MUHASABAH DALAM BERPUASA

Seperti diketahui bahwa tujuan berpuasa ialah agar menjadi manusia yang taqwa atau menjadi lebih baik dalam arti yang sesungguhnynya, yaitu manusia yang taat hokum, sabar, berdisiplin tinggi, mempunyai etos kerja tinggi, peka terhadap lingkungan, berbudi pekerti baik, santun, dan jauh dari sifat sombong serta sifat jelek lainnya.  Tetapi pertanyaannya apakah  dalam menjalankan puasa etiap tahunnya kta telah berhasil menjadi manusia  taqwa seperti itu? Tentu jawabannya sangat mudah, belum.  Lantas kalau puasa kita belum dapat menjadikan kita  sebagai manusia taqwa seperti itu, apa yang kita dapatkan dengan berpuasa tersebut.  Jangan-jangan kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata, atau jangan-jangan puasa yang kita jalankan selama ini hanya  untuk membebaskan kita dari jeratan dosa saja atau jangan-jangan….

Barangkali selama ini kita hanya takut siksa Tuhan sehingga kita “terpaksa” menjalankan ibadah puasa tersebut  meskipun terasa sangat berat, menyengsarakan, dan bahkan dapat mengurangi  produktifitas kerja kita.  Sehingga kalau seandainya  ibadah puasa itu hanya sebuah pilihan, maka kebanyakan kita akan memilih tidak berpuasa.  Itulah realitas yang  terjadi pada kebanyakan umat Islam.  Karena itulah sangat wajar manakala puasa yang dilakukan tidak akan memberikan efek atau dampak  apapun dalam dirinya,  terkecuali  rasa lapar dan dahaga.

Kalau memang kondisinya seperti itu maka sesungguhnya kita tidak layak untuk meneriakkan kemenangan saat usai menjalankan puasa tersebut, seperti yang selama ini  kita lakukan.  Teriakan kemenangan tersebut ternyata hanya untuk menunjukkan bahwa kita sdah bebas dari kewajiban puasa yang kita laksanakan dengan penuh keterpaksaan.  Tidak aneh kalau  setelah puasa kebiasaan jelek yang selama Ramadlan ditinggalkan,  akan diulangi lagi, bahkan semu kebaikan yang selama Ramadlan dilakukan, setelah selesai Ramadlan semua menjadi berantakan dan sama sekali tidak dihiraukan lagi.

Padahal kalau kita perhatikan tujuan puasa seperti yang saya sebutkan di atas  tidak akan mungkin dapat digapai dengan kondisi seperti itu.  Puasa tidak secara otomatis akan mengubah perilaku kita  dari jelek menjadi baik, tetapi puasa yang benar dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan kesadaran tinggi serta dengan merenungkan hikmah yang terkandung di daalamnya, kita yakin akan dapat memberikan dampak positif bagi diri kita, dan itulah yang kemudian  dinamakan sebagai taqwa.

Bagi orang yang menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan dapat memetik manfaat puasa, tentu akan menjalankannya dengan kerelaan dan kesenangan hati, dan bukan dengan keterpaksaan, bahkan bagi orang-orang tertentu yang sangat mendalam renungannya dalam menemukan hakikat dan hikmah puasa akan sangat kehilangan pada saat harus berpisah dengan Ramadlan.  Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW  pernah menggambarkan “ Kalau seandainya umatku mengetahui apa apa yang terdapat di Ramadlan, tentu mereka akan berharap bahwa seluruh bulan dalan setahun merupakan Ramadlan semua”.  Tentu  apayang disampaikan Nabi tersebut hanya sekedar penggambaran tentang betapa Ramadlan tersebut penuh dengan sesuatu yang sangat dirindukan oleh orang-orang shalih.

Tentu ada beberapa hal diseputar Ramadlan yang disampaikan oleh Nabi dan juga langsung oleh Tuhan, yang dapat mendorong dan memotivasi kita untuk  menjalankan ibadah puasa, seperti jaminan ampunan  atas dosa-dosa kita yang telah lampau, jaminan masuk surge, jaminan  berlipat gandanya ganjaran yang akan kita peroleh, dan yang terbesar ialah adanya malam yang dikenal dengan lailatul qadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.  Namun demikian sesungguhnya masih ada banyak lagi sesuatu yang lain yang tidak secara langsung diberitahukan kepada kita, dan hanya kitalah yang dapat menggalinya sendiri melalui renungan mendalam dan focus.  Dan sesuatu yang tidak disebutkan inilah kiranya yang akan membuat orang menjadi tergila-gila dengan Ramadlan dan sekaligus akan selalu merindukannya.

Renungan terhadap kondisi kita dan juga orang lain saat menjalankan puasa juga akan dapat  memberikan dampak positif dalam diri kita serta akan menimbulkan rasa simpati yang luar biasa kepada mereka yang berkekurangan dalam arti ekonomi.  Betapa tidak, kalau kita dapat merenung bahwa dalam keadaan lapar dan dahaga saat siang hari kkta kemudian dapat membayangkan betapa sengsaranya mereka yang memang betul-betul tidak mampu untuk makan dalam kesehariannya, atau kalau toh mereka  akan makan setelah bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi, tentu kondisi kita  yang berpuasa jauh lebih untung, karena lapar dan dahaga yang dirasakan  sangat terbatas, yakni sampai maghrib dating, sementara itu mereka yang kekurangan tersebut harus menanggung kelaparan untuk jangka waktu yang tidak menentu.

Demikian juga dengan sikap disiplin dan kejujuran yang ditunjukkan saat kita berpuasa, dimana kalau kita mau tidak jujur bisa saja kita makan dan minum di tempat sepi dan tidak diketahui orang lain, atau ketika belum waktunya berbuka puasa meskipun hanya kurang satu dua menit, kita tetap tidak mau menyerobot mendahuluinya.  Artinya kejujuran dan kedisiplinan yang  selama puasa kita jaga dan praktekkan, manakala kemudian juga kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadlan, tentu akan membawa kebaikan kepada diri kita, lingkungan dan masyarakat kita secara keseluruhan.

Ramadlan memang dikatakan sebagai bulan penuh berkah dan maghfirah atau ampunan, tetapi berkah dan ampunan tersebut tdiak otomatis dapat kita raih begitu saja, melainkan harus juga dicari dengan melakukan berbagai upaya nyata, seperti berupaya memperbaiki keadaan kita dari sebelumnya, banyak memohon ampunan  kepada Tuhan dengan kesungguhan hati, dan usaha lainnya.  Misalkan sebelum puasa kita sering berbohong kepada orang lain, maka dengan puasa ini kita mencoba untuk tidak berbohong dan pada akhirnya nanti setelah usai puasa, sifat bohong kita akan dapat terkurangi secara signifikan, dan begitu seterusnya.

Muhasabah dan evaluasi yang kita lakukan terhadap puasa yang kita jalankan tidak hanya sekedar lahiriyyah semata, apalagi tentang  berkurangnya berat badan ataupun lainnya, melainkan yang lebih penting ialah justru  sejauhmana  puasa telah dapat mengubah diri kita yang semula kurang baik menjadi baik dan yang semula sudah baik akan semaikin menjadi lebih baik.  Apakah dengan berpuasa kita juga akan dapat merasakan penderitaan saudara kita yang kelaparan yang kemudian memberikan kesadaran kepada kita untuk bersedekah.  Apakah dengan berpuasa akan memberikan efek bagi untuk berlaku sabar dalam menghadapi setiap musibah dan kegagalan.  Apakah dengan puasa  akan dapat membuat diri kita semakin disiplin dan mematuhi segala aturan yang ada.  Semua itu lah yang seharusnya menjadi focus kita dalam mengevaluasi diri kita selama Ramadlan ini.

Kita memang tidak menghendaki bahwa kita akan termasuk orang-orang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu  “ banyak orang yang menjalankan puasa, tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasa tersebut,melainkan hanya rasa lapar dan dahaga”.  Karena kita  sangat yakin bahwa puasa yang kita laksanakan  akan memberikan makna yang dalam  bagi kehidupan kita.  Kita juga tidak akan pernah melakukan berbagaia perbuatan yang dapat menghilangkan pahala puasa, seperti berbohong, ghibah atau menceritakan aib orang lain, adu domba, berkata-kotor dan melakukan maksiat.  Bahkan setiap hari kita terus melakukan kebaikan, seperti bersedekah, menjalankan shalat secara berjamaah, bertadarrus al-Quran dan lainnya.

Dengan melakukan upaya-upaya nyata dalam memanfaatkan momentum ramadlan ini kiranya kita dapat berharap banyak bahwa  selesai puasa nanti kita akan benar-benar menjadi sosok yang berubah dalam arti positif.  Artinya dengan evaluasi yang terus kita lakukan dan kemudian dilanjutkan dengan upaya menambal yang dianggap kurang serta menyempurnakan yang dianggap  cukup, insya Allah kita memang benar akan menjadi orang yang berbeda dari sebelum Ramadlan.  Semoga Tuhan senantiasa memberikan rahmat dan karuna-Nya kepada kita sehingga kita dapat mengambil manfaat yang maksimal dari Ramadlan ini.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.