MENUNGGU ITU MEMBOSANKAN

Hampir setiap orang pasti pernah merasakan betapa sangat tidak nyamannya menunggu, ya menunggu apapun, termasuk menunggu sesuatu yang sangat kita nantikan.  Pekerjaan menunggu merupakan pekerjaan yang paling menjengkelkan, dan membuat kita uring-uringan, apalagi kalau menunggu tersebut kita akan kehilangan beberapa kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.  Sementara itu tidak ada yang bisa kita lakukan dalam menunggu tersebut, sehingga waktu kita sering muspro atau sia-sia tanpa menghasilkan sesuatu yang  dapat memberikan manfaat.

Tetapi  diantara menunggu yang paling membuat kita sangat tertekan ialah menungu pesawat yang ditunda keberangkatannya.  Betapa tidak tertekan, jengkel, dan berbagai perasaan sebel lainnya, kalau dengan ditundanya pesawat yang akan mengantarkan kita ke kota tujuan, beberapa kesempatan akan hilang dan sangat merugikan kita, sementara maskapai penerbangan tidak akan merasakan apa-apa.  Terkadang diantara kita ada yang seharusnya menghadiri sebuah perhelatan seperti akad nikah atau menghadiri upacara tertentu, atau mengundang rapat penting, atau berbagai kepentingan lain  yang akan menjadi berantakan disebakan ditundanya penerbangan tersebut.

Bahkan yang lebih menjengkelkan lagi ialah penundaan tersebut sangat lama, terkadang sampai 2 jam dan tidak ada pemberitahuan tentang alasan apapun.  Menurut saya  semua ini merupakan akibat dari kekurang profesionalan menejemen maskapai tersebut.  Betapa tidak, kalau menejemen maskapai penerbagangan tersebut baik, tentu aka nada upaya perbaikan dan kalau kemudian terjadi penundaan akan segera memberitahukan kepada para penumpang tentang keterlambatan tersebut serta meminta maaf atas ketidak nyamanan para penumpang.

Memang kita dapat mengerti kalau misalnya dengan buruknya cuaca misalnya, akan dapat mempengaruhi  jadwal penerbangan, dan hal tersebut terus terkait secara karambol, karena memang penerbangan dari suatu tempat ketempat lainnya biasanya juga tergantung dari kedtangan pesawat dari penerbangan sebelumnya.  Tetapi kalau hal tersebut disampaikan secara baik, tentu akan banyakpenumpang yang memahami, tetapi kalau keterlambatan tersebut tidak disampaikan, sehinggamembuat para penumpang menjadi emosi, menurut saya  itu sudah merupakan sikap keterlaluan menejemen yang tidak mengindahkan dan bahkan tidak menghargai pelanggan.

Tetapi parahnya lagi pada saat cuaca cukup baik dan sebagian penerbangan lainnya bisa diberangkatkan sesuai jadual, namun salah satu penerbangan yang kebetulan akan kita tumpangi ternyata ditunda sampai beberapa jam tanpa alasan yang jelas, tentu hal tersebut tidak dapat ditolerir.  Meskipun demikian terkadang kita dibuat tidak berkutik, karena ternyata penerbangan tersebut ialah penerbangan satu-satunya untuk rute tersebut dan hanya satu atau dua kali dalam satu harinya.  Inilah yang  membuat ketidak berdayaan para penumpang.  Atau barangkali karena kondisinya yang demikian, menejemen kemudian dapat berbuat seenaknya dan tidak professional?

Apapun kondisi yang ada saat ini, dimana maskapai penerbangan sudah membuat tidak nyaman pelanggannya, dan dengan keterpaksaan mereka masih saja menggunakan jasa maskapai penerbangan tersebut, kita berharap bahwa menejemen  segera menyadari keadaan tersebut dan kemudian melakukan upaya-upaya nyata untuk memperbaiki layanan kepada para pelanggan, sehingga pada saatnya nanti ketika  ada maskapai penerbangan lain yang beroperasi di rute tersebut, para pelanggan akan tetap setia dengan maskapai tersebut.

Semua iitu sesungguhnya merupakan urusan menejemen dan sama sekali bukan urusan kita para pelanggan, namun karena imbas dari keadaan tersebut ternyata juga mengena kepada para pelanggan, maka perlu ada peringatan  agar menejemen tidak lagi mengabaikan suara dan keluhan pelenggan.  Menurut saya kerugian yang dialami pelanggan ialah kerugian waktu dan kesempatan.  Barangkali ada  sebagian penumpang yang tidak terlalu terpengaruh dengan ditundanya penerbangan, tetapi pasti di san akan ada pihak yang sangat dirugikan.  Kita tentu menyadari bahwa kepentingan masing-masing orang itu bervariasi; ada yang harus segera sampai ditempat tujuan karena memang sedang ditunggu kedatangannya, semisal orangyang ditunggu atas kematian sanak keluarganya, atau ditunggu untuk memberikan  ceramah dalam  acara resmi, ada yang ditunggu untuk  kepentingan pasien yang akut dan lainnya.

Sementara itu dipihak lain ada juga yang telah melakukan perjanjian dengan koleganya untuk melakukan transaksi besar dan terbatas waktunya, atau sedang ditunggu oleh pihak yang memerlukan jasanya dan berbagai kepentingan lainnya yang semua itu memerlukan waktu yang tepat atau setidaknya toleransi yang dapat dimengerti.  Tetapi denga ditundanya penerbangan yang akan kita naiki, tentu akan membuat semua yang telah dirancang sebelumnya menjadi  amburadul.  Dan semua itu seharusnya menjadi pertimbangan menejemen maskapai penerbangan, sehingga  aka nada upaya perbaikan  serta pelayanan yang memuaskan.

Apa yang pernah saya alami tentang keterlambatan penerbangan tersebut sungguh sangat merugikan, yakni bahwa untuk mempercepat smpai ditempat tujuan, saya mengambil transfer pesawat yang berbeda, padahal jarak normal antara kedatangan pesawat yang saya tumpangi dengan keberangkatan pesawat transfer yang akan membawa saya kepada tujuan lainnya ialah sekitar 90 menit.  Tetapi gara-gara penundaan keberangkatan pesawat pertama yang saya tumpangi, akhirnya  saya harus tertinggal oleh penerbangan berikutnya, dan  gagallah tujuan saya tersebut.  Kerugian yang saya tanggung tidak hanya berupa immaterial, tetapi juga sekaligus kerugian materiil, meskipun yang lebih menyakitkan ialah kerugian immaterial.

Kisah seperti yang saya alami tentunya  masih cukup banyak, bahkan ada yang lebih tragis lagi.  Seharusmua maskapai penerbangan sekali-kali melakukan suvey kepada para pelanggan untuk meningkatkan kualitas layanannya.  Tetapi boro-boro melakukan survey untuk memperbakikualitas layanan, protes yang dilakukan oleh pelanggan saja sering tidak dihiraukan.  Dan bahkan seolah mereka tidak merasa bersalah, serta mereka tidak takut ditinggalkan oleh pelanggannya, karena mereka menganggap tidak ada pilihan lain.  Atau bahkan kalau toh ada maskapai penerbangan lain toh sikapnya sama saja  dan kalau ada pelayanan yang lebih baik, harga tiketnya jauh lebih mahal.

Inilah sesungguhnya persoalan yang ada, yakni mental yang sangat rapuh dan tidak professional.  Sementara  dipihak lain, yakni masyarakat pengguna masih selalu mempertimbangkan murah dan mahalnya  harga tiket dan kurang memperhatikan kulaitas layanan yang diberikan.  Jadi persoalannya menjadi sangat kompleks, tidak saja berhubungan dengan menejemen maskapai semata, tetapi juga persoalan sikap masyarakat dan kondisi social kita secara umum.  Namu setidaknya  kalau emenjemen maskapai bersikap lebih baik dan mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki layanan, dan kalau toh terpaksa ada penundaan jadual penerbangan mau memberitahukan lebih cepat dan memohon maaf, saya rasa itu sudah lebih baik dan cukup untuk memberikan ras puas kepada para pelanggan.

Bangsa kita itu bangsa pemaaf dan mudah mengerti kondisi pihak lain.  Artinya meskipun mereka itu sangat tidak nyaman, sangatjengkel dan bahkan marah, tetapi kalau kemudian dimintai maaf, tentu mereka akan mereka lega dan dapat mengerti serta sedikit mengurangi kejengkelan serta marahnya tersebut.  Itulah barangkali yang perlu segera dilakukan oleh menejemen penerbangan, sebelum bisa melkukan perombakan system menjdi lebih baik lagi.

Ditinjau dari aspek agama meminta maaf atas keasalahan itu juga sangat dianjurkan.  Demikian juga memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggan itu juga menjadi kewajiban penyedia jasa seperti maskapai dan lainnya.  Bahkan menurut tuntunan agama yang kita yakini, bahwa membuat jengkel pihak lain, atau menyakiti perasaan pihak lain, ataupun menciptakan suasana tidak nyaman yang menyebabkan pihak lain menjadi sakit hati  atau emosi adalah merupakan salah satu perbuatan yang dilarang.   Apalagi kalau semuanya itu berhubungan dengan pekerjaan yang seharusnya kita lakukan dengan baik, tentu akan menjadi larangan yang sangat.  Dengan demikian upaya memperbaiki pelayanan dengan segala bentuknya sesungguhnya merupakan perbuatan baik yang  diperintahkan agama kita.

Jadi dengan demikian pekerjaan yang kita lakukan dalam upaya bisnis, kalau dilakukan dengan baik dan sungguh-sungguh ternyata juga akan bisa menjadi amal baik dan sekligus mendapatkan pahala, sehingga kita akan bisa mendapatkan keuntungan  ganda, yakni mendapatkan keuntungan di dunia karena bisnis kita lancer serta mendapatkan keuntungan akirat dengan diberikannya balasan pahala  atas kinerja kita.  Semoga Allah SWT senantiasa membukakan hati kita untuk menyadari semua itudan kemudian  ada ghirah untuk memperbaiki segala kekurangan menuju kesempurnaan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.