MENGHORMATI PUASA

Bulan merupakan bulan suci bagi umat Islam, dimana seluruh umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa dengan ketentuan yang telah digariskan.  Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, bulan puasa atau Ramadlan  sudah dianggap sebagai bulan yangmulia dan harus dihormati oleh siapapun juga termasuk mereka yang non muslim.  Artinya sebagai bentuk penghormatan tersebut, umat non muslim akan menghormati bulan puasa ini dengan beberapa cara, misalnya tidak melakukan aktifitas  yang  berkonotasi makan minum secara terbuka, warung dan rstoran yang tidak tutup juga  didesain sedemikian rupa agar tidak tampak menyolok dan akan mengganggu mereka yang sedang berpuasa, dan lainnya.

          Menghormati puasa berarti menghormati bulan Ramadlan dan sekaligus juga menghormati orang yang sedang menjalankan ibadah puasa di dalamnya.  Bahkan sudah lumrah ketika menjelang Ramadlan dan di dalam Ramadlan, beberapa  kegiatan yang berkonotasi "maksiat" dihimbau untuk ditutup, seperti diskotik, dan tempat-tempat hiburan yang semacam itu.  Tidak jarang aparat keamanan melakukan razia untuk persoalan ini, semata-mata hanya ingin menghormati bulan yang dimuliakan oleh mayoritas warga bangsa ini.

          Penertiban seperti itu menurut saya cukup baik, termasuk himbauan untuk masyarakat agar tidak merokok ditempat umum, seperti di dalam kendaraan umum, di mall, dan ditempat lainnya yang disitu ada banyak orang, termasuk yang sedang berpuasa.  Warung-warung kaki lima yang  buka pada siang hari juga dihimbau agar tidak menjajakan makanannya secara terbuka, tetapi diberikan tutup yang dapat menghalangi pandangan orang yang lewat.  Demikian juga dihimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktifitas makan minum di tempat terbuka yang dapat mengganggu mereka yang berpuasa.

          Tentu untuk tujuan tersebut kita sangat mendukung, meskipun harus dengan cara yang baik, yakni dengan menghimbau dan bukan dengan merusak dan anarkhi.  Tetapi kalau sekiranya himbauan tersebut tidak digubris, barang kali juga ada cara  lain yang lebih baik yakni dengan memberikan sanksi berupa ijin operasi ataupun benuk lainnya, yang terpenting ialah tidak dengan cara yang dapat merugikan, seperti merusak atau lainnya.  Saya sangat yakin bahwa kalau semua berlaku baik dan sopan, maka  masyarakat  secara umum juga akan mematuhinya, sebaliknya kalau perilaku kebanyakan aparat kurang simpatik, maka masyarakat juga akan melawannya.

          Memang  dalam kenyataannya saat masih ada beberapa pihak yang seakan melupakan penghormatan kepada bulan suci Ramadlan, dengan terang-terangan melakukan  aktifitas makan minum secara  vulgar, seolah tidak mempedulikan mereka yang sedang berpuasa.  Warung dan restoran sedemikian  terbukanya memberikan layanan makan minum yang dengan mudahnya dapat disaksikan oleh siapapun.  Bahkan yang sangat kita seyangkan ialah  sikap mereka yang sama sekali tidak menghargai dan menghormati bulan suci dan orang yang berpuasa.

          Bahkan penerbangan seperti  Garuda Indonesia yang  beroperasi di wilayah Indonesia, menurut saya juga sudah tidak lagi mengindahkan bulan suci Ramadlan.  Seyogjanya pihak Garuda selama bulan suci ini tidak lagi menawarkan minuman kepada para penumpang seperti biasanya, dan cukup memberikan  makanan ringan  dan minuman dalam kardus dan tidak perlu menawarkan minuman kepada seluruh penumpang.  Ketika saya naik Garuda dari Semarang  ke Jakarta dan sebaliknya, saya merasa risih dengan penawaran minum yang diberikan oleh ihak Garuda, padahal jelas bulan ini merupakan bulan puasa.

          Kita hanya berharap semua pihak, lebih-lebih sebuah maskapai semacam Garuda yang beroperasi di dalam negeri, yang tentu di dalamnya banyak orang Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, tidak lagi melakukan  aktifitas seperti itu, dan saya yakin bahwa dengan penjelasan kepada para penumpang bahwa dalam upaya menghormati bula suci Ramadlan,  untuk sementara Garuda hanya akan menyajikan  makanan dan minuman di dalam kardus, para penumpang akan dapat mengerti dan sekaligus  ada andil pihak Garuda untuk mengingatkan kepada seluruh penumpang untuk menghormati bulan suci ini.

          Barangkali memang harus ada yang mengingatkan kepada semua pihak, termasuk kepada pihak penerbangan yang beroperasi di wilayah Indonesia, terutama dari kementerian terkait. Saya menjadi khawatir kalau hal ini dibiarkan terus,  akan menjadi kondisi yang sangat buruk untuk kehidupan yang rukun dan saling mrnghormati diantara warga bangsa ini.  Saya sangat ingat betul bahwa pada masa yang lalu penghormatan kepada bulan suci ini sangat baik dan hamper seluruh aktifitas makan minum di siang hari dapat dilaksanakan dengan tertutup dan tidak mengganggu orang yang berpuasa,  tetapi lambat laun pemandangan seperti itu menjadi semakin hilang, dan saat ini malah hamper tidak lagi ada perhatian untuk masalah tersebut.

          Memang saya tidak berpretensi bahwa semua orang  menjalankan ibadah puasa, namun dalam sebuah komuntas  tertentu di Indonesia, tentu disitu akan ada orang Islam yang sedang menjalankan puasa.  Nah dengan pertimbangan itulah seharusnya semua pihak menyadari bahwa  mereka itu harus dihormati, dan kalau toh tidak menghormati orang yang berpuasa, setidaknya hormatilah bulan suci yang dimuliakan oleh mayoritas anak bangsa ini.

          Dalam pandangan agama Islam bulan puasa merupakan bulan yang sangat mulia, dimana di dalamnya banyak karunia Tuhan disebarkan, termasuk ampunan Tuhan untuk para hamba-Nya yang mau mencari dan memohon.  Sedangkan orang yang menjalankan ibadah puasa juga dimuliakan oleh Tuhan.  Kenapa  kita sebagai manusia  yang sangat bergantung kepada Tuhan, justru malah tidak menghormati bulan Ramadlan dan orang-orang yang manjalankan ibadah di dalamnya?.  Tentu sikap yang ditunjukkan oleh mereka yang tidak menghormati  Ramadlan ini bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh Tuhan.

          Kita semua tahu apa akibatnya kalau ada orang yang menentang kepada Tuhan, kalau di dunia ini misalnya tidak mendapatkan kesusahan, pastilah di akhira nanti mereka akan mendapatkan balasan adzab yang sangat pedih.  Tetapi sekali lagi kita  tidak menginginkan semua itu terjadi dan berharap bahwa semua orang akan dapat berlaku baik, santun dan dapat menghormati siapapun yang sedang  melakukan aktifitas ibadah, termasuk uamat Islam juga harus bisa menghormati oaring non muslim yang kebetulan sedang menjlankan ibadah sesuai dengan ajaran agama mereka.

          Bagi orang yang berpuasa sesungguhnya tidak harus mendapatkan penghargaan yang berupa penghormatan dari orang lain, karena pada dasarnya  setiap orang yang menjalankan puasa dan mendapatkan banyak godaan untuk membatalkan puasanya dan  orang tersebut kuat dan tetap bertahan dalam puasanya, maka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.  Cuma sebagai bangsa yang majmuk dan hidup dalam lingkungan suasama kerukunan yang  sangat baik, kiranya saling menghormati diantara para pemeluk agama yang berbeda menjadi niscaya.

          Kalau  kondisinya memang seperti yang  dapat kita saksikan saat ini, dimana  penghargaan terhadap pelaksanaan ibadah puasa menjadi memudar, dan godaan untuk tidak melakukan ibadah puasa semakin kuat,  maka hanya kekuatan iman sajalah yang akan  tetap menjadikan seseorang itu kuat dalam menjalankan puasa dan bahkan akan dapat mengambil berbagai manfaat dan himah selama menjalankannya. Saya akan tetap optimis bahwa  umat Islam yang taat menjalankan ibadah puasa meskipun dikepung berbagai godaan, akan mendapatkan balasan yang sangat banyak dari Tuhan di akhirat nanti.

          Tetapi  bagi umat Islam yang tidak menjalankan ibadah puasa, seharusnya dapat menghargai bulan suci Ramadlan untuk tidak  secara terang-terangan  menunjukan perlawanan dengan sikap  tidak berpuasa.  Demikian juga dengan umat non muslim agar dapat menjaga sikap dan perilakunya selama bulan suci Ramadlan dalam upaya menghormati umat Islam.  Semua itu dalam upaya tetap menciptakan suasana yang kondusif di masyarakat.

          Barangkali sudah saatnya ditata kembali kondisi kerukunan umat di masyarakat kita yang saat ini sudah mulai tampak memudar.  Kerukunan  yang selama ini  telah tercipta dengan baik perlu terus dikuatkan dengan memberikan keteladanan dari seluruh tokoh dan sekaligus menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk saling menghargai dan menghormati  sesuatu yang memang dihormati oleh masyarakat beragama di Indonesia. 

          Semoga pemikiran ini akan dapat direnungkan lebih dalam oleh seluruh tokoh yang peduli dengan kehidupan yang tenteran, damai, dan bersahabat. Penciptaan suasana damai tersebut sesungguhnya bukan hanya tugas para tokoh saja melainkan merupakan tugas semua pihak dan masyarakat secara umum. Para pengambil kebijakan, termasuk para pimpinan perusahaan dalam berbagai bidang juga sangat perlu mengkondisikan masyarakatnya, dan khusus di buan Ramadlan agar semala bulan suci  Ramadlan ini dapat mengendalikan diri untuk tidak menampakkan aktifitas makan minum di siang hari, demi menghormati mereka yang berpuasa dan menghormati bulan suci dan mulia ini.

          Dengan sikap seperti itu saya yakin bahwa persoalan kerukunan umat akan tetap terjaga dengan baik dan seluruh aktifitas dan program lainnya juga akan terdukung  dengan kondisi yang kondusif tersebut.  Inilah sesungguhnya pentingnya saling menghormati diantara masyarakat yang hidup di bumi nusantara ini.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.