GUYUP

Sebagai makhluk social, manusia memang harus bergaul dengan sesame dan tidak mungkin bisa hidup sendiri.  Artinya untukmencukupi kebtuhan sehari-hari, manusia tidak mungkin bisa melakukannya sendiri, tetapi harus saling bekerjasama dengan manusia lainnya.  Untuk makan saja ia harus membutukan bantuan banyak orang.  Kalau yang dia makan ialah nasi, maka  ia perlu bantuan petani untuk menanam padi, memanen, menumbuk dan akhirnya memasak.  Itu hanyalah gambaran kasar betapa seseorang itu tidak akan mungkin bisa hidup sendiri. Belum lagi kebutuhan lainnya, seperti pakaian, rumah dan kebutuhan primer lainnya.

          Demikian juga ketika kita hidup di masyarakat, tentu juga tidak akan mungkin dapat hidup secara sendiri, tetapi harus saling membantu untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman dan lestari.  Barangkali itulah yang menyebabkan  adanya kelompok Rukum Tetangga dan Rukun Warga.  Karena tanpa adaya kerjasama yang  dibangun atas kesadaran bersama, akan sangat sulit dapat menikmati kehidupan  dengan nyaman.  Bagaimana tidak, semisal ketika kita sedang sakit saja, kita sudah barang pasti membutuhkan bantuan orang lain, bahkan ketikan kita meninggal juga membutuhkan bantuan pihak lain.

          Sehingga dengan demikian  kalau ada orang yang tidak mau bekerjasama atau guyup rukun bersma dengan sesamanya, tentu ia akan menemui kesusahan pada waktu-waktu tertentu.  Barangkali memang ada orang yang mengandalkan hartanya ntukdapat hidup tanpa membutuhkan bantuan orang lain atau tetangga, namun  harta yang dimilki tidak akan dapat menolongnya dari sakit dan kematian.  Kita bisa membayangkan betapa nelangsanya, kalau seandainya  dia mati dan kemudian  tidak ada seorangpun yang mau mendekat.  Sudah dapat dipastikan keluara yang ditinggalkan akan mendapatkan kesusahan yang besar.

          Memang tidak akan mungkin ada  jenazah yang dibiarkan begitu saja oleh masyarakat, meskipun orang yang meninggal sama sekali tidak mau bergaul dengan masyarakat, karena ternyata masyarakat kita cukup baik, meskipun sangat mungkin kehadiran mereka untuk menguburkan jenazah tersebut dengan sangat terpaksa.  Disamping itu memang  masyarakat kita masih taat dengan ajaran agama yang mewajibkan bagi masyarakat untuk menguburkan jenazah, walaupun  hanya sebatas kewajiban kolektif, sehingga kalau sudah ada yang mau menguburkannya, maka seluruh masyarakat telah gugur kewajibannya.

          Untuk itu seharusnya semua orang menyadari  pentingnya kerjasama dan guyup dalam bermasyarakat, lebih-lebih pada saat saat tertentu dimana  masyarakat memerlukan kebersamaan untuk membangun kampong dan lingkungannya.  Biasanya pada saat menjelang Ramadlan seperti ini, dan juga menjelang peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia, masyarakat bekerjasama untuk memperbaiki lingkungan masing-masing.  Dalam kondisi seprti itulah diperlukan kekompakan dan guyup rukun seluruh warga  dalam membangun lingkungannya, agar tampak  tertib dan rapi  serta  eanak dipandang.

          Keguyupan tersebut tentunya sesuai dengan kemempuan masing-masing warga;  Ada dianatara mereka yang harus melakukan pekerjaan  berat dan ada yang melakukan pekerjaan yang cukup ringan, etapi yang terpenting ialah keguyupan seluruh masyarakat dalam memperbaikilingkungannya tersebut. Semua itu disebabkan memang  kebiasaan dan pekerjaan warga masyarakat tidak semuanya sama, sehingga dalam mlakukan perbaikan laingkungan tersebut juga dsesuaikan dengan kemampuan mereka masing-masing.  Dalam masalah ini, yang diperlukan ialah sikap rukun dan kebersamaan, dan bukan porsi dalam melakukan pekerjaan.

          Kebersamaan dalam melakukan berbagai kegiatan untuk kepentingan warga seperti itu, biasanya dikenal debagai kerja bakti.  Memang bukan berarti ketika ada kerja bakti seperti itu semua warga harus mengikutinya dan tidak diperbilehkan melakukan aktifitas lainnya di luar kerja bakti, bukan seperti itu.  Ragam kegiatan yang dilakukan oleh warga memang harus dimengerti dank arena itu semua warga tidak boleh melakukan tindakan yang dapat merusak kebersamaan.  Jadi kalau  pada saat kerja bakti, ada warga yang kebetulan harus melakukan pekerjaan yang memang menjadi kewajibannya, tentu semua warga harus bisa memahaminya dan tidak mempersoalkannya.

          Demikian juga kalau pada saat kerja bakti ternyata ada sebagian warga yang kebutulan harus pergi disebabkan ada kepentingan yang memang tidak dapat ditunda, seperti ada saudaranya yang kesripahan, sedang hajatan, ataupun  lainnya, tentu yang seperti itu juga harus dapat dimengerti.  Namun demikian biasanya  bagi mereka yang kebetulan tidak bisa mengikuti kerja bakti secara bersama-sama,  mereka akan tetap berpartisipasi  dengan memberikan  minuman atau[pun makanan kecil lainnya  bagi mereka yang melakukan kerja bakti.  Dengan penegertian yang seperti itu akan semakin  menjauhkan dari prsangka buruk dan tetap menjaga hubungan baik diantara masyarakat.

          Namun yang patut disayangkan ialah  kalau ada sebagian masyarakat yang memang tidak mau tahu dengan segala aktifitas warga masyarakat, bahkan seolah mereka itu sama sekali tidak butuh dengan kerja bakti dan kebersamaan ataupun sikap guyup seperti itu.  Anehnya tipe  orang semacam itu selalu ada  dihampir setiap tempat.  Dan orang semacam itu memamg selalu akan membuat masalah, lebih-lebih kalau  yang bersngkutan ternyata orang yang suka nekat  dalam setiap tindakannya.  Seharusnya masyarakat memang harus memberikan pelajaran kepada orang yang seperti itu, namun seringkali masyarakat tidak mau ambil peduli dengannya dan dibiarkan saja sampai yang bersngkutan sadar atau bahkan pindah tempat.

          Kita sangat menyadari bahwa tipe orang semacam tu memang selalu  menjadi ganjalan dalam berbagai macam kegiatan yang mengarah kepada perbaikan.  Biasanya  masyarakat mengambil sikap acuh takacuh kepada orang seperti itu, dan meninggalkannya dwlam berbagai hal dan kesempatan.  Sebab mereka  sangat yakin kalau toh  oaring seperti itu diikutkan dalam  kegiatan masyarakat, maka hanya akan membuat masalah saja dan dapat mengganggu  tujuan  dari kegiatan tersebut.

          Dengan melihat kondisi seperti itu sesungguhnya kita dapat menyimpulkan bahwa guyup atau kebersamaan merupakan sayarat mutlak untuk dapat menciptakan suasana kondusif, sementara itu suasana kondusif tersebut juga merupakan sayarat mutlak bagi tercapainya suatu tujuan yang diidamkan.  Untuk itu  guyup rukun dan kebersamaan memang sangat dibutuhkan dalam semua keadaan dan semua  tempat, tidak hanya di Ruku Tetangga dan Rukun Warga semata tetapi juga dalam berbagai  yayasan dan organisasi yang mencita-citakan suatu tujuan tertentu.

          Bahkan di perguruan tinggi seperti IAIN Walisongo  juga sangat memerlukan keguyupan dan kebersamaan tersebut untuk dapat merengkuh cita-cita luhur yang telah dicanangkan bersama.  Bagaiamana memajukan dan mengembangkan lembaga pendidikan tinggi Islam  terbesar di Jawa Tengah tersebut, juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kebersamaan seluruh warganya untuk maju bersama  dan bekerja bersama sesuai dengan bidang dan fungs masing-masing.

          Mungkin ada pihak yang berpikir bahwa  meskipun tidak ada keguyupan dan kebersamaan, perguruan tinggi akan tetap bisa maju dan berkembang,  namun harus saya sampaikan bahwa barangkal analisa seperti itu ada benarnya, tetapi akan lebih cepat dan tidak menemui kendala, kalau seluruh warga  kampus secara sadar dan tulus, bersama-sama  berkeinginan  untuk memajukan dan mengembangkan lembaga pendidikan ini.  Tentu dengan modal kebersamaan.,   akan lebih mudak dan lebih cepat merealisasikan semua keinginan, ketimbang harus  melakukan upaya membangun dan sekaligus dirubutkan dan diganggu oleh sebagian warganya sendiri.

          Itulah sebabnya  kita semua sangat berharap bahwa seluruh warga IAIN Walisongo Semarang akan dapat memerankan dirinya sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, tanpa harus  meributkan pihak lainnya.  Dan saya sangat percaya bahwa warga IAIN Walisongo mempunyai niat yang sama  untuk bersama membangun dan mewujudkan masa depan IAIN yang lebih baik  dan berdaya saing tinggi serta menjadi rujukan masyarakat Indonesia dalam  berbagai bidang keimmuan yang dikembangkan.

          Itulah pentinya guyup rukun dan kebersamaan dalam segala  hal termasuk dalam membangun IAIN Walisongo kedepan.  Barangkali yang menyebabkan terhambatnya pembangunan di negeri ini, sehingga cita-cita  untuk mendejahterakan masyarakat Indonesia belum juga terwujud, salah satunya ialah tidak adanya keguyupan dan kebersamaan diantara para elite politik dan pemerintah.  Coba kalau seluruh elemen masyarakat dan para pemegang polecy di negeri ini secara guyup dan bersama  memikirkan kesejahteraan masyarakat, tentu sudah  ckup lama masyarakat kita bisa menikmati kehidupan  yang sejahtera tersebut.

          Untuk itu yang bisa kita serukan ialah  agar semua pihak menyadari dan menghentikan keinginan untuk  selalu berbeda serta mulai berkomitmen  untuk segera memperbaiki segala kesalahan.  Kita sangat yakin bahwa dengan sikap seperti itu, masyarakat akan sangat berterima kasih  dan sekaligus mendoakan keselamatan dan kesehatan kepada  semua pihak yang selama ini selalu tampak bertikai.  Semoga Allah memberikan kesadaran  kepada mereka dan menyelamatkan bangsa ini dari kegagalan meraih kesejahteraan untuk selama-lamanya. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.