HAK MENGAKSES PENDIDIKAN BAGI TUNA NETRA

Ketika ada seorang kawan dosen datang dan mengajukan pertanyaan “ dapatkah IAIN Walisongo Semarang menerima calon mahasiswa yang tuna netra”?. Sejenak saya menjadi gelagapan dan tidak dapat menjawab secara pasti, tetapi tentu saya harus memberikan jawaban yang sekiranya aakan membuat dia cukup lega.  Pada saat itu saya menjawab bahwa pada dasarnya IAIN Walisongo tidak membedakan semua  masyarakat dari golongan apapun, termasuk mereka yang tunanetra.  Namun  yang harus dimengerti ialah secara teknis, apakah mereka yang menyandang cacat tertentu tersebut akan dapat  mengikuti aktifitas yang dilakukan oleh keseluruhan mekanisme perkuliahan?

Sepanjang mereka dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan kondisi dan fasilitas yang ada, saya kira tidak ada alas an untuk tidak memperkenankan mereka mengikuti kuliah di lembaga ini.  Hrus kita akui bahwa IAIN Walisongo Semarang memang belum mempunyai fasilitas yang dibutuhkan bagi para penyandang cacat tertentu semacam tunanetra, tunarungu dan lainnya.  Namu bukan berarti bagi mereka yang mempunyai ghirah besar untuk melanjutkan studi di lembaga ini kemudian tidak dapat diterima hanya disebabkan cacat yang mereka punyai, tentu akan terasa tidak adil dan sangat mumngkin dapat dianggap “diskriminatif”.

Artinya sepanjang para penyandang cacat tertentu tersebut memenuhi syarat yang ditentukan, seperti telah lulus SLTA, mengikuti prosedur pendaftaran sebagaimana telah ditetapkan dan mengikuti tes masuk, serta kemudian memenuhi standar kelulusan, maka  yang bersangkutan tentu berhak untuk diterima sebagai mahasiswa di IAIN Walisongo semarang.  Memang juga harus diketahui ada beberapa program studi yang telah ditetapkan persyaratan khusus, misalnya untuk prodi tadris kimia yang mengharuskan peserta didiknya tidak boleh buta warna, apalagi tuna netra.

Persoalan ini memang  cukup sulit karena  disatu sisi kita berkeinginan untuk memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat tanpa pengecualian, tetapi  pada sisi yang lain kita terkendala oleh peralatan dan fasilitas lainnya dalam upaya menujang mereka yang kebetulan menyandang cacat.  Tetapi setelah kami bicarakan dan diskusikan dengan beberapa pihak, kami berkesimpulan bahwa sepanjang para penyandang cacat tersebut mau menerima fasilitas yang sangat terbatas, serta tidak menuntut sesuatu yang sangat sulit dipenuhi oleh lembaga, tentu mereka akan dapat diterima sebagai mahasiswa IAIN Walisongo, tentu sepanjang memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Selanjutnya dengan melihat kenyataan seperti itu, ke depan  kita memang sudah harus memikirkan tentang  fasilitas yang dapat diakses oleh mereka yang kebetulan menyandang cacat tersebut, sehingga kita tidak perlu lagi memberikan pengertian kepada mereka dan bahkan kita dapat mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat bahwa mereka yang  menyandang cacat dapat melanjutkan studi di IAIN Walisongo, karena lembaga pendidikan tersebut  mempunyai fasilitas untuk membantu mereka yang cacat.

Kalau dipikir lebih jauh, kita ini terkadang sering melupakan dan kurang peduli terhadap saudara kita yang kebetulan diberikan tubuh yang kurang sempurna.  Padahal cukup banyak diantara mereka yang mempunyai ghirah tinggi untuk dapat mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi, dan celakanya kemudian banyak perguruan tinggi yang dengan berbagai alas an teknis, tidak dapat menerima mereka.  Aapakah salah mereka sehingga mereka harus mendapatkan perlakuan berbeda dengan mereka yang kebetulan diberikan tubuh sempurna oleh Tuhan.  Kalau boleh meminta, tentgu mereka tidak akan mau menjadi manusia cacat.  Lantas bagaimana perasaan mereka ketika mereka dipandang remeh oleh kawannya yang mempunyai tubuh relative sempurna.  Tentu kita dapat membayangkan betapa hancurnya perasaan mereka.

Apakah kemudian kita juga tega untuk menambah penderitaan mereka dengan menolak untuk bergabung dengan kita dengan menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang kita kelola.  Tentu jawabannya ialah kita tidak akan rela dan membiarkan mereka terus menderita.  Kita harus menolong mereka dengan memberikan kesempatan untuk meneruskan studi mereka di kampus kita. bHkan kalau perlu kita dapat memberikan fasilitas tambahan yang memungkinkan kita lakukan.  Kalupun kita tidak dapat melakukannya, setidaknya kita harus dapat merencanakan kedepan untuk bisa  memberikan fasilitas yang memadahi kepada mereka.

Saya sangat yakin bahwa  apa yang kita lalkukan dengan menerima mereka untuk bisa menjadi mahasiswa di lembaga ini, walaupun kita belum dapat menyediakan fasilitas yang mencukupi bagi mereka, pasti akan dicatat oleh Tuhan sebagai amal baik dan sekaligus kita akan terus diberikan pertolongan dan kemudahan dalam mengelola perguruan tinggi ini.  Disamping itu masyarakat tentunya juga  mengharapkan bahwa pendidikan tinggi seperti IAIN Walisongo ini juga dapat menerima para calon mahasiswa  yang kebetulan menyandang cacat, seperti tuna netra tersebut, dengan tanpa membedakannya dengan calon mahasiswa normal lainnya.

Kita semua menyadari bahwa hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak adalah milik seluruh anak bangsa tanpa terkecuali, namun memang harus diakui bahwa adakalanya beberapa orang khusus memerlukan perlakuan khusus dan dengan fasilitas khusus.  Hal tersebut semata-mata untuk memberikan pelayanan kepada mereka yang khusus tersebut agar dapat mengakses pendidikan secara baik  dan mendapatkan hasil yang maksimal.  Untuk itu  diperlukan fasilitas khusus seperti itu, dan yang demikian itu menjadi tanggung jawab Negara, sementara masyarakat juga dihimbau agar ikut memberikan kontribusinya, sehingga diharapkan tidak ada seorangpun dari anak angsa ini yang tidak bisa mendapatkan informasi dan pendidikan secara layak.

Nah, karena kondisi yang seperti itulah  ketika pada awalnya saya tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan kawan yang menanyakan persoalan calon mahasiswa yang menyandanag tuna netra menjadi sangat relevan.  Semuanya itu hanya berdasarkan bahwa jangan sampai nantinya setelah menjadi mahasiswa di IAIN Walisongo, justru malahan akan menambah beban dan menyulitkan mereka sendiri.  Saya membayangkan bagaimana  mereka bisa mengikuti perkuliahan yang diakukan oleh dengan dengan menghadirkan power point misalnya, bagaimana mereka bisa mengikuti berbagai ujian tulis yang diselenggarakan, dan bagaimana pula ketika mereka pada akhirnya harus menulis karya ilmiah berupa skripsi misalnya, dan beberapa hal lain yang saya tidak bisa membayangkan betapa mereka akan mengalami kesulitan tersendiri.

Terkecuali kalau jumlah mereka yang akan menjadi mahasiswa tersebut cukup signifikan untuk dijadikan satu kelas tersendiri.  Kalau demikian sangat boleh jadi saya dan juga semua orang tentu akan lebih dapat berpikir cepat untuk bisa menjawabnya.  Padahal apa yang disampaikan oleh kawan tersebut cuma  satu dua orang saja, sehingga mereka harus disatukan dengan para mahasiswa yang normal.  Namun demikian dengan mempertimbangkan berbagai hal termasuk kemungkinan kemungkinan yang dapat dianggap sulit tersebut, saya berkesimpulan, bahwa  belum tersedianya fasilitas sebagaimana diharapkan, bukan menjadi alasan untuk menolak calon mahasiswa penyandang cacat tertentu tersebut, demi memberikan kesempatan yang sama  dalam mengakses pendidikan bagi semua warga bangsa.

Untuk itu saya perlu mengucapkan selamat datang bagi mereka di kampus kami, sepanjang mereka memenuhi persyaratan sebagaimana yang telah ditentukan oleh panitia penerimaan calon mahasiswa baru.  Tetapi yang mesti mereka ketahui ialah bahwa  pada saat ini lembagapendidikan ini belum mempunyai fasilitas khusus yang diperlukan bagi mereka, sehingga  nantinya mereka akan diperlakukan sama dengan mahasiswa pada umumnya.  Hanya saja barangkali untuk beberapa aktifitas yang tidak mungkin dilakukan oleh mereka sendiri, tentu akan dilakukan upaya bantuan seperlunya, dan akan lebih baik kalau mereka kemudian dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Dengan demikian kedepan perguruan tinggi Islam ini akan dapat memberikan pelayanan maksimal kepada seluruh warga bangsa  dengan tidk membeda-bedkan dari aspek apapun.  Meskipun sesungguhnya  sejak semula lembaga pendidikn ini memang  dimaksudkan demikian, tetapi belum pernah muncul kasus seperti saat ini, sehingga tidak pernah ada pemikiran yang memungkinkan para warga bangsa yang mempunyai status khusus tersebut dapat mengakses pendidikan di embaga ini.  Artinya sejak semua lembaga ini sama sekali tidak ada niat untuk mendiskriminasikan warga bangsa, dan terbukti sampai saat ini semua waraga bangsa dan bahkan anak bangsa lain dapat kita terima sebagai mahasiswa sepanjang mereka memenuhi persyaratan, terutama persyaratan formal akademik yang telah ditentukan.

Mudah-mudahan dengan munculnya persoalan ini akan semakin memberikan inspirasi bagi kita semua untuk lebih memberian penekanan kepada pemenuhan sarana yang lebih lengkap, termasuk kemngkinan kemungkinan yang saat ini belum muncul.  Dengan begitu kita akan dapat memberikan pelayanan lebih luas kepada seluruh masyarakat dan bangsa ini. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.