TEGUH DALAM PENDIRIAN

Salah satu kelemahan umat manusia di atas dunia ini ialah  perilaku dan sikap yang tidak konsisten, baik dalam persoalan yang berkaitan dengan pendirian atau pendapat maupun dalam persoalan prinsip seperti kepercayaan.  Seringkali orang  dengan mudah berubah haluan hanya disebabkan adanya kepentingan dan keuntungan yang bersifat sementara.  Padahal ia harus mengorbankan sesuatu yang seharusnya dipertahankan dalam upaya menjaga harga diri, misalnya.

          Kelemahan yang bersumber dari sikap tidak konsisten tersebut terkadang akan membawa bencana bagi diri  orang tersebut.  Dan tidak sedikit orang jatuh dan menjadi "tidak berguna" hanya disebabkan perilakunya sendiri yang memang tidak konsisten alias plinplan. Sebab sikap dan prilaku yang demikian bisa saja mengecewakan atau bahkan menyakitkan pihak lain, yang pada akhirnya masyarakat yang kemudian mengetahuinya  tidak akan menaruh kepercayaan kepadanya.  Nah, kalau seseorang sudah kehilangan kepercayaan orang lain kepadanya, maka sesungguhnya ia telah kehilangan segala-galnya.

          Namun ketidak-konsistenan sikap dalam dunia politik, barangkali hampir dianggap sebagai perilaku yang biasa, karena di dunia politik memang tidak ada sesuatu yang bersifat permanen.  Semuanya didasarkan kepada kepentingan pragmatis.  Siapapun atau partai apapun yang  akan memberikan keuntungan bagi diri seseorang, maka dia akan mau berjuang untuk kepentingan partai tersebut, yang hakekatnya untuk kepentingan dirinya sendiri.  Tetapi begitu kepentingan tersebut dinilainya sudah tidak menguntungkan, maka dengan mudah ia bisa mengubah haluan politiknya kepada partai lain yang  akan memberikan keuntungan kepada dirinya, dan begitu seterusnya.

          Akan tetapi dalam dunia  akademik, kiranya sangat tabu untuk melakukan tindakan yang inkonsistensi tersebut.  Lebih-lebih kalau itu berkitan dengan persoalan  keilmuan dan keyakinan.  Dalam dunia keilmuan, orang akan konsisten mempertahankan  keyakinanya, selama belum ditemukan  sesuatu yang baru berdasarkan sebuah penelitian  yang bertentangan dengan teori atau keyakinan yang didasarkan kepada pengetahuan tersebut.  Jadi sikap konsistensi tersebut didasarkan kepada sebuah keyakinan, sehingga apapun yang terjadi keyakinan tersebut akan terus dipertahankan, meskipun secara lahir mungkin tidak menguntungkan.

          Apalagi kalau dikaitkan dengan kepercayaan atau keyakinan agama, tentu akan sangat tabu dan bahkan dianggap sebagai murtad atau melacurkan diri kalau sampai tidak konsisten dalam memegangi keyakinannya.  Bagi umat Islam misalnya, keyakinan atau keimanan merupakan persoalan krusial yang harus terus dipertahankan dan dipelihara, sehingga akan lebih bertambah tebal dan mantap. Sebab manakala iman tersebut lepas dari diri seseorang, maka sia-sialah keseluruhan investasi amal yang pernah dikerjakannya.

          Bahkan Tuhan telah memberikan penjelasan kepada kita bahwa siapapun yang melakukan perbuatan baik, laki-laki maupun perempuan yang perbuatan baik tersebut didasari dengan keimanan kepada Allah, maka Allah akan memberikan jaminan kehidupan yang baik dan sejahtera di dunia dan akan membalas dengan ganjaran yang terbaik atas perbuatan baik yang telah dilakukannya di akhirat nanti.  Artinya landasan iman merupakan syarat mutlak untuk dapat diterimanya sebuah amal atau perbuatan baik.

          Pada kesempatan lain  Tuhan juga akan memberikan  memberikan ketenangan jiwa  dan janji ganjaran yang banyak, bagi siapa saja yang  mau mendeklarasikan keimanannya dan bersikap konsisten dalam pernyatannya tersebut.  Dalam S. Fushshilat ayat ke 30, Tuhan telah berfirman yang maksudnya kurang lebih:  “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami  ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Jangalah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan  surga yang telah dijanjikan kepada kamu”.

          Ayat tersebut sangat jelas memberitahukan kepada kita bahwa  orang yang berani menyatakan dirinya sebagai orang yang beriman dan hanya bertuhan kepada Allah semata, dan konsisten dengan kepercayaan dan pernyataannya tersebut, maka Allah akan mendatangkan ketenangan dan ketenteraman pada dirinya  serta akan mendapatkan balasan surga di akhirat nanti.  Artinya  pernyataan bahwa hanya Allahlah Tuhan yang dipercaya dan disembah secara benar dan tidak tergoyahkan oleh badai apapun dalam pendiriannya tersebut, memberikan pengertian bahwa orang-orang tersebut telah meyakini sepenuh hati, jiwa dan raga bahwa hanya Allah sajalah yang berhak untuk disebut Tuhan dan mereka kemudian  tunduk dan patuh atas segala firman-Nya, baik yang memerintahkan sesuatu kewajiban maupun yang mencegah sesuatu keharaman.

          Sikap yang demikian, yaitu kepercayaan yang total dan sekaligus patuh terhadap segala titah Tuhan, secara istiqamah atau konsisten terus dipertahakan hingga Tuhan mencabut nyawanya. Sehingga keprcayaan dan keyakinannya tersebut telah membuat dirinya merasa aman dalam perlindungan Tuhan.  Mereka sangat yakin bahwa tidak ada sesuatu pun dapat terjadi terkecuali atas kehendak Tuhan.  Jadi kalau memang sudah total percaya kepada Tuhan, tentunya sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.  Itulah yang menyebabkan mereka kemudian diberikan ketenangan dan jauh dari rasa takut dan gelisah dalam menghadapi persoalan apapun.

          Disamping itu masih ditambah janji Tuhan yang akan memberikan balasan surga  di akhirat nanti.  Mereka juga sangat percaya bahwa janji Tuhan tidak mungkin meleset, karena itulah mereka semakin menjadi mantap dan tegar dalam menghadapi hidup ini.  Itulah keuntungan orang yang mau konsisten dalam mempertahankan keyakinannya dengan benar dan sungguh-sungguh, bukan hanya sekedar iman yang biasa-biasa saja tanpa ada realisasi dalam kenyataan.

          Nah dalam dunia pergruan tinggi dan keilmuan, sikap konsisten memang harus dipelihara dan dipertahankan, karena hal tersebut merupakan modal utama dalam menapaki hidup dalam lingkungan yang penuh dengan moral tersebut.  Artinya menjaga kepercayaan masyarakat atau pihak lain dengan sikap konsisten tersebut akan menjadi salah satu modal untuk dapat terus mengadakan komunikasi yang  kondusif dalam upaya memajukan dan mengembangkan lembaga dan diri sendiri. 

          Namun demikian  akan berbeda halnya kalau sikap yang diambil tersebut tidak didasarkan kepada suatu kebenaran, baik  yang didapatkan melalui pemahaman terhadap ajaran agama maupun yang disimpulkan dari sebuah penelitian.  Kalau kenyataannya seperti itu, maka  mengubah sikap menuju yang benar malah merupakan keharusan.  Artinya  kalau sikap yang kita ambil dan pertahankan selama ini ternyata bertentangan dengan kebenaran yang didasarkan kepada penelaahan terhadap sesuatu melalui prosedur keilmuan, maka akan sangat terpuji kalau kita kemudian dengan ikhlas mengikuti kebenaran tersebut dan bukannya mencari-cari alasan untuk mempertahankan sikap dan pemikiran tersebut.  Dan perlu ditanaskan bahwa sikap yang seperti itu bukannya termasuk sikap tidak konsisten melainkan justru termasuk konsisten dalam  mengambil kebenaran.

          Hal tersebut juga  mengecualikan bahwa sikap yang diambil dan diyakini tersebut memang  didasarkan kepada penelaahan ilmiah juga.  Kita sangat mengetahui dan paham bahwa berbeda dalam kesimpulan dan pemahaman terhadap sesuatu itu merupakan hal yang lumrah dan tidak berdosa, asalkan masing-masing  mendasarkan kepada prosedur yang benar.  Kalau itu yang terjadi maka yang harus diciptakan ialah iklim  dimana  perbedaan tersebut bukannya menjadi  pemicu ketidak harmonisan, melainkan justru sebagai kekayaan khazanah keilmuan.  Berbeda bukannya tabu, tetapi berbeda justru merupakan rahmah, dan masing-masing yang mempercayai sesuatu yang berbeda tersebut saling menghormati dan dapat mengerti alasan masing-masing.

          Sikap dan pemikiran yang seperti itulah yang seharusnya muncul dan dipertahankan di alam kampus dan alam keilmuan lainnya.  Kita semua sangat merindukan kondisi dimana seluruh manusia bisa menghargai ilmu dan sekaligus  konsisten dalam membela kebenaran serta menjadikan kebenaran tersebut sebagai sikap dan pemikirannya  serta perilakunya sehari-hari.

          Pada akhirnya kita hanya dapat berdoa memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa, agar kita senantiasa diberikan petunjuk untuk bisa menerima kebenaran dengan hati lapang dan mempertahankannya serta menjadikannya sebagai sikap dan perilaku kita dalam menghadapi apapun yang terjadi.  Namun demikian kita juga tetap memohon kepada Tuhan agar diberikan kebijaksanaan dalam setiap langkah kita sehingga  kebenaran yang kita pertahankan tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi kita dan lingkungan dimana kta berada.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.