MENGEMBANGKAN PROGRAM DOKTOR

Kalau pada tiga dasawarsa yang lalu kita masih sangat sulit mencari doctor di negeri ini, maka saat ini kita akan dapat menemukan mereka di hamper setiap tempat.  Doktor bukan menjadi makhluk yang langka lagi melainkan sudah menjadi makhluk yang sangat mudah ditemukan, terutama di lingkungan perguruan tinggi.  Namun bukan berarti nilai kedoktoran kemudian menjadi berkurang, sama sekali  saya tidak berpretensi seperti itu, hanya saja ingin menyampaikan bahwa saat ini sesungguhnya potensi anak-anak bangsa ini sudah sedemikian kuat, terutama  apabila dilihat dari sisi tingkat pendidikan formal yang  dapat diraih.

          Doktor memang merupakan makhluk yang secara akademis berada dalam kasta yang paling tinggi, karena memang tidak ada lagi jenjang pendidikan  yang lebih tinggi darinya.  Untuk itu setiap dosen khususnya, dan juga masyarakat pada umumnya, selalu bercita-cita untuk dapat menjadi doctor, tentu dengan melakukan proses yang wajar, yakni mengikuti studi di salah sebuah program yang memang  menyelenggarakan program doctor tersebut.  Tujuan utamanya ialah dalam upaya untuk meningkatkan kualitas diri dan sekaligus  dalam upaya mengembangkan disiplin ilmu yang memang ditekuninya.

          Barangkali memang ada sebagian kecil orang yang berkeinginan menjadi doctor dengan niat yang berbeda dengan niat da tujuan utama tersebut, namun sekali lagi jumlahnya sangat sedikit.  Meskipun demikian, untuk sampai pada tingkat meraih gelar doctor, tetaplah melalui tahap-tahap yang telah ditentukan oleh program.  Dengan melihat kenyataan adanya tujuan yang berbeda tersebut, tentu kualitasnya pun tentu akan berbeda.  Artinya bahwa pengabdian seorang doctor dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui riset dan kemudian mentransformasikannya kepada masyarakat luas, dengan tujuan untuk kesejahteraan umat manusia itu sendiri, menjadi berbeda;  Ada yang setelah menjadi doctor kemudian tidur, karena memang cita-citanya hanya ingin mendapatkan gelar, tetapi yang terbanyak ialah setelah menjadi doctor kemudian  menyadari tanggung jawab yang sangat besar dengan title yang disandangnya.

          Nah, kesadaran yang tinggi dengan predikatnya sebagai intelektual yang harus mengembangkan disiplin ilmu yang ditekuninya tersebut akan mengantarkan seorang doctor menjadi lebih dinamis dalam melakukan riset.  Doktor yang seperti itu tentunya banyak ditemukan di dalam kampus dan lemabaga-lembaga riset lainnya, walaupun harus disadari bahwa  masih ada diantara mereka itu yang kurang menyadari tentang hal tersebut, sehingga  dalam kurun beberapa  tahun sama sekali tidak menghasilkan kaya ilmiah yang dapat dinikmati oleh masyarakat, termasuk para mahasiswa.

          Menyadari hal tersebut tentunya sangat diperlukan upaya-paya nyata untuk memcahkan persoalan tersebut, khususnya bagi mereka yang berada di lingkungan perguruan tingi.  Memang ada beberapa cara yang dapat dilakukan, semisal mengadakan pertemuan dengan mereka  dalam bentuk workshop atau semacamnya  dalam upaya menyegarkan dan mengingatkan kepada mereka akan tanggung jawab yang seharusnya dipikul serta dalam upaya mewujudkan keteladanan  di kalangan akademisi kampus.

          Namun yang justru lebih penting dari itu ialah bagaimana menyiapkan para calon doctor yang nantinya akan menyadari tangung jawab seorang doctor yang harus terus mengembangkan ilmu yang ditekuni sampai kapanpun.  Untuk itulah saya menganggap betapa pentingnya upaya  untuk meningkatkan lembaga atau programnya itu sendiri.  Pembenahan di beberapa sector tentu sangat diperlukan, demikian juga pemenuhan beberapa faslitas  yang memungkinkan untuk pengembangan diri calon doctor.

          Barangkali yang pertama harus ditancapkan dahulu ialah  tujuan dan target out put program itu sendiri, yakni lulusan yang seperti apa yang ingin dihasilkan, tentu disamping visi dan misi yang jelas dan dapat diwujudkan dalam kenyataan.  Memang setiap program doctor tentu mempunyai tujuan seperti itu, namun dalam upaya  mempersiapan segala sesuatunya, perumusan sosok doctor yang diinginkan tersebut  sangat perlu ditonjolkan, dengan tujuan  agar seluruh potensi yang ada  dikerahkan untuk mewujudkan tujuan tersebut.

          Kita semua  tentunya sepakat kalau lulusan doctor dari IAIN Walisongo Semarang itu  merupaka sosok yang ideal sebagai seorang ilmuan muslim yang  menguasai disiplin ilmu yang ditekuni, yakni keilmuan Islam dan sekaligus  mengamalkannya, berakhlak mulia, bersikap terbuka, tanggap terhadap perkembangan ilmu, memiliki wawasan dan kemampuan dasar keilmuan dan ketrampilan teknis yang diperlukan untuk mengadaptasi dan / atau menciptakan teori dan konsep, menguasai teori dan konsep yang relevan dengan bidang keahliannya, akrab dengan pemikiran mutakhir para ahli dalam kawasan keahliannya, mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dalam kawasan keahliannya untuk memecahkan permasalahan termasuk yang memerlukan pendekatan lintas disiplin, mampu mengkomunikasikan pemikiran serta hasil karyanya kepada masyarakat ilmiah dan masyarakat umum, mempunyai kemampuan untuk mengembangkan konsep ilmu di dalam bidang keahliannya melalui penelitian, mempunyai kemampuan mengelola, memimpin, dan mengembangkan program penelitian, dan mempunyai kemampuan melakukan pendekatan multidisipliner / interdisipliner dalam berkarya dalam bidang keahliannya.

          Memang sangat ideal sosok yang akan dihasilkan oleh program doctor tersebut, namun demikian semua itu  harus melalui proses panjang dan tidak serta merta dapat diwujudkan dalam waktu yang singkat.  Untuk itu sangat dipelukan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak, terutama mereka yang  berkaitan langsung dengan program tersebut.  Penyediaan berbagai fasilitas yang memungkinkan seorang calon doctor dapat  menjadi sosok ideal tersebut, seperti perpustakaan, laboratorium, dan juga berbagai fasilitas  IT.

          Kedepan  kiranya sangat diperlukan  suatu dorongan kepada seluruh  peserta program doctor untuk  terus  menerus melakukan riset dengan prosedur  ilmiah yang benar.  Untuk keperluan tersebut program memang harus berusaha untuk memberikan fasilitas yang memungkinkan  peseta program dapat menguasai berbagai metode riset, tidak saja melalui mata kuliah formal di kelas, melainkan secara kontinyu diupayakan sedemikian rupa sehingga mereka akan matang dalam hal metodologi penelitian.  Kita sangat menyadari bahwa tentang metodologi penelitian tersebut meskipun telah diperkenalkan semenjak di S1, namun justru  saat ini menjadi titik kelemahan utama di kebanyakan peserta program.

          Menurut saya inilah yang sangat perlu diupayakan pertama kali oleh pengelola program doctor dalam upaya mewujudkan tujuan ideal tersebut.  Disamping itu pengenalan dan pendalaman terhadap berbagai disiplin keilmuan, terutama teori-teori ilmu social juga sangat diperlukan dalam upaya pendekatan dan pemahaman ilmu keislaman yang menjadi focus utama  kajian di program ini.  Artinya seorang calon doctor diharapkan akan mampu melakukan pendekatan interdisipliner terhadap sesuatuyang menjadi kajiannya, sehingga  analisis yang dilakukan dan sekaligus kesimpulan yang dihasilkannya akan terasa  komphehensif dan komplit.

          Barangkali di masa depan juga sangat diperlukan upaya nyata untuk memberikan pengalaman tertentu bagi seluruh calon doctor.  Artinya sebelum menyelesaikan program doctor seorang calon doctor harus mempunyai pengalaman luar negeri, misalnya dengan melakukan short course atau academic researcht di salah satu perguruan tinggi ternama di luar negeri.  Untuk keperluan  tersebut kedepan memang akan kita lakukan berbagai kerjasama akdemik dengan berbagai perguruan tingi di luar negeri, yang sekarang sudah kita mulai  dengan beberapa perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara dan Amerika dan Eropa.

          Dalam hal kerjasama tersebut kita akan juga fokuskan ke beberapa perguruan tingg di Timur Tengah,  Australia dan juga beberapa Negara di kawasan Asia.  Ini dimaksudkan disamping  dalam upaya untuk lebih memberikan kesempatan yang lebih luas kepada seluruh  civitas akademika IAIN Walisongo Semarang dalam mengakses berbagai fasilitas yang tersedia melalui kerjasama tersebut, juga dimaksudkan  agar para mahasiswa program doctor yang akan melakukan kegiatan penelitian atau sekedar kursus pendek di perguruan tinggi luar negeri tersebut menjadi mudah dan banyak pilihan.

          Disamping itu dengan jalinan kerjasama yang demikian diharapkan di masa depan akan  mudah dilakukan berbagai upaya untuk mendatangkan  para guru besar dari berbagai universitas tersebut sebagai dosen tamu untuk memberikan kuliah umum kepada para mahasiswa program doctor secara periodic.  Artinya pengalaman para mehasiswa nantinya akan  semakin banyak dan akan lebih mematangkan mereka seingga tujuan ideal yang dicanagkan tersebut akan benar-benar tercapai.

          Demikian juga dengan fasilitas penunjang lainnya, seperti perangkat dan fasilitas IT, tentu  akan diperhatikan dan di dipenuhi dalam upaya memudahkan akses berbagai informasi yang diperlukan.  Perpustakaan yang representative dan sekaligus terdapat link ke berbagai perpustakaan universitas mitra di dalam maupun di luar negeri juga sangat perlu segera diwujudkan.  Tidak kalah pentingnya ialah laboratorium yang memungkinkan para dosen dan mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan ilmu yang ditekuni dan menjadi focus kajian.  Pada umumya program doctor  kurang memperhatikan soal laboratorium ini, namun menurut pandangan saya, justru laboratorium bagi program doctor tersebut menjadi sangat mutlak dan niscaya.

          Tentu masih banyak lagi yang harus terus diupayakan penyempurnaannya, termasuk  penguatan sumber daya insani yang lebih professional, pelayanan yang prima, dan penyediaan berbagai fasilitas yang terus berkembang dan up to date.  Semoga dengan upaya-upaya tersebut program doctor  yang kita kembangkan bersama  tersebut benar-benar akan  menghasilkan alumni yang memang layak sekaligus peduli terhadap pengembangan ilmu dan umat sekaligus. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.