PUASA SAAT MUSAFIR

Sebagaimana diketahui oleh umat Islam secara umum bahwa  Islam memperbolehkan orang yang sedang bepergian untuk tidak melaksanakan kewajiban puasa, meskipun harus menggantinya di hari lainnya setelah Ramadlan.  Artinya bagi seorang musafir yang telah memenuhi persyaratan tertentu, diberikan dispensasi untuk tidak menjalankan ibadah puasa, dan dianggap sebagai hutang yang harus segera dibayar setelah usai Ramadlan.  Justru karena penggantian tersebutlah, maka dispensasi tersebut kurang mendapatkan respon banyak dari para musafir yang tentu tidak terlalu payah dalam perjalananannya.  Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa menjalankan ibadah puasa di luar Ramadlan tentu akan lebih berat ketimbang di bulan Ramadlan itu sendiri.  Alasannya cukup sederhana,yakni kalau di bulan Ramadlan sudah terkondisi sedemikian rupa, sementara kalau di luar Ramadlan, hanya  sendirian menjalankan puasa,

Barangkali itulah salah satu alasan mengapa banyak orang yang bepergian kemudian lebih memilih tetap berpuasa, toh tidak terlalu berat melaksanakannya.  Kalau toh ada gangguan, itu hanya  godaan yang sangat ringan untuk dapat diatasi.  Tetapi memang harus dibedakan antara mereka yang  sedang bepergian dengan menggunakan jasa pesawat terbang misalnya, dengan mereka yang harus menempuhnya denganjalan darat, melalui mobil umum atau harus menyetir sendiri dengan jarak tempuh yang sangat jauh.  Untuk itu urgensi pemberian dispensasi  memang masih relevan terutama bagi mereka yang memang menghadapi kendala dalam menjalankan puasa tersebut.

Sebagaimana diketahui juga bahwa para ulama  berpandangan berbeda dalam menentukan syarat diperbolehkannya  mengambil dispensasi  tidak puasa bagi mesafir.  Sebagiannya memberikan syarat bahwa untuk dapat menikmati dispensasi tersebut seseorang harus sudah menempuh perjalanan tidak kurang dari jarak 85 km, dan bepergiannya tersebut juga tidak dalam rangka sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai maksiat.  Sedangkan ulama lain mensyaratkan perjalanan tersebut memang memberikan efek payah dan susah bagi diri seseorang tersebut,  sementara ulama lain  seolah tidak memberikan persyaratan apapun, yang terpenting ialah ia telah melakukan perjalanan atau sebagai musafir, meskipun perjalanannya tersebut belum sampai kepada jarak tertentu.

Itulah gambaran  secara umum tentang  perbedaan ulama  dalam memandang dispensasi yang diberikan oleh Tuhan, yang dalam ayat yang menjelaskan hal tersebut Tuhan juga tidak memerinci persyaratan tambahan sebagaimana disimpulkan oleh para ulama tersebut.  Ayat yang membolehkan  seseorang boleh tidak berpuasa di bulan Ramadlan karena bepergian ialah “ barang siapa diantara kalian sedang sakit atau sedang bepergian, maka harus menggantinya dihari lain”.  Dengan kondisi ayat seperti itulah menjadikan para ulama menjadi berbeda dalam memahaminya, dan hal seperti itu sesungguhnya  merupakan sesuatu yang biasa dana dapat menjadi kekayaan khazanah keilmuan dalam Islam.

Persoalan siapa yang harus diikuti, tentu setiaporang berhak untuk menentukan sendiri, dengan catatan harus yakin dahulu dengan pendapat tersebut, dan tidak disarankan untuk mengambil yang  tampak menguntungkan saja tanpa mengetaui argumentasi yang dijadikan  alasan ulama tersebut.  Artinya seharusnya umat Islam  menggunakan akal dan hatinya untuk  meyakini salah satu pendapat yang ada tersebut, sehingga keputusan untuk mengikutinya tersebut benar-benar didasarkan atas pilihan yang mantap dan nantinya akan dipertanggunng jawabkan dihadapan Tuhan.

Akan lebih bijaksana manakala umat Islam disamping mengetahui alasan dari pendapat yang diambilnya, juga mempertimbangkan  dari sisi manfaat dan tidaknya mengambil dispensasi tersebut.  Dalam kenyataannya ketika kita bepergian dan situ bercampur dengan berbagai orang dengan berbagai kepercayaan, tentu  kita harus dapat mempertahankan diri kita sebagai seorang  muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.  Bilamana perlu  sampaikan secara terus terang kepada mereka yang berada di dekat kita bahwa kita sedang berpuasa, dengan maksud mereka itu akan dapat bersikap menghormati kepada kita dan tidak melakukan aktifitas makan minum yang mencolok.

Memang harus diakui terkadang cukup berat juga bagi kita manakala harus mempertahankan puasa, sementara  mereka yang berada di sekitar kita  tidak berpuasa, apalagi  kita juga  diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan  dapat makan dan minum bersama mereka.  Di sinilah terkadang terjadi perang  yang dahsyat antara  nafsu untuk membatalkan puasa dan  hati yang ingin mempertahankan puasa.  Saya sendiri  sering megalaminya sendiri, terutama ketika sedang bepergian, bahkan ketika berada di dalam pesawat.  Karena ternyata  kru pesawat tersebut justru malah menawarkan makanan dan minuman kepada para penumpang.  Tetapi karena telah sayaniati dengan kuat maka semua itu tidak saya anggap sebagai godaan, melainkan hanya sebagai variasi untuk meningkatkan kualitas iman seseorang saja.

Saya juga sangat bisa memahami kalau ternyata sebagian diantara umat Islam kemudian lebih memilih dispensasi tersebut ketimbang mempertahankan puasanya, karena hal itu sah dan diperbolehkan oleh Tuhan.  Tetapi menurut saya  akan masih lebih baik tetap mempertahankan puasa asalkan masih kuat melaksanakannya.  Hal tersebut saya pertimbangkan dari aspek pembayaran hutang yang tentunya akan lebih berat daripada pelaksanaan puasa di Ramadlan itu sendiri.  Disamping itu dari sisi pahala yang akan diterima tentunya juga akan lebih banyak pada saat di bulan Ramadlan.  Tetapi sekali lagi bagi umat Islam tetap diperbolehkan untuk membatalkan puasanya dan memilih tidak berpuasa pada saat bepergian tersebut.

Perintah berpuasa memang diperuntukkan bagi mereka yang tidak mengalami kesusahan dalam menjalankannya, menurut perkiraan umum.  Orang yang sedang melakukan perjalnan panjang tentu dapat dikategorikan kedalam kesusahan bilamana juga harus menjalankan ibadah puasa, sehingga kebijakan Tuhan untuk meberikan dispensasi tersebut dapt di ambil dan juga dapat tidak diambil.  Artinya kalau seseorang yang mengadakan perjalanan tersebut menganggap bahwa  puasa akan menjadi sangat berat dan bahkan mungkin dapat membahayakan dirinya, maka justru yang lebih baik ialah dengan mengambil dispensasi atau rukhshah tersebut, tetapi bilamana  seseorang tersebut menganggap bahwa perjalanannya tersebut sama sekali tidak akan mengganggu ibadah puasanya, maka tentu akan lebih baik tetap mempertahankan puasa, meskipun masih tetap diberikan kelonggaran untuk mengambil dispensasi tersebut.

Menurut pendapat dan analisa saya, menjalankan puasa dalam  keadaan bepergian dan masih tetap dapat melaksanakan ibadah puasa, justru akan lebih baik dan menambah pengalaman rohani pelaku puasa tersebut, manakala  ia mau dan mampu merenungkan hikmah yang terkandung di dalamnya.  Artinya dengan menyaksikan berbagai kondisi umat manusia yang beraneka ragam, termasuk orang non muslim yang tidak berpuasa, sementara kita sendiri dalam kondisi berpuasa, tentu akan dapat membuat kesimpulan-kesimpulan yang mengarah kepada  sikap yang semakin matang.  Ternyata Tuhan dalam menciptakan uma manusia dengan kelengkapan otak dan hatinya, dan kemudian diberikan pilihan-pilihan yang sangat jelas, tetapi masih banyak manusia yang lebih memilih sesuatu yang  buruk dan akan membahayakan epada dirinya.

Sungguh sangat beruntung kita diberikan hidayah oleh Tuhan sehingga dapat menggunakan akal dan hati kita untuk memilih sesuatu yang baik dan akan memberikan keselamatan dan kemanfaatan bagi kita dan leingkungan.  Perenungan inilah yang memberikan nilai tambah bagi seseorang yang tetap menjalankan ibadah puasa  ketika sedang dalam perjalanan.  Tentu bukan berarti bagi mereka yang mengambil dispensasi dianggap tidak mendapatkan hidayah, sama sekali bukan seperti itu maksudnya.  Dalam perenungan terhadap perilaku banyak manusia yang tidak menjalankan ibadah puasa, terutama mereka yang bukan muslim, tentu kita akan merasa sangat beruntung karena diberikan petunjuk untuk memilih Islam sebagai agama dan keyakinan yang akan membawa kebahagiaan bagi kita, baik di dunia maupun nanti ketika berada di akhirat.

Semoga Orang-orang yang masih mempertahankan puasa pada saat bepergian, akan terus mendapatkan kekuatan dan ketabahan oleh Tuhan, sehingga akan dapat memperoleh hikmah Ramadlan yang lebih besar dan memberikan manfaat yang lebih bagi diri mereka dan sekaligus nantinya akan berimbas bagi orang lain dan lingkungan mereka.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.