MARHABAN YA RAMADLAN

Kalau tidak ada sesuatu yang luar biasa, insya Allah hari Senin besuk, kita telah memasuki bulan suci Ramadlan, sebuah bulan yang banyak dinantikan kehadirannya  oleh banyak orang, terutama  bagi mereka yang memang mengharapkan ampunan dan  karunia dari Tuhan.  Memang terasa aneh bagi kebanyakan orang, terutama bagi mereka yang belyum memahami dan menyelami serta merasakan sesuatu yang ada di bulan Ramadlan.  Secara rasional, kehadiran Ramadlan, seharusnya malah menjadi beban tersendiri, karena  selama satu bulan penuh umat Islam harus menjalankan ibadah puasa, namun justru bulan tersebut  malah banyak dirindukan.

Memang ada kalanya sesuatu itu tidak bisa dilihat hanya berdasarkan rasio semata, dan bahkan barangkali itulah  mengapa jangkauan rasio itu tidak dapat  pernah menyentuh aspek batiniyah dan kepuasan dalam menjal;ankan ritual.  Dalam pandangan rasio murni bahwa  selama dalam satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa merupakan sesuatu yang cukup berat, karena harus menahan lapar dan dahaga setiap hari  selama sebulan.  Disamping itu juga ada beberapa larangan lainnya yang tidak boleh dilakukan  pada saat berpuasa, misalnya melakukan hubungan suami istri, berboghong, menggunjing dan lainnya.

Ya itulah kenyataan yang dapat disaksikan oleh seluruh umat manusia, dimana Ramadlan justru sangat dirindukan.  Bahkan menurut salah sebuah hadis, Rasul Muhammad SAW pernah  mengatakan sebagai andaian bahwa ”seandainya umatku mengetahui sesuatu yang ada di bulan Ramadlan, tentu mereka akan berharap bahwa seluruh bulan dalam satu tahun semuanya menjadi Ramadlan”.  Tentu pernyataan Nabi tersebut hanyalah merupakan pengandaian yang bermakna menggambarkan  betapa luhurnya dan bermaknanya Ramadlan bagi umat.

Mungkin masih banyak  “sesuatu” yang disebutkan oleh Nabi tersebut yang sampai saat ini belum tergali dan diketahui oleh masyarakat muslim, termasuk para ulama’nya, karena kita sangat yakin bahwa “sesuatu” tersebut merupakan hal yang hanya dapat diketahui oleh orang-orang  tertentu dan itupun tidak menyeluruh, melainkan hanya sebagian saja sesuai dengan pangalaman hidup yang dijalani oleh masing-masing orang.  Memang  ada sebagian dari “sesuatu” tersebut yang dapat diketahui semua orang melalui riwayat dan cerita Nabi sendiri, seperti ampunan dan karunia Tuhan yang digelar  sedemikian luas di bulan Ramadlan, pelipat-gandaan  suatu ibadah yang dijalankan di bulan Ramadlan, dan berbagai informasi menggembirakan dari nabi semacam dibukanya pintu surge dan di tutupnya pintu neraka serta dibelenggunya iblis dan setan, dan lainnya.

Justru karena sesuatu yang masih belum dapat seluruhnya diketahui itulah, umat Islam  kemudian berusaha untuk menggali dan mendapatkannya, sehingga terdorong untuk selalu merindukan Ramadlan.  Sementara  pelaksaan puasa itu sendiri, walaupun memang terasa lapar dan dahaga, tetapi tidak menjadi halangan dan alasan untuk tidak mengharapkan dan sekaligus memanfaatkan Ramadlan untuk mendapatkan sesuatu tersebut.

Secara kasat mata kita juga dapat menyaksikan betapa pada bulan Ramadlan tersebut umat Islam begitu antusias dalam menjalankan ibadah disbanding pada selain Ramadlan.  Kita dapat menyaksikan umat dengan semangatnya mendatangi tempat-tempat ibadah, semacam masjid, Mushalla, dan bahkan tempat lain yang didesain selama Ramadlan untuk melaksanakan shalat tarawih.  Padahal kita semua juga tahu bahwa di selain Ramadlan, mereka sangat jarang dan bahkan mungkin malas untuk mendatangi masjid untuki melaksanakan shalat berjamaah, meskipun mereka tahu bahwa shalat berjamaah itu nilainya berlipat hingga 27 derajat, tetapi toh mereka kurang tertarik.  Sementara dalam bulan Ramadlan, secara otomatis mereka sangat bergairah untuk melaksanakan ibadah, terutama shalat tarawih.

Demikian juga dengan ibadah lainnya, seperti shalat jamaah setiap waktu, mengkaji dan tadarrus al-Quran, dzikir, mendatangi ceramah  dan renungan keagamaan, bersedekah dan menyantuni anak-anak yatim.  Sungguh luar biasa memang daya tarik Ramadlan itu bagi setiap muslim yang beriman.  Hanya saja memang harus diakui masih banyak diantara umat Islam yang merasa sebaliknya, yaitu menjadi sedih dengan kehadiran Ramadlan.  Mereka ini  mereasa bahwa dengan kehadiran Ramadlan tidak dapat bebas  dan harus menderita selama sebulan penuh.  Menurut saya bagi orang seperti mereka harus segera diingatkan bahwa  dengan sikapnya yang demikian mereka justru tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman dalam hidup, melainkan hanya akan mendapatkan klesulitan dan penderitaan batin saja.

Tetapi kita masih berharap banyak kepada mereka, karena kita mengetahui bahwa  dalam hati mereka masih tersimpan iman yang kuat, sehingga mereka tetap melaksanakan ibadah puasa, meskipun harus dilakukannya dengan berat hati.  Lain halnya dengan mereka yang meskipun mengaku sebagai umat Islam, tetapi sama sekali tidak peduli dengan Ramadlan.  Bagi mereka Ramadlan atau bukan  dianggap sama saja, karena memang mereka tidak akan merasa berat dengan menjalankan puasa karena memang mereka itu tidak pernah menjalankan puas., Demikian juga mereka  tidak akan merasa gembira karena memang tidak ada alasan apapun untuk bergembira.

Nah, sebagai seorang muslim  sudah seharusnya kita mempersiapkan diri  dalam menghadapi dan menyongsong Ramadlan tersebut, karena disamping  kita percaya adanya “sesuatu” yang dikatakan oleh Nabi tersebut, keyakinan kita yangb sangat mantap bahwa bulan Ramadlan itu merupakan bulan yang sangat mulia, memberikan berkah, dan sekaligus dapat menjadikan kita lebih baik  dari sebelumnya.  Persiapan yang perlu kita lakukan ialah dengan menata hati  dan pikiran kita  agar tidak terkena berbagai penyakit yang dapat merusak ibadah kita, seperti membersihkan  diri dari  sifat riya’ atau pamer,  sombong, iri, dengki, dendam dan lainnya.  Kita harus dapat menjauhkan beberapa sifat tercela tersebut dari diri kita, dan  mengupayakan  menghiasi diri kita dengan perbuatan terpuji dan sangat dianjurkan, seperti berderma, memperbanyak ibadah dan lainnya.

Persiapan tersebut  sangat kita perlukan agar pada saatnya Ramadlan tiba kita memang sudah terbiasa dengan  hal-hal positif dan  terjauhkan dari perbuatan maksiat  yang merugikan.  Harapannya perbuatan positif tersebut akan terus dapat kita pelihara dan bahkan tingkatkan selama bulan Ramadlan dan mendapatkan hasilnya setelah berlalunya Ramdlan.  Disamping persiapan secara batin seperti itu, persiapan secara lahir juga perlu kita lakukan, misalnya dengan menyiapkan tempat pelaksanaan shalat tarawih sedemikian rupa sehingga akan tampak menyenangkan bagi para jamaah, menyiapkan berbagai hal  seputar pelaksanaan puasa, seperti obat ataupun vitamin, terutama bagi mereka yang sedang ada masalah dengan kesehatan, dan lain sebagainya.

Dengan begitu kita berharap bahwa   ketika Ramadaln daaing, semuanya telah siap dan tidak ada sesuatu apapun yang menjadi kendala bagi kita untuk menemukan “sesuatu” di dalam Ramadlan tahun ini.  Kita juga masih  sangat berharap bahwa  dalam menekuni  dan memanfaatkan Ramadlan ini, kita akan dapat menemukan  lailatul qard, sebagai pemberian Tuhan yang sangat tidak ternilai harganya yang khusus diberikan kepada kita pada setiap Ramadlan.  Aakan sangat disayangkan kalau Ramadlan berlalu begitu saja tanpa kita dapat meraih lailatul qadr tersebut, karena nilai lailatul qard tersebut ternyata masih lebih baik  ketimbang seribu bulan.

Alangkah nikmatnya pada saat kita bertemu dengan Ramadlan dalam keadaan siap dan sehat, sehingga kita akan dapat melakukan ibadah di dalamnya dengan kesempurnaan yang maksimal.  Artinya disamping menjalankan ibadah puasa tidak terhenti meskipun dengan alasan yang diperbolehkan oleh syariat, kita juga dapat melaksanakan seluruh anjuran atau kesunnahan di dalam Ramadlan.  Tetapi memang khusus bagi para muslimah, halangan yang berupa menstruasi yang datangnya setiap bulan, harus diterima dengan lapang dada dan harus dapat mengambil hikmahnya.

Aturan Tuhan yang demikian bukan berarti ada sikap diskriminasi bagi perempuan, sama sekali tidak.  Dalam hal tersebut tentu Tuhan mempunyai alas an yang sangat bijak, mengapa perempuan diberikan udzur untuk tidak menjalankan puasa sebulan penuh, khususnya bagi perempuan dalam usia subur.  Hanya saja kita yang terkadang belum bisa mendapatkan alasan yang ditetapkan oleh Tuhan tersebut, tetapi yang jelas kita harus  berkhusnudhdhan kepada Tuhan, bahwa Tuhan pasti mempunyai tujuan yang sangat baik dengan aturan-Nya tersebut.

Untuk itulah barangkali sudah saatnya kita mengadakan kajian dan bahkan riset untuk menggali himah dibalik ketentuan Tuhan tersebut, sejauh yang dapat dijangkau oleh akal pikiran kita.  Tetapi saya sangat yakin kalau kita lakukan  itu, maka Tuhan  akan membukakan pintu hati kita untuk mengetahui rahasia dibalik ketentuan  Tuhan tersebut.

Akhirnya saya mengucapkan selamat datang wahai Ramadlan, semoga kehadiranmu akan membawa banyak berkah, karunia dan ampunan dari Tuhan.  Dan bagi umat Islam, saya juga harus mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, semoga  puasa kali ini akan menjadikan diri kita lebih bertqwa dan mendapatkan banyak pahala.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.