KENAPA BANK SYARIAH KURANG DIMINATI?

Umat Islam yang mayoritas di negeri ini sewungguhnya merupakan modal yang sangar besar dan penting dalam pengembangan segala hal yang berlabel syariah, termasuk di dalamnya bank syariah, Nmun kondisi tersebut ternyata tidak dapat dimnafaatkan oleh perbankan syariah secra maksimal.  Akibatnya meskipun perbankan syariah terus mengalami perkembangan, tetapi tidak sebanding dengan modal yang demikian besar.  Secara teoritis, setelah sekian tahun, bank syariat dapat menguasai minuimal 15 % dari total asset perbankan nasional, tetapi dalam kenyataannya sampai saat ini total asset perbankan syariah mungkin baru berkisar antara 3 hingga 3,5 % saja.

Kondisi ini tentu mengundang banyak pertanyaan bagi kalangan perbankan itu sendiri dan juga kalangan lain yang mempunyai kepedulian terhadap dunia perbankan syariah.  Apa gerangan yang menyebabkan bank syariah kurang mendapatkan  apresiasi dari masyarakat yang mayoritas muslim tersebut?  Apakah disebabkan bank sayariah tidak dapat menawarkan produk yang menguntungkan dan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat, atau  justru substansi bank syaraiah itu sendiri yang kurang familier dengan masyarakat Indonesia atau ada sebab lainnya.

Kondisi bank sayariah yang kurang mendapatkan respon positif dari masyarakat muslim tersebut  kemudian menjadi  semakin dipertanyakan banyak pihak, bilamana mengingat banyak dukungan dan support  yang diberikan, baik oleh keputusan fatwa  Majlis Ulama Indonesia yang mengharamkan bunga bank konvensional maupun fatwa  ulama dari berbagai dunia Islam.  Untuk itu seharusnya kalangan pelaku dan praktrisi bank sayariah sudah waktunya untuk mengadakan evaluasi terhadap kondisi seperti itu dan kemudian mencari solusi yang tepat agar dapat “ditututi” beberapa  ketertinggalan yang ada.

Menurut saya ada beberapa factor yang menyebabkan bank-bank syariah kurang diminati umat Islam, yang diantaranya ialah:

1.       Adanya perbedaan pandangan tentang bunga bank konvensional dengan berbagai alas an yang  sama-sama kuat.  Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini  belum terdapat kata sepakat mengenai hokum bunga bank; ada diantara ulaa yang menetapkan secara tegas bahwa bunga bank itu termasuk riba, sehingga hukumnya haram.  Tetapi tidak sedikit juga  ulama yang menyatakan bahwa bunga bank tidak termasuk riba, sehingga tidak haram, serta ada pula yang menganggapnya sebagai makruh saja.  Dengan kondisi seperti itu, maka sangat wajar manakala umat Islam akan menentukan sikap mereka sesuai dengan kondisi yang mengiringi mereka dan juga bank syariah  itu sendiri.  Kita sangat mafhum bahwa secara umum masyarakat muslim itu ada yang bersikap pragmatis, ada yang  idealis dan ada pula yang kompromis.  Bagi masyarakat yang pragmatis, tentu akan selalu mempertimbangkan untung dan ruginya kalau bergabung dengan bank syariah.  Sementara itu bagi yang bersikap idealis tentu  mereka  dengan serta merta akan mengikuti dan bergabung dengan bank syariah, dan bagi yang kompromis tentu juga  akan melihat serta mempertimbangkan segala sesuatunya.

2.     Adanya sebagian orang  dan pihak yang semacam “memaksakan kehendak” serta menghakimi pihak lain, sehingga menimbulkan antipasti dan sikap yang konytraproduktif.  Artinya dalam memperkenalkan dan mensosialisasikan bank sayariah, ternyata tidak melalui tahap-tahap sebagaimana diinspirasikan oleh Nabi Muhammad SAW,  dan bahkan al-Quran sendiri. Dalam mengenalkan sesuatu yang relative baru, Nabi selalu akan sangat hati-hati dan melakukannya secara bertahap dan tidak sekaligus. Sebaliknya masih banyak diantara mereka yang mungkin komitmentnya dengan Islam sangat tinggi tetapi kurang memahami  cara menyampaikan dakwah dengan pas, sehingga tidak akan mendapatkan hasil maksimal, malahan akan mendapatkan sikap yang kurang ramah dan baik.  Kalau sosialisasi bank sayariah dilakukan dengan mengatakan bahwa bank konvensional itu Yahudi dan siapapun yang masih berhubungan dengannya, ia akan masuk neraka, atau dengan kata-kata pedas lainnya, tentu hal tersebut justru akan dapat menghambat laju bank syariah itu sendiri, dan bahkan akan membuat orang tersinggung dan tidak mendukung.

Sangat mungkin bahwa salah satu yang menghambat perkembangan bank syariah ialah munculnya fatwa MUI yang mengharamkan bunga bank konvensional, padahal masyarakat sangat mengetahui bahwa untuk hal tersebut hukumnya masih diperdebatkan oleh banyak ulama.  Masyarakat seolah menganggap bahwa MUI menghakimi orang terhadap sesuatu yang masih diperdebatkan, seolah-olah MUIlah yang menentukan haram dan tidaknya sesuatu, atau bahkan MUI dianggap telah melampaui batas, karena telah menentukan seseorang masuk surge atau neraka.  Walaupun komentara atas MUI tersebut juga kurang tepat, namun dengan keluarnya kep[utusan fatwa tentang bunga bank tersebut diakui maupun tidak telah membuat pandangan umat terhadap MUI dan bank syariah menjadi kurang simpatik, bahkan ada yang menuduh bahwa fatwa tersebut muncul dengan penuh pesanan.

3.     Kurang dapat bersaingnya produk-produk bank syariah dengan bank konvensional , sehingga menyebabkan masyarakat muslim yang berpikir pragmatis tidak mau berpaling ke bank syaraiah.  Banyak cerita tentang  bagaimana pembiayaan yang dimintakan atau diajukan kepada bank syariah justru lebih mahal ketimbang bank konvensional.  Belum lagi kecepatan pelayanan dan realisasinya, serta banyak hal yang berkaitan dengan pelayanan yang memang masih belum dapat bersaing dengan bank konvensional.  Dunia usaha dan ekonomi, termasuk didalamnya ialah perbankan, tentu sangat perlu mengembangkan aspek marketing, karena marketing ini merupakan salah satu factor penentu perkembangan suatu produk, disamping juga kualitas.  Tetapi kualitas bagus, sementara  tampilan dan marketing tidak bagus juga akan mempengaruhi kesuksesan suatu produk tersebut.  Untuk itu menurut saya masalah marketing, layanan prima  dan kualitas produk  yang sementara ini dipraktekkan oleh bank syariah, dan dinlai kurang, menjadi salah satu factor kenapa bank syariah tidak berkembang secara pesat seperti perkiraan.

4.     Kurangnya sosialisasi  khusus yang ditujukan kepada mereka yang mempunyai pandangan berbeda, baik dari kalangan ulama dan kiai maupun kelompok intelektual muslim.  Akibat dari terjadinya kesenjangan yang terus berlangsung tanpa ada uasaha untuk kompromi dan saling mendekat, telah menyebabkan  tidak adanya dukungan nyata dari kelompok tersebut, padahal mereka mempunyai pengikut dan umat yang cukup banyak.  Saya sangat yakin kalau mereka mendapat infoemasi yang seimbang tentang berbagai macam manfaat dan madlarat dari system perbankan yang selama ini ada, tentu mereka akan dapat mengerti dan harapannya kemudian ialah dapat mendukung secara penuh terhadap kehadiran bank syariah tersebut.  Kalau ini dapat terealisasi, insya Allah perkembangan bank syariah akan lebih cepat dan dapat dirasakan  semua pihak.

Itulah beberapa kemungkinan yang menyebabkan perkembangan bank-bank syariah kurang pesat, meskipun mayoritas bangsa Indonesia ialah umat Islam.  Memang tampaknya cukup ironis dimana Umat Islam ternyata tidak mendukung sesuatu yang berasal dan berasas dari Islam itu sendiri, tetapi malahan lebih mendukungan kepada sesatu yang dari luas Islam.  Namun sekali lagi kita juga harus menyadari bahwa Umat Islam saat ini  sudah semakin cerdas dan kritis;  Mereka tidak lagi terperangkap kepada persoalan kulit atau symbol “islam” atau tidaknya, melainkan  akan mempertimbangkan untung dan ruginya serrta  manfaat dan madlaratnya.

Mereka menganggap bahwa Islam itu akan memberikan keuntungan dan kemanfaatan bagi siapa saja yang meyakini dan mengamalkan ajaran-ajarannya, sehingga atas dasar keyakinan tersebut mereka sangat yakin pula bahwa kalau ada sesuatu yang diberikan label Islam, tetapi tidak memberikan keuntungan dan manfaat, tentu ada sesuatu yang salah di dalamnya.  Untuk yang seperti itu mereka biasanya  lebih condong kepada pendapat yang kontra terhadap keyakinan yang didasarkan atas laber Islam tersebut.

Sikap semacam itu bukan berarti mereka tidak ada pembelaan terhadap Islam atau kurang keimanannya terhadap Islam, melainkan semata-mata mereka kurang atau bahkan tidak yakin bahwa apa yang dilabeli Islam tersebut memang benar-benar Islam secara substansial.  Mereka baru akan yakin seratus prosen, manakala sesuatu itu baik, memberikan manfaat dan menguntungkan, apalagi kemudian ada label islamnya.  Nah untuk menyikapi kenyataan tersebut, memang diperlukan  kita-kiat tertentu dengan melakukan aktifitas nyata, baik melalui pengenalan secara bertahap dan menunjukkan keunggulan produk, dalam hal ini bank syariah, tanpa menjelekkan dan mendiskreditkan yang lain, maupun melaui usaha peningkatan bank syaraiah itu sendiri, baik dalam hal produk yang ditawarkan maupun pelayanan serta marketingnya.

Dengan melakukan upaya-upaya  seperti itu, kita yakin bahwa bank sayariah akan semakin mendapatkan perhatian dan dukungan nyata dari mayoritas umat Islam.  Semoga Allah SWT selalu melimpahkan maunah-Nya kepada kita dan sekaligus memberikan kesadaran yang tinggi kepada seluruh umat Islam untuk  dapat mendukung dan membesarkan bank syariah tersebut. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.