HARUS ADA PERUBAHAN ORIENTASI

Kontroversi antara mereka yang meghendaki adanya perubahan kelembagaan dari IAIN STAIN ke UIn dan mereka yang masih menginginkan  dan mempertahankan  kondisi seperti apa adanya seperti saat ini, sampai saat ini memang masih terjadi.  Mungkin kalau  pertentangan antara mereka yang setuju perubahan dan yang menginginkan tetap seperti semula itu terjadi di Jawa, sangat mungkin masih bisa diterima, tetapi kalau kemudian kita menengok kondisi di luar jawa, Khususnya yang berada di daerah Papua misalnya, tentu kita harus  mengubah orientasi kita kearah yang lebih menguntungkan secara keseluruhan.

Beberapa perguruan tiggi Islan negeri di pulau Jawa, setidaknya  ada beberapa yang masih dapat dimengerti, kalau  ada pihak yang masih mempertahankan kondisi seperti apa adanya, karena di sana masih banyak yang bisa dolakukan.  Artinya dari sisi minat masyarakat, meskipun semakin kritis dengan mengharapkan sesuatu yang lain dan dapat menjamin masa depan mereka, tetapi toh, masih cukup banyak yang tetap menginginkan  belajar dan mengkaji ilmu keagamaan yang selama ini menjadi focus IAIN dan STAIN.  Disamping itu dari sisi dukungan sekolah menengah di sekitar juga masih cukup signifikan, sehingga meskipun masih menjadi IAIN dan STAIN, tetap saja ada masyarakat dimenjadikannya sbagai alternative meneruskan studi mereka.

Tetapi kalau kemudian kita mencoba untuk menengok keberadaan  perguruan tinggi agama Islam di luar jawa, khususnya di Papua, ternyata di sana sama sekali lain.  Saya menyaksikannya sendiri kampus STAIN al-Fatah jayapura yang mahasiswanya secara keseluruhan  hanya sekitar 600 an mahasiswa dan dengan keberadaan kampus yang jauh dari kehidupan masyarakat, tentu semua pihak, terutama kementerian agama harus mengubah orientasi untuk memikirkan bagaimana agar STAIN jayapura dan STAIN lain yang serupa  bisa mensejajarkan diri  dengan perguruan tingggi disekitarnya.

Apalagi kalau dilihat dari sisi masyarakat di sekitar kampus yang  diharapkan dapat mensupport dalam pengembangan kampus, tentu harus ada usaha nyata dari para pengambil keputusan utnuk segera  memberikan solusi terbaik bagi pemngembangan lembaga tersebut.  Kalau kita ambil contoh STAIN Jayapura misalnya, dengan kondisi dimana  mayoritas masyarakat jayapura ialah non muslim dan keberadaan sekolah sekolah Islam, seperti madrasah aliyah juga dapat dikatakan sangat jarang kalau tidak boleh dibilang langka dan mungkin malah tidak ada, maka kalau saat ini masih ada sedikit kepedulian masyarakat untuk studi di STAIN itu karena memang keadaan yang membanggakan, tetapi menurut saya kondsi sperti itu tidak akan mungkin dapat bertahan lebih lama.

Saat ini saja dimana sebagian besar perguruan tinggi telah menutup penerimaan mahasiswa baru dengan menolak calon mahasiswa, di STAIN Jayapura baru ada pendaftar sebanyak 70 calon mahasiswa.  Ini sungguh kondisi yang sangat menyedihkan kita semua sebagai sesame pengelola perguruan tinggi agama Islam negeri.  Sementara tetangganya yakni universitas Cenderawasih dipenuhi dengan para peminat sehingga tidak tertampung daam prodi-prodi yang disediakan.

Saya berpendapat bahwa sudah saatnya kementerian agama mendorong STAIN Jayapura dan beberapa STAIN semacamnya, dan bahkan seluruh STAIN dan IAIN utnuk segera berbenah dan merencanakan secara matang  kearah universitas yang memunkinkan membukaprodi yang diminati oleh masyarakat.  Tentu cirri khas sebagai perguruan tinggi agama Islam harus tetap dipertahankan dan bahkan harus dapat mewarnai setiap prodi yang dibuka dan dikembangkan.  Kita semua tidak perlu khawatir bahwa  dengan perubahan lembaga dari STAIN atau IAIN ke universitas nantinya akan mendegradasi kajian keislaman.  Bahkan seharusnya  semua pihak malah mendorong agar kajian keislaman dilakukan di universitas, sehingga fungsi Islam sebagai rahmatan lil alamin akan dapat diwujudkan.

Barangkali yang perlu diingatkan kepada seluruh pimpinan PTAIN ialah bagaimana menyiapkan segalanya, termasuk SDM, sarana prasarana, laboratorium, dan perangkat lainnya, sehingga pada saatnya tidak akan  menjadi beban tersendiri, tetapi justru akan merupakan keuatan yang dapat mensejajarkan PTAIN dengan PTN lain yang saat ini telah terlebih dahulu maju.  Tentu kementerian agama harus melakukan upaya nyata dan melakukan seleksi  yang diperlukan sebelum memberikan rekomendasi kearah perubahan yang diinginkan tersebut.

Justru saya malah berpikir sebaliknya, yakni kalau kementerian agama masih bertahan seperti saat ini dengan membatasi kelembagaan UIN hanya sebatas 6 PTAIN saja dan bahkan seolah menghalangi mereka yang ingin berubah kearah yang lebih luas, maka kondisi PTAIN kita tidak akan dapat semakin maju dan dapat bersaing dengan perguruan tinggi lainnya, malahan lama-kelamaan justru akan semakin sulit untuk bangkit dan akan ditinggalkan oleh masyarakat Islam itu sendiri.

Memang  saya tahu  kekhawatiran beberapa pihak yang  tidak menginginkan adanya perubahan tersebut, tetapi kalau kemudian dipikirkan secara lebih jernih dan dalam, perubahan tersebut justru akan lebih banyak memberikan manfaat daripada tetap dalam keadaannya yang sekarang.  Saya juga menyadari bahwa dengan perubahan tersebut mungkin  akan  ada beberapa perubahan lainnya yang menyertai perubahan kelembagaan tersebut, semisal akan semakin banyak masyarakat yang lebih memilih prodi  “umum” daripada prodi keagamaan yang saat ini dikembangkan.  Aatau barangkali kekhawatiran yang berkaitan dengan perkembangan prodi “umum” tersebut dengan para dosennya yang bukan lulusan IAIN, sehingga dari beberapa aspek akan sulit untuk diharapkan ghirah pengembangan Islam dari mereka, dan lainnya.

Namun beberapa kekhawatiran tersebut yang  saat ini sudah muncul di beberapa UIN sesungguhnya  justru harus kita jadikan  pengalaman agar pada UIn lain dan kedepan akan dapat dilakukan upaya-upaya  tertentu yang memungkinkan bahwa seluruh warga UIN  akan selalu berusaha untuk melakukan kajian dan pengembangan keislaman.  Persiapan yang matang adalah kata kuncinya, sehingga kememnterian seharusnya dapat menyeleksi lebi hdetail tentang kesiapan  lembaga yang memang ingin  berubah.  Kalau dalam penilaian kementerian aagama, sebuah PTAIN belum siap untuk berubah maka  harus dikatakan bahwa belum saatnya untuk berubah, tetapi sebaliknya kalau sebuat PTAIN telah siap berubah, maka juga akan dikatakan silakan segera berubah.

Jadi perubahan lembaga tersebut bukan semata-mata keinginan untuk  memperbanyak  mahasiswa saja tetapi lebih dari itu justru untuk menaikkan kualitas PTAIN dihadapan perguruan tinggi lainnya.  Dan lebih khusus lagi perguruan tinggi Islam  tidak akan selalu tertinggal  dan ditiggalkan umatnya sendiri.  Berkali-kali saya mengibaratkan bahwa  PTAIN dan perguruan tinggi lainnya itu ibarat menjajakan dagangan kepada masyarakat, Nah oleh sebab itu diperlukan ilmu bagaimana cara memasarkan dan juga berupaya meningkatkan kualitas dagangan kita, serta yang tidak boleh dilupakan ialah dengan menawarkan dagangan yang memang sedang diminati oleh masyarakat.

Tidak ubahnya dengan perdagangan tersebut ialah perguruan tinggi kita, hanya saja yang kita tawarkan ialah program studi dan bukan makanan ataupun pakaian.  Untuk itu program studi yang kita tawarkan haruslah  prodi yang diminati oleh masyarakat kita, dan celakanya prodi yang diminati masyarakat tersebut selama ini tidak bisa kita peroleh, dan hanya dapat diperoleh oleh tetangga kita, jadilah tetangga kita yang memperoleh keuntungan banyak, sementara kita tetap menwarkan dagangan yang tidak diminati oleh masyarakat.

Tentu memang ada bedanya antara prodi dan dagangan, karena kalau dagangan yang kita tawarkan itu akan tetap dalam kondisi aslinya, tetapi kalau yang kita tawarkan ialah program studi, tentu kita akan dapat memberikan tambahan bahan sebagai penguat kualitas.  Artinya kalau kita  telah  berubah ke UIN dan prodi yang kita tawarkan ialah prodi “umum”, tentunya kita akan  memberikan tambahan kajian keislam untuk lebih mewarnai prodi tersebut dengan warna Islam atau setidaknya para alimninya nantinya mengetahui dan menjalankan syariat Islam sebagai syariat yang diyakininya.

Meskipun prodi “umum” yang dipilih oleh masyarakat, tetapi kajian keislaman akan tetap dilakukaan oleh mahasiswa bersama dengan para dosen, karena disamping menggeluti bidang utama, para mahasiswa juga tetap diwajibkan untuk mengambil mata kuliah yang akan mengantarkan mereka untuk dapat menjadi mahasiwa muslim yang mengetahui ilmu keislaman dan bahkan islam akan dijadikan sebagai alat untuk mengalisis keilmuan yang ditekuninya.  Inilah  yang kemudian menjadi alasan filosofis mengapa kita  harus menjadi UIN, yakni integrasi keilmuan itu sendiri.

Dengan demikian sesungguhnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan perubahan tersebut, hanya saja sekali lagi seleksi kementerian agama memang sangat diperlukan sebelum memberikan rekomendasi perubahan tersebut.  Hanya PTAIN yang telah siaplah yang segera diberikan rekomendasi, sementara yang belum siap harus didorong untuk mempersiapkan dirisecara cermat dan matang.  Dengan begitu perguruan tinggi Islam akan dapat melaju dengan kecepatn tinggi untuk mengejar ketertinggalannya degan perguruan tinggi yan sudah terlebih dahulu maju, bahkan diharapkan universitas Islam justru akan lebih bisa melaju di depan.  amin

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.