TUJUAN MANUSIA DICIPTAKAN

Tuhan menjadilan manusia  di atas bumi ini bukan tanpa tujuan, melainkan dengan sangat jelas ada target dan tujuan tertentu sebagaimana  yang ditentukan sendiri oleh Allah SWT.  Jadi wujudnya manusia tersebut bukan dengan sendirinya tanpa perencanaan, tetapi memang diciptakan oleh Tuhan dalam upaya meramaikan bumi ini.  Sementara itu tujuan utamanya ialah dalam rangka untuk mengabdi kepada Tuhan, karena sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah bahwa  Allah tidak menciptakan manusia dan jin kecuali hanya untuk mengabdikan diri mereka kepada Tuhan.

          Namun sebagaimana kita tahu bahwa tidak semua manusia dan juga jin taat dan mengikuti perintah Tuhan tersebut, bahkan tidak jarang ada diantara mereka yang justru menentang kepada Tuhan dan segala perintah-Nya.  Dan itulah romantka kehidupan yang ada di dunia;  Ada yang taat dan mengikuti seluruh perintah Tuhan, dan ada pula yang menentang.  Dan diantara mereka juga ada yang mentaati sebagian perntah, namun tetap masih benyak meninggalkanperintah lainnya, dan sekaligus malahan melakukan larangan yang telah ditetapkan.

          Untuk itulah Tuhan kemudian  memberikan pilihan yang dapat ditentuka oleh manusia  itu sendiri dengan segala akibat dan resikonya, baik ketika masih hidup di dunia maupun setelah nanti  berada di akhirat.  Pilihan tersebut ialah adanya sesuatu yang dinamakan dengan baik dan buruk, manfaat dan madlarat, beruntung dan celaka, dan juga surga dan neraka.   Nah, untuk memilih tersebut uhan telah membekali seluruh manusia dengan akal pikiran dan hati nurani.  Artinya kalau manusia dapat mempergunakan pikiran dan hatinya, tentu mereka akan memilih sesuatu yang baik, yang bermanfaat dan tentu sesuatu yang menguntungkan, karena kalau demikian, maka di akhirat nanti mereka akan mendapatkan balasan dan tempat di surga.

          Tetapi sebaliknya, kalau manusia tidak menggunakan akal pikiran dan hati nnuraninya dan kemudian lebih memilih yang jelek, membahayakan, dan dapat merugikan, maka di akhirat nanti mereka tentu akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya di dunia, yakni neraka.  Meskipun Tuhan telah memberitahukan tentang persoalan tersebut dengan sangat jelas, namun  kita masih enyaksikan banyak manusia yang justru memilih sebaliknya, yakni memilih sesuatu yang akan menjerumuskannya kedalam kesengsaraan.  Dengan begitu kita dapat menyimpulkan bahwa kebanyakan manusia ternyata belum menggunakan akal pikian dan hati nuraninya untuk membuat pilhan dalam menentukan masa depannya terutama ketika nanti sudah berada di alam baka.

          Sesungguhnya Tuhan hanya ingin  bahwa  manusia itu mau mengabdikan dirinya kepada Tuhan, dengan cara mengikuti jalan baik yang telah ditunjukkan.  Kalau akal pikiran yang telah dianugerahkan oleh Tuhan tersebut  dipergunakan, tentu  manusia akan merasa berterima kasih kepada Tuhan, karena telah diberikan berbagai kenikmatan yang tiada terhingga.  Semua yang ada dan kita miliki saat ini hakekatnya ialah karena pemberian dan kasih sayang Tuhan semata.  Seluruh tubuh dengan segala fungsinya masing-masing juga semata hanya karena pemberian Tuhan yang cuma-cuma.

Demikian juga dengan segala kenikmatan lainnya seperti harta yang diberikan kepada kita, kesehatan, kesempatan, dan kemudahan dalam berbagai hal serta lainnya, semua itu semata-mata  karena pemberian dari Tuhan.  Mungkin diantara manusia memang ada yang tidak menggunakan akal pikiran dan hati nuraninya, sehingga menganggap bahwa semua itu karena usahanya sendiri.  Harta yang ada ditanggannya juga dianggap karena prestasinya sendiri, demikian juga kesehatan, dan kesehatan serta berbagai kemudahan lainnya.  Namun apakah mereka berpikira bahwa seluruh  angota badan yang ada dengan segala fungsinya ersebut juga atas hasil usaha mereka sendiri?.  Dalam hal yang demikian mereka tentunya hanya  bisa  mengatakan ya itu kan sudah gawan bayi.  Dan itulah kesalahan mereka yang paling fatal, karena mereka sama sekali tidak memikirkan bahwa semua itu karena Tuhan dan bukan dengan sendirinya ada.

Artinya  karena memang kalau akal pikiran dan juga hati nurani tidak dijadikan  panglima dalam menentukan segala sesuatu, akibatnya akan justru semakin menjauh  dari Tuhan.  Mereka tidak lagi mengenal Tuhan dengan segala kasih sayang-Nya.  Tetapi bagi mereka yang mau menggunakan  akal pikiran dan hati nurani dalam memutuskan segala sesuatu, tentu akan sejalan dengan sesuatu yang dikehendaki Tuhan. Itulah  wujud dari terima kasih manusia kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan kepada manusia. Dan cara berteima kasih kepada Tuhan yang paling baik dan pas tentunya ya mengabdikan diri kepada Tuhan dengan ketulusan dan kesungguhan yang maksimal, yakni melalui pelaksanaan seluruh perintah dan sekaligus menjauhkan diri dari larangan yang telah ditentukan.

          Memang disamping tujuan utama diciptakannya manusia seperti yang disebutkan di atas, Tuhan juga memberikan informasi tentang diciptakannya manusia  dengan berjenis dan ber suku serta berbangsa bangsa. Artinya  kenapa Tuhan menciptakan manusia itu berbeda dalam  berbagai hal, seperti warna kulit, ras, suku, bangsa dan lainnya, kok tidak sama semua.  Tentu Tuhan mempunyai tujuan lain selain dalam upaya  untuk mengabdikan diri mereka kepada Tuhan, yakni  agar dalam menjalani kehidupan di dunia ini, manusia dapat saling mengenal dan memahami  berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan  manusia itu sendiri.

          Dalam persoalan ini Tuhan memandang sama terhadap seluruh manusia yang diciptakan oleh Tuhan, meskipun  jenis, suku, bangsa, ras, dan lainnya  jelas diciptakan Tuhan secara berbeda.  Jadi dalam pandangan Tuhan tidak ada bedanya antara manusia  yang dilahirkan dan hidup sebagai bangsa Indonesia dan bersuku Jawa, misalnya dengan manusia yang dilahirkan dan hidup sebagai bangsa Amerika, Cina, Jepang, Belanda, atau lainnya.  Tuhan tidak memandang bentuk tubuh, warna kulit dan bangsa.  Oleh karena itu sangat keliru kalau ada suatu suku atau angsa yang merasa lebih baik dan unggul  atau terhormat daripada suku atau bangsa lainnya. Tetapi justru yang dipandang oleh Tuhan ialah karena amal perbuatannya sebagai manifestasi dari keimanan dan ketaqwannya.

          Kalau toh secara penampilan luarnya  ada manusia yang  mempunyai fisik tidak lengkap misalnya, namun ia sangat baik dalam akhlak dan amal kebaikannya, tentu ia  akan dipandang lebih terhormat ketimbang orang yang secara fisik lengkap, tetapi  akhlaknya sangat jelek dan  bahkan sama sekali tidak mengenal Tuhan.  Itulah ketentuan Tuhan yang sesungguhnya telah disampaikan kepada seluruh umat manusia.  Namun sekali lagi bahwa  masih banyak diantara umat manusia yang tidak menghiraukannya dan bahkan membuat criteria dan ketentuan sendiri secara sepihak dan  sangat tidak adil, terutama dalam pandangan orang-orang yang menggunakan akal pikiran dan hati nurani.

          Jadi memang semua yang dititahkan oleh Tuhan itu mempunyai tujuan yang jelas dan pada umumnya dalam rangka  kesejahteraan umat manusia itu sendiri.  Ketika Tuhan berkehendak agar manusia itu mengabdikan dirinya hanya kepada Tuhan dengan melakukan segala hal yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang, semua itu semata-mata untuk kebaikan manusia  sendiri bukan untuk kepentingan Tuhan, karena kita semua sadar bahwa Tuhan sesungguhnynya tidak butuh untuk disembah, tidak butuh untuk dipuja.  Kalau toh seadainya seluruh manusia tidak ada yang menyembah Tuhan, maka Tuhan akan tetap menjadi Tuhan dan berkuasa atas segala sesuatu.

          Tuhan memerintahkan kepada manusia untuk taat kepada keputusan perintah Tuhan tersebut dalam upaya  menyelamatkan manusia sendiri dari kehancuran dan kesengsaraan yang kemungkinan akan menimpanya.  Dan dengan menjalankan perintah Tuhan tersebut manusia akan menjadi lebih baik dan selamat.  Tetapi kalau manusia membangkang atas perintah Tuhan, tentu Tuhan tidak akan merasa rugi, melainkan manusia sendiri yang akan mengalami kerugian besar, di dunia dan lebih-lebih di akhirat nanti.

          Demikian juga ketika Tuhan menjadikan manusia berbeda jenis, suku, bangsa dan lainnya, dengan tujuan agar mereka saling mengenal, tentang berbagai hal termasuk kebudayaan, kreatifitas, kebiasaan, dan lainnya, semuanya itu dalam rangkan kesejahteraan umat manusia sendiri.  Juga ketika Tuhan menyatakan bawa semua manusia  dengan segala perbedaan tersebut menurut pandangan Tuhan  sesungguhnya sama, hanya yang membedakan mereka itu Cuma keimanan dan ketaqwaannya saja, juga dalam upaya untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia sendiri.

          Kalau toh kemudian manusia tidak mau mengenal antara suku, bangsa dan lainnya, tentu Tuhan sama sekali tidak merasa rugi, tetapi justru manusia sendiri yang akan mengalamikerugian, karena tidak akan dapat informasi yang berguna untuk kesejahteraannya.  Demikian juga  ketika menusia tidak mau menjadikan criteria taqwa sebagai ukuran kehormatan dan kemuliaan seseorang, dan kemudian membuat criteria sendiri dari aspek fisik misalnya, maka Tuhan juga tidak akan merasa dirugikan, tetapi justru manusia sendiri yang akan rugi karena selalu akan menemui masalah dalam pergaulannya, dan lainnya.

          Pendeknya apapun yang telah diputuskan oleh Tuhan sesungguhnya semua  dalam upaya kesejahteraan umat manusia,  atetapi karena banyak manusia yang kemudian tidak mentaati ketentuan Tuhan tersebut, akhirnya  banyak kerusakan dan mengakibatkan keruian yang besar bagi manusia itu sendiri seperti yang kita saksikan sekarang.  Dengan kenyataan seperti ini, kita hanya dapat berharap agar semua manuisa segera menyadari keberadaannya sebagai hamba Tuhan yang  seharusnya mengikuti seluruh ketentuan Tuhan, demi kebaikan dan kesejahteraan mereka sendiri.

          Masih banyak kesempatan untuk menyadari dan kembali kepada fitrah sebagai hamba Tuhan yang taat dengan mempergunakan akal pikiran dan hati nurani yang telah dianugerahkan Tuhan.  Semoga dengan kesadaran tersebut, dunia ini akan semakin baik dan kondisi ideal yang dicita-citakan oleh seluruh umat manusia akan dapat terealisasi. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.