DUSTA

Salah satu yang dapat menyebabkan puasa seseorang tidak diberi pahala ialah karena berdusta, baik kepada sesame makhluk Tuhan maupun lebih-lebih kepada Tuhan.  Karena dusta  merupakan perbuatan buruk yang sangat dibenci oleh semua orang yang mempunyai pikiran baik.  Dusta juga akan memberikan efek jelek bagi pelakunya dan sekaligus memberikan  perasaan benci bagi orang yang  menjadi obyek dusta. Untuk itu semua aturan, baik yang berasal dari Tuhan maupun  manusia, dapat dipastikan akan melarang dusta dalam semua  keadaan, meskipun ada yang memberikan pengecualian dalam kondisi tertentu.

          Dusta dapat menjadi penyebab kerenggangan hubungan atara  umat manusia, termasuk  hubungan suami isteri dalam kehidupan rumah tangga dan dapat merusak hubungan antara berbagai ikatan.  Dusta juga akan dapat menyebabkan  hilangnya kepercayaan public bagi seseorang yang melakukannya.  Pendeknya dusta akan dapat mengakibatkan pelakunya  dijauhi orang dan bahkan dapat dibenci dan disingkan.

          Dalam hubungannya dengan puasa, dusta itu disamping akan dapat menghilangkan pahala puasa, ternyata juga akan dapat merusak puasa itu sendiri.  Artinya dalam persoalan ini, dusta itu dapat dimaknai bahwa  oraqng yang menjalankan puasa itu kemudian melakukan kebohongan atau berkata dusta, baik dusta tersebut akan memberikan efek yang besar maupun tidak, tetaplah akan dapat menghanguskan pahala puasa, dan akan masuk dalam sinyalir Nabi “ banyak orang yang berpuasa, namun tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar dan dahaga saja”.  Tetapi dusta juga dapat bermakna  bahwa seseorang itu sesungguhnya tidak berpuasa, namun berpura-pura berpuasa manakala dihadapan banyak orang, sehingga ia membohongi banyak orang  seolah berpuasa, padahal tidak.

          Namun disana masih ada dusta yang sangat besar nilainya, yakni dusta terhadap agama.  Artinya  ada bentuk dusta terhadap agama yang terkadang tidak disadari oleh pelakuny.  Dusta yang seperti itu justru akan mendapatkan murka Tuhan, terutama nanti di akhirat.  Sedangkan yang dapat dikategorikan dusta terhadap agama  tersebut antara lain orang yang tidak  mau memperhatikan nasib anak yatim atau membiarkan mereka padahal ia tahu dan ada didekatnya,  Termasuk  juga orang yang membiarkan dan tidak juga menganjurkan memberikan santunan kepada orang-orang miskin, padahal ia sangat tahu karena disekitarnya banyak orang yang susah makan, tetapi dirinya malah menyisakan banyak makanan.

          Nah, orang-orang seperti itu dapat dimasukkan kedalam golongan orang yang dista terhadap agama, meskipun sesungguhnya ia juga melaksanakan shalat, berpuasa, dan bahkan berhajji setiap tahun.  Nalarnya ialah  bahwa  kalau ada orang yang mengetahui dan bahkan menjadi tetangga bagi anak yatim dan atau orang miskin yang sangat memperihatinkan kondisinya, tetapi ia tetap tidak tertarik untuk sekeddar membantu atau berusaha mencarikan bantuan dengan menghimbau kepada orang untuk membantunya, maka ketidak-peduliannya tersebut dapat dikategorikan sebagai pembangkangan terhadap agama.  Agama  selalu menyerukan kepada semua umat pemeluknya untuk peduli dan membantu kepada mereka yang lemah, fakir, miskin dan  lebih-lebih anak yang tidap mempunyai orang tua, agar mereka  dapat ikut menikmati karunia Tuhan lewat tangan  kita.  Namun kalau anjuran dan ajaran agama tersebut kita lupakan dan abaikan, tentu kita dapat dianggap sebagai pembangkang dan pendusta.

          Sementara itu ada beberapa perbuatan yang juga dapat dikategorikan sebagai dusta terhadap agama ialah  mereka yang lupa dalam menjalankan shalat.  Artinya  bisa saja mereka itu lupa menjalankan shalat karena kesibukan mereka  dengan aktifitas duniawi, atau juga dapat berarti mereka sebetulnya menjalankan shalat, tetapi hatinya tidak pernah focus kepada Tuhan sehingga  mereka lupa  kepada Tuhan meskipun fisiknya shalat.   Karena kita sangat yakin bahwa shalat yang benar itu  akan dapat memberikan dampak positif bagi pelakunya dan dapat menghindarkannya dari perbuatan  keji dan mungkar.  Nah, kalau ada seseorang yang tidak menjalankan shalat disebabkan kesibukan atau karena sebab lain, padahal ia seorang muslim yang mempunyai kewajiban menjalankan shalat, maka pantas kalau dia disebut sebagai dusta.  Demikian juga  meskipun ia melakukan shalat tetapi tidak pernah mengingat dan memikirkan Tuhan, yang seharusnya  diingatnya, maka pantas juga kalau ia kemudian dianggap sebagai dusta.

          Salah satu diantara bentuk dusta lainnya yang dapat dimasukkan kedalam dusta agama ialah sikap orang yang  suka pamer dalam setiap aktifitasnya, termasuk  setiap memberikan bantuan ataupun santunan.  Niatnya hanya ingin mendapatkan pujian dan atau ketenaran sebagai seorang dermawan.  Padahal kita semua tahu bahwa keikhlasan itu merupakan kunci  dan bahkan otak dari iabadah, termasuk ibadah bersedekah dan semacamnya.  Nabi Muhammad sendiri ketika mengajarkan bagaimana agar kita dapat ikhlas dalam memberikan sesuatu kepada pihak lain dengan menggambarkan bahwa kalau tangan kanan memberikan sesuatu jangan sampai tangan kiri mengetahuinya.

          Memang dalam persoalan ini harus dicermati secara seksama, sebab apa yang dinasehatkan Nabi  agar merahasiakan pemberian tersebut maksudnya ialah untuk mempertebal keikhlasan dalam beramal,  namun kalau keikhlasan tersebut dapat diraih tanpa harus merahsiakannya, juga  tidak mengapa, bahkan sangat mungkin  ada kondisi tertentu yang menghendaki  seseorang itu beramal dengan  memberitahukan kepada pihak lain, agar tidak terjadi fitnah.  Jadi pada pokoknya ialah tentang keikhlasan itu sendiri yang mempunyai kontra makna dengan pamer atau riya’.  Jadi kalau ada orang yang melakukan aktifitas menyumbang  dengan niat benar-bemnar ikhlas, meskipun harus diliput oleh media dan diumumkan kepada public itu akan sangat lain maknanya  dengan orang yang memberikan sumbangan dengan mengundang media untuk meliput dan menyiarkannya dengan tujuan riya’.

          Dalam salah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW pernah memberitahukan bahwa  ada tiga orang yang nanti di hari kiamat tidak akan dipandang dan tidak akan diperhatikan oleh Tuhan, yakni orang yang memberikan sesuatu dengamn niat agar disebut-sebut sebagai pemberi atau dermawan atau riya’, orang yang bersumpah palsu dalam menawarkan dagangannya, dan orang yang sombong dengan menjulurkan atau menyeret  pakaiannya melebihi  mata kaki.  Nah, karena itu kiranya juga pantas manakala orang yang riya’ tersebut juga dapat dimasukkan kedalam dusta.

          Sedangkan bentuk lainnya yang dapat dikategorikan sebagai dusta ialah mereka yang  enggan untuk mengeluarkan zakat.  Memang kalau berbicara zakat ini kita harus perihatin, karena  ternyata potensi zakat masyarakat muslim yang begitu besar ternyata tidak bisa memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan soaial kita.  Ada dua persoalan mendesak yang harus segera dituntaskan, yakni persoalan  menejeman zakat dan yang kedua persoalan kesadaran masyarakat muslim dalam berzakat.

          Kesadaran menejemen zakat tersebut saya maksudkan bukan hanya  menyangkut para pengelola zakat saja tetapi juga menyangkut masyarakat muzakki.  Artinya muzakki harus menyadari  perlunya pendistribusian yang terencana dan perprogram dengan baik dalam upaya menyelesaikan persoalan, buka semata-mata pendistrusian zakatnya.  Untuk itu  muzakki diharapkan dapat menyalurkan zakatnya melalui lembaga zakat yang resmi dan kredibel dan tidak mendistribusikannya sendiri dengan mabaginya kepada masyarakat luas.  Sementara itu menyangkut  kesadaran berzakat dari umat Islam, juga perlu terus dihimbau dan tentu perlu keteladanan  para tokoh dan ulama dalam hal berzakat.

          Karena itu juga sangat pantas kalau mereka yang seharusnya  mengeluarkan zakat dari harta  yang dititipkan oleh Tuhan kepadanya, tetapi mereka enggan mengeluarkannya dengan dalih apapun, maka mereka juga dimasukkan kedalam pendusta agama.  Jadi para pendusta itu sesungguhnya cukup banyak meskipun terkadang kita sering tidak nglegewo.  Untuk itu kita terus berupaya  agar dapat terhindar dari dusta tersebut yang hanya akan membawa kesengsaraan kita terutama di akhirat nanti.  Semoga Tuhan senantiasa memberikan bimbingan kepada kita untuk terus berada dalam jalan yang di ridloi-Nya dan sekaligus  menjdikan kita sebagai  umat yang terbaik. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.