SIAP MENJALANKAN IBADAH PUASA

Setelah mempersiapkan diri  beberapa hari terakhir ini tentu kita semua telah siap untuk menjalankan ibadah puasa  sebulan penuh di Ramdlan ini dalam arti yang sesungguhnya, baik lahir maupun batin.  Kesiapan tersebut kita buktikan dengan keteguhan hati untuk segera  bertemu dengan Ramadlan serta secara lahir kita juga telah mempersiapkan  segala sesuatunya  dengan maksimal.  Berbagai tempat yang akan kita jadikan tempat sahalat tarawih mulai nanti malam juga telah siap dengan segala asoseris yang menyertainya.  Sementara itu di beberapa daerah juga telah dilakukan semacam tradisi mandi besar  sebaai tanda kebersihan raga kita sebelum memasuki Ramdlan.  Demikian juga dengan digelarnya tradisi dugderan di Semarang  sebabagi tanda dimulainya bulan suci dan berpuasa.  Semua itu menandakan kesiapan kita memasuki Ramadlan dengan penuh antusiasme tinggi.

Memang apa yang dilakukan oleh masyarakat muslim dalam menghadapi Ramdlan tersebut berbeda beda; Ada sebagiannya yang  mencurahkan segala hal dengan sungguh-sunguh , termasuk harus mengeluarkan banyak harta, semata-mata hanya ingin menghormati atangnya Ramadlan.  Tetapi juga ada yang sedang-sedang saja dalam mempersiapkan diri menyambut bulan suci tersebut, dan hanya melakukan persiapan  ala kadarnya dan tidak memaksakan  diri,  dan tidak jarang pula ada yang  menganggap  bahwa datangnya Ramadlan tersebut hanya biasa saja, yang terpenting ialah tetap harus berpuasa.

Boleh jadi perbedaaan dalam menyongsong Ramadlan tersebut disebabkan oleh  tingkat pengetahuan mereka mengenai  Ramadlan, tetapi  boleh jadi pula perbedaan  sikap mereka dilatar belakangi oleh  kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat tertentu.  Seperti kita ketahui bahwa ada riwayat yang selalu dikumandangkan oleh para dai yang saya sendiri tidak tahu sumbernya bahwa “barang siapa yang bergembira  atas datangnya bulan Ramadlan, maka Tuhan  akan mengharamkannya masuk neraka”.  Mungkin substansi riwayat ini memang cukup bagus untuk memberikan pengaruh kepada umat dalam mempersiapkan dan menyongsong Ramadlan, tetapi  kalau riwayat tersebut tidak jelas datangnya  dari Nabi, tentu kita harus berhati-hati.

Masalahnya hal tersebut sudah dipahami oleh umat sebagai sesuatu yang  benar, sehingga masyarakat akan selalu melakukan hal-hal  yang mengarah kepada sikap yang dapat dianggap sebagai suka dan gembira dengan kedatangan Ramadlan tersebut.  Dan hal tersebut  cukup positif karena memang tidak ada larangan yang mengharamkan kita untuk mempersiapkan diri dengan penuh kegembiraan. Tetapi sekali lagi ada sebagian masyarakat yang tidak mengetahui  riwayat tersebut atau mengetahuinya tetapi kemudian menyikapinya secara kritis, bahwa riwayat tersebut ternyata tidak ada sumbernya yang dapat dipertanggung jawabkan, sehingga lebih memilih biasa saja dalam menyikapi Ramadlan.

Bagi saya  mempersiapkan diri dalam menghadapi Ramdlan  itu sangat diperlukan, terutama memprsiapkan  hati dan pikiran agar tidak ternodai dengan sifat-sifat  tercela yang akan memberikan dampak negative bagi pelaksanaan puasa kita.  Siafat tercela semacam dendam, iri hati, dengki, sombong, dan lainnya memang harus kita terus upayakan  agar menjauh dari diri kita setiap saatnya, lebih-lebih ketikan kita akan menunaikan ibadah puasa, tentu sangat baik untuk lebih diupayakan agar berbagai macam sifat tercela tersebut dapat kita singkirkan dan menggantinya dengn  sifat baik yang akan dapat mendukung  pelaksanaan beragai ibadah di bulan Ramadlan.  Karena kita tahu bahwa  ada beberapa peringatan Nabi tentang  puasa yang tidak mendapatkan  apa-apa, selain hanya lapar dan dahaga.  Nah, tentu kita tidak akan  mau tercebur dalam persoalan seperti itu, yakni puasa kita tidak akan memberikan makna apa-apa selain lapar dan haus saja.

Kita semua tentunya menginginkan bahwa puasa yang kita lakukan nanti  akan dapat memberikan perubahan signifikan  dalam meningkatkan kualitas hidup kita, baik sebagai muslim  secara individual maupun scara social.  Pendeknya, tujuan berpuasa sebagaimana yang dimeksudkan oleh Tuhan, yakni menjadi muttaqin, akan kita upayakan dapat dicapai.  Dengan begitu  menuurut saya, harus ada persiapan matang bai kita untuk mewujudkan keinginnan tersebut.  Sebab perubahan kearah itu hanya dapat diraih dengan kemauan keras dari diri kita sendiri dan selalu merenungkan segala hikmah yang terdapat dalam pelaksanaan puasa, dan bukan secara otomatis  akan muncul dengan sendirinya.

Puasa hanyalah sebuah sarana yang akan memantapkan niat dan keinginan kita untuk menjadi muttaqin, sehingga  terwujud dan tidaknya dampak positif yang akan menjadikan kita  sebagai mukmin sejati  tetaplah berada di tangan kita masing-masing, dan bukan oleh pelaksanaan puasa semata.  Ibaratnya  kalau kita berpuasa sepanjang masa tanpa henti kecuali pada saat-saat tertentu saja, tetapi  tidak ada upaya nyata untuk  mengubah diri kita keaarh yang baik, tentu  puasa tersebut tidak akan berdampak kepada diri kita, dan barangkali hanya memberikan dampak kepuasan terbatas saja, yakni kepuasan karena telah berhasil menjalankan  puasa dan mendapatkan pahala dari Tuhan, tetapi sama sekali tidak ada perubahan signifikan  bagi kehidupannya di dunia ini, baik dalam hubungannya dengan Tuhan maupun dalam hubungannya dengan sesame umat manusia.

Namun lepas dari semua itu, yang jelas besuk insya Allah kita sudah berada di dalam bulan Ramadlan, dan seperti firman Tuhan, bahwa siapapun yang telah berada di bulan suci tersebut diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa dengan segala  aturan mainnya.  Tetapi bagi mereka yang sedang menderita sakit ataupun sedang mengadakan perjalanan jauh, ada dispensasi utnuk tidak menjalankannya, tetapi harus menggantinya  di hari lain setelah Ramadlan.  Untuk itulah dalam mempersiapkan diri tersebut seharusnya kita juga mempersiapkan fisik kita agar pada saatnya tidak  berhalangan, semisal sakit atau lainnya.

Aturan main puasa juga harus kita fahami sehingga ketikan menjalankannya akan merasa nyaman karena  berada dalam jalur yang benar.  Batas-batas waktu pelaksanaan puasa juga dapat kita taati, yakni semenjak  datangnya subuh (tentu beberapa saat sebelumnya) hingga maghrib. Meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa selama menjalankan puasa, seperti makan atau minum di siang hari terkecuali memang benar-benar lupa, melakukan hubungan suamiisteri di siang hari dan memasukkan segala benda  kedalam tubuh kita memalui mulut  atau  lubang tubuh lainnya di siang hari  ataupun lainnya.

Demikianpula tidak boleh dilupakan memfokuskan diri kita dengan niat di malam hari sebelum subuh datang.   Biasanya untuk menghindari kelupaan, masyarakat mengucapkan niat tersebut setelah menunaikan ibadah shalat tarawih, karena mereka berhati-hati,jangan-jangan  malamnya tidak dapat bangun  dan tiba-tiba sudah subuh, sehingga kalau hal tersebut terjadi mereka masih dapat meneruskan puasa.  Namun demikian saat iini sudah banyak  teknologi yang dapat mengingatkan kita untuk dapat bangun sesuai dengan yang kita inginkan, karena itu  sebaiknya disamping melakukan upaya niat lebih awal tersebut, kita juga sebaiknya bangun malam untuk melakukan sahur.  Sebagaimana diketahui bahwa  dalam menjalankan puasa, Nabi sangat menganjurkan untuk makan sahur, karean didalamnya akan banyak berkah, termasuk ketikan siang harinya tidak terlalu lapar sehingga tetap dapat menjalankan usaha sebagaimana biasanya.

Demikian juga dengan bangun malam, kita akan dapat melakukan berbagai kebaikan, seperti menjalan ibadah shalat tahajjud atau qiyam allail, berdzikir dengan penuh konsentrasi, membaca al-Quran dengan penuh perhatian dan kebiakan lainnya.  Memang  harus diakui bawa pelaksanaan shalat tarawih yang kita lakukan  selama ini tidak sama dengan  dilakukan oleh Nabi.  Nabi melalukan shalat  pada malam hari yang disebut dengan tahajjud atau qiyam al-lail tersebut pada sepertiga malam yang terakhir, sehingga kalau pada bulan Ramadlan, shalat Nabi ya tetap, hanya saja  biasanya tidak dinamakan dengan qiyam al-lail, melainkan disebut dengan qiyam al-Ramadlan.

Sedangkan shalat tarawih yang kita lakukan itu setelah menjalankan shalat Isya’ dan kemudian disambung dengan shalat witir, sedangkan shalat witir itu merupakan shalat penutup dalam setiap malamnya.  Lalu apakah kita sebaiknya tetap menjalankan ibadah shalat tahajjud saat bangun malam, meskipun sudah tarawih dan witir?,  Jawabannya dapat bermacam macam, tetapi menurut saya  akan lebih baik tetap menjalankan shalat tahajjud dan witir lagi setelahnya.  Kita anggap bahwa pelaksanaan shalat tarawih dan witir  yang setelah shalat Isya’ tersebut sebagai bentuk  amalan  yang  bernuansa pendidikan  serta syiar semata.  Pendidikan maksudkan dalam upaya mendidik kepada masyarakat luas, karena kita tidak dapat membayangkan kalau shalat tarawih kita jalankan jan dua malam, maka akan sangat sedikit yang  mengkutinya, apa lagi anak-anak.  Sedangkan sebagai syiar, tentu gaung Ramadlan akan lebih semarak dengan dilakukannya shalat tarawih di beberapa tempat yang diikuti oleh  laki-laki dan perempuan serta anak-anak.

Kita tidak usah memperdebatkan hokum  dan pendapat  yang berbeda seputar  pelaksanaa shalat tarwih tersebut, dan menurut saya bukan masanya lagi memperbincangkan persoalan tersebut.  Justru yang lebih penting kita bicarakan pada saat ini ialah bagaimana masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan nyaman dan seluruh masyarakat dapat menghormati Ramadlan ini dengan gaya dan cara masing-masing.  Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua dan kita dapat meraih sesuatu yang ada di Ramadlan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.