ISTIKAMAL SEBAGAI KEPUTUSAN ISBAT

Barangkali tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan kebimbangan, terutama dalam hubungannya dengan penentuan tanggal 1 Syawal atau hari raya idul fitri, karena secara hitungan, kemungkinan dapat dilihatnya hilal atau bulan  pada hari Senin tanggal 29 Ramadlan sangat mustahil.  Menurut para ahli bahwa ketinggian bulan pada saat tersebut hanya sekitar 1 derajat 48 menit di atas ufuk, yang menurut pendapat yang sudah umum dipakai oleh kementerian agama belum memungkinkan untuk dapat dilihat.  Batas yang ditentukan oleh mereka untuk mungkinnya hilal dapat dilihat ialah 2 derajat.  Meskipun menurut perkiraan para astronom, ketinggian hilal yang hanya 2 derajat itupun sangat belum mungkin untuk dilihat.

          Lepas dari perbedaan tersebut,sesungguhnya  yang terpenting bago masyarakat awam iala kepastian dan informasi yang benar tentang keputusan mengenai kapan umat Islam merayakan hari idul fitri.  Saya sangat yakin bahwa mayoritas masyarakat tetap mengikuti keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah setelah mengadakan siding penetapan yang melibat semua unsure organisasi kemasyarakatan dan  keagamaan di tanah air.  Hanya saja untuk tahun ini memang ada sedikit kebimbangan menyangkut penentuan tersebut.

          Kebimbangan tersebut bermula dari beberapa atau bahkan mungkin mayoritas almanac atau penaggalan yang  memberikan warna merah pada tanggal 30 Agustus 2011, yang berarti hari itulah hari raya idul fitri.  Disamping itu gencarnya pengumuman dari ormas muhammadiyah yang jauh ari telah menetapkan bahwa idul fitri bagi mereka jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011,  sementara almanac yang  memberikan keterangan bahwa idul fitri jatuh pada hari selasa hanya beberapa saja.  Kenyataan itulah yang menjadikan masyarakat awam kemudian menyimpulkan bahwa memang  idul fitri kemungkinannya jatuh pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011.

          Memang tidak seperti biasanya, dimana banyak tanggalan yang memberikan informasi tentang idul fitri mengikuti kemungkinan yang paling mungkin biasanya ditetapkan oleh pemerintah, yakni pada hari dimana saat hilal sudah dimungkinkan untuk dapat dilihat, yaitu 2 derajat atau lebih.  Artinya seperti pada waktu yang lalu meskipun Muhammadiyah telah mengumumkan hari raya, tetapi kebanyakan masyarakat tidak terpengaruh dan hanya akan mengikuti apa yang diumumkan oleh pemerintah, yang didukung oleh penanggalan yang beredar di masyarakat.  Aktifitas masyarakatpun juga seakan tidak terpengaruh oleh pengumumam yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah tersebut.

          Tetapi sekali lagi lain dengan saat ini, dimana hamper seluruh masyarakat sudah sangat yakin bahwa hari raya akan jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011 sebagaimana yang tercantum dalam banyak pananggalan, termasuk penanggalan yang dikeluarkan oleh ormas yang ternyata menyatakan sikap bahwa hari raya jatuh pada  Rabu 31 Agustus 2011.  Demikian juga penanggalan yang dikeluarkan oleh banyak lembaga pendidikan, bahkan lembaga Negara, perusahaan dan lainnya yang  beredar di masyarakat luas.  Menurut perkiraan saya  justru tangalan inilah yang menjadikan masyarakat sangat yakin dan kemudian mempersiapkan segala sesuatunya  sesuai dengan keyakinan tersebut.

          Pemerintah telah menetapkan bahwa tanggal 1 Syawal  ialah para hari Rabu tanggal 31  Agustus 2011.  Ketetapan tersebut setelah mendengarkan laporan dari hasil rukyah yang dilangsungkan disembilan puluh titik di seluruh wilayah Indonesia yang rata-rata menyatakan tidak melihat bulan.  Memang  ada laporan rukyah yang dapat berhasil dilakukan oleh orang atau ormas yang melakukannya di pantai Kartini Jepara dan juga di Cakung.  Namun pada saat yang sama beberapa oras lain yang juga melaksanakan rukyah di tempat yang sama ternyat tidak dapat berhasil melihat bulan. 

          Dalam persoalan rukyah tersebut sesunguhnya memang tidak dapat dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya, karena ada bebrapa  perhitungan tersendiri, baik dalam mengarahkan teropong ke titik yang akurat, maupun tentang bulan sabit itu sendiri yang terkadang ada kekeliruan orang yang melihat.  Artinya ada sebagian orang yang mengira adanya bulan yang dapat dilihat, namun kemungkinannya bisa saja hal itu ternyata hanya sebuah kapal denganlampunya, atau awan ataupun benda langit lainnya.  Nah, dengan pertimbangan itlah dan juga dengan keyikan berdasarkan hisab bahwa hilal tidak akan mungki dapat dilihat, maka kesaksian mereka yang menganggap melihat hilal di Jepara dan Cakung, akhirnya ditolak.

          Penolakan tersebut juga didasarkn kepada fatwa  Majlis Ulama Indonesia tahun 2004 yang menjelaskan tentang kemungina ditolaknya kesaksian orang yang melihat hilal apabila ahli hisab sepakat  belum munginnya  hila tersebut dilihat, dengan merujuk kepada beberapa pendapat para lama fiqh.  Dengan penolakan tersebut kemudian didasarkan kepada hadis Nabi yang maksudnya "Berpuasalah kalian ketikan melihat bulan, dan berbukalah (berhari rayalah) kalian ketika melihat bulan, dan manakala tertutup mendung dan kalian tidak dapat meliatnya, maka sempurnakanlah puasa kalian menjadi 30 hari", maka kemudian diputuskan untuk menyempurnakan bulan Ramadlan tahun 1432 H ini menjadi 30 hari atau dalam bahsa laina istikmal.

          Memang harus diakui bahwa dengan keputusan tersebut, banyak masyarakat yang sangat kecewa dengan kondisi ini, dimana mereka sudah mempersiapkan diri mereka untuk merayakan iul fitri tahun ini pada hari ini, tetapi harus ditunda pada Rabu besuk.  Bukan karena harus menjalankan shalat tarawih agak malam dan harus berpuasa satu hari lagi, namun lebih banyak kekecewaan tersebut disebabkan oleh informasi yang tidak tepat melalui berbagai tangalan yangmereka jadikan pedoman.  Masyarakat sesungguhnya hanya menginginkan kejelasan yang akan memberikan kenyamanan dan sekaligus kepastian  bagi mereka.

          Kekecewaan tersebut juga dialami oleh mereka yang  memang pas-pasan untuk merayakan idul fitri.  Sebagaimana diketahui bahwa tradisi yang ada di masyarakat kita ialah dengan mempersiapkan lebaran dengan membuat ketupat dan  atau lontong opor  serta sambal goreng.  Artinya bagi mereka yang pas-pasan harus menyediakan hal tersebut dengan uang ekstra yang dipersiapkan khusus.  Nah, semuanya telah direalisasikan kemarin sore hingga hari ini, yang dianggap sebagai  hari raya idul fitri.  Kalau kemudian kenyataannya seprti ini, dimana idul fitri masih harus ditunda sehari lagi, maka mereka tentu akan sangat kecewa, karena hari ini harus menyiapkan lagi makanan khas lebaran tersebut untuk nanti sore dan besuk, meskipun harus utang misalnya.

          Bahkan bagi orang yang berkecukupan pun juga harus diributkan kembali untuk urusan makanan khas lebaran tersebut yang kemarin telah dilakukan.  Bukan masalah biayanya, namun kesempatan dan mungki tenaga yang harus dicurahakan utnuk hal tersebut.  Pendeknya dengan kenyaaan seperti ini memang siapapun harus berpikir terutama pada waktu yang akan datang untuk mencarikan solusi  terbaik bagi kenyamanan umat dalam menjalankan ibadah puasa maupun dalam merayakan lebaran.

          Memang sangat lucu apabila kita renungkan tingkah polah masyarakat kita kemarin itu.  Sebagian mereka ada yang  patungan untuk memotong kambing, dan setidaknya mereka dapat dipastikan memotong ayam, dan semuanya sudah menyiapkan lebaran sebagaimana biasanya.  Namun memang masih diliputi oleh was-was dengan menunggu sidang isbat yang akan menetapkan tanggal 1 Syawal sebagai hari idul fitri 1432 H.  Dan ketika proses siding berjalan meskipun belum selesai, masyarakat sudah tahu kemungkinan  ketetapannya, mereka lalu meluapkan kekcewaan dengan menggerutu, tetapi masih tetap berusaha untuk tetap tegar.

          Kebanyakan mereka kemudian kembali mendatangi masjid dan mushalla untuk melaksanakan shalat tarawih terakhir di Ramadlan  ini sebagai akibat dari keputusan pemerintah tentang tanggal 1 Syawal tersebut.  Khusus untuk jamaah  di tempat saya, meskipun tetap ada  kekcewaan, namun saya menjadi sangat bangga dengan sikap kokoh mereka untuk tetap mengikuti shalat tarawih.  Dan dalam kesempatan itula saya memberikan pencerahan kepada mereka bahwa kita harus bersyukur karena kita masih diberikan kesempatan untuk berada di bulan suci yang banyak menyediaan pahala dan ampunan Tuhan.

          Kalau para orang salih dahulu selalu menangis dan sedih  ketika akan berpisah dengan Ramadlan dengan beberapa alasan, yang antara lain, jangan jangan puasa yang dijalankannya selama satu bula tidak dapat menjadikan diri mereka ebih bertaqwa sebagaimana tujuan puasa itu sendiri, dan tidak mendapatkan ampunan dari Tuhan sebagaimana dijanjikan oleh Nabi.  Alasan lainnya ialah jangan-jangan masih ada kesalahan  dengan manusia lain yang menjadikan mereka masih terbelenggu dan tidak dapat bebas dari belenggu dosa tersebut,  dan alasan lain yang sangat mereka takutkan ialah jangan-jangan nanti tidak akan bertemu dengan Ramadlan tahun depannya.

          Nah untuk itu kita mesinya harus banyak bersyukur karena diperpanjang bulan yang penuh tahmah dan ampunan ini, sehingga kita masih dapat di dalamnya sampai saat ini dan dapat melakukan aktifitas ibadah.  Memang mungkin kita sedikit kecewa dengan persiapan yang sudah kita lakukan dalam menyambut idul fitri, namun hal itu jangan sampai justru menjadikan kta tidak bersyukur.  Toh  pada hriini kita juga masih dapat mempersapkan idul fitri tersebut, meskipun  dengan  sedikit mengeluarkan tenaga dan uang ekstra.  Dan menurut saya untuk menyambut idul fitri memang tidak perlu  tertlalu istimewa, yang terpenting justru ialah mensyukuri nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita.

          Bahkan ada semacam pepatah yang menyatakan bahwa  bukanlah id itu ialah dengan diandai dengan baju baru, melainkan id tu sendiri ialah dengan bertambahnya ketaqwaan.  Jadi  justru yang paling penting dalam menyambut id ialah persiapan taqwa kia untuk tetap menjalankan ibadah dan bahkan meningkatkannya, sehingga kita  benar-benar menjadi muttaqin ideal.

          Pada akhirnya, kita berharap bahwa kejadian seperti ini agar tidak terulang lagi untuk masa-masa yang akan datang.  Masyarakat hanya menginginkan kejelasan lebih awal.  Atinya kalau kemungkinannya hilal tidak bisa dirukyah, ya sampakan saja kemungkinanya  bulan bulan puasa akan digenapkan menadi 30 hari, atau sebaliknya, misalnya hilal sudah sangat mungkin untuk dilihat, maka sampaikan apa adanya tentang kemungkinan Ramadlan hanya sampai 29 hari, sehingga masyarakat akan dapat menyikapinya dengan baik.  Aatau bahkan kalau mungkin seluruh kalender disamakan dan semua umat Islam mengikuti keputusan tertinggi melaui pemerintah.  Semoga kejadian seperti ini adalah yang terakhir kalinya dan diwaktu mendatang akan dapat diupayakan solusi terbaik bagi bangsa  dan umat Islam.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.