UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PTAIS

Sampai dengan saat ini, sudah banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi agama Islam swasta (PTAIS), khususnya yang ada di Jawa Tengah di bawar koordinasi Kopertais X, namun dari sisi keberhasilan, barangkali kita masih harus prihatin.  Faktor utama yang paling menjadi hambatannya ialah persoalan dana, walapaun sesungguhnya ada factor lain yang justru lebih menentukan.  Faktor dana memang penting dan dapat mempengaruhi factor lainnya, semacam SDM, sarana prasarana dan lainnya.  Untuk iutlah hamper seluruh PTAIS selalu menyebutkan factor dana yang menyebabkan kurang berkembagnya lembaga yang mereka kelola.

Kalau kita menengok kepada awal didirikannya sebuah PTAIS, tentu kita tidak akan banyak menuntut peningkatan kualitas tersebt sedemikian rupa, karena memang pendirian sebuah perguruan tinggi swasta, pada awalnya hanya dimaksudkan sebagai upaya menolong masyarakat yang jauh dari perguruan tinggi negeri, yang tentu sangat banyak memerlukan biaya yang tidak sedikit.  Sehingga karena didasrkan atas niat yang mlia tersebut, kementerian agama dalam memberikan rekomendasi dan ijin pendirian PTAIS tersebut kurang memperhatikan  aspek lainnya sebagai penunjang sebuah perguruan tinggi.

Sementara dari pihak yayasan yang mengajukan ijin mendirikan PTAIS juga sering menyulap beberapa fasilitas yang sesungguhnya bukan miliknya, dan diakui sebagai fasilitas yang sudah dimiliki. Padahal sangat boleh jadi modal yang ditunjukkan pada saat visitasi, hanyalah pinjaman, baik dari pihak lain, maupun dari lembaga lain dibawah yayasan tersebut.  Temasuk di dalamnya ialah sumber daya manusia, baik dosen maupun tenaga kependidikan lainnya, yang biasanya juga  hanya merupakan daftar dosen yang nan6tinya tidak sungguh-sungguh ikut menjadi dosen di situ.

Sedangkan  dari pihak pemberi ijin juga terkadang kurang jeli dalam melakukan visitasi, sehingga  tidak dapat dideteksi kebenaran sebuah pengakuan, dan kepantasannya.  Seharusnya sebagai petugas yang diberikan tanggagung jawab untuk mengecek kesiapan sebuah yayasan untuk mengusulkan ijin pendirian perguruan tinggi bertindak cermat dan detail, sehingga laporannya akan valid dan dapat menjadi pijakan pimpinan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan.

Padahal banyak factor yang seharusnya diperhatikan dalam menyetujui berdirinya sebuah perguruan tinggi, termasuk kemungkinan pengembangannya ke depan.  Disamping  kesiapan secara fisik berupa sarana dan prasarana yang akan menunjang perjalanan PTAIS tersebut, sangat perlu juga diteliti tentang SDM, lebih-lebi dosen yang nantinya akan menjadikan PTAIS tersebut bertahan dan maju atau sebaliknya justru akan semakin mundur dan akhirnya mati.  Demkian jga factor kemungkinan pengembangannya, baik dalam hal pegembangan kampus, maupun pengembangan dalam arti kualitas keilmuan serta kuantitas mahasiswanya.

Pada dasarnya  banyak fartor yang harus dibenahi dalam upaya meningkatkan kualitas PTAIS tersebut, terutama setelah melihat kenyataan sebagian besar PTAIS yang ada saat ini dengan kondisi yang demikian memprihatinkan.  Faktor-faktor tersebut dapat saya sebutkan misalnya:

  1. Faktor menejemen. Masih banyak PTAIS yang  dikelola dengan sangat sederhana dan bahkan tidak mempunyai  visi dan misi yang jelas sehingga tidak bisa melakukan berbagaia hal yang muaranya ialah dalam upaya pencapaian visi dan misi tersebut.  Perguruan tinggi hanya dikelola dengan apa adanya berdasarkan sumber daya manusia yang tersedia, sehingga tidak ada upaya untuk meningkatkan SDM tersebut baik melalui upaya mentrainingkan mereka maupun mendorong mereka untuk melanjutkan studi atau bahkan merekrut tenaga bru sesuai dengan kebutuhan.  Aspek menejemen juga tidak dijalankan secara konsekwen; mulai dari perencanaan, mengorganisasikan, menggerakkan , dan control serta evaluasi.  Akibat dari semua itu perguruan tinggi hanya berjalan alamiah dan hanya menunggu bola, serta tidak ada usaha untuk memikirkan bagaimana PTAIS tersebut dapat maju, berkembangan dan bahkan dapat bersaing dengan perguruan tinggi ainnya yang telah lebih dahulu maju.

Kalau pengelola dapat merencanakan program yang lebih baik dan kemudian diusahakan secara maksimal, tentu akan ada hasil yang akan didapatkan.  Persoalan dana biasanya menjadi masalah krusial bagi pengelola, namun kalau dana hanya "njagakke" dari pihak yayasan yang diam atau dari SPP mahasiswa, maka perguruan tinggi tersebut tidak akan mungkin dapat maju.   Memang seyogyanya penyedia dana itu dari pengurus yayasan, namun lagi-lagi yayasan juga tidak dihuni oleh mereka yang mempunyai ghirah tinggi  untuk maju, karena itu pengelola lembaga pendidikan tersebut harus memberikan masukan dan sekaligus mencarikan alternative yang dapat menghasilkan dana, baik berupa fasilitas fisik berupa laboratorium dengan segala peralatannya, perpustakaan dengan refernsi dan buku-bukunya, mapun ruang kelas dan fisilitasnya, maupun  berupa dana kegiatan keilmuan, seperti penelitian, seminar, workshop dan lainnya.

  1. Faktor Sumber daya manusia, baik dosen, maupun administrasi, termasuk didalamnya akuntan, merupakan factor yang tidak dapat dianggap remeh.  Karena tidak ada perguruan tingi manapun yang dapat maju dan berkembang, tanpa didukung oleh SDM yang handal.  Faktor SDM ini merupakan factor utama dan menentukan maju dan tidsknya sebuah perguruan tinggi.  Nah masih banyak diantara perguruan tinggi Islam swasta yang ada  ternyata tidak atau kurang memperhatikan persoalan ini, dengan alasan untuk mendapatkan SDM yang berkualitas dibuthkan dana yang banyak.  Persoalan dana kemudian menjadi  kambing hitam dari semua ketidak mampuan dalam mengelola perguruan tinggi.

Diantara PTAIS ada yang hanya mengandalkan SDM famili yang tersedia, atau setidaknya SDM yang pas pasan yang sama sekali tidak berkualifikasi sesuai dengan tuntutan.  Dosen misalnya, hanya dicarikan dari  orang yang asalkan sudah pernah kuliah dan hanya lulusan S1.  Dan bahkan tidak sedikit, dosen-dosen tersebut juga diambilakna dari para PNS yang bertugas di kementerian agama kabupaten/kota atau PNS di pemenerintah kota/kabupaten.  Sementara SDM administrasi hanya diambilkan seadanya, karena dianggap kurang penting, serta sama sekali tidak merekrut tenaga akuntan yang  seharusnya dipercaya untuk mengolalan keuangan.

Kondisi seperti itu dengan sendirinya akan dapat menyebabkan kurang berkualitasnya perguruan tinggi tersebut, dan pada saatnya tidak akan dilirik oleh masyarakat dan tidak jarang kemudian mati.

  1. Fasilitas fisik.  Meskipun semua PTAIS mempunyai tempat kuliah dan sekedar untuk perkantoran, namun hanya fasilitas darurat dan seadanya, walaupun tidak menutup mata ada yang sudah  mempunyai fasilitas yang cukup.  Namun kebanyakan PTAIS belum memenuhi fasilitas yang cukup  sebagai perguruan tinggi yang baik dan dapat maju dan berkembang di masa depan.  Untuk menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dan dapat menghasilkan alumni yanghandal, tentu diperlukan fasilitas fisik yang mencukupi.  Ruang kelas yang rpresentatif, perpustakaan yang dipenuhi dengan referensi cukup, laboratorium representatif, serta ruang kantor dan ruang dosen yang cukup, mutlak diperlukan dan seharusnya di penuhi oleh pengelola pendidikan.  Bahkan hotspot untuk akses internet harus tersedia di ruang dan tempat tertentu.  Selama failitas tersebut tidak dapat disediakan, maka harapan untuk menjadi perguruan tinggi yang berkualitas, hanya akan menjadi sia-sia.
  2. Faktor yang tidak kalah pentingnya ialah kegairahan dalam kegiatan ilmiah.  Meskipun  segala fasilitas telah dpat dipenuhi, tetapi kalau para penghuninya, baik dosen maupun mahasiswanya tidak ada ghirah yang besar untuk melakukan berbagai aktifitas keilmuan,maka  akan juga sia-sia segala fasilitas tersebut.  Kegiatan keilmuan, seperti penelitian, diskusi, seminar dan semacamnya, sudah pasti harus dilakukan secara rutin dikampus, baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan berbagai pihak.  Bahkan kegiatan penulisan jurnal ilmiah juga menjadi hal yang mutlak dilakukan dalam rangka  publikasi ilmiah kampus.  Untuk itu seluruh kekuatan yang ada harus diarahkan untuk  merealisasikan kondisi ideal tersebut, yakni terpenuhinya fasilitas serta gairah dan geliat keilmuan yang sungguh sangat luarbiasa kuat dan kondusif.

Itlah beberapa faktor penting yang harus dipikirkan oleh seluruh pengelola lembaga perguruan tinggi, jikalau  mereka menginginkan perguruan tinginya dapat maju dan berkembang serta dicari oleh masyarakat.  Dan menurut saya memang sudah semestinya sebagai perguruan tinggi Islam, semua pengelola menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang muslim yang harus bisa memberikan manfaat besar bagi masyarakat dimanapun  berada dan mengabdikan dirinya, termasuk mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Tetapi kalau kemudian kita hanya menjadi beban bagi pihak lain karena sikap yang kita tunjukkan dan tidak adanya usaha yang dapat kita lalkukan untuk memajukan lembaga yang kita pimpin, maka kita tentu  akan merasa berdosa dan bahkan seharusnya  segera untuk menyerahkan tanggung jawab yang diberikan kepada kita tersebut kepada orang lain yang tentu  akan dapat menjalankannya dengan baik.  Ini bukan berarti saya menganjurkan untuk melakukan pengunduruan diri, bukan sama sekali, tetapi hanya untuk memberikan  semangat agar kita semua menyadari tugas dan tnggung jawb kita untuk memajukan dan mencerdaskan umat melalui lembaga pendidikan yang kita kelola.

Untuk itu yang harus kita pikirkan saat ini ialah keberanian pengelola lembaga pendidikan  utnuk mengadakan perubahan yang disesuaikan dengan kondisi ideal yang seharusnya dilakukan. Pengola harus berani merekrut SDM yang kualifaif, baik dosen maupun tenaga kependidikan lainnya.  Artinya dosen-dosen yang tidak mendukung pengembangan lembaga harus diakhiri dan digantikan dengan dosen yang berkualitas  dan mempunyai ghirah untuk maju.  Tentu dengan cara yang baik, termasuk harus berani untuk menghentikan dosen-dosen yang PNS di kantor, meskipun mereka selamaini telah membantu lembaga tersebut.   Cara bijak tersebut sangat diperlukan agar lembaga perguruan tinggi tersebut dapat menatap masa depan dengan jelas dan ada target tertentu yang perlu dicanangkan, sehingga ada greget dari semua komponen untuk meraih target tesebut.

Saya sangat yakin dengan kebijakan yang menyeluruh tersebut, pengelola akan dapat merencanakan pengembangan dengan lebih baik dan leluasa.  Namun dengan kebijakan yang seperti itu, meskipun telah diupayakan dengan cara yang baik, tetap saja akan mendapatkan kritikan dan hambatan dari beberapa pihak.  Tetapi kalau kita mantap dan tagas dalam kebijakan tersebut, serta kita dapat menunjukkan kinerja yang baik, lama klamaan masyarakat akan dapat menilainya sendiri, dan pada saatnya nanti justru kita akan mendapatkan penghargaan dari mereka.

Semoga Than senantiasa memberikan keteguhan hatikepada kita untuk berani melakukan perubahan mendasar, demi memajukan dan mengembangkan lembaga pendidikan yang kita kelola.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.