MENYONGSONG LAILATUR QADAR

Sungguh luar biasa beruntung kita bisa menjadi umat Nabi Muhammad SAW, karena meskipun rata-rata umur yang diberikan oleh Tuhan cukup pendek apabila dibandingkan dengan umur orang-orang terdahulu, namun dalam hal investasi akhirat kita dapat melampaui mereka.  Hal tersebut disebabkan banyak ganjaran yang dijanjikan oleh Tuhan kepada umat Nabi Muhammad ini  yang luar biasa digandakan, sehingga meskipun dengan umur yang tidak terlalu panjang tetapi akan dapat menggapai kinginan untuk bisa menjadi umat yang terdepan dalam hal kebaikan dan investasi ganjaran.

Bayangkan saja ketika umat Nai tersebut melakukan kebaikan, apapun bentuknya, maka ia akan mendapatkan balasan ganjaran sepuluh kali lipat, sebagaimana  janji Tuhan dalam al-Quran, tetapi sebaliknya manakala ia melakukan perbuatan kejahatan, hanya akan dibalas sesuai dengan jehatananya saja.  Itu dalam semua kondisi, tetapi lebih dari itu  pada kondisi-kondisi tertentu, Tuhan akan melipat-gandakan ganjaran tersebut sesuai yang dijanjikan.

Ada kondisi dimana Tuhan akan memberikan pahala kepada umat Nabi  tersebut jauh lebih banyak, yakni hingga tujuh ratus kali, bahkan bisa lebih dari itu, yakni umat Nabi yang menginfakkan hartanya untuk kepentingan sabilillah, kebajikan yang mengarah kepada penegakan dan pelestarian syariat Tuhan  di muka bumi ini.   Tuhan juga akan melipat gandakan pahalaorang yang melalukan kebaikan pada bulan suci Ramadlan seperti saat ini, sampai lebih dari tujuh puluh kali.  Dan yang lebih dahsyat lagi ialah janji Tuhan yang  akan memberikan balasan yang jauh lebih  berlipat, yakni pada saat lailatul Qadar, karena menurut tuhan lailatul qadar tersebut nilainya lebih baik ketimbang seribu bulan.

Barangkali masih ada penafsiran lain, dimana ada yang mengatakan bahwa lailatul Qadar itu hanya sekali diturunkan oleh Tuhan, yakni pada saat al-Quran untuk pertama kali diturunkan, tetapi pendapat ini  tidak banyak mendapat dukungan.  Ada lagi penafsiran yang menganggap lailatul Qadar tersebut hanyalah sebuah motivasi dan tidak dalam dataran kenyataan.  Artinya Lailatul Qadar hanyalah  cara untuk memberikan semangat kepada umat untuk melakukan  qiyam Ramadlan, karena biasanya setelah  akan berakhirnya  Ramadlan, kebanyakan umat Islam telah lelah dan semangatnya berkurang, sehingga perlu dipompa sedemikian rupa hingga akan menjadi segar kembali hingga akhir bulan.  Penafsiran yang seperti inipun akhirnya juga tidak banyak diyakini oleh kebanyakan umat.

Sedangkan pendapat yang popular dan diyakini kebenarannya ialah sesuai dengan banyak hadis Nabi yang diriwayatkan secara sah melalui jalur yang dapat dipertanggung-jawabkan, yang pada intinya bahwa Tuhan akan selalu menurunkan Lailatul Qadar tersebut pada setiap tahun, dan hal tersebut jatuh pada  sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan.  Salah satu hadis Nabi Muhammad yang sangat terkenal dan valid adalah riwayat Bukhari Muslim yang intinya “ carilah lailatul Qadar itu pada sepuluh  hari terakhir dari bulan Ramadlan”.  Sehingga dengan demikian pembicaraan mengenai lailatul Qadar memang masih selalu actual setiap tahunnya dalam upaya mengingatkan umat Islam agar bisa mendapatkannya.

Tetapi memang harus ada kesadaran dari umat Islam itu sendiri bahwa itu semua diberikan oleh Tuhan untuk kebaikan umat manusia, dan bukan untuk diotak atik secara hitungan matematis.  Artinya jangan sampai umat Islam kemudian menghitung sendiri  perbandingan ganjaran yang telah diinvestasikan di akhirat dengan kemungkinan dosa yang dilakukannya di dunia, sehingga ia akan cenderung  mengakalinya sedemikian rupa dengan perhitungan bahwa investasi pahananya masih banyak, sehingga meskipun ia melakukan maksiat di dunia ini, maka ia tetap yakin bahwa  ia akan masuk surge tanpa  terlebih dahulu mampir di neraka.  Kalau ini yang kemudian menjadi pikiran umat, maka umat ini akan menjadi rusak dan mengakibatkan kerusakan pihak lain.  Akibatnya tujuan Tuhan memberikan berlipat ganda pahala tersebut disalah gunakan dan tidak akan mencapai sasaran.

Untuk itu yang harus disampaikan kepada umat secara umum ialah bahwa kasih dan saying Tuhan tersebut dimaksudkan agar umat Islam menjadi bangga dan sekaligus menjadi lebih baik dalam mempersiapkan kehidupannya di akhirat maupun juga dalam menjalani kehidupannya di dunia.  Dan bukan dengan memanfaatkan janji Tuhan tersebut untuk mendapatkan keuntungan akhirat dengan membuat kejahatan di dunia, dengan membandingkan  jumal kejahatan yang hanya akan dibalas satu kali sesuai dengan kejahatannya dengan kebaikan yang hanya seskali dilakukan tetapi hitungan pahalanya justru lebih banyak dari pada ancaman hukuman , sehingga dengan demikian ia mengira  masih tetap akan masuk surge.

Bukankah Tuhan telah memberitahukan kepada kita lwat salah sebuah ayat dalam a-Quran bahwa kita didorong untuk mencari karunia Tuhan untuk kehidupan akhirat dan sekaligus tidak melupakan bagian kita  di dunia dan kita juga diperintahkan untuk berbuat baik sebagaimana Tuhan telah berbuat baik kepada kita dan kita juga dilarang membuat keonaran dan kejahatan di muka bumi, karena sesungguhnya Tuhan itu tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.  Dengan peringatan tersebut sangat jelas bahwa tidak dapat dibenarkan cara pandang sebagaimana saya sebutkan diatas, yang hanya memaknai kebaikan Tuhan tersebut untuk keuntungan pribadi semata.

Tentu Tuhan tidak akan memberikan surga kepada orang yang selalu membuat kejahatan di dunia  serta  akan menyengsarakan umat manusia dan alam sekitar.  Manusia  mungkin bisa membuat perkiraan perkiraan, namun Tuhanlah yang Maha Menentukan.   Karena itu kemurahan dan kasih sayang Tuhan tersebut seharusnya justru akan menjadikan kita semakin bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dengan terus memperbaiki diri agar lebih  baik dan mendapatkan kasih sayang Tuhan lebih  banyak lagi, karena kita memang sangat bergantung kepada Tuhan dan memerlukan pertolongan Tuhan dalam segala hal.

Nah, dalam hubungannya dengan  menyongsong lailatul Qadar yang insya Allah  sebentar lagi akan diturunkan Tuhan ke atas bumi untuk memberikan keberuntungan kepada umat manusia yang mau memanfaatkannya dengan melakukan ibadah dan perbuatan positif dan bermnafaat lainnya, kita perlu beberapa  persiapan.  Persiapan pertama yang harus kita lakukan ialah dengan memupuk keyakinan yang mantap akan kebenaran sesuatu yang kita lakukan.  Kemantapan hati dan pikiran dalam melakukan suatu aktifitas akan dapat memberikan dorongan yang sangat kuat dalam menyelesaikan dan menyempurnakan aktifitas tersebut.

Persiapan berikutnya setelah kemantapan iman tersebut ialah kesiapan fisik kita.  Artinya kita harus dapat menjaga kebugaran fisik kita dalam upaya melakukan qiyamullail  setiap malamnya, bahkan bukan saja  dalam menyongsong lailatul Qadar semata, tetapi juga dalam upaya melakukan qiyamullail pada setiap malam.  Karena kita sangat yakin bahwa manakala kita melakukan kegiatan tersebut, Tuhan pasti akan menempatkan kita pada tempat yang sangat terhormat dan terpuji, sebagaimana janji Tuhan kepada Nabi Muhammad, yang juga berlaku bagi kita semua.   Dan yang tidak kalah pentingnya ialah persiapan mental kita.  Spirit yang kuat dalam diri kita harus terus kita pelihara dan bahkan tingkatkan dalam menghadapi sesuatu yang sangat agung tersebut.  Jangan sampai kita diganggu oleh kondisi yang dapat menyeret kita kepada sesuatu sikap berpuas diri, sehingga akan menyebabkan berkurangnya spirit tersebut.

Lebih dari itu semua yang harus terus kita perhatikan ialah unsure niat, hati dan pikiran kita yang harus terfokus untuk menggapai karunia Tuhan, sehingga kita akan dapat berbuat yang terbaik untuk  diri kita, keluarga, dan masyarakat serta lingkungan kita, bukan semata-mata ingin keuntungan pribadi semata. Memang  untuk menghindarkan diri dari kepentingan yang bersifat individual  sangatlah berat, karena itulah  seharusnya disamping dalam upaya mendapakan keuntungan yang bersifat individual tersebut juga harus ditambah menjadi keuntungan social.

Lailatul Qadar memang sedemikian dahsyat, tetapi sayangnya masih banyak diantara kita umat Islam yang  seakan kurang peduli terhadap  kesempatan yang  hanya satu tahun sekali dapat kita temukan tersebut.  Barangkali memang masyarakat kita sudah terbiasa dengan  sesuatu yang sifatnya instan dan langsung dapat dirasakan hasil dan manfaatnya secara kasat mata, sementara itu lailatul Qadar ini merupakan sesuatu yang  ada dalam dataran keyakinan dan tidak akan dapat dilihat secara kasat mata orang awam.  Kalau memang demikian kedaannya, maka sesungguhnya menjadi tugas berat kita untuk segera mengembalikan  keadaan tersebut agar tidak semakin jauh  dan berlarut, sehingga akan menjadi malapetakan bagi umat secara keseluruhan.

Atau barangkali hal tersebudah benar-benar terjadi.  Artinya kondisi dimana masyarakat kita telah demikian jauh menyimpang dari keyakinan  dasar sebagai umat beriman, sehingga mereka hanya sekedar melakukan ritual yang ada bukan didasari atas keyakinan yang benar, melainkan hanya sekedar solidaritas kepada sesame saja.  Tetapi saya masih berharap sekaligus yakin bahwa masih banyak umat Islam yang masih memelihara keyakinan yang benar tersebut, sehingga harapan untuk lebih baik seperti yang saya maksudkan tersebut masih terbuka lebar.  Semoga Tuhan akan senantiasa memberikan anugerah-Nya kepada kita, sehingga kita akan dapat meraih lailatul Qadar taun ini dan dapat memberikan dorongan kepada kita untuk lebih baik lagi dimasa depan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.