DARSEM KENAPA DENGANMU?

Barangkali tidak aneh kalau seorang yang sebelumnya tidak pernah bermimpi akan mendapatkan sesuatu yang sangat luar biasa, kemudian ternyata ia mendapatkannya secara cuma-Cuma, lantas  sedikit uforia dengan sesuatu yang didapatkannya tersebut.  Tidak ubahnya dengan seorang Darsem, yang diancam hkuman mati di negeri orang, lalu belajar dari pengalaman al-marhum Ruyati yang dihukum pancung, lalu mendapatkan simpati dari masyarakat lewat usaha TV one, untuk menebus hukuman mati tersebut sebagai diyat yang jumlahnya mencapai 4 milyar.  Tetapi ternyata diyat atau denda tersebut telah dapat dilunasi oleh pemerintah, sehingga koin simpati untuk Darsem tersebut  diberikanoleh TV one kepada Darsem sejumlah lebih dari 1,2 milyar.

          Kita dapat membayangkan betapa gembiranya Darsem, karena  pertama ia lepas dari jeratan hukuman mati, karena telah ditebus dengan membayat diyat kepada keluarga korban, sehingga Darsem dibebaskan dan akhirnya dapat kembali ke tanah air.  Dan begitu tiba di tanah air, tanpa disangkanya, ia kemudian mendapatkan sumbangan dari TV one yang telah berusaha mengumpulkan koin dari masyarakat untuk menyumbang dalam rangka membebaskan Darsem dari tuntutan hukuman mati, dan jumlahnya  cukup spektakuler untuk ukuran Darsem, yakni 1,2 milyar lebih.

          Pantas saja kalau kemudian Darsem menginginkan  sesuatu yang dapat menyenangkan dirinya, yakni dengan membeli perhiasan yang kemudian menghiasi setiap sudut anggota tubuhnya.  Bahkan sampai-sampai ia dijuluki dengan toko emas berjalan.  Apa yang dilakukan oleh Darsem sesungguhnya merupakan hal yang sangat wajar, karena sumbanga yang cukup besar tersebut memang untuk dirinya, walaupun tujuan aslinya bukan untuk diberikan kepada Darsem pribadi, melainkan untuk menebus hukuman yang mengancam jiwanya.

          Menyikapi persoalan ini sesungguhnya yang harus dikritisi ialah  pihak TV one yang dengan dalih menyampaikan amanah masyarakat, kemudian seluruh koin yang terkumpul lantas diberikan kepada  Darsem dengan tanpa nasehat sedikitpun.  Kalau ternyata belakangan sumbangan tersebut mengubah diri Darsem yang dulunya sebagai orang yang kalem, tidak banyak bicara dan biasa-biasa saja, kemudian menjadi  bertingkah dan mungkin saja sikapnya bisa kebablasan dan sombong, maka tidak seluruhnya  merupakan kesalahan seorang Darsem, tetapi pihak TV one juga seharusya ikut bertanggung jawab atas pola dan prilaku berbeda yang ditunjukkan oleh Darsem.

          Memang benar, bahwa koin tersebut diperuntukkan kepada Darsem, namun mengingat sumbangan tersebut untuk membebaskannya dari hukuman mati, maka seharusnya TV one lebih bijak dalam menyalurkan koin tersebut.  Artinya, kalau memang akhirnya koin tersebut memang diberikan kepada Darsem, maka pemberian tersebut  sebaiknya  dilakukan dengan meminta pertimbangan banyak ahli, sehingga akan dapat diarahkan untuk disampaikan dalam berbagai bentuk, dan tidak seluruhnya berupa uang, sehingga kemanfaatannya akan lebih dapat dirasakan serta  akan tetap mengundang simpati kepada masyarakat luas.

          Kalau kemudian kenyataannya Darsem berulah dengan seolah tidak merasa uang tersebut sebagai uang simpai atas ancaman hukuman yang diterimanya, dan kemudian menggunakan uang tersebut seolah tidak ada latar belakangnya, maka saya sangat yakin bahwa para penyumbang koin yang tadinya memberikan sumbangan dengan tulus, akan berbalik menyesal dan meyayangkannya. 

          Bahkan para tetangganya juga sudah mulai tidak menyukai dengan gaya hidup yang ditunjukkan oleh Darsem dengan menghamburkan uang sumbangan tersebut untuk keperluannya yang tampak berlebihan.  Sekali lagi sesungguhnya kita tidak dapat menyalahkan seorang Darsem sendirian, karena  bagaimanapun Darsem itu manusia yang  sangat membutuhkan  kesenangan, dan sarana untuk itu tersedia, ditambah lagi dengan pengalaman dan mungkin tingkat pendidikan Darsem sendiri yang tidak memungkinkan untuk dapat berpikir lebih jauh.

          Untuk itu dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan ialah  pendampingan, baik secara agama maupun psikologi untuk ngarahkan kepada Darsem agar menjadi lebih baik dan dapat menghargai dan menghormati masyarakat, khususnya mereka yang telah menyumbangkan koin kepadanya.  Kita harus mengingatkan kepada Darsem bahwa seharusnya dia  berterima kasih telah bebas dari hukuman mati, dan sebagai bentuk kesyukuran tersebut, uang yang diterimanya  bukan untuk kesenangan pribadinya, melainkan dibagi dengan masyarakat lain yang sama-sma membtuhkan.

Dalam hal ini TV one tidak bisa lepas tangan begitu saja dengan mengatakan yang penting  telah memberikan hak Darsem, dan selanjutnya terserah kepada Darsem untuk menggunakan koin tersebut.  Menurut saya TV one masih harus menyelamatkan Darsem dari hukuman masyarakat yang diakibatkan  dari sikap dan perilakunya yang tunjukkannya  saat ini.

          Sementara itu soal apakah Darsem  akan menyumbangkan sebagain koin tersebut untuk kepentingan umum dan juga untuk kepentingan keluarga al-marhumah Ruyati, itu urusan lain yang juga harus dipikirkan oleh pendamping yang akan membimbingnya.  Sebab konon cerita sebelum bener-benar menerima  sumbangan tersebut Darsem pernah berjanji akan memberikan sumbangan kepada keluarga Ruyati  dengan sejumlah uang, tetapi  kmudian hanya diberikan 20 juta saja.  Disamping janji lainnya yang ternyata tidak dapat dipenuhinya, tetapi justru malah menunjukkan sikap yang berbeda, yakni melengkapi dirinya dengan berbagai perhiasan yang sangat mencolok.

          Mungkin menurut hokum yang berlaku  secara formal di Indonesia, apa yang dilakukan dan ditunjukkan oleh Darsem tersebut tidak  bertentangan dan  tidak terjad pelanggaran, namun yang harus disadari ialah bahwa kita hidup di Timur yang masih mengedepankan sopan santundan unggah ungguh dalam  bermasyarakat.  Saya hanya khawatir bahwa pada saat ini mungkin belum terasa  atau belum dirasakan oleh darsem dan keluarganya  dengan sikap yang berbeda tersebut, namun lama kelamaan tentu  dia  pasti akan merasakan juga bahwa ternyata dengan uang yang banyak tersebut justru tidak akan membuat dirinya tenteram dan bahagia, karena dicibirkan oleh masyarakat.

          Lain halnya kalau  kemudian pendampingan kepada Darsem segera direalisasikan dan kemudian dinasehatkan kepadanya bahwa hidup ini tidak hanya untukkesenangan pribadi, tetapi juga harus berbagi dengan mereka yang kurang mampu dan kemudian  digerakkan hati Darsem untuk menyumbangkan koin bantuan tersebut kepada masyarakat, terutama masyarakat sekitar, untuk kepentingan yang menyangkt hajat hidup orang banyak, membantu anak-anak yatim dan terlantar dan lainnya.  Dan kemudian darsem  melaksanakannya, tentu simpati justru akan terus mengalir kepadanya, dan semua akan merasa  lega dan ikhlas memberikan bantuan koin untuknya.

          Saya juga  berpikir kalau seandainya Darsem dibiarkan terus seperti ini, maka pada saatnya nanti kalau ada usaha serupa untuk mengumpulkan koin yang dahulu dimulai dari simpati untuk Prita Mulyasari, akan tidak mendapatkan tanggapan dari masyarakat.  Padahal menurut saya usaha pengumpulan koin seperti itu sangat  banyak manfaatnya.  Kalau dahulu koin Prita memang  sangat memberikan manfaat, baik bagi Prita maupun untuk masyarakat, karena dia kemudian juga mau berbagai dengan yang lain, dan bukan untuk kesenangan pribadi.  Tetapi sekalilagi kalau  sumbangan koin untuk Darsem kemudian hanya dimanfaatkan untuk kesenangan dan hura-hura Darsem  saja, seperti berita yang sampai saat ini dapat didengar dari berbagai pemberitaan, tentu masyarakat  tidak akan menjadi simpati lagi, tetapi malah akan  menyayangan dan kecewa.

          Saya justru tidak begitu sependapat dengan beberapa pendapat yang menyatakan bahwa  kita tidak perlu mengusik Darsem karena koin koin tersebut sudah sah milik Darsem dan penggunaannya sepenuhnya berada di tangan Darsem. Bahkan kemudian dikaitkan dengan pernyataan bahwa kenapa haurus menggugat Darsem, sementara banyak koruptor yang merugikan Negara bermilyar-milyar sampai saat ini belum ada penyelesaiannya.  Memang benar kita perlu terus memberikan desakan dan dorongan untuk mengungkap kasus-kasus korupsi di negeri ini sampai tuntas, tetapi jangan kemudian membiarkan  Darsem untuk iktu-ikutan dibenci masyarakat.  Kita harus menyelamatkan Darsem dan kasus Darsem jangan dikaitkan dengan kasus para koruptor, sebab keduanya merupakan kasus yang sangat berbeda.

          Persoalannya ialah jangan sampai  masyarakat menjadi apatis teradap segala macam penderitaan orang lain.  Saat ini masyarakat ternyata masih mempunyai simpati yang tinggi terhadap penderitaan sesame, namun saya sangat khawatir bahwa dengan kasis darsem ini, masyarakat menjadi  berbalik seratus delapan puluh derajat, menjadi apatis dan acuh tak acuh dengan nasib dan penderitaan sesame, karena kecewa.

          Cukuplah pelajaran yang ditunjukkan oleh Darsem, untuk selanjutnya  siapapun  harus dapat mengabil pelajaran dari situ dan berusaha untuk dapat mendidik masyarakat dengan baik.  Artinya bahwa memberikan sumbangan itu baik, tetapi kalau tidak ada pengarajhan terhadap sumbangan tersebut boleh jadi sumbangan tersebut malah akan menjadi tidak baik.  Atau dengan kata lain maksud baik yang ditunjukkan ternyata belum menjamin akan menjadi baik dalam kenyataan.  Mudah-mudahan segera ada pihak yang turun tangan untuk memberikan bantuan dan pendampingan kepada Darsem, sehingga ia  sesegera mungkin dapat kembali menjadi Darsem yang dulu dan nantinya dapat memberikan manfaat  bagi masyarakat secara umum.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.