ANDAI SEPAKBOLA KITA SEPERTI BARCELONA

Final piala champion Eropa mempertemukan club Barcelona melawan Manchester United, dan hasilnya sudah sama-sama diketahui oleh masyarakat sedunia, bahkan sebelum final digelarpun  seakan seluruh masyarakat sudah dapat menduga siapa pemenang piala paling akbar di daratan Eropa tersebut.  Dengan penampilan yang konsisten dengan penguasaan skill yang demikian hebat ditambah dengan strategi yang sangat jitu, kiranya semua orang sepakat bahwa  club Barcelona saat ini merupakan club yang  paling baik dan ciamik.

          Setiap club yang  berhadapan dengannya seakan  tersihir dengan kemampuan individual yang dimiliki oleh setiap pemainnya dan akhirnya tidak berdaya untuk sekedar mengimbangi penguasaan bola di tengah lapangan.  Sungguh merupakan suatu tontonan yang sangat mengasikkan bagi penggila bola.  Gocekan bola Leonal Messi, kelihaian Xavi  dan lainnya membuat kekomplitan club yang ditangani Yosep Guardiola tersebut.  Bahkan club Setan Merah yang digdaya di Ingrispun dibuat tidak berdaya dalam laga final yang berlangsung tadi pagi.

          Sepak bola memang merupakan olah raga yang paling popuer di dunia.  Kita dapat menyaksikan betapa gegap gempitanya masyarakat dunia ketika digelar even piala dunia msalnya, atau piala Eropa, atau bahkan sekedar piala Asia atau bahkan piala AFC.  Antusiasme masyarakat terhadap bola tidak dapat disamakan dengan kejuaraan apapun.  Ini semua menunjukkan bahwa bola memang sangat penting bagi kehidupan masyarakat.  Sehingga bola akan dapat menjadi faktor penentu earatnya suatau ikatan, tetapi pada saat yang sama kalau tidak dikelola dengan baik, bola juga sekaligus dapat menjadi faktor yang menghambat bahkan merusak persatuan itu sendiri.

          Semua orang kiranya sepakat bahwa pada saat bola dimenej dengan baik dengan segala uborampinya tentu akan menjadi baik.  Artinya kalau seluruh jajaran pengurusnya, pemainnya, pelatihnya, dan supportenya baik dalam kapsitasnya masing-masing, tentu akan dapat menjadi daya tarik bagi siapapun untuk bergabung atau sekedar simpatik terhadap club tersebut.

          Contoh yang paling kongkrit ialah beberapa club di Eropa yang mempunyai fans yang begitu fanatik di beberapa negara, termasuk di Indonesia.  Rasanya memang agak aneh ada masyarakat di Indonesia misalnya, yang justru menjadi fans fanatik terhadap club di negara Eropa, semacam Barcelona, Manchaster United, Chelsea, Arsenal, Real Madrid, dan lainnya.  Tetapi itulah kenyataan yang memang harus diterima.  Bahkan merka sama sekali tidak peduli atau cuek terhadap club-club yang ada di Indonesia sendiri.  Demikian juga hal serupa ternyata terjadi  di beberapa negara lainnya.

          Kalau kemudian ditelusuri apa penyebab  terjadinya hal tersebut, tentu banyak faktor yang melatar-belakanginya.  Salah satu  faktor yang sangat menonjol ialah karena di beberapa club di Eropa tersebut terdapat para pemain yang yahut karena kepiawiannya. Beberapa pemain yang kemudian menjadi idola masyarakat, termasuk masyarakat Indonesia antara lain Mesii, Wyne Rooney, Christiano Ronaldo, dan lainnya.  Sementara itu salah satu faktor lainnya yang juga sangat menentukan kenapa masyarakat dunia menggandrunginya ialah bahwa club tersebut diasuh oleh pengurus atau pengelola yang profesional, pelatih profesional dan para pemai yang profesional. Profesionalitas  memang  sangat mendominasi club-club di  manca negara, terutama yang di dratan Eropa tersebut, karena  tidak mungkin ada club yang ditangani secara amatiran dapat bertahan di sana.

          Berbeda dengan di negeri kita ini, dimana hampir seluruh club yang ada tidak profesional, atau kalau  ada yang menyebut dirinya profesional, tetapi dalam realitasnya juga tidak dapat dikatakan sebagai profesional.  Kenapa demikian?  Jawabannya sesunguhnya sangat sederhana, yakni profesional bukan dari pernyataan, melainkan dibuktikan dalam sikap dan tindakan, baik oleh menejemen, pelatih, maupun pemainnya.  Nah, kalau kita lihat sepak bola di Indonesia, hampir seluruhnya ditangani secara amatiran.  Artinya menejeman tidak bisa mandiri dalam berbagai hal, termasuk dalam hal pembiayaan.  Kita masih menyaksikan cub-club yang masih mengandalkan APBD yang meskipun sudah dilarang tetapi masih nekat.  Bahkan saya juga tidak yakin bahwa setelah dilarang untuk keduakalinya oleh mendagri, club-club  akan mentaatinya.

          Dalam hal sikap yang ditampakkan baik oleh menejeman, pelatih, maupun para pemainnya, atau bahkan oleh induk organisasinya juga belum dapat dikatakan profesional.  Kita semua tahu dan sedih, jengkel dan rasa dongkol lainnya setelah mengetahui apa yang terjadi pada PSSI kita.  Apa yang dipertontonkan kepada kita sama sekali jauh dari profesional.  Semua ingin menjadi pahlawan, semua ingin  berjasa, namun sesungguhnya semuaitu merupakan pecundang dalam dunia sepak bola Indonesia.

          Kalau sudah demikian, apa yang dapat kita harapkan dari club sepak bola di negeri kita tersebut?.  Nah dalam kondisi yang seperti itu, tidak salah kiranya kalau  masyarakat Indonesia  kemudian memalingkan perhatiannya kepada club di negara lain yang ternyata dapat memberikan harapan yang di inginkan.  Artinya, sepak bola yang saat ini telah menjadi perhatian masyarakat dan diharapkan dapat menjadi tontonan atau hiburan yang mengasyikkan, sekaligus mendebarkan, pada saatnya akan menjadi alternatif masyarakat dalam upaya menetralkan suasana yang penuh dengan kesibukan yang melelahkan.

          Club Barcelona yang baru saja menjuarai piala champion Eropa setelah mengalahkan Setan Merah secara meyakinkan di stadion Wemble Inggris, merupakan salah satu club yang digemari oleh masyarakat dunia.  Kerja sama tim di lapangan yang sedemikian padu, sikap para pemain yang demikian profesional, baik di dalam maupun di luar lapangan, ditambah dengan manajemen yang juga profesional, telah menjadikan club tersebut semakin berkibar dan mendapatkan penghargaan dari para pecinta bola di jagat raya ini.

          Kalau kemudian di tanya kapan Indonesia mempunyaiclub yang seperti Barcelona, terutama dalam hal pengelolaan dan prestasi, tentu jawabannya akan bervariasi;  sangat mungkin ada yang akan menjawab bahwa di negera kita sampai kiamatpun tidak akan muncul club semacam Barcelona.  Tetapi ada juga yang akan menjawab bahwa sangat mungkin bahwa di Indonesia akan dapat muncul club seperti itu dengan syarat Gayus Tambunan diminta mendirikan club dan membeli serta mendatangkan para pemain kelas dunia serta pelatih yang kelas dunia juga.  Setelah itu dia mau membangun stadion megah yang berstandar internasional.  Dijamin kalau dia melakukan hal tersebut, banyak masyarakat yang mau memaafkannya dan bahkan menganggapnya sebagai pahlawan.

          Melihat kenyataan di negeri kita, khususnya dalam hal sepakbola, kiranya  sangat tidak mungkin dalam waktu beberapa tahun kedpan akan ada club yang benar-benar profesianal, meskipun belum sama atau selevel dengan Barcelona. PSSI tidak kisruh saja sudah untung.  Artiya dengan kokohnya PSSI, tentunya akan semakin mendorong club-club untuk bersaing secara sehat, apalagi kalau kemudian secara tegas learangan penggunaan dana APBD untuk sepak bola diterapkan, sudah dapat di pastikan di sana akan terseleksi secara alami mana-mana club yang memang ada bakat untuk profesional dan mana-mana club yang hanya numpang enak.

          Artinya dengan disetopnya dana dari APBD, club tentu mau-tidak mau  harus berusaha untuk mendapatkan dana  dalam upaya  menghidupi club, untuk membayar pelatih dan para pemain, dan berbagai keperluan transportasi dan lainnya.  Kreatiftas pengelola  sangat diperlukan; bagaimana mereka dapat menghasilkan uang untuk keperluan club menjadi hal penting yang harus dilakukan.  Pada saatnya nanati dapat dipastikan akan ada beberapa club yang gulung tikar, disebabkan ketidak-mampuan pengurus untuk mengelola club secara profesional.  Tetapi juga pasti akan ada club-club yang terseleksi serta dapat hidup dan bersaing secara sehat dengan club lainnya.

          Tentu kita semua sangat berharap bahwa pada saatnya nanti kita akan mempunya club-club yang profesional, walaupun  dapat dipastikan juga  tidak akan sama dengan di negara-negara Eropa.  Kalau toh kita memimpikan sebuah club seperti Barcelona, misalnya, maka mimpi tersebut jangan terus dipelihara, sebab akan berakibat fatal bagi kita sendiri.  Artinya kalau kita terus manteng menginginkan adanya club profesioanal dan berkualitas sejajar dengan club  besar di dunia, seperti Barcelona, maka keinginan tersebut hanya akan menyiksa diri dan tidak akan pernah terjadi.  Namun demikian bukan berart kita tidak boleh bercita-cita?,  hanya saja keinginan seperti itu  sebaiknya diturunkan mejadi keinginan untuk mendapatkan pemandangan yang nayaman di dunia sepak bola kita.

Soal prestasi, sambil jalan secara pelan kita pikirkan, sebab pada saat ini rasanya sangat amat jauh club-club kita dapat bersaing  prestasi dengan club-club ternama. Bahkan untuk bersaing ditingkat Asia saja  sudah susah.  Namun demikian profesionalitas memang harus terus kita tekankan, karena itu merupakan syarat mutlak untuk dapat maju dan berkembang serta berprestasi. Industri sepak bola  sudah saatnya  dimulai dan dikembangkan di negeri kita ini.  Potensi untuk kearah itu sesungguhnya sangat besar, Cuma tnggal bagaimana memenejnya secara baik dan profesional itu saja persoalannya.  Semoga kedepan kita memang bisa mempunyai club sehebat Barcelona. Amin.

         

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.