SUYATI, MALANG NIAN NASIBMU

Saat ini hamper seluruh masyarakat Indonesia sedang membicarakan nasib seorang pahlawan devisa yang mengais rezeki di Arab Saudi dan kemudian mengalami nasib tragis, dihukum pancung, disebabkan telah membunuh ibu majikannya dengan pisau jagal.  Padahal hukuman pancung tersebut dilaksanakan hanya beberapa hari dari pidato presiden RI SBY di ILO PBB yang dengan jelas  bahwa pemerintah Indonesia  telah memberikan perlindungan kepada para pekerjanya.  Sungguh sangat ironis karena pemerintahnya baru saja mendapatkan penghargaan yang demikian bagus di luar negeri karena  “katanya” telah maksimal memberikan perlindungan kepada para tenaga kerjanya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, pemerintah tidak berdaya untuk melakukan perlindungan kepada mereka.

Banyak orang kemudian membandingkan pemerintah Indonesia dengan pemerintah Australia, yang begitu peduli dengan nasib hewannya.  Kita tahu bahwa pemerintah Australia terpaksa menghentikan exportnya ke Indonesia setelah mengetahui bahwa sapi yang diexport ke Indonesia ternyata diperlakukan tidak  baik, yakni disiksa sebelum di potong, yang dilakukan di sebuah pemotongan hewan.  Apalagi kalau misalnya warga negaranya diperlakukan tidak manusiawi, tentu mereka akan melakukan pembelaan mati-matian.  Demikian juga dengan pemerintah Filipina yang terus melakukan upaya-upaya kongkrit untuk melindungi warganya yang berada di luar negeri, termasuk yang ada di Saudi Arabia.

Tetapi  Pemerintah Indonesia  tidak bisa berbuat apa-apa ketika  warganya mengalami masalah serius dan diancam hukuman mati muisalnya,  Yang lebih menyedihkan lagi ialah bahwa kasus Suyati ini bukan yang pertama kalinya, tetapi justru untuk yang 28 kali pada tahun ini, belum lagi kasus-kasus penyiksaan kepada TKI kita oleh majikannya di luar negeri, juga tidak pernah ada penyelesaian yang memuaskan.  Sesungguhnya kalau pemerintah serius dalam menangani persoalan ini, masih ada jalan yang bias ditempuh, karena dahulu sudah pernah ada kasus semacam itu dan kemudian dilakukan upaya khusus dan ternyata berhasil.  Pada saat zaman presiden Gus Dur kasus semacam ini pernah terjadi dan kurang satu minggu untuk eksekusi, Gus Dur menemui raja Arab Saudi untuk memintakan maaf dan ternyata berhasil, sehingga hukuman mati tidak jadi dilaksanakan dan hanya dihukum penjara.

Disamping usaha seperti itu kiranya pemerintah juga harus melakukan berbagai usaha diplomasi untuk menguatkan bargaining TKI kita di Negara lain.  Selama ini yang menjadi persoalan ialah lemahnya diplomasi kita terhadap Negara lain, sehingga seolah-olah kita “diremehkan” saja oleh beberapa Negara lain, terutama yang berkaitan dengan persoalan TKI kita.  Banyak hal yang kita bisa lakukan untuk meyakinkan neraga-negara lain dalam hal TKI kita, yang sampai saat ini belum atau tidak dilakukan oleh pemerintah.  Akibat dari kelalaian atau bahkan kesengajaan tidak melakukan usaha perlindungan kepada  para TKI kita, banyak diantara mereka yang mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi; disiksa, dianiaya, dan bahkan dibunuh.

Kita semua sangat yakin bahwa para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri  hanya menginginkan dapat pekerjaan dan menghasilkan uang untuk kesejahteraan keluarga mereka, sehingga  tidak terlintas sedikitpun untuk melalukan kejahatan di negeri orang, apalagi sampai membunuh.  Lebih-lebih yang kebanyakan mendapatkan tuduhan dan terpaksa melaukan kejahatan itu kebanyakan adalam perempuan, dan mereka melakukan semua itu  semata-mata hanya untuk membela diri dari kedhaliman yang diterimanya.  Kausus-kasus yang terjadi selama ini memang  demikian dan kita semua sangat percaya dengan mereka.  Nah, kenyataan tersebut sesungguhnya dapat dijadikan  landasan bagi pemerintah untuk melakukan diplomasi dan pendekatan untuk mendapatkan penguatan dipihak warga Negara kita.

Sebagaimana diketahui bahwa almarhumah Ruyati binti Satubi dihukum qisas pancung atas tuduhan pembunuhan terhadap ibu majikannya yang bernama Khairiyah Hamid yang berusia 64 tahun dengan pisau jagal dan kemudian dilanjutkan dengan menusuk leher korban dengan pisau dapur.  Motif pembunuhan itu sendiri adalah karena rasa kesal akibat sering dimarahi oleh ibu majikannya karena gaji yang tidak dibayarkan selama 3 bulan (sebesar total SR 2400) dan tidak mau memulangkannya meskipun sering diminta.

Kasus pembunuhan ini kabarnya telah ditangani oleh kepolisian Sektor Al Mansur Makkah Al-Mukkarramah dan penanganannya sejak awal kejadian tergolong cepat mengingat beratnya kasus dan bukti-bukti yang kuat yang ditemukan di tempat kejadian perkara .  Persidangan Ruyati binti Satubi itu sendiri  telah dilaksanakan sebanyak dua kali yakni tanggal 3 Mei dan 10 Mei 2010. Selama persidangan, Ruyati didampingi oleh dua orang penerjemah Mahkamah berkebangsaan Indonesia dan Arab Saudi, dan juga dihadiri oleh dua orang staf dari KJRI Jeddah. Demikian halnya juga dalam proses investigasi oleh Badan Investigasi Makkah dan reka ulang (rekonstruksi) di tempat kejadian perkara, Ruyati selalu didampingi oleh penerjemah dan staf KJRI Jeddah.

Dengan kejadian ini sesungguhnya sangat janggal kalau KBRI kemudian mengatakan tidak diberi tahu oleh pihak Arab Saudi, sehingga tidak dapat memberikan bantuan, dan kemudian menyalahkan pihak lain.  Padahal seharusnya petugas KBRI tidak boleh menunggu, tetapi harus mencari dan menangkap bola, agar para TKI kita merasa aman bekerja di negeri  orang.  Dalamm kasus Ruyati tersebut seharusnya  pihak pemerintah Indonesia dapat menguipayakan perlindungan dengan meminta kepada Arab Saudi, melalui presiden kepada raja agar hukuman yang dijatuhkan kepada Ruyati tidak hukuman mati.  Dan hal semacam ini sangat mungkin karena sudah banyak kasus semacam itu dan dikabulkan oleh pihak Saudi.

Ternyata memang pihak pemerintah Indonesia saja yang seakan tidak mau direpotkan dengan persoalan sepertri itu.  Bukti dari tesis tersebut ialah bahwa hukuman mati seperti itu ternyata sudah yang ke 28 kalinya pada tahun ini.  Ini sungguh luar biasa “keterlaluannya” kita yang  tidak mau tahu dan peduli terhadap nasib para warga Negara kita di luar negeri.  Menurut saya para pejabat di KBRI yang tidak mau bekerja dengan baik dengan melakukan perlindungan para warga Negara di negeri orang tersebut, seyogyanya  cepat digantikan dengan orang yang memang mempunyai kepdulian terhadap keselamatan warganya.  Saya sangat yakin masih banyak orang Indonesia yang masih mempunyai rasa kesetia-kawanan dan mau melindungi warga Negara yang sedang berada di luar negeri.

Sejatinya saya sendiri adalah penganut madzhab perlunya hukuman mati.  Tetapi bagi saya hukuman mati itu harus diterapkan kepada mereka yang memang pantas untuk dihukum mati, seperti para koruptor, para penjahat yang memang  sangat sadis dan tega menghabisi korbannya sedemikian rupa serta  pihak-pihak yang memang mengharuskan hukuman mati.  Tetapi dalam kasus Suyati, seharusnya dilihat dari latar belakangnya dahulu, dimana dia tentu tidak ada maksud sedikitpun untuk melakukan pembunuhan kalau tidak ada penyebab awalnya.  Dan benar dalam kisahnya diceritakan bahwa kejengkelan Suyati menjadi memuncak setelah selalu diperlakukan tidak adil dan bahkan didhalimi oleh orang tua majikannya.  Kedhaliman yang diterima Suyati bukan saja berupa tidak dibayarkannya gaji yang menjadi haknya, melainkan juga didhalimi secara fisik.  Fakta tersebut seharusnya menjadi pertimbangan sendiri bahwa Suyati sesungguhnya tidak pantas untuk dihukum mati.  Meskipun demikian dia itu memang salah karena telah membunuh, namun hukuman yang harus diterima akan lebih adil kalau bukan hukuman mati.

Suyati memang tidak sendirian, dan ada 27 orang lainnya yang juga mengalami nasib serupa dan tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintahnya sendiri.  Tetapi kasus Suyati ini kemudian menjadi  mencuat, karena beberapa hari sebelumnya, pemerintah RI  baru saja menyatakan bahwa perlindungan terhadap para tenaga kerja di luar negeri telah berjalan baik, sehingga pernyatan tersebut mendapatkan aplaus dari benyak pihak.  Tetapi kenyataannya hal itu hanya  pernyataan kosong belaka, dan sama sekali sangat bertolak belakang dengan kenyataan.  Inilah yang kemudian menjadikan banyak pihak  menjadi semakin yakin bahwa pemerintah Indonesia kurang atau bahkan sama sekali tidak mempedulikan para pahlawan devisa kita.

Kita berharap bahwa tamparan yang sangat keras terhadap pemerintah RI tersebut akan menjadi pelajaran yang sangat berharga dan memulai dengan sikap tegas dalam mengambil keputusan serta cekatan dalam mengambil tindakan, agar seluruh masyarakat tidak was-was dengan sikap yang selama ini ditunjukkan oleh pemerintah.  Umat telah menunggu terlalu lama untuk mendapatkan sedikit perhatian dari pemerintahnya, tetapi harapan yang sedikit tersebut ternyata belum bisa dirasakan.  Ketegasan dalam bersikap dan bertindak tersebut disamping akan memberikan rasa aman kepada warga Negara, juga akan dapat menjadikan Negara kita diperhitungkan oleh pihak lain, serta tidak “diremehkan”.

Dalam pandangan Islam sesungguhnya ada beberapa  tugas yang mesti diketahui oleh semua orang menyangkut berbagai hal berkaitan dengan fungsi dan keberadaan masing-masing orang.  Pada dasarnya semua umat Islam itu da’i yang harus menghimbau kepada seluruh umat untuk berbuat baik atau khair, namun bagi para pihak yang mempunyai power dalam berbagai skalanya, tentu tidak lagi cukup dengan menghimbau atau sekedar mengajak; untuk berbuat baik dan atau menjauhi yang jelek, tetapi harus sudah berlaku memerintahkan dan membuat kebijakan yang mengikat untuk dilaksanakannya kebijakan tersebut.

Dalam kasus Suyati,  para pihak termasuk LSM tentu hanya dapat menghimbau kepada para pejabat terkait untuk melakukan berbagai upaya untuk membela dan melindunginya, tetapi bagi pemerintah tidak lagi tepat kalau hanya sekedar menghimbau, tetapi harus sudah memerintahkan kepada aparat terkait untuk melaksanakan kebijakan yang diambil, yakni berusaha melindungi dan membela warga negaranya, bahkan kalau jalan yang harus ditempuh mengharuskan pimpinan tertinggi atau presiden sendiri yang harus melakukannya, maka hal itu juga harus dilakukan.  Bahkan akan terasa lucu kalau pemerintah  hanya sekedar menghimbau.  Pertanyaannya menghimbau kepada siapa? Karena yang berkewajiban melakukan upaya pembelaan dan perlindungan ialah pemerintah sendiri.

Nasibmu memang malang wahai ibu Suyati, namun percayalah bahwa  Tuhan tentu mengetahui apa yang ada di dalam hatimu.  Saya percaya bahwa kau melakukan pembunuhan tersebut hanya disebabkan keterpaksaan saja, sehinggan hukuman mati bagimu sesungguhnyan  terasa tidak adil, namun karena semua itu telah terjadi, saya hanya dapat mendoakan semoga Tuhan akan mengampuni segala dosamu dan sekaligus menjadikanmu sebagai symbol bagi pahlawan devisa yang akan menjadi penyebab sadarnya pemerintah dengan tugasnya untuk melindungi saudara-saudaramu yang lain.   Ternyata saat ini DPR sudah menyetujui pembayaran diyat untuk  Darsem sehingga ia terbebas dari hukuman mati.  Menurut saya itu merupakan sumbangan mu wahai Suyati, hingga Darsem selamat. Semoga Tuhan akan memberimu tempat yang layak bagimu di surga-Nya.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.