BERHARAP PADA FK PTAIS JATENG

Kalau kita berbicara  tentang perguruan tinggi agama Islam swasta, tentu yang terbersit dalam benak kita ialah sebuah perguruan tinggi yang kurang dalam segalanya; gedungnya, perpustakannya, laboratoriumnya, dosennya, dan lain-lain.  Meskipun tentu ada yang sudah cukup maju dan berkembang, tetapi gambaran tersebut hanya untuk memberikan kesan yang umum bahwa perguruan tinggi agama Islam swasta  banyak yang masih tertinggal. Gambaran umum PTAIS tersebut mewakili keseluruhan PTAIS yang ada di Indonesia, termasuk juga yang ada di wilayah kopertais X Jawa Tengah.

          Menyadari kondisi yang demikian, sebagai coordinator tentu kami merasa sangat perihatin, dan timbullah kemudian niat untuk mengupayakan bagaimana caranya PTAIS, khususnya yang ada di Jawa Tengah menjadi lebih maju dan berkembang secara merata.  Walalupun kami  sangat menyadari bahwa untuk mengupayakan hal tesebut bukanlah pekerjaan yang mudah.  Untuk itulah perlu ada perencanaan yang harus dlalkukan dalam berbagai tahap, sehingga pada saatnya nanti PTAIS di Jateng akan dpat sedikit bangkit dari ketertinggalannya.

          Berbagai motovasi agar PTAIS dapat mengembangkan dirinya, setidaknya telah saya berikan dua kali secara bersama-sama, meskipun dalam setiap kesempatan ada pertemuan dengan mereka tentu akan selalu saya berikan semangat untuk persoalan itu.  Dengan usaha pendahuluan yang demikian ternyat ada beberapa PTAIS yang tersengat dan kemudian berusaha untuk menyahuti apayang selalu aya tekankan dalam upaya memajukan perguruan tinggi yang kita kelola.

          Bahkan saat ini telah dibentuk forum komnikasi perguruan tinggi agama Islam swasta di wailayah kopertais X Jateng yang disingkat FK PTAIS JATENG.  Faorum ini sesungguhnya telah dibentuk pada bulan April lalu, namun karena diperlukan berbagai koordinasi dan konsolidasi diantara mereka, maka baru pada hari Jumat tanggal 24 Juni kemarin forum tersebut dapat diresmikan dan disosialisasikan kepada public.

          Pada dasarnya pembentukan FK PTAIS JATENG tersebut sudah sah dan tidak diperlukan lagi pengesahan dari manapun, tetapi karena mereka berkeinginan bahwa segala yang dilakukannya dapat dianggap sebagai pengabdian mereka dalam pengemangan PTAIS maka mereka kemudian meminta pengesahan dari kopertais wilayah X Jateng dan sekaligus memohon untuk dilantik.  Nah atas kesepakatan mereka senidiri akhirnya direncanakan pelantikan  dan peresmian FK PTAIS JATENG dilaksankan bersamaan dengan program pertama mereka, yakni porseni bagi para mahasiswa PTAIS Jateng dan sekaligus Musyawarah Kerja yang keduanya dilaksanakan secara berbarengan di kampus universitas saint dan ilmu al-Quran (UNSIQ)  Wonosobo.

          Dengan berdirinya FK PTAIS JATENG tersebut tentunya sangat diharapkan  akan mampu menjembatani para anggotanya untuk berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan pengembangan PTAIS itu sendiri, termasuk memberikan advokasi  dalam berbagai hal.  Disamping itu forum juga dapat memberikan berbagai informmasi penting, seperti sertifikasi dosen dan persiapannya, akreditasi program studi dengan segala persyaratan dan persiapannya, dan berbagai kita untuk mendapatkan  bantuan dari pemerinah.

          Kita semua tahu bahwa nasib PTAIS itu berbeda dalam hal perhatian pemerintah daerah kepada mereka;  ada sebagian PTAIS yang  sangat dekat dengan para pejabat di daerah, dan hamper setiap tahunnya bisa mendapatkan bantuan yang cukup besar untuk memenuhi berbagai fasilitas di kampusnya,  tetapi tidak sedikit yang sama sekali belum pernah mendapatkan sentuhan tangan pemerintah daerah tersebut, sehingga diperlukan berbagai kiat bagaimana  caranya untuk bisa mendapatkan bantuan pemerintah daerah untuk memenuhi berbaga fasilitas di kampus dan lainnya.

          Demikian juga sebagian PTAIS, ada yang dapat menembus kementerian Agama di Jakarta, sehingga mendapatkan beberapa fasilitas, seperti bantuan laboratorium, bantuan kelas, bantuan peralatan, dan lainnya,  tetapi ada juga sebagia PTAIS yang sama sekali belum pernah mendapatkannya, meskipun sudah berusaha untuk membuat proposal dan mengajukannya.  Nah, hal yang seperti itu tentu memerlukan beberapa kiat yang tidak semua orang dapat melakukannya.  Dengan FK PTAIS JATENG tersebut diharapkan, bahwa ilmu tentang kiat-kiat tersebut kiranya dpat ditularkan kepada sesame pimpnan PTAIS agar pada saatnya nanti seluruh anggota FK PTAIS JATENG tersebut dapat maju dan berkembang bersama-sama.

          Disamping itu keberadaan FK PTAIS JATENG tersebut juga akan memudahkan pekerjaan kopertais atau setidaknya  tugas kopertais akan sedikit terbantu, terutama dalam hubungannya dengan koordinasi dan bagaimana berkumpul untuk membicarakan segala sesuatunya dan juga untuk memberikan informasi penting lainnya.

          Memang untuk urusan informasi sesungguhnya sudah tidak zamannya lagi kalau kita sangat khawatir, karena alat komunikasi telah memberikan kemudahan dan menjanjikan kecepatan dan ketepaannnya,  namun harus diakui bahwa dalam kenyataannya masih ada beberapa PTAIS yang belum menggunakan fasilitas teknologi tersebut untukmendukung pengelolaan perguruan tinggi.  Bahkan untuk akses internet sekalipun ada yang belum melaksanakannya, terkecuali karena sebuah keterpaksaan.

          Untuk itu kopertais sudah memprogramkan komunikasi antara kopertais dengan PTAIS tidak lagi melalui surat menyura, terkecuali yang memang mengaharuskanna, tetapi secara umum komunikasi harus dilaksanakan lewat e mail, dan setiap PTAIS  harus selalu aktif menggunakan dan membuka e mailnya.  Dengan program semacam ini pada saatnya nanti kita tidak akan dapat menerima kalau ada salah satu PTAIS yang merasa tidak mendapatkan undangan atau informasi tentang hal penting, yang sesungguhnya telah diberikan oleh pihak kopertais dan juga mungkin FK PTAIS JATENG melalui e mail.

          Pengembangan PTAIS sebagaimana  yang saya katakan di atas tidaklah mudah dan harus memerlukan waktu yang cukup, disamping kemauan dan keberanian pengelolanya untuk melakukan berbagai inovasi dan pembaharuan dalam berbagai bidang, terutama dalam hal SDM dosen. Sebagaimana sering saya katakana bahwa untuk mengembangkan lembaga pendidikan kita, diperlukan banyak hal.  Diantara yang harus dilakukan ialah kemauan pimpinan dan pengelola untuk maju dan berkembang, sebab tanpa ghirah atau kemauan yang keras untuk maju, tentu tidak akan ada usaha nyata yang dilakukan serta tidak ada target yang dicanangkan sehingga tidak akan memompa semangat untuk berkreasi.

          Pembekalan pengelola dengan ilmu leadership dan menejemen yang cukup tentu merupakan hal mutlak lainnya yang harus dilakukan dalam mengembangkan lembaga.  Bekal ilmu menejemen yang cukup dan didukung oleh leadership yang memadahi, seorang pimpinan akan dapat melakukan berbagai upaya serta mengajak orang lain untuk mau melakukan sesuatu yang menjadi tujuan lembaga.  Dengan begitu organisasi dalam lembaga pendidikan tersebut akan dapat berjalan secara mekanik dan menuju kepada arah yang jelas yang menjadi tujuan bersama.

          Disamping itu sebagai seorang pimpinan dengan kondisi lembaga yang sukup memprihatinkan terutama dalam aspek SDM dosen, dibutuhkan sebuah keberanian dalam  mengupayakan rekrutmen dosen muda potensial dan mempunyai komitmen jelas dalam mengembangkan dan memajukan lembaga pendidikan tinggi yang dikelola.  Memang cukup berat, terutama karena para dosen yang saat ini mengajar adalah mereka yang sangat berjasa dalam mendirikan lembaga pendidikan tersebut.  Sementara itu tuntutan kemjuan lembaga menghendaki dosen yang berkualifikasi standar, yakni mereka yang minimal berpendidikan S2 dan mempunyai setifikat menjadi pendidik.  Sedangkan para dosen “tua” yang berjasa tersebut ternyata kebanykan berstatus sebagai PNS dan juga masih banyak yang hanya berpendidikan S1,  dan yang paling tidak dapat ditolerir ialah semangat mereka untuk mengembangkan akademik sangat rendah dan ghirah untuk belajar juga sudah habis.

          Tentu bagi mereka yang masih bersemangat tinggi meskipun telah berusia tua, harus tetap diakomodasi sebagai penyemangat bagi pada dosen muda, lebih-lebih kalau dosen tersebut kemudian memenuhi syarat kualifikasi sebgai dosen profesinal.  Yang justru harus dihindari ialah timulnya like and dislike diantara pengelola dan dosen atau sdm lainnya, Karena kalau hal tersebut muncuk maka hancurlah cita-cita yang telah ditanamkan ke dalam seluruh pikiran keluarga besar lembaga pendidikan tersebut.

          Nah, sekali lagi semua itu tidak akan dapat berjalan dengan mulus dengan sendirinya, melainkan dibutuhkan dorongan yang kuat dari semua pihak dan sekaligus diperlukan adanya control yang serius.  Untuk itu  peran forum komunikasi PTAIS tersebut sungguh sangat diperlukan, demi kemajuan dan perkembangan semua lembaga yangtergabung dalam forum komunikasi tersebut.

          Kami yang di kopertais akan selalu memberikan support kepada semua PTAIS baik langsung maupun melalui forum komunikasi tersebut untuk terus maju dan mengadakan berbagai inovasi dalam berbagai bidang, terutama dalam hal peningkatan kualitas akademik.  Mudah-mudahan dengan dibentuknya forum komunikasi tersebut akan dapat ikut memperkuat posisi PTAIS dan sekaligus dapat mewujudkan cita-cita kita semua untuk memajukan dan mengembangkan lembaga kita . amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.