ARTI KETAATAN

Setiap kepemimpinan dalam arti luas selalu membutuhkan ketaatan atau loyalitas dari para umat yang dipimpin,  karena kalau ketaatan tersebut hilang dari umat yang menjadi tanggung jawab dalam kepemimpinannya, maka sesungguhnya telah hilang pula kepemimpinan tersebut.  Bagaimana tidak, kalau ketaatan tersebut telah hilang, maka dukungan terhadap pemimpin tersebut juga akan ikut hilang, dan kalau hal ini terjadi, maka  tidak akan ada gunanya aturan, perintah,larangan, dan lainnya yang dicoba  diterapkan oleh pimpinan tersebut.

          Kemutlakan adanya ketaatan tersebut dahulu pernah dilukiskan oleh seorang tokoh muslim, sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW, yakni Umar bin Khathhab, yang mengatakan "Islam itu tidak akan ada kecuali dengan bersatu, dan tidak akan ada persatuan tanpa adanya pemimpin, serta tidak akan ada kepemimpinan tanpa adanya ketaatan".  Pernyataan tersebut sesunguhnya mengandung makna yang sangat dalam terutama dalam hubungannya dengan sebuah ketaatan.  Barangkali pernyataan tersebut dapat dijelaskan bahwa  ketaatan pada sebuah kepemimpinan itu mutlak adanya dan kalau dan bahkan kalau ketaatan tersebut tidak ada maka kepemimpnan tersebut dianggap seperti tidak ada.

          Perlunya  ketaatan tersebut didsarkan  atas kenyataan bahwa seorang pemimpin itu mempunyai kewajiban untuk mengarahkan, membina, mengatur dan berupaya untuk mensejahterakan kepada umat yang dipimpin.  Nah, untuk melaksakan seluruh kewajiban tersebut diperlukan adanya dukungan maksimal dari seluruh umat.  Dukungan tersebut bisa berupa ketaatan terhadap seluruh perintah dan aturan yang disusun dalam upaya meningkatkan taraf kehidupan mereka.  Jadi ketaatan tersebut memang  merupakan unsure pokok dalam sebuah kepmimpinan.

          Namun demikian sesungguhnya harus ada penjelasan yang kongkrit bahwa ada bentuk dan jenis ketaan yang harus diketahui oleh masyarakat,  dengan harapan masyarakat akan dapat mengambil sikap dan  melakukan sesuatu yang terbaik dalam upaya mendukung kepemimpinan yang ada demi kemajuan dan kesejahteraan umat secara umum.  Bentuk dan jenis ketaatan tersebut memang harus dijelaskan sedemikian rupa, karena memang  substansinya memang beda antara satu dengan lainnya, terutama kalau dihubungkan dengan sebuah keyakinan.

          Islam membedakan bentuk ketaatan tersebut dengan sangat jelas, yakni kalau ketaatan tersebut dihubungkan kepada Tuhan, maka berbentuk ketaatan mutlak dan tidak ada tawar menawar di dalamnya.  Ketaatan tersebut merupakan ketundukan secara total atas segala keputusan yang ditentukan oleh Tuhan tanpa adanya semacam protes atau negosiasi.  Apapun yang diputuskan dan ditentukan oleh Tuhan mesti diterima dengan penuh ketundukan dan keyaninan bahwa ketentuan dan keputusan tersebut dapat dipastikan akan baik akibatnya dan sekaligus meberikan manfaat  dan maslahah bagi siapa saja yang menerima keputusan tersebut.

          Demikian juga dengan ketaatan yang dihubungkan dengan Nabi Muhammad SAW.  Hanya saja  tentu ada sedikit perbedaan yang harus dimengerti.  Perbedaan tersebut semata-mata hanya didasarkan atas tingkat keyakinan  tentang kebenaran berita yang disandarkan kepada masing-masing Tuhan dan Nabi Muhammad.  Sebagaimana dimaklumi bahwa  ketentuan Tuhan sebagaimana yang dimaksud tersebut termaktub dalam al-Quran,  dan  keberadaan al-Quran sendiri telah diyakini oleh seluruh umat, termasuk non muslim, sebagai kitab suci yang otentik diwarisi dari Nabi hingga sekarang.  Keotentikan tersebut didasarkan atas proses yang sangat meyakinkan secara ilmiah,  sehingga tidak ada ruang untk meragukannya.

          Nah, itulah kenyataan yang terjadi dimana siapun akan dapat yakin bahwa ketentuan Tuhan tersebut benar-benar datang dari Tuhan.  Namun lain halnya dengan ketentuan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Kita semua mengetahui bahwa berita dan ketentuan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad itu tidak semuanya benar-benar datang dari Nabi;  Dalam kenyataannya ada yang benar-benar meyakinkan datang dari Nabi dan ada yang cukup meragukan dan ada pula yang sangat jelas bukan dari Nabi.  Dengan kondisi seperti itu maka ketaatan kepada Nabi juga  menjadi ada pengaruhnya.  Ada prinsipnya ketaatan kepada Nabi mempunyai  derajat yang sama dengan ketaatan kepada Tuhan, namun mengingat kenyataan bahwa informasi tentang sesuatu ketentuan Nabi erseut masih ada persoalan dalam hal benar tidaknya ketentuan tersebut dari Nabi, maka selama ketentuan Nabi tersebut sangat meyakinkan bena-benar datang dari Nabi, maka ketaatan kepadanya menjadi mutlak,  tetapi kalau  kalau kurang meyakinkan bahwa ketentuan tersebut berasal dari Nabi maka ketaatan tersebut tidak mutlak.  Artinya bagi yang yakin maka menjadi mutlak dan bagi yang kurang yakin tidak menjadi mutlak.  Sedangkan  ketentuan yang jelas tidak meyakinkan berasal dari Nabi maka tidak akan ada kewqjiban taat kepadanya.

          Sementara itu ketaatan yang dialamatkan kepada selain Tuhan dan Nabi Muhammad SAW, juga harus dibedakan.  Artinya kalau seorang pemimpin  dalam keputusan dan ketentuan yang ditetapkan ternyata  didasarkan atas pertimbangan matang dan dengan tujuan baik untuk kemaslahatan banyak orang, maka tingkat ketaatannya menjadi wajib,  tetapi kalau ketetapannya tersebut menyimpang dari ketentuan Tuhan dan tidak bermuara kepada kemaslahatan, maka ketaatan tersebut menjadi tidak berlaku.  Jadi ketaatan kepada pemimpin itu didasarkan kepada bentuk perintah atau ketentuan itu sendiri, yakni manakala ketetapan dan ketentuan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip syariat, maka disitulah ada ketaatan yang wajib dipelihara oleh umat, tetapi kalau ketentuan yang diberlakukan tersebut bertentangan dan menyimpang dari prinsip syariat, maka ketaatan tersebut menjadi hilang.

          Seluruh pengertian ketaan sebagaimana yang dijelaskan di atas didasarkan kepada pemaknaan firman Tuhan, yang maksudnyam” wahai orang-orang beriman taatlah kalian kepada Allah (dengan ketaatan mutlak), dan taatlah juga kalian kepada Rasul (juga secara mutlak), serta (taatlah) kalian kepada para pemimpin kalian (selama mereka berada dalam jalan yang lurus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah), manakala kalian semua beriman kepada Allah dan hari akhir, dan itulah yang terbaik dan paling bagus akibatnya”.

          Artinya bahwa bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul itu menjadi mutlak dan tidak boleh ditawar, karena kita semua yakin kalau semua yang ditentukan oleh Allah dan juga Rasul yang mendapatkan wahyu dari Allah, pasti benarnya dan akan memberikan manfaat  bagi umat.  Dan kalau misalnya ada diantara ketetapan Tuhan dan juga rasul tersebut yang terkesan kurang tepat, itu semata-mata bukan substansinya yang kurang tepat, tetapi lebih dikerenakan cara pandang dan pemahaman kita saja yang kurang tepat.  Itulah keyakinan  sebagai seorang mukmin terhadap segala hal yang disampaikan oleh Tuhan dan Rasul-Nya.

          Sementara itu di dalam kenyataan yang dapat kita saksikan bahwa ketaatan kepada selain Tuhan dan Rasul tersebut, seringkali  bersifat tidak tetap dan bahkan dapat dikatakan hanya sekedar formal dan karena kepentingan semata.  Jadi karena kepentingan tersebut terkadang ada yang ketaatannya  sedemikian rupa hingga  tidak rasional.  Artinya apabila kepentingan seseorang dapat terakomodasi dan mendapatkan tempat, maka komitmen dan ketaatan akan menguat,  tetap sebaliknya ketika kepentingan tersebut tidak terakomodasi dan bahkan tidak mendapatkan repon, maka yang terjadi ialah kebalikan dari ketaatan, yakni pembangkangan, meskipun terkadang juga tidak rasional.

          Dengan demikian sesungguhnya dapat disimpulkan bahwa ketaatan yang ada di dunia ini dan ditujukan kepada selain Allah dan Rasul, hanya bersifat semu.  Dan hal ini harus dapat diketahui serta dimengerti oleh seluruh pimpinan dalam tingkatan apapun,  sebab kalau hal ini tidak disadari, maka  sangat mungkin akan terjadi sesuatu yang sangat menyakitkan dan kesengsaraan lebih lanjut.  Fungsui kesadaran atas persoalan ini ialah dalam upaya membangun serta menjaga ketaatn tersebut, supaya tetap terus dipelihara dan tumbuh subur bersama dengan kemninginan mencapai sebuah cita-cita bersama.

          Bukankah setiap organisasi apapun tentu dalam upaya meraih cita-cita yang telah ditetapkan bersama.  Tentu cita-cita tersebut bersifat umum yang terkadang tidak akan mewadahi keseluruhan keinginan setiap individu dalam kelompok organisasi tersebut.  Ini juga harus disadari oleh semua pihak terutama para pimpinan, karena pada kenyataannya  kondisi ini sangat mungkin akan menjadi salah satu faktor pemicu ketidak harmonisan dalam organisasi tersebut.  Untuk dengan menyadari sejak awal, diharapkan akan dapat dimenej sedemikian rupa sehingga akan dapat diciptakan susana yang kondusif, sehingga kepentingan bersama yang lebih besar akan dapat diraih.

          Kesimpulannya bahwa sebuah ketaatan, meskipun merupakan faktor utama dan penentu terhadap keberhasilan menjalankan sebuah kepemimpinan, tetapi harus dicermati sedemikian rupa  agar justru tidak menjadi sesuatu yang menjadi batu sandungan dalam menggapai cita-cita bersama.  Mudah-mudahan penjelasan seperti ini akan dapat memberikan kesadaran kepada semua pihak dan dapat dijadikan renungan sekaligus upaya untuk menyadari lebih awal  tentang kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak kita inginkan. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.