KITAB KUNING

Istilah kitab kuning memang akrab dengan dunia pesantren, terutama pesatren yang  salaf, karena memang di sana dibahas dan dikaji kitab kuning.  Meskipun definisi tentang kitab kuning itu sendiri belum baku, dan umumnya  dikonotasikan dengan kitab-kitab klasik yang disusun oleh para ulama Timur tengah pada abad pertengahan,  dan kebanyakan berupa kitab fiqh, aqaid, tafsir, dan tasawuf.  Sementara kitab yang membahas tentang persoalan filsafat, politik secara khusus, sangat jarang atau kalau tidak boleh dikatakan sebagai tidak ada sama sekali.   Namun demikian secara umum kitab kuning itu sendiri merupakan kitab kitab yang ditulis sebelum abad ke tujuh belas dan ditulis dengan gaya tertentu.  Sedangkan kenapa dikatakan sebagai kitab kuning itu lebih disebabkan oleh kondisi riil kitab-kitab tersbeut yang untuk pertamakalinya dicetak secara sederhana dan dengan memakai kertas yang berwarna kuning.

Kondisi tersebutlah yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa kitab-kitab klasik tersebut disebut dengan kitab kuning.  Namun demikian tidak kemudian menjadi serta merta akan mengubah istilah kitab kuning, setelah kitab-kitab tersebut dicetak dengan menggunakan kertas berwarna putih.  Karena kitab kuning itu  sebuah istilah, maka pengertian yang lain dan berbeda dengan penegertian tersebut juga harus diapresiasi dan tidak secara mutlak ditolak begitu saja.  Pada prinsipnya siapapun berhak untuk memberikan makna kitab kuning tersebut asalkan didasarkan kepada argumentasi yang rasional dan dapat dipertanggung jawabkan.   

Istilah memang merupakan suatu kesepakatan mayoritas orang dalam bidang tertentu yang terkadang sangat berbeda dengan makna aslinya.  Cukup banyak istilah istilah yang berkembang di masyarakat kita yang masing-masing berbeda.  Kita mengenal beberapa istilah yang berbeda untuk sebuah kata yang sama.  Sebagai contoh ketika para ulama hadis mendifinisikan kata sunnah maka mereka akan memberikan makna  dalam istilah mereka, yakni segala sesuatu, baik perkataan, perbuatan, atau lainnya yang semuanya itu dunisbatkan atau dihubungkan dengan diri Nabi Muhammad SAW.  Tetapi ketika menengok kata sunnah tersebut dalam pengertian para ulama ahli fiqh, maka kita akan menemukan pemaknaan yang sangat berbeda, yakni mereka akan memberikan makna dengan istilah mereka sendiri, yaitu segala hal yang apabila dilaksanakan, akan mendapatkan pahala,  tetapi kalau ditinggalkan tidak akan mendapatkan dosa.

Demikian juga beberapa istilah tersebut juga dapat kita saksikan dimasyarakat kita, semisal kata kursi  dalam istilah masyarakat umum, akan dimaknai dengan sesuatu yang khas dan dikenal serta dijadikan tempat duduk, atau tempat yang diperuntukkan untuk duduk.  Namun ketika kita lihat para politisi memberikan makna kursi tentu akan berbeda maksudnya, yankni sebuah kedudukan yang terkadang direbutkan.  Apalagi ketika kata tersebut ditambah kata basah di belakangnya, maka bukan lagi bermakna tempat duduk yang terkena air, melainkan suatu kedudukan yang enak dan memberikan banyak fasilitas.  Dan begitulah kata istilah tersebut sedemikian rupa berkembang sesuai dengan pemaknaan mayorotas orang dalam suatu bidang tertentu, apapun bidangnya.

Nah, kalau kita berbicara  tentang kitab kuning tersebut tentunya ya harus mengacu pada  pengertian yang digunakan oleh kalangan pesantren, meskipun terkadang tampak tidak konsisten menurut penilaian orang luar.  Dengan begitu peristilahan yang kemudian muncul ke permukaan yanag saling berbeda dalam memberikan batasan tersebut, hanya sebagai tambahan yang boleh jadi tidak sama dengan yang biasa yang gunakan oleh kalangan pesantren, khususnya pesantren salaf.

Ada kemungkinan bahwa istilah kitab kuning tersebut memang dikhususkan bagi kitab-kitab klasik atau kitab yang beraliran klasik, meskipun ditulis belakangan dan mengikuti madzhab Syafii,  sehingga kalau ini yang mejadi pengertiannya, beberapa kitab kuno yang mengikuti madzhab  Hanafi misalnya, tentu tidak akan dianggap sebagai kitab kuning.  Dan begitu juga sebaliknya eskipun sebuah kitab itu ditulis  belangan, namun beraliran klasik dan menganut madzhab Syafii, maka dapat digolongkan kedalam kitab kuning.

Kata-kata klasik itu sendiri juga perlu dijelaskan,  sebab masing-masing orang juga sangat mungkin mempunyai pengertian yang berbeda.  Secara umum klasik tersebut dimaksudkan sebagai pikiran kuno yang belum tersentuh oleh analisis yang didasarkan kepada sikap rasional dan mempertimbangkan aspek-aspek, kesetaraan gender, keadilan, dan toleransi, serta lainnya yang saat ini justru menjadi pertimbangan utama.  Pengertian mungkin juga tidak dapat mewakili sebagian kepentingan yang berkaitan dengan keklasikan tersebut, namun kalau pengertian ini diikuti setidaknya aka nada gambaran bahwa justru yang  dianggap klasik itu ternyata pemikiran yang datar, tidak banyak kritik, tetapi malahan mengundang banyak kritik.

Beberapa kitab klasik yang masuk dalam pengertian kitab kuning memang mendapatkan banyak kritik karena di dalamnya ada beberapa kesimpulan yang tidak sesuai dengan pemikiran  yang didasarkan kepada keadilan, kesetaraan gender, toleransi dan lainnya.  Beberapa kitab tafsir juga memuat penafsiran dari Israiliyat yang sangat tidak rasional dan bahkan terkesan dongeng yang fiktif dan “menyesatkan”.  Demikian beberapa kitab fiqh masih mengandung hukuman yang sangat terasa  tidak adil dan tidak toleran terhadap umat lain.  Dan yang  sangat terasa ialah adanya kitab kuning yang menjelaskan tentang hubunan antara pria wanita yang sedemikian  cenderung patrialistik dan sangat bias gender yang hanya akan merugikan kaum perempuan.

Kita juga melihat ada kitab kitab yang sampai saat ini masih dipelajari di pesantren yangternyata didasarkan  kepada cerita-crita israiliyat dan dongeng-dongeng yang  tidak mendidik.  Bahkan kitab yang bertemakan tentang akidahpun banyak yang tidak didasarkan kepada riwayat yang meyakinkan, meskipun  sudah ada yang kemudian tidak mengajarkannya lagi di pesantren.  Demikian juga dalam hal yang berkaitan dengan motivasi kepada umat untuk bersemangat dalam melakukan ibadah dan beramal shoalih, yang  terkadang sangat tidak rasional.  Memang dalam masalah yang terakhir ini, yakni memotivasi umat untuk berbuat baik, ada ulama yang memperboehkan berdasar kepada riwayat lemah,  anmun sekali lagi seharusnya juga tetap harus selektif dalam memilih riwayat sehingga tidak akan merugikan umat secara umum.

Meskipun  banyak kritik terhadap kitab kuning yang sampai saat ini masih setia dipelajari di pesantren salaf, namun menurut saya  masih banyak sisi-sisi positif yang dapat diambil dari  kitab-kitab tersebut.  Artinya kitab kitab klasik yang berisi tentang pemikiran para ulama pada saat itu, masih sangat perlu diketahui, terlebih kalau ada argumentasi yang disajikan.  Namun demikian menurut saya tidak cukup hanya mempelajari kitab kuno tersebut saja, melainkan harus juga dikombinasikan dengan kitab putih atau kitab modern yang ditulis dengan mempertimbngkan  aspek-aspek keadilan, kesetaraan gender, toleransi, dan lainnya.  Kitab-kitab yang disebut sebagai kitab putih tersebut kebanyakan ditulis dengan analisis cukup cermat dan baik,  sehingga akan memungkinkan seseorang yang mempelajari dan mengkajinya akan mendapatkan informs pengetahuan yang cukup untuk berpikir dan menganalisa ulang, sehingga akan terdapat dialog yang akan memberikan kesan mendalam.

Kitab kuning yang sangat erat hubunannya dengan dunia pesantren klasik, memang masih harus kita pelajari, sekaligus berbarengan dengan mengkaji kitab putih.  Mempelajari kitab kuning dengan meninggalkan kajian terhadap kitab putih merupakan  sikap yang menurut saya tidak bijaksana, karena akan  dapat mengantarkan pembacanya menjadi eksklusif.  Hal tersebut dapat saja terjadi karena pada kenayataannya  kita semua saat ini berada di dunia yang penuh dengan perkembangan ilmu dan teknologi, namun sikap dan perilaku kita masih seperti pada abad pertengahan.  Demikian juga sebaliknya, mempelajari kitab putih saj tanpa melirik dan mengkaji kitab kuning juga merupakan sikap yang kurang bijak, karena  akan terjebak pada pemikiran yang rasional murni, yangbterkadang akan dapat membawa seseorang mengesampingkan kuasa Tuhan.

Itu semua hanyalah sebuah teori yang dalam kenyatannya masih dapat berbeda.  Artinya, ada orang yang hanya mempelajari kitab kuning saja, namun dengan kecerdasannya akan dapat menganalisa kehidupan, sehingga dia tetap akan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi  kekinian.  Demikian juga ada orang yang hanya berkenalan dengan kitab-kitab putih saja, namun tetap tidak tercabut dari akar ketundukan yang penuh atas segala kekuasaan Tuhan dan bahkan sangat mungkin justru lebih loyalis kepada Tuhan ketimbang lainnya.

Tetapi yang jelas kitab kuning memang merupakan sebuah fenomena  yang sangat menarik, Karena di dalamnya  banyak pemikiran ulama tempo dulu yang sangat variatif dan dapat kita jadikan pertimbangan dalam berbagai  hal.  Itu  artinya begaimanapun kritik yang dilontarkan banyak orang terhadap kitab kuning tersebut, tetapi tetap masih banyak manfaat yang dapat dipetik darinya.  Memang karya manusia  tidak ada yang sempurna, apalagi  karya yang ditulis  beberapa abad yang lalu dan kemudian disandingkan dengan kondisi riila saat ini, tentu sangat berbeda, tetapi keberbedaan tersebut bukan serta merta harus disingkirkan, melainkan tetap harus dipelihara sebagai mutiara yang berharga.

Semoga keberadaan kitab kuning di pesantren tersebut akan dapat tetap dikaji secara selektif, dan sekaligus dilengkapi dengan kitab putih lainnya untuk mendapatkan pengetahuan yang komprehensip, sehingga pada akhirnya kekayaan intelektual Islam tersebut akan tetap terpelihara hingga akhir masa nanti.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.