatan yang sangat dahsyat.  Karena bagaimanapun  kita sangat membutuhkan potensi-potensi mahsiswa dalam berbagai bidang,  sehingga pada saat tertentu mereka akan dapat dibanggakan dan mengharumkan nama almamater.

          Berbagai kegiatan yang  berkaitan dengan raihan prestasi dalam bidang keahlian, bakat dan minat, akan sealu diselenggarakan, baik oleh kalangan perguruan tinggi Islam, maupun kalangan perguruan tinggi secara umum.  Kiprah kita dalam berbagai even tersebut cukup menggembirakan dalam arti disamping selalu mengikutinya, juga  prestasi yang diukir oleh para mahasiswa cukup baik.  Untuk itulah kiranya prestasi tersebut sangat perlu  dipertahankan dan bahkan ditingkatkan lagi.  Melalui orsenik inilah  kiranya  para mahasiswa baru akan dapat menunjukkan prestasinya dalam bidang-bidang tertentu, baik  olah raga, seni maupun keahlian lainnya.

          Tentu setelah berakhirnya orsenik nanti akan dapat sedikit dilihat seberapa jauh prestasi yang ditunjukkan oleh para mahasiswa baru.  Pemetaan kekuatan dalam berbagai bidang olah raga, seni, da juga keahlian tersebut sangat dibutuhkan dalam upaya  pembinaan dan peningkatan prestasi mereka, sehingga di masa depan akan dapat lebih ditingkatkan  dan pada saatnya nanti akan dapat membawa nama baik  almamater pada tingkat regional dan bahkan nasional.

          Walaupun kita sangat menyadari bahwa perguruan tingi kita bukan diperuntukkan bagi pengembangan bakat dan minat mahasiswa, khususnya dalam bidang olah raga dan seni serta keahlian lainnya,  namun tidak ada salahnya kalau kita juga memberikan fasilitas untuk memenuhi kebutuhna mereka dalam berbagai bidang yang menjadi minat mereka tersebut.  Sebab dalam kenyataannya, para mahasiswa ada yang memang mempunyai bakat dalam bidang tertentu, misalnya dalam bdang seni baca al-Quran, kali grafi, musik, footsal, volley ball, blu tangkis, tennis meja dan lainnya.  Nah, bakat yang demikian bagus tersebut  sangat sayang kalau kemudian tidak dibia  dan dikembangkan.

          Namun yang lebih penting untuk ditekankan di sini ialah bahwa pengembangan bakat dan minat tersebut tidak boleh mengalahkan tujuan utama studi di IAIN Walisongo ini.  Studi memang harus mendapatkan prioritas utama, sementara untuk pegembangan bakat dan minat,  merupakan  kebutuhan tambahan dan bersifat sekunder.  Hal ini sangat perlu ditekankan agar para mahasiswa tidak larut dalam menekuni bakatnya tersebut dan melupakan studi yang menjadi tujuan utama. 

          Pembinaan mahasiswa dalam mengembangkan bakat dan minatnya tersebut  juga harus diimbangi dengan pembinaan dalam bidang lainnya,  seperti akhlak, pendalaman dan pengamalan  agama, serta sikap ilmiah sebagai masyarakat yang hidup dilingkungan kampus.  Untuk itu peran pembantu dekan bidang kemahasiswaan sangatlah mutlak dan tidak dapat ditawar lagi.  Kita tidak mau lagi mendengar adanya  mahasiswa IAIN Walisongo Semarang yang melakukan aktifitas keurang terpuji atau justru tidak melakukan aktifitas yang seharusnya menjadi  kewajiban mereka.

          Kalau dahulu ada sebagian mahasiswa kita yang  tidak melakukan shalat, mungkin anggaplah hal tersebut sebagai pelajaran yang sangat berhaga, namun saat ini hal tersebut tidak boleh lagi terjadi.  Kalau pada  masa yang lalu  ada mahasiswa yang  melakukan latihan musik tidak mengenal waktu, bahkan saat adzan berkumandangpun masih tetap tidak berhenti, maka mulai saat ini hal tersebut tidak boleh lagi terjadi.  Kalau dahulu ada sebagian mahasiswa  yang  minum minuman keras, maka mulai saat ini juga tidak ada toleransi bagi mereka untuk  tinggal lebih lama lagi di kampus kita tercinta ini.

          Orsenik memang  masih dibutuhkan dalam upaya menggali dan memetakan  berbagai kekuatan dalam bidang bakat dan minat serta keahlian mahasiswa.  Setelah diketahui  dan dipetakan tentang  berbagai bakat dan minat mahasiswa, maka harus ada tindakan nyata dalam membina dan mengembangkan bakat dan mnanya tersebut.  Artinya  lembaga kemahasiswaan tidak boleh hanya berhenti di tataran mencari  bibit ungggul saja dan kemudian membiarkan  mereka begitu saja, melainkan harus ada  upaya nyata  dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang yang menjadi minat dan keahlian mereka.

          Akan tetapi  justru yang menjadi persoalan dalam pelaksanaan orsenik itu sendiri ialah pada persoalan waktu penyelanggaraan. Beberapa tahun yang lalu dalam setiap penyelenggaraan orseniktersebut selalu  saja menimbulkan semacam protes dari beberapa desen, karena ketika  memberikan kuliah, terutama di kampus 3 merasa terganggu dengan kgiatan orsenik tersebut.  Untuk itu pada tahun ini, meskipun awalnya sangat alot, tetapi dengan prinsip kebersamaan dan ingin meraih manfaat serta sejauh mungkin tidak merugikan pihak lain, maka orsenik  disepakati untuk dilaksanakan pada hari libur,  sehingga tidak lagi ada  kuliah yang terganggu.

          Namun sebagaimana diketahui oleh seluruh mahasiswa bahwa ternyata ada  sedikit persoalan yang sulit dihindarkan, ketika  auditorium yang menjadi sentral kegiatan orsenik tersebut pada saat yang bersamaan tidak dapat digunakan, karena telah lebih dahulu dipesan pihak lain untuk sebuah even penting.  Memang ada sedikit persoalan kesalahan  atau kealpaan manusia yang tidak disengaja,  sehingga dengan mempertimbangka berbagai hal, termasuk waktu dan biaya, orsenik terpaksa dilaksanakana  pada  waktu efektif, yakni pada hari senin dan selasa ini, tentu dengan resiko akan mendapatkan kritik  dari sebagian dosen yang merasa terganggu dalam kulaihnya.

          Memang kemudian hal tersebut menjadi kenyataan bahwa Senin kemarin sudah ada beberapa dosen yang  merasa terganggu dengan kegiatan orsenik tersebut.  Namun  karena  hal tersebut sudh menjadikeputusan bersama dengan kemungkinan resiko yang akan ditanggung, maka orsenik tersebut tetap berjalan.  Namun  tentu dengan catatan bahwa kedepan harus direncakanan secara matang dan tetap dilaksanakan pada hari libur sehingga tidak mengganggu perkuliahan yang sedang berjalan.  Meskipun  keduanya  kita anggap  sebagai kegiatan yang sama pentingnya, namun kegiatan perkuliahan  harus kita berikan tempat yang sedikit lebih penting ketimbang kegiatan orsenik tersebut.  Disamping itu kegiatan orsenik tersebut juga  masih  mungkin untuk dilaksanakan pada hri libur,  sehingga keduanya  bisa berjalan tanpa  saling mengganggu.

          Itulah barangkali sebagai solusi terbaik yang dapat dilaksanakan,  tentu untuk pelaksanaan orsenik tahun ini dengan terpaksa harus meminta maaf kepada seluruh dosen yang kebetulan mengajar pada hari Senin dan Selasa, khususnya di kampus 3 di lingkungan fakultas Syariah.  Untuk hal tersebut kiranya nanti diharapkan pihak fakultas akan memberikan jalan keluar dengan memberikan waktu kuliah dihari lain sebagai ganti dari perkuliahan yang tidak dapat dilaksanakan sehubungan dengan kegiatan orsenik tersebut.

          Namun secara keseluruhan kita  dapat mengambil manfaat dan pelajaran dari peristiwa ini, dan bahkan pada sisi lain  kita dapat merasa bangga, bahwa ternyata  kepedulian para dosen kita terhadap kewajiban mereka sungguh perlu diberikan penghargaan tersendiri.  Betapa tidak,  kalau pada zaman dahulu seolah ada kesan bahwa dosen kurang begitu memperhitungkan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya, semisal  mengajar hanya beberapa kali saja dan juga kurang memperhatikan prestasi yang diraih oleh mahasiswa.  Namun dengan sikap mereka yang  semacam protes atas terganggunya kuliah mereka, menunjukkan bahwa kepedulian mereka terhadap proses pembelajaran di kampus kita  sungguh sangat tinggi.

          Mereka saat ini telah menyadari tentang tanggung jawab dan kewajiban mereka sebagai pendidik yang harus memberikan perhatian yang lebih bagi peningkatan kualitas para mahasiswa,  sehingga sesuai dengan ketentuan yang berlaku, misalnya ketentuan tentang  kuantitas tatap muka dalam kulaih sebagaimana diatur dalam PP Nomor 37 tahun 2009 tentang dosen, mereka  dengan penuh ketulusan  akan memenuhinya, yakni mengadakan tatap muka di kelas sebanyak 16 kali dalam satu semester untuk 2 sks.

          Kondisi ini tentu sangat membanggakan, karena secara otomatis dengan banyaknya pertemuan dosen dengan mahasiswa tersebut akan semakin terjadi interaksi positif dan secara umum akan ada peningkatan kualitas mahasiswa itu sendiri.  Untuk itu sekali lagi kita sangat berharap kondisi yang demikian kondusif tidak boleh lagi terganggu dengan berbagai kegiatan yang justru akan menjadi penghambat bagi peningkatan kualitas para mahasiswa  itu sendiri.

          Orsenik sesungguhnya bukanlah merupakan  sesuau yang menghambat proses perkuliahan,  tetapi kalau tidak dimenej dengan baik, tentu juga akan dapat mengakibatkan terhambatnya proses perkuliahan.  Jadi semuanya tergantung kepada kemampuan kita untuk memenej  semua aktifitas yang kita lakukan.  Mudah-mudahan kedepan kita akan dapat memutuskan segala sesuatunya dengan penuh kebijakksanaan sehingga tidak ada satupun pihak yang dirugikan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.