SARMINI

Beberapa minggu terakhir ini nama Sarmini menjadi terkenal seiring dengan keberhasilannya lulus diploma dalam posisinya sebagai pembantu rumah tangga.  Sesungguhnya kisah hidupnya sampai ia mendapatkan ijazah diploma di universitas terbuka Malaysia tersebut tidak terlalu istimewa, tetapi disebabkan banyaknya kisah menyedihkan  dari para TKW di luar negeri, bahkan sampai ancaman hukuman mati atau sudah dieksekusi mati, kisah Sarmini tersebut menjadi istimewa.  Kenapa saya katakana sesungguhnya kisah sarmini tidak terlalu istimewa, ya  karena sispapun yang mempunyai kemauan kuat untukmaju, tentu aka nada jalan keluar yang memungkinkan seseorang tersebut dapat meraih mimpinya.

Tetapi memang Sarmini perlu diberikan pernghargaan dan menjadi teladan bagi semua TKW di luar negeri, agar tidak terlalu menjadi beban bagi seluruh masyarakat.  Barangkali ada yang mengatakan bahwa Sarmini memang lagi beruntung mendapatkan majikan yang begitu baik, tetapi saya yakin bahwa majikan yang sebaik majikan Sarmini itu juga cukup banyak, hanya saja karena kemauan kebanyakan TKW kita untuk maju melalui pendidikan yang kurang, maka kesempatan yang terbukapun menjadi sia-sia.

Siapapun orangnya, asalkan ia mempunyai ghirah atau keinginan yang tinggi untuk maju dan memperbaiki nasibnya tentulah di sana akan  ada jalan.  Artinya kalau seseorang  ada keinginan untuk belajar untuk meningkatkankemampuan dirinya dan pada akhirnya akan menjadikan dirinya sebagai manusia yang berhasil, maka ia akan berupaya sekuat tenag untuk menuju kesana, meskipun secara financial tidak memungkinkan.  Caranya ya seperti yang dilakukan oleh Sarmini tersebut dengan menjadi TKW untuk mencari modal yang tujuannya untuk meneruskan kuliah.

Saya rasa orang yang mempunyai tekad seperti Sarmini sangat sedikit, dan terbanyak ialah bagaimana mencari uang agar bisa hidup enak, bahkan kalau bisa dengan cara instan.  Akibatnya banyak diantara mereka yang kemudian justru sangat menyesal, karena harta yang mereka cari justru dengan cepat menghilang atau tidak akan mencukupi ehidupannya di masa depan.  Kita memang menyadari kondisi seperti itu, tetapi  dengan adanya kisah Sarmintersebut seharusnya menjadikan kita sadar bahwa ternyata masih ada  anak bangsa ini yang meskipun dililit oleh kemiskinan, tetapi semangatnya untuk maju dan membekali diri dengan pengetahuan ternyata sangat besar.

Untuk itulah menurut saya harus ada upaya nyta dari mereka yang  bertanaggung jawab atas kecerdasan bangsa untuk segera menjemput mereka yang mempunyai ghirah tinggiuntuk meneruskan belajar dengan memberikan biasiswa penuh kepada mereka.  Sangat ironis memang ketika kita sedang gencar menggiatkan pendidikan dengan menaikkan anggaran APBN mejadi 20 % ternyata masih banyak anak bangsa ini yang tidak bisa menikmatinya, bahkan sekolah-sekolah yang mempunyai prestasi baik malahan  berlomba untuk menaikkan biaya, sehingga hanya mereka yang kebetullan kaya saja yang dapat menikmatinya.

Memang banyak beasiswa yang diberikan oleh pemerintah, namun ternyata masih banyak yang salah sasaran.  Artinya, bahwa beasiswa yang digelontorkan tersebut tidak mengalir kepada mereka yang memang  berhak dan sangat membutuhkan, tetapi malahan justru mengalir kepada mereka yang sesungguhnya telah cukup dan tidak lagimembutuhkan.  Akibatnya masih banyak anak bangsa ini yang tidak bisa sekolah atau meneruskan kuliah karena terbentur masalah biaya.  Sementara di pihak lain mereka yang sudah mampu malahan mendapatkan support bea siswa yang berlimpah.

Saya memang sependapat bawa mereka yang sudah dianggap cukup, didorong untuk melanjutkan pendidikan mereka dengan diberikan bantuan beasiswa, seperti para dosen, para guru dan tenaga kependidikan lainnya, tetapi manakala masih ada anak bangsa ini yang  sangat membutuhkannya, maka harus ada skala prioritas.  Mereka yang tidak dapat meneruskan studinya  harus didorong untuk melnjutkan studi mereka dengan diberikan beasiswa penuh hingga selesai, tetapi kalau misalnya  masih ada  anggaran yang memungkinkan untuk membantu mereka yang sudah relative cukup tersebut juga tidak ada persoalan.

Kenyataannya sekarang ini ternyata sangat berbeda dengan keinginan tersebut.  Artinya  masih banyak anak bangsa yang  tidak bisa meneruskan studinya disebabkan tidak mampu membiayainya, tetapi justru mereka yang sudah cukup mampu malah mendapatkan bantuan biaya studi bahkan sangat berlimpah.  Kondisi njompalng ini seharusnya  segera diakhiri, bukan berarti saya menginginkan para guru dan dosen tidak perlu dibantu, sama sekali ukan seperti itu.  Hanya saja mereka yang  benar-benar membutuhkan biaya studi harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Saya sangat yakin bahwa biaya pendidikan yang 20%  dari total APBN  itu sangat cukup untuk membiayai studi mereka yang saat ini tidak dapat menikmati pendidikan.  Hanya sayangnya  kejelian dan  kejujuran para petugas yang menangani  persoalan ini perlu ditingkatkan sehingga akan didapatkan informasi valid dari masyarakat yang benar-benar membutuhkan.  Dengan demikian pemerintah, dalam hal ini para pengambil keputusan bisa memprioritaskan kepada mereka, sehingga tidak ada satupun anak bangsa ini yang tidak dapat mengeyam pendidikan, setidaknya  pendeidikan dasar hingga SLTA.

Kembali kepada Kisah Sarmini, seorang  anak desa di kabupaten Banyumas, yang meskipun orang tuanya tidak mampu menyekolahkan nya hingga perguruan tinggi, tetapi tidak menyurutkan niatnya untuk tetap melanjutkan kuliah.  Untuk itulah ia mencari cara bagaimana agar cita-citanya menjadi seorang guru tersebut dapat diraih.  Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi TKW agar setelah mendapatkan modal, ia nantinya akan dapat meneruskan kuliah untuk merengkuh cita-cita luhurnya menjadi seorang pendidik.

Sarmini memang seorang yang kuat niatnya, bagaimana tidak, biasanya seseorang yang tidak kuat niatnya akan sangat mudah tergoda dengan persoalan materi yang ada di hadapannya.  Banyak orang yang awalnya mempunyai cita-cita seperti sarmini, tetpi kemudian setela bekerja dan mendapatkan upah yang cukup, mereka  kemudian lupa  terhadap cita-cita dan niatntnya semula dan lebih suka untuk terus  bekrja yang telah jelas mendapatkan harta.  Mereka  kebanyakan erpikiran bahwa  meskipun  banyak yang kuliah dan sudah menjadi sarjana, toh diantara mereka banyak yang nganggur dan tidak bekerja.  Kalau selesai kuliah masih harus  berjuang mencari  dan mendapatkan pekerjaan, kenapa  kiata yang telah memperoleh pekerjaan harus dilepaskan,hanya untuk mengejar pendidikan.

Mungkin alasan sepintas mereka  masuk akal, melihat kondisi riil di masyarakat kita yang memang seperti gambaran mereka.  Tetapi Sarmin tidak termasuk mereka yang mengikuti aliran seperti itu.  Ia tetap menganggap bahwa pendidikan itu sangat penting, karena dengan pendidikan itulah orang akan dapat meraih cita-citanya.  Sarmini sangat yakin bahwa dengan pendidikan yang tinggi dan kemampuan yang cukup, maka akan banyak jalan yang bisa ditempuh untuk meraih sukses.  Dan ternyata keyakinan Sarmini tersebut menjadi kenyataan, yaitu setelah ia sukses meraih title diploma 3 dan ditambah kemampuannya  dalam berbahasa Inggris, ia kemudian langsung mendapatkan tawaran kerja dan mengabdi dari bupatinya.

Itu adalah salah satu jalan yang akan mengangkat derajatnya dari seorang yang tidak mampu dan harus menjadi TKW untuk kemudian menjadi orang yang relative berhasil dan mulia hidupnya.  Saya kira disamping usaha yang harus terus diupayakan oleh pemerintah  sebagaimana yang saya sebutkan tadi, kiranya semangat yang dimiliki oleh sarmini sangat perlu ditanamkan ke dalam jiwa seleuruh masyarakat kita, agar tidak cepat puas dengan apa yang ada, tetapi terus berusaha untuk menjadi orang yang pandai serta  pada saatnya bisa mendapatkan sesuatu yang menjadi cita-citanya.

Semangat pantang menyerah dan tidak cepat puas dengan apa yang ada, merupakan sikap yang  penting untuk ditanamkan oleh siapa saja kepada  anak-anak dan generasi muda, agar mereka dapat menjadi manusia yang berguna dan membangun bangsanya kedepan dengan lebih baik.  Kita tentu tidak rela bahwa anak-anak kita nantinyajustru akan menjadi beban bagi kita, tidak mampu mengembangkan kreatifitas mereka menuju kemajuan yang memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan bangsa, serta malah menimbulkan persoalan baru.  Untuk menghindarkan  mereka dari kemungkina tersburuk seperti itu, kita  harus mencanangkan  gerakan cinta belajar kepada mereka, agar mereka mencintai ilmu pengetahuan serta menguasi teknologi, dalam menghadapi dunia yang semakin kompetitif dan global ini.

Semoga  hal seperti ini menjadi kesadaran missal dan didorong oleh kesungguhan dari pemerintah  untuk terus memberikan dorongan dan sanksi nyata bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikan sampai minimal lulus SLTA.  Demikian juga dengan dunia kerja dan seluruh perusahaan agar  ikut mendorong  terjadinya suasana kondusif untuk pendidikan, dengan memberlakukan ketentuan bahwa para buruh dan  tenaga kerja mereka harus berijazah minimal SLTA.  Kondisi seperti ini memang harus dilakukan secara serempak oleh seluruh komponen masyarakat kita secara ketat, sehingga tujuan utama mensejahterakan masyarakat akan dapat terwujud.

Pada akhirnya kita hanya bisa berharap kepada pemerintah agar memprogramkan  wajib belajar sampai tingkat SLTA dengan konsekwen memberikan bantuan biaya bagi mereka yang memang  tidak mampu dari sisi biaya.  Dengan usaha nyata seperti itu, kita menjadi yakin bahwa dalam sepuluh tahun kedepan, bangsa ini akan menjadi lebi maju dan dihargai oleh bangsa lain.  Dan dengan sendirinya tingkat kesejahteraan mereka akan relative lebih baik dibandingkan dengan kondisi saat ini.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.