MUDIK

Barangkali hanya di Indonesia saja dikenal istilah mudik yang dikonotasikan dengan pulang kampong secara massif, khususnya pada saat hari raya Idul fitri. Keadaan sepeerti itu mengharuskan pemerintah  menyiapkan berbagai hal untuk mengantisipasi  kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.  Penyediaan sarana transportasi sudah pasti menjadi sebuah keharusan, disamping perbaikan jalan raya yang akan dilalui oleh para pemudik dan juga pos-pos pemantau, kesehatan, dan lainnya.  Jadi dengan aktifitas mudik yang sesungguhnya merupakan persoalan masing-masing  warga, namun kemudia menjadi prsoalan  Negara dan masyarakat secara umum.

          Negara dalam hal ini pemerintah tidak dapat menutup mata dengan kondisi tersebut, sebab aktifitas mudik  tersebut ternyata sangat berkaitan dengan persoalan masyarakat banyak yang harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan mengganggu  aktifitas  lainnya.  Belum lagi kalau diingat pengalaman bertahun-tahun yang dapat disimpulkan bahwa  aktifitas arus balik yang ternyata lebih besar dibandingkan arus mudiknya itu sendiri.  Kenyataan tersebut juga memerlukan penanganan yang serius, terutama berkaitan dengan persoalan kependudukan, kepadatan ibu kota Negara yang sudah hamper tidak dapat ditolerir.

          Mudik memang merupakan sesuatu tradisi yang sangat unik, dan mempunyai daya tarik yang sangat kuat, tidak saja bagi mereka yang dalam golongan menengah ke bawah, bahkan sudah menjadi tradisi para elit yang berada di ibu kota untuk pulang kampong pada saat idul fitri, hanya sekedar bertemu dengan sanak famili dan handai tolan atau untuk sowan kepada oang tua serta para guru yang ada di kampong.  Bahkan sangat mungkin trend untuk bersilaturrahmi yang dahulu menjadi tujuan utama mudik tersebut, saat ini sudah menjadi memudar, meskipun aktifitas mudik masih saja berjalan.  Hanya saja kegiatan di kampong halaman tidak lagi dalam upya untuk bersilaturramhi tersebut melainkan justru hanya untuk sekedar pulang kampong dengan berbagai tujuan masing-masing.

          Pada awalnya, mudik memang dimaksudkan untuk bersilaturrahmi  dengan para kerabat yang ada di kampong, sebab selama satu tahun ebanyakan  dari masyarakat yang tinggal di kota-kota lain di luar tempat kelahirannya disibukkan dengan berbagai aktifitas  yang menyita waku, sehingga hamper tdak ada kesempatan untuk bertemu dengan para kerabat dan anggota keluarga serta para tetangga.  Dan pada saat idul fitrilah mereka akan berkesempatan bisa bertemu dan melepaskan kerinduan yang selama satu tahun terpendam.

          Kenapa mereka lebih memilih mudik pada saat lebaran atau idul fitri dan bukan pada  kesempatan lainnya, jawabannya  sangat jelas bahwa pada saat idul fitri semua orang  dapat berkumpul dan  menyempatkan diri untuk saling mengunjungi  diantara kerabat.  Disamping para kerabat yang didatangi semuanya telah siap  menyambut semua orang, khususnya para kerabat dan sahabat dengan segala hidangan yang khas, yang tidak akan dapat ditemukan pada kesempatan lain.  Jadi memang momentum idul fitri  yang telah menjadi tradisi turun temurun  sebagai sarana bersilaturrahmi dengan kelengkapan hidangan khas yang memang disediakan oleh semua orang, sangat tepat untuk dapat bertemu dalam suasana yang menyenangkan.

          Hanya saja dengan perjalanan waktu, kegiatan mudik yang awalnya dalam rangka silaturrahmi seperti disebutkan di atas, saat ini mulai sedikit bergeser.  Artinya sudah  banyak para pemudik yang tidak mempunyai niat untuk berkunjung kepada orang tua dan para guru serta sahabatnya di kampong, tetapi  mudik dijadikan  wahana untuk  unjuk diri tentang kesuksesan hidup di kota, atau setidaknya hanya sekedar menunjukkan bahwa  kehidupannya di kota cukup sukses, meskipun dalam kenyataannya sangat memprihatinkan dan banyak persoalan.  Indikasi tersebut dapat dilihat dari penampilan mereka yang serba wah, walaupun harus mengutang atau sekedar menyewa sementara.

          Nah kondisi seperti itu ternyata  telah membawa akibat tersendiri, khususnya bagi masyarakat yang masih tinggal di kampong, yang kemudian kepencut dengan penampilan luar para pemudik desa mereka yang ternyata dianggap cukup sukses dengan penampilan yang menggiurkan.  Pada saatnya kenyataan tersebut memicu keinginan masyarakat yang tinggal di kampong untuk ikut-ikutan mengadu nasib di ibu kota atau kota besar lainnya.  Padahal dalam kenyataannya, banyak diantara para pemudik yang berpenampilan mentereng tersebut, ternyata hanya sebagai pekerja kasar, kuli, dan bahkan kehidupan keseharianhya sangat memprihatinkan.

          Sisi inilah yang menjadikan  kondisi kota semakin tidak terkendali dengan membludaknya para pendatang baru.  Setiap lebaran, pemerintah kota, terutama kota-kota besar dan terlebih kota Jakarta selalu kewalahan  dengan kedatangan para urban baru yang tidak jelas tujuan dan tempat tinggalnya.  Itulah yang menyebabkan setiap  kesempatan seperti itu, pemerintah disibukkan dengan persoalan kependudukan dan mengharuskan  tindakan keras bagi mereka.

          Namun demikian  harus diakui bahwa masih banyak yang  melakukan mudik ersebut memang benar-benar dalam upaya untuk bersilaturrahmi dan sowan kepada orang tua serta guru dan tetangga.  Mereka memang berniat agar dapat bisa bertemu dengan para kolega dan sahabat di kampong yang selama satu tahun terakhir tidak pernah bertemu atau hanya sekedar berhubungan.  Nah kesempatan idul fitri tersebut  sangat  tepat dan sekaligus dapat memberikan nuansa  lain dalam ketenangan batin.  Pada umumnya mereka yang dengan niat dan tujuan seperti itu  tidak terlalu memperlihatkan perbedaan yang mencolok, terutama dalam penampilan, karena memang menyadari bahwa kehidupannya d kota memang juga pas pasan

          Ada persoalan lainnya yang berkaitan dengan mudik tersebut ialah persoalan perjalanan panjang yang harus ditempuh para pemudik itu sendiri.  Bagi mereka yang berkantong tebal, dan atau mereka yang mudik ke luar jawa, barangkali lebih memilih  mudik pakai pesawat,  namun  mayoritas pemudik ialah ada di pulau Jawa, sehingga mereka lebih memilih mudik dengan jalan darat.  Sementara itu tiket kereta biasanya tidak mencukupi kebutuhan para pemudik, bahkan  hingga H-10 pun sudah tidak ada lagi.  Demikian juga dengan tiket bus.

          Jadilah biasanya mereka ada sebagian yang nekat mudik dengan menggunakan motor, padahal harus menempuh perjalanan lebih dari lima ratus kilometer.  Tragisnya sebagian diantara mereka ada yang mengajak serta anak yang masih kecil yang sesungguhnya tidak layak untuk diajak mudik dengan mengendarai motor.  Cerita-cerita sedih selalu menghiasi perjalanan mudik setiap tahunnya, baik itu kecelakaan maupun  penipuan yang selalu saja terjadi, bahkan beberapa waktu yang lalu ada sebagian pemudik yang kehilangan anak disebabkan harus meninggal dalam pangkuannya saat mudik dengan menggunakan motor.

          Namun demikian meskipun mereka sangat paham dengan resiko  seperti itu, mereka tetap saja melakukan sesuatu yang  sarat dengan bahaya tersebut, hanya semata-mata ingin mudik ke kampong halaman.  Apalagi kalau direkam tentang trend anak muda saat ini, yang  lebih bangga dengan mudik naik motor bersama-sama.   Memang kelihatannya sangat asyik dapat pulang kampong bersama-sama dengan mengendarai motor rame-rame, walaupun  tetap mengandung resiko yang sangat tinggi untuk terjadinya kecelakaan. Barangkali saat ini diperlukan analisa terhadap para pemudik tersebut dan kemudian dicarikan solusi terbaik, sehingga mereka pada akhirnya akan tetap dapat mudik tetapi dengan jaminan kenyamanan dan keselamatan yang lebih,  sehingga semua yang diinginkan  dan menjadi tujuan dari mudik itu sendiri dapat digapai tanpa menimbulkan ekses lain.

          Yah memang seperti itulah kenyataan yang sampai saat ini selalu kita saksikan, dan belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan tersebut.  Aatau memang tidak perlu dicarikan solusi dan membiarkan kondisi seperti it uterus berjalan, dengan resiko yang selalu tinggi.  Dan cukuplah hanya dengan himbauan agar berhati-hati di jalan dan kalau capek atau ngantuk silakan untuk beristirahat di tempat-tempat yang saat ini memang sudah disediakan.

          Mudik  sekali lagi memang merupakan sesuatu yang begitu menimbulkan berjuta rasa bagi para pelakunya, sehingga saking gegap gempitanya, sampai-sampai mengalahkan rasionalitas dan pertimbangan matang.  Itulah salah satu keunikan yang dimiliki mudik yang hingga saat ini masih menjadi "misteri" tersendiri.  Ya  saya katakana materi, karena  sangat susah untuk dicarikan rasionalitasnya.  Orang  begitu sangat antusias untuk melakukannya, sementara  kemungkinan bahaya selalu mengintai, baik itu bahaya di jalan, maupun  bahaya di rumah yang ditinggalkannya.  Kita sering  mendengar tentang  pembobolan pencuri  di rumah yang ditinggalkan mudik oleh penghuninya.  Dan cerita seperti itu terus terjadi dan berulang.  Inilah yang menjadikan mudik tersebut termasuk dalam kategori misteri.

          Pada akhirnya dalam mensikapi mudik tersebut, kita hanya dapat berharap agar para pemudik dapat berhati-hati dan sedkit menggunakan rasionya untuk mempertimbangkan segala sesuatunya,  sehingga keselamatan akan menjadi prioritas utama.  Semoga Tuhan akan senantiasa memberikan keselamatan kepada kita semua, ermasuk para pemudik, hingga tujuan mereka untuk bertemu dan bersilaturrahmi dengan keluarga, akan dapat terlaksanan dengan baik dan dalam suasana yang menyenangkan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.