UPAYA MEMPERCEPAT STUDI

Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh banyak dosen yang sedang studi lanjut, baik  S2 maupun S3 ialah minimnya kesempatan untuk menulis, disebabkan  banyaknya tugas yang berkaitan dengan tugas-dosen, disamping minimnya referensi yang bisa diakses, khususnya di perpustakaan lembaga.  Namun sesungguhnya  alasan tersebut kurang tepat, karena kesempatan yang diberikan kepada dosen yang sedang studi lanjut menurut saya cukup longgar, apalagi setelah munculnya aturan bahwa  bagi dosen yang sedang belajar, maka ia akan dibebaskan dari segala beban sebagai dosen, alias sebagai dosen yang non aktif.

          Pada waktu yang lalu pimpinan IAIN maupun fakultas juga telah memberikan kelonggaran dalam hal tugas dan beban yang dipikulkan kepada dosen yang sedang menempuh studi lanjut, bahkan beberapa fasilitas juga telah disediakan dalam upaya menunjang dan mempercepat penyelesaian studi.  Namun kebanyakan dari dosen  yang memang tidak mau memanfaatkan semua itu dengan berbabgai alasan yang justru berkaitan dengan persoalan diluar studi.

          Adakalanya memang bagi perguruan tinggi yang mempunyai alokasi dana mencukupi untuk masalah tersebut berupaya untuk memberikan kesempatan “mengungsi” beberapa saat ke beberapa tempat yang dianggap dapat mendukung percepatan penyelesaian studi dengan biaya lembaga.  Ada yang  ke perguruan tinggi di dalam negeri, tetapi ada juga yang ke perguruan tinggi di luar negeri.  Namun demikian hasilnya juga kurang menggembirakan.

          Beberapa  dosen yang  lama dalam menyelesaikan studi tersebut sesungguhnya termasuk para dosen yang “cerdas” yang menurut ukuran normal seharusnya dapat menyelesaikan studinya tepat waktu.  Tentu  untuk persoalan tersebut ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.  Dan diantara faktor yang mempengaruhi terlambatnya penyelesaian  studi tersebut antara lain:

  1. Kurang seriusnya dosen bersangkutan dalam menyelesaikan  studi disebabkan lebih  memilih kegiatan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan studi, seperti  mengerjakan proyek, aktif dan terlibat dalam berbagai lembaga training, dan lainnya.
  2. Diberi kepercayaan untuk menjabat di lingkungan perguruan tinggi sehingga konsentrasinya tersedot untuk memikirkan jabatannya tersebut, dan hanya sedikit, bahkan terkadang lupa terhadap studinya.
  3. Tidak adanya sanksi yang tegas bagi mereka yang tidak dapat menyelesaikan studinya tepat waktu, atau malahan  terbiasanya para pengelola program pascasarjan yang selalu memberikan toleransi dan perpanjangan masa studi kepada para dosen yang sedang studi.

Barangkali masih ada banyak faktor lain yang menghambat penyelesaian studi dosen, tetapi kalau memang ketiga faktor tersebut merupakan faktor penghambat utamanya, maka  tentunya akan segera diberikan solusi melalui ketentuan yang  diberlakukan, dengan tujuan agar  pada dosen yang saat ini belum slesai studinya, dapat mempercepat penyelesaiannya.

Memang pada saat ini  semacam terjadi delematis antara membebaskan mereka yang sedang studi lanjut untuk fokus menyelesaikan studinya, dengan kebutuhan mendesak yang memerlukan uluran tangan mereka.  Sebagaimana diketahui bahwa pada saat ini kita sedang gencar-gencarnya mempersiapkan berbagai hal berkaitan dengan keinginan kita untuk berkonversi dari IAIN  ke UIN, yang memerlukan persiapan, termasuk naskah akademik, proposal prodi eksak, mempersiapkan kurikulum, dan lainnya.

Belum lagi persiapan kita menyambut bantuan luar negeri dari Islamic Development Bank (IDB) yang memerlukan konsentrasi penuh, sehubungan terus terjadinya perubahan yang cukup memusingkan.  Semua itu juga tidak bisa lepas dari uluran tangan para dosen yang kebetulan masih studi lanjut.

Untuk itu barangkali ada baiknya, khususnya bagi para dosen yang sedang studi lanjut dan tidak diminta membantu lembaga dalam mempersiapkan berbagai hal sehubungan dengan konversi IAIN ke UIN dan juga persiapan IDB, dilakukan upaya-upaya nyata dalam memacu mereka sehingga akan lebih cepat selesai.  Ini bukan berarti membiarkan mereka yang  terlibat dalam mempersiapkan UIN dan IDB, sama sekali tidak, tetapi kita terus mensupport mereka juga untuk tetap fokus dalam penyelsaian studi mereka, tetapi memang bagi mereka yang tidak terlibat dalam masalah tersebut, tentu harus bisa lebih cepat lagi.

Artinya, bagi pada dosen yang kebetulan studi lanjut di pasca IAIN Walisongo, kiranya perlu diatur sedemikian rupa sehingga faktor penghambat sebagiaman  tersebut di atas akan dapat dihilangkan. Caranya ialah dengan membuat aturan yang antara lain menekankan bahwa  selama menempuh studi, sorang dosen harus benar-benar non aktif sebagai dosen, termasuk tidak boleh menjabat di lingkungan IAIN Walisongo maupun di luar IAIN Walisongo.  Demikian juga  pascsarjana harus tegas dalam memberlakukan aturan masa studi dan tidak lagi ada toleransi  dan perpanjangan masa studi dengan dalih dan alasan apapun.

Barangkali perlu ditambahkan bahwa para peserta program harus tetap membayar SPP penuh ditambah dengan biaya daftar ulang pada setiap semesternya, selama  menjalani semseter tunggu sampai batas masa studinya habis atau sampai yang bersangkutan selesai sebelum masa studinya habis.  Dan juga selama studi belum selesai seorang dosen tidak dapat mengikuti berbagai kegiatan, seperti penelitian yang dibiayai DIPA IAIN maupun pusat, terlibat dalam berbagai training yang dilakukan oleh lem,baga, dan lainnya.  Tentu terkecuali manakala lembaga memang benar-benar membutuhkan mereka.

Ini bukan dalam rangka mendiskreditkan para dosen yang sedang studi, namun justru semua itu dimaksudkan untuk memacu agar dosen tersebuit  fokus dalm studi sehingga akan dapat menyelesaiakan studinya  dengan cepat.  Memang dalam upaya untuk memberikan dorongan nyata dan diperhatikan, perlu diupayakan berbagai terobosan penting yang hakekatnya dalam upaya membantu dan menolong dosen dalam menyelesaikan studinya.

Kita tentu sangat berharap bahwa para dosen yang saat ini telah menjalani studi di S3 lebih dari 5 tahun, akan dapat menyelesaikan studinya  maksimal tahun depan.   Kita akan merasa sangat bangga kalau para dosen IAIN Walisongo Semarang banyak yang doktor, karena hal itu disamping akan menaikkan membawa nama harum institusi, juga akan semakin  menambah kepercayaan para stake holders yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada lembaga kita.

Disamping itu kita juga terus berusaha untuk memberikan berbagai kemudahan kepada para dosen yang sedang menempuh studi dalam upaya mempercepat penyelesaian studi mereka.  Diantara  kemudahan yang saya maksudkan ialah  upaya  kita untuk memberikan sumbangan  studi bagi mereka, terutama untuk membayar ongkos ujian tertutup  dan terbuka yang biasanya membutuhkan banyak biaya.  Disamping itu juga selama  melakukan penelitian disertasi, para dosen juga diupayakan endapatkan bantuan beasiswa untuk sekedar membantu meringankan beban, dan lain sebagainya.

Bahkan kedepan perlu dilakukan upaya tegas dari pasca seperti yang saya sebutkan di atas, yakni dengan memberlakukan masa studi sesuai dengan batas yang telah ditentukan dan tidak ada lagi toleransi serta perpanjangan seperti yang  selama ini selalu dilakukan oleh para pengelola  pascasarjana.  Demikian juga sudah saatnya diberlakukan aturan yang mengharuskan peserta program yang belum selesai sebelum masa studinya habis untuk membayar SPP secara full ditambah dengan biaya lain seperti biaya daftar ulang, proposal, dan ujian-ujian yang mesti dilalui.

Dengan begitu kita berharap bahwa mereka akan berpikir dua kali untuk tidak fokus dalam menyelesaikan studi, karena mereka dapat dipastikan akan merugi, baik dari sisi waktu maupun dari sisi finansial.  Inilah barangkali salah satu solusi untuk mendorong percepatan penyelesaian studi para dosen kita yang sampai saat ini masih banyak yang "mangkrak" dan bahkan seakan sudah lupa akan kewajibannya menyelesaikan studi mereka.

Mudah-mudahan dengan upaya seperti itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan dapat panen doktor, setidaknya pada tahun 2012 nanti.  Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.