BELAJAR DARI KONFLIK AMBON

Pada saat umumnya masyarakat Indonesia menjalankan silatrrahmi halal bihalal, kita sekali lagi dikejutkan oleh konflik besar yang melibatkan ribuan orang, dan bahkan menyebabkan banyak orang kehilangan harta bendanya, baik rumah, kendaraan dan barang berharga lainnya.  Sungguh sedih rasanya menyaksikan saudara-saudara kita yang ada di Ambon yang demikian ketakuan dan berada di pengungsian.  Mungkin dalam persoalan konflik, masyarakat yang saat ini ada di Ambon, telah pernah mengalaminya berkali-kali,  namun  setelah sekian lama cukup kondusif dan tampak aman, ternyata tiba-tiba pecah kembali dan harus menelan korban.

          Suasana idul fitri biasanya selalu ditandai dengan perasaan senang dan penuh keceriaan, baik itu dirasakan oleh masyarakat muslim maupun non muslim.  Pada umumnya mereka kemudian mengadakan berbagai pertemuan untuk saling mrmberikan maaf diantara mereka.  Jadi sesungguhnya sangat jarang terjadi tawuran ataupun konflik dalam suasana lebaran seperti ini.  Namun nilai-nilai luhur sebagai salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia tersebut saat ini telah banyak dikoyak oleh kebringasan dan  mungkin ambisi pribadi  atau kelompok yang terlalu tinggi dengan pengetahuan serta control diri yang sangat minim.

          Kita tentunya juga sangat sedih mendengar beberapa mahasiswa universitas Hasanuddin di Makasar yang juga terlibat konflik dan tawuran pada saat masyarakat lainnya sedang saling memaafkan.  Lebi tragis lagi kemudian menyusul konflik Ambon yang sangat menghebohkan.  Walaupun saat ini suasana telah dapat dikendalikan, dan para tokoh telah berkumpul dan sepakat untuk menghentikan pertikaian, namun kita sangat yakin bahwa meskipun dikatakan telah dapat dikendalikan, tetapi masih tampak sangat mencekam,  dan  sangat mungkin masih akan timbul lagi konflik yang lebih besar.

          Untuk itu kiranya semua pihak harus tetap waspada dan pihak pemerintah serta tokoh masyarakat juga tetap harus berusaha  secara maksimal untuk meredakan amarah diantara warga dengan pendekatan yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan mereka dapat mengendalikan emosi serta ambisi yang masih membara  di hat mereka.  Pemerintah dan para tokoh harus dapat memberikan pencerahan dan informasi yang benar kepada warga sehingga mereka tidak akan mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang menginginkan konflik tersebut.  Kita sangat paham bahwa  mayoritas masyarakat sesungguhnya menginginkan kondisi yang aman, tentram, sehingga mereka akan dapat melaksanakan aktifitas sehari-hari dengan penuh gairah dan optimisme.

          Sementara  pihak yang memang ingin meneruskan konflik tersebut hanyalah beberapa orang yang seharusnya dapat segera ditangani oleh pihak berwajib, sehingga suasana kondusif yang sesungguhnya akan dapat dirasakan oleh masyarakat, secara umum.  Selama mereka yang menjadi biang kerusuhan tersebut belum disadarkan dan dibiarkan terus menyimpan dendam dan ambisi mereka, maka selama itu pula suasana akan selalu terancam oleh kemungkinan munculnya konflik yang berkepanjangan.

          Meskipu secara formal dan resmi dilaporkan bahwa persoalan tersebut bukan berkaitan dengan isu sara, namun harus dicermati kembali kondisi lapangan.  Jangan-jangan memang benar pada awalnya bukan persoalan sara, namun kemudian ditarik dan diseret kedalam wilayah sara.  Kita semua tahu bahwa masalah sara di Ambon sangat sensitive dan ada potensi untuk selalu dimunculkan.  Nah, untuk itulah semua pihak yang terlibat dalam penanganan persoalan ini hars melihat kenyataan tersebut dan kemudian mencarikan solusi terbaik buat masyarakat Ambon.  Artinya dalam menyelesaikan persoalan konflik tersebut  tidak hanya formalitas dan terkesan hanya  mencari solusi sesaat saja, dan bukan menyentuh pada akar persoalan yang sesunguhnya.

          Kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa masyarakat Ambon pada umumnya tetap menghendaki kedamaian abadi  dan jauh dari konflik yang menimbulkan  kekhawatiran semua pihak, namun memang ada beberapa pihak yang jumlahnya sangat kecil, tetapi potensial untuk membuat suasana menjadi kacau.  Kelompok semacam itu biasanya disebut dengan kelompok radikal dalam konotasi yang negative.  Biasanya ada prinsip-prinsip yang dipegangi oleh mereka yang tidak dapat disentuh oleh pihak lain.  Dalam keadaan yang demikian biasanya mereka sangat jauh dari sikap toleransi dan bekerja sama dengan pihak yang dianggap "lain" haluan.

          Berdasarkan berbagai informasi yang bisa didapatkan sebagiaman diebutkan di atas, sesungguhnya yang harus dilakukan oleh pemerintah dan juga para tokoh yang peduli dengan perdamaian di Ambon ialah dengan menemukan akar masalah tersebut dan kemudian secara bersama mencari solusi terbaik.  Kalaupun pada akhirnya ditemukan solusi yang mengharuskan adanya pihak yang  menjalani terapi khusus ataupun pengevakuasian,  tentu hal tersebut harus dilaksanakan  demi keutuhan dan persatuan masyarakat yang tetap menginginkan keamanan dan kenyamanan di daerah mereka.

          Memang kita juga tahu bahwa dalam setiap kelompok yang didasarkan atas alasana papun, baik ras, suku maupun agama atau lainnya, tentu di sana akan ada berbagai kelompok kecil dengan berbagai tujuan.  Salah satu kelompok kecil tersebut terkadang ada yang  bersifat keras dan radikal dalam mempertahankan prinsip yang mereka pegangi, meskipun terkadang prinsip tersebut sesungguhnya  tidak terlalu prinsip manakala dilihat dari sisi kepentingan yang lebih besar.  Dan sepertiitulah kenyataan yang selalu ada dalam kelompok-kelompok tersebut.  Nah pada umumnya dalam menyelesaikan persoalan yang muncul, selalu saja tidak pernah diusahakan  sampai pokok persoalan yang menjadi biangnya, tetapi hanya  sekedar meredakan  Susana yang hanya sementara.

          Saya sendiri tidak tahu mengapa pemerintah dan pihak yang berusaha mencarikan solusi  atas konflik tersebut tidak berani menyentuh persoalan intinya tersebut.  Mungkin mereka tidak  mau terlibat secara lebih jauh dalam urusan tersebut, yang sangat mungkin akan dapat membahayakan diri mereka sendiri, padahal sesunguhnya mereka sangat tahu  kalau  solusi seperti itulah yang memungkinkan terjadinya kondisi kondusif yang dapat dikatakan permanent.  Itu disebabkan budaya kita yang kurang berani dalam menanggung resiko atas perbuatan yang kita kerjakan.  Menurut saya kalau hal tersebut ditempuh dan seluruh masyarakat mendukung, tentu tdak akan terjadi persoalan berikutnya yang dapat membuat kecut hati para pembuat suasana kondusif tersebut.

          Boleh jadi memang para pihak yang dirugikan dalam persoalan tersebut, dapt memberikan ancaman keselamatan, namun dengan kesungguhan  semua pihak dalam menangani persoalan  konflik tersebut, tentunya akan mampu untuk menjauhkan  ancaman tersebut dari kehidupan kita.  Hanya saja kondisi masyarakat kita yang tampaknya memang kurang mendukung, sehingga  suasana seperti saat inilah yang memungkinkan  dilakukan.  Dengan begitu kita sesunguhnya belum seratus persen aman, khususnya di Ambon, karena memang persoalan yang sesungguhnya belum dapat dituntaskan.

          Sementara itu bagi masyarakat  di daerah lainnya saya kira dapat menjadikan konflik Ambon ini sebagai renungan untuk dijadikan pelajaran berharga agar dimasa depan konflik tersebut tidak merembet ke daerah kita.  Tentu denganmerenungkan segala akibat yang ditimbulkan oleh konflik itu sendiri harus menjadi pertimbangan utama.  Artinya dengan banyaknya korban, baik jiwa maupun harta serta fasilitas umum, tentnya akan dapat merugikan semua pihak, tidak hanya mereka yang terlibat dalam pertikaian atau konflik saja.  Dengan kondisi yang sangat mencekam akibat konflik seperti itu juga akan dapat  menjadikan kekhawatiran kepada kita tentang  berbagai aktifitas  yang biasanya dapat dilakkan oleh warga, seperti sekolah, bekerja, erusaha, dan kegiatan ekonomi lainnya.

          Bagi orang yang berpikir jernih tentunya tidak akan setuju dengan kondisi seperti itu.  Nah dari perenungan semacam itu kemudian akan timbul keinginan menjaga agar merka tidak akan pernah mengalaminya.  Kesadaran yang demikian  kalau kemudian dimenej dengan baik dan secara bersama sama dilaksanakan oleh masyarakat, tentunya akan menimbulkan sikap toleransi yang tinggi.  Artinya mereka tidak akan  mudah untuk diprovokasi dan membiarkan emosi mereka meluap sehingga akan dapat memunculkan benih benih konflik yang sangat membahayakan tersebut.

          Sedikit mengalah itulah kata kunci yang barangkali  harus diprioritaskan oleh semua pihak.  Arti yang paling tepat untuk kata sedikit mengalah ialah sikap toleransi dan bukan  sikap takut dan lembek yang hanya akan dimanfaatkan pihak lain untuk memeras kita, sama sekali bukan itu maksudnya, tetapi hanya sekedar  sedikit mengesampingkan ambisi pribadi untuk memberikan kesempatan kepada pihak lain yang tidak sampai mengorbankan prinsip umum yang memang dibenarkan.  Tentu kondisi seperti itu harus juga didukung dengan ketegasan dari pihak aparat keamanan dalam hal melaksanakan peraturan perundangan yang berlaku.

          Dengan begitu saya kira  kita semua akan dapat menciptakan suasana yang kondusif di daerah kita dan insya Allah tidak akan terjadi hal-hal merugikan seperti konflik yang saat ini melanda Ambon misalnya.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.