MENSYUKURI NIKMAT KEMERDEKAAN

Ketika saya mendengarkan cerita ibu saya pada saat sebelum Indonesia merdeka, rasanya saya ini  sebagai orang  yang sangat beruntung dilahirkan pada saat Negara ini telah merdeka dengan segala kemudahan yang dapat diraih dan dinikmati.  Pada saat itu hamper semua orang susah, bahkan hanya untuk mendapatkan makanan dan pakaian, juga  sangat sulit.  Semua kekayaan alam  negeri ini diangkut ke negeri Belanda sebagai bangsa penjajah. Kehidupan rakyat  pribumi sedemikian memperihatinkan, dan semua penderitaan yang dialami tersebut diterima dengan kondisi terpaksa disebabkan ketidak-mampuan mereka untuk  mengubah nasib menjadi lebih baik.

          Sangat terngiang dalam ingatan saya ketika mendengarkan cerita perjuangan dan kesedihan yang dialami ibu saya tersebut.  Pakaian yang dipakainya juga sangat tidak layak, meskipun  ibu saya mempunyai satu jarit yang cukup baik  menurut kuran saat itu, tetapi tidak berani memakainya, karena kalau ketahuan  kumpeni akan diminta paksa.  Jadilah jarit tersebut tersimpan dan tidak pernah dipakai, terkecuali pada saat hari raya idul fithri saja, dan itupun harus sangat hati-hati.  Demikian juga  makanan yang disantap setiap harinya hanya merupakan makanan yang tidak bergizi, dan hanya sekedar pengganjal perut semata.  Kebebbasan bertindak dan menyampaikan sesuatu juga sangat tidak memungkinkan.  Dan begitulah kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut terus menerus dialami oleh ibu saya dan juga oleh kebanyakan pribumi di negerinya sendiri.

          Jangankan sekolah, hanya untuk belajar mengaji al-Quran saja harus main umpet dengan patroli kumpeni, kata ibu saya.  Namun karena  mengaji tersebut merupakan tuntutan agama dan semua orang harus bisa, terutama  dari keluarga muslim. Jadi meskipun tidak bisa tulis baca huruf latin, tetapi untuk urusan membaca al-Quran  merupakan suatu keharusan.  Dan begitulah yang terjadi dengan ibu saya tersebut dan juga  yang terjadi dengan kebanyakan orang pada saat itu.

          Itulah kenyataan dan kondisi riil yang dialami oleh seluruh anak bangsa ini  pada saat itu yang sungguh sangat menyedihkan.  Memang cerita menyedihkan tersebut tidak perlu kita kenang terus, tetapi  menurut saya ada kalanya mengenang peristiwa menyedihkan tersebut sangat diperlukan dalam upaya kita untuk tetap mensyukuri kondisi yang saat in kita alami, yang apabila dibandingkan dengan saat itu sangat jauh berbeda dan jauh lebih menyenangkan.

          Memang ada sebagian  generasi muda kita yang tidak mau tahu  akan hal pahit yang pernah dialami oleh generasi sebelum kita, dan menganggapnya itu sudah masa lalu dan tidak perlu dikenang, tetapi justru yang harus dipikirkan adalah saat ini dan masa depan.  Pernyataan tersebut memang ada benarnya, yakni bahwa kita harus menyadari kenyataan pada saat ini dan memikirkan masa depan, tetapi  menurut saya  mengenang masa lalu yang  dialami oleh oran tua kita yang demikian  gigih mempertahankan hidup dan berjuang melawan penjajah hingga kita dapat merdeka seperti saat ini, juga sangat penting dan bahkan harus.

          Artinya tanpa mengetahui perjuangan para pendahulu kita  dalam upaya merebut kembalu negeri  dari penjajah dengan keringat dan darah, tentu kita akan menjadi  anak-anak bangsa yang tdak tahu berterima kasih kepada  para pejuang yang telah berjasa terhadap bangsa dan Negara kita.  Akibatnya kita akan dapat kehilangan arah dalam memperjuangkan  dan mewujudkan cita-cita mereka, yakni  terwujudkan  masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera lahir dan batin, dunia dan akhirat.

          Bagaimanapun kondisi Negara kita saat ini, itu semua tidak akan dapat dilepaskan dari sejarah bangsa yang cukup panjang.  Memang dapat saja kita menyebut bahwa dalam kenyataannya kita belum sepenuhnya merdeka dalam arti yang sesungguhnya.  Kita hanya baru merdeka dari belenggu penjajah bangsa lain, namun kita masih berada dalam belenggu penjajahan bangsa sendiri.  Buktinya kita belum bisa menikmati kemerdekaan yang sejati seperti yang dicita-citakan oleh para pejuang kita dahulu.

          Lepas dari semua itu, jujur harus diakui bahwa kondisi saat ini  sesungguhnya sudah lebih baik ketimbang  masa lalu dalam beberapa aspek, walaupun harus juga diakui bahwa dalam beberapa aspek lainnya justru lebih buruk.  Namun secara umum harus diakui  bahwa kondisi bangsa pada ini tentu lebih baik, walaupun belum ideal.  Nah, untuk menuju kondisi ideal yang dicita-citakan tersebut semua komponen bangsa harus mau berusaha dan ada komitmen untuk mewujudkannya.

          Untuk mewujudkan semua itu memang tidak mudah dan mungkin masih memerlukan  waktu yang lama dan barangkali harus menungggu pergantian generasi.  Kenapa harus menunggu begitu lama, yak arena generasi yang saat ini menguasai  neger ini, mulai parlemennya, para penegak hukumnya, dan pemerintah atau eksekutifnya belum  semuanya menunjukkan kearah yang  dicita-citakan tersebut. Bahkan malahan dapat dikatakan bahwa kebanyakan dari mereka justru bertindak sebaliknya.

          Kasus-kasus suap, korupsi yang menghiasi negeri ini justru banyak dilakukan oleh mereka,  itupun yang sampai saat ini ketahuan dan  diproses, dan keyakinan kita bahwa yang tidak ketahuan dan tidak atau belum diproses diperkirakan jauh lebih banyak. Nah, kalau orang orang yang menguasai negeri ini lebih banyak yang  tidak memikirkan bagaimana mensejahterakan masyarakat, tetapi lebih berpikir bagaimana mensejahterakan diri dan kroninya, maka  harapan untuk merdeka seperti yang diidealkan tersebut tentu masih sangat jauh api dari panggang.

          Saat ini yang paling penting untuk direnungkan ialah bagaimana sejarah perjuangan para pujuang kemerdekaan bangsa ini dapat diajarkan dan diketahi oleh anak didik kita, sehingga mereka akan dapat berpikir jernih dan sekaligus  dapat memberikan penghargaan kepada  para pejuang tersebut.  Setidaknya kalau nanti mereka menduduki jabatan penting di negeri ini  dapat sedikit ingat  akan keringat dan darah para pejuang yang dikucurkan untuk mereka dan bangsa, sehingga mereka tidak boleh dan tidak akan pernah menjarah warisan para pejuang tersebut dengan sekehendak kemauan mereka.  Sebaliknya mereka akan  memperjuangkan agar warisan tersebut dapat sampai kepada seluruh rakyat Indonesia yang memang berhak itu warisan tersebut.

           Berangkat dari kenyataan tersebut menurut saya justru  sejarah perjuangan bangsa ini harus  mendapatkan tempat dalam kurikulum  nasional kita, terutama pada sekolah dasar dan menengah.  Saya sama sekali tidak sependapat dengan pikiran yang akan menghilangkan aspek sejarah perjuangan bangsa ini  dari kurikulum  pendidikan nasional kita.  Saya tidak dapat membayangkan bagaimana  nantinya kalau  sejarah bangsanya sendiri tidak diketahui oleh generasi yang  memegang tongkat kepemimpinan negeri ini.  Saat ini saja ketika sejarah bangsanya masih diajarkan,  telah banyak generasi yang melupakannya, apalagi kalau hal tesebut tidak diajarkan, tentu akan lebih parah kejdiannya.

          Disamping tetap mempertahankan sejarah perjuangan bangsa, yang lebih penting adalah penghayatan sejarah itu sendiri, terutama oleh para guru sejarah.   Karena memperkenalkan sejarah dengan tanpa dapat menghayati  perjuangan yang dilakukan oleh pelaku sejarah terseut, tentu tidak akan ada kesan mendalam yang  akan didapatkan, lebih-lebih bagi siswa yang memang kurang  menyukai sejarah.  Untuk itu  kiranya sangat penting untuk diupayakan ada semacam penyegaran atau  kursus singkat bagi para guru bidang studi sejarah dalam upaya menyegarkan kembali  materi dan cara penyampaiannya serta penghayatannya.

          Barangkali ini adalah merupakan salah satu bentuk dan sikap mensyukuri nikmat kemerdekaan yang saya maksudkan, tentu disamping berbentuk aktifitas lainnya yang mengarah kepada kesejahteraan umat dan  anak bangsa ini secara keseluruhan.

          Pada akhirnya memang saya harus mengatakan bahwa  seharusnya sebagai warga bangsa yang  lebih dari enam puluh tahun merdeka dari penjajah, kita harus  berpikir keras serta bekerja keras untuk  segera dapat mewujudka Negara ideal yang dicitakan oleh para pendiri, yakni  Negara yang  adil makmur, sejahtera, lahir dan batin.  Untuk itu semua memang kita tidak bisa hanya sekedar menghimbau, tetapi juga menjadi  teladan dalam melakukan uasha-usaha nyata tersebut sesuai dengan bidang dan profesi kita masing-masing.

          Semua harus bekerja  keras dan menjalankan tugas sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, dan sejauh mungkin menghndari kemungkinan terjadinya  penyimpangan dalam menjalankan tugas.  Bahkan  harus mau mengingatkan mereka yang sengaja maupun tidak  tampak akan  keliru jalan dan bertentangan dengan aturan yang ada.  Kalau  semua dapat menjalankan tugad sesuai dengan funsi masing-masing, kita  akan menjadi yakin bahwa meskipun lambat tetapi pasti, kondisi ideal yang diinginkan tent akan dapat diwujudkan.

          Semoga saja Tuhan senantiasa memberikan bimbingan dan hidayah kepada kita, terutama di bulan suci Ramadlan ini, sehingga semua menjadi sadar dan berkomitmen untuk menjalankan tugas  sesuai denga  tanggung jawab dan fungsi yang memang menjadi  kewajibannya.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.